
Brak! Suara Bara yang tiba-tiba menyeret Tina dan menghempaskannya hingga menatap mobil Juke milik Tina.
"Kamu maunya apa sih? Aku dah punya keluarga. Mau apa kamu? Kenapa ganggu aku terus?" tanya Bara dengan nafasnya yang menderu.
Jackpot! Batin Tina senang dan merasa sukses mendapatkan Bara.
__ADS_1
"Masih sama mau ku. Aku gak masalah jadi nomor dua dan di nomor dua kan, atau istri siri yang hanya dapat jatah sebulan sekali tanpa nafkah finansial. Asal bersamamu. Dan jadi punyamu. Hanya itu mauku," ucap Tina lembut dan dihiasi dengan suara sendunya yang membuat Bara makin iba.
Bara langsung menggeleng dengan sangat berat dan memejamkan matanya erat. Seolah sangat sulit membedakan mana ****, mana sapi.
"No i can't" jawab Bara melembut.
__ADS_1
"Itu gak baik. Nanti Clara sakit kalo tau," tolak Bara "Dan aku gak mau pisah," sambung Bara.
"Kamu gak harus pisah. Kita. Aku dan kamu. Juga Clara dan bayimu. Kita bisa hidup dalam damai bersama," ucap Tina berusaha menghilangkan kecemasan Bara sambil mengelus pipinya dan mengecup bibir Bara.
"No, don't do it," ucap Bara dengan suaranya yang menyiratkan ketidakyakinkan dalam dirinya.
__ADS_1
Tina langsung mundur menjauh dari Bara beberapa langkah, air matanya mengalir begitu saja dengan tangannya yang membungkam mulutnya sendiri. Berusaha menahan tangisnya yang akan segera pecah dan tak dapat terbendung lagi.
Ini sudah salah. Tak boleh lebih jauh lagi. Kalau Clara melihatnya. Clara pasti hancur. Batin Bara lalu pergi menjauhi Tina tanpa berkata apapun, meskipun wajah Tina dan kesedihannya masih melekat di pikiran Bara.