
Menjelang siang Bara baru keluar rumah karena Clara yang tak bisa bangun dan nyaman beraktivitas. Si kecil juga terus menendang dengan aktif dan makin aktif sejak Bara menanggapinya dengan mengelus tiap tendangan di perut Clara.
"Udah dong nak. Main sama ayah waktu dah keluar aja. Bunda sakit nih," ucap Clara memelas.
"Iya sayang, nanti kalo dah keluar kita main terus ya nak," ucap Bara lalu mengecup perut Clara.
Duh seharusnya aku gak usah main gila deh sama Tina. Liat Clara yang banyak sakit buat jagain anakku aja dah kayak gini susahnya. Gak sewajarnya aku malah khianatin dia. Batin Bara bimbang karena akan menemui Tina.
Ingin rasanya Bara mengatakan 'kita gak jadi pergi, aku mau fokus ke Clara aja! ' . Tapi mulut dan jarinya terlalu sulit untuk melakukannya. Ada rasa tidak tega bila ia menolak Tina lagi, juga rasa rindunya yang perlu ia lupakan.
Rasa ini salah. Ini hanya nafsu. Sama seperti dulu. Ini hanya sifat nakalku yang sialan dan kurang ajar. Ku mohon jangan muncul. Semuanya sudah baik. Ku mohon. Jangan muncul bila hanya akan menyakiti istriku. Batin Bara berusaha mengerem perasaannya yang kembali labil.
"Udah yuk berangkat," ucap Clara sambil membungkuk memakai celana dalamnya setelah pipis.
Bara hanya tersenyum melihat istrinya yang mulai kesulitan untuk membungkuk karena terhalang perutnya. Dengan senang hati dan tanpa diminta, Bara langsung membantu istrinya memakai celana dalamnya lagi dan tentu dengan kecupan nakal di kewanitaan Clara yang terlihat sangat penuh dan menantang Bara yang berlutut di depannya.
"Istriku sexy sekali," goda Bara lalu mengecup kewanitaan Clara lagi yang sudah tertutup celana dalam.
"Ah kakak udah ih. Nanti gak pergi-pergi loh," ucap Clara malu sambil mengelus rambut suaminya.
Iya aku yang salah. Tapi bagaimana caraku bicara pada Tina untuk menyudahi hubungan rahasia yang baru ku mulai ini? Batin Bara bingung.
###
Bara sangat antusias memilih barang untuk anak pertamanya yang akan segera lahir. Bara bahkan barang yang belum perlu dibelinya seperti car sit dan kursi makan. Clara condong menurut saja dengan pilihan orang tuanya dan bunda mertuanya yang lebih paham dan berpengalaman. Lisa juga terus mengintilinya dan memilih mainan untuk keponakannya nanti.
__ADS_1
"Haduh capek," ucap Lisa yang sudah masuk ke dalam mobil bersama Bara dan yang lainnya.
"Mau cari makan gak?" tawar Fajar yang akan menyetir.
"Aku makan di rumah aja, kak Clara juga kan?" jawab Lisa yang merasa sebaya dengan Clara.
"Oke kita pulang, pulang ke rumah kak Clara ya?" tanya Fajar.
"Tidak, ke rumahku aja yah. Masa aku terus yang nginep di sana," keluh Lisa yang membuat semua tertawa.
Kling! Sebuah pesan masuk ke ponsel Bara yang asik menyemak pembicaraan adiknya dan mertuanya yang begitu seru.
"Gak ada namanya kak. Dari tadi telfon gak ke angkat. Coba kakak lihat siapa tau penting," ucap Clara sambil memberikan ponsel Bara yang dari tadi tak tersentuh.
"Em, iya banyak banget misscall ya," ucap Bara sambil mengecek ponselnya dan melepaskan tangannya dari perut istrinya.
"Siapa kak?" tanya Clara sambil menatap suaminya yang panik.
"Aku lupa, tadi minta disusul Robi. Aku balik dulu ya ke sana?" ucap Bara panik.
Kak Bara bohong! Batin Lisa peka.
"Kita putar balik?" tanya Fajar.
****** nih kalo ayah sama yang lain ikut! Bisa jadi duda aku! Batin Bara.
__ADS_1
"Gak usah yah, aku pakek taxi aja. Lagian belum terlalu jauh. Eh, gapapa kan sayang?" tanya Bara sambil menggenggam kedua tangan Clara meminta izin.
Kalo kak Robi, kok kakak sampe kelabakan gini. Mana tadi gak dikasih nama lagi nomernya. Batin Clara curiga.
"Tapi kak, apa kak Robi gak bisa suruh nyusul aja?" pinta Clara.
"Hmm yaudah gak usah aja gapapa deh nanti biar aku bilang suruh ngundurin," ucap Bara sambil tersenyum miris.
Loh kok kak Bara bohong lagi? Tanya Lisa dalam hati.
"Jangan, kalo urusan kerjaan diijinin dong nak. Kan buat nafkahin kamu sana cucunya ayah juga," ucap Fajar memaklumi Bara, lalu menepi.
Kak Bara senang? Tanya Lisa lagi dalam hati.
"Yaudah, nanti jangan bawa kerjaan pulang ya," ucap Clara mengijinkan. "Oh iya kakak gak lupa kan nanti adek check up?" tanya Clara.
"Iya, habis maghrib kan?" ucap Bara lalu mengecup dan ******* bibir istrinya hingga suara decapnya terdengar "Jangan nakal ya nak," pesan Bara pada anaknya di rahim Clara lalu turun dari mobil.
"I love you," ucap Clara lembut lalu melepaskan genggaman tangannya dengan berat hati dan jelas terlihat sedih.
Loh kok kak Bara malah bingung. Wajahnya tapi biasa aja, ini emosi apa ya? Batin Lisa bingung.
"Lisa ada apa sayang?" tanya Anna yang memperhatikan putrinya yang dari tadi memejamkan mata dan membuka matanya hanya memperhatikan ekspresi kakaknya.
"Kak Bara," ucap Lisa ragu lalu menatap semua orang yang menunggu jawabannya termasuk Clara yang terlihat sedih "Gak bisa kumpul bareng," sambung Lisa ragu.
__ADS_1
Iyuh! Ternyata jadi normal gak enak! Semua wajah itu, wajah kak Clara juga. Aku jadi harus ikut bohong deh, keluh Lisa dalam hati.