
"Terus aku jadinya gimana?" tanya Tina.
"Gak tau. Lo sendiri kan tau kita back street. Dah pokoknya jangan sampe bikin masalah ke Clara sama bayiku," ucap Bara tegas.
"Hmm yaudah. Selamat bersenang-senang," ucap Tina berusaha tidak mengekang Bara agar Bara tak meninggalkannya lagi.
"Kamu kok belum tidur?" tanya Bara yang kembali melembut.
"Aku terlalu seneng mau pergi sama kamu. Jadi gak bisa bobo," jawab Tina yang terdengar sedih.
Duh kok jadi gak tega ya. Batin Bara.
"Besok aku ke baby shop. Mungkin kita bisa ketemu bentar. Aku bakal ngajak temen-temen Clara juga biar gak curiga," ucap Bara menghibur Tina.
"OMG! Aku bakal siap-siap," pekik Tina senang.
"Sudah besok kamu lacak aja posisiku. Aku mau tidur. Jangan hubungi aku dulu," ucap Bara lalu menutup sambungan teleponnya sepihak.
###
Pagi-pagi Bara sudah rapi begitu pula dengan Clara, bahkan sudah menyiapkan sarapan di dapur dan menunggu Bara sambil mencatat apa yang perlu di belinya.
"Sarapan kak," ucap Clara dengan senyum manisnya menyambut suaminya yang baru turun.
__ADS_1
"Dah tau mau beli apa aja?" tanya Bara.
Clara hanya menggeleng lalu cemberut.
"Mau beli apa aku bingung. Nanti aku ngajak bunda Caca, Lisa sama bunda Anna juga mau ikut, ayahku juga. Gapapa kan kak?" ucap Clara antusias.
Baguslah banyak yang ikut. Batin Bara senang.
"Boleh dong. Jadi seru kalo rame," ucap Bara sambil memakan melon yang sudah di potong-potong Clara dan menyuapinya.
"Yaudah yuk langsung" ajak Bara yang sudah siap pergi.
"Bentar kak. Aku nyiapin tugas bentar nanti sekalian ngumpulin tugas," ucap Clara lalu meminum vitaminnya.
"Amin," ucap Clara lalu bangun dan pergi ke kamar untuk menyiapkan barang bawaannya nanti.
"Sayang," panggil Bara duduk mengikuti istrinya.
"Iya kak?" tanya Clara yang sudah berkeringat lagi hanya dengan menaiki tangga dan menyiapkan barang bawaan.
"Nanti check up sekalian gak?" tanya Bara lalu menyeka keringat di kening istrinya.
"Boleh," jawab Clara lalu duduk di tempat tidur sementara suaminya membawakan semua barang-barangnya hingga tas yang akan ia pakaipun juga dibawakan.
__ADS_1
Aduh si adek nendang nya makin keras aja. Batin Clara lalu mengeram kesakitan ketika bayi kecilnya begitu aktif menendang kesana-kemari.
***
"Apa?" tanya Bara mengangkat telepon dengan cukup kesal.
"Kamu pakek baju warna apa?" tanya Tina.
"Kaos aku gak kerja. Aku kan dah bilang mau kemana. Dah jangan hubungi aku duluan!" omel Bara lalu mematikan ponselnya dan menghapus jejak pembicaraannya.
Lain Bara yang kesal dan takut ketahuan istrinya. Tina malah sibuk memilih pakaian, untuk bertemu dengan Bara nanti. Tina juga terus melacak keberadaan Bara, bahkan Tina sudah bersiap pergi sembari menunggu Bara pergi ke baby shop.
Tina memilih mengaplikasikan make up natural di wajah oriental nya. Tina juga memakai jersey bola yang cukup besar di badannya yang ia padukan dengan celana ketat pendeknya, rambut hitam pendeknya digerai dan ia padukan dengan topi dengan warna yang senada dengan jerseynya.
Tina terus mematut dirinya di depan cermin, memandangi wajah ayunya yang tak sekencang dulu. Semburat kerutan mulai terlihat di sudut mata dan keningnya, maklum sudah masuk usia kepala tiga. Wajah ceria nya mulai murung, mengingat ia tak kunjung menikah dan memiliki anak. Bahkan bila ia tak kunjung menikah dan mengandung, bisa jadi mimpinya untuk menjadi ibu ia kubur dalam-dalam karena menopause.
"Kita bakal nikah Bara. Aku dan kamu juga anak dari rahimku. Kita akan menjadi keluarga yang sangat bahagia," gumam Tina sambil mengelus perutnya dengan lembut seolah ada janin di dalamnya.
Tina terus memandangi tubuhnya yang begitu sexy meskipun kedua payudara aslinya sudah di angkat dan kini digantikan dengan payudara buatan. Perlahan rasa sedih dan kesal mulai menyelimuti hatinya lagi, seiring dengan rabaan tangannya yang mulai menelanjangi dirinya sendiri. Memperhatikan payudara besarnya yang kini tak berputing, memperhatikan perutnya, kaki, tangan lengan punggung dan pipinya yang mulai normal lagi.
"Aku harus sedikit bersabar untuk mendapatkan Bara, ayah dari anakku," gumam Tina penuh ambisi.
Perlahan Tina mulai meraba wajahnya, lalu mengelus rambutnya dan menariknya hingga terlepas. Rambut hitam nan tebal dan lembut itu terlepas, digantikan rambut panjang dan tipis hingga tak sampai sehelai bila di kumpulkan. Rambut yang mulai botak dan rapuh hingga terus rontok karena pengobatan yang ia jalani.
__ADS_1
"Tidak ada Clara dan anak najisnya. Hanya ada aku dan Bara juga anak kami nantinya. Clara pergilah. Bercerailah. Menjauh dari milikku," ucap Tina sambil menangis tersedu-sedu.