My Perfect Husband II

My Perfect Husband II
epilog


__ADS_3

Bara mengalami guncangan pertama kali dalam hidupnya. Terpukul dalam penyesalan tak berkesudahannya bahkan Bara tak mengijinkan siapapun untuk menaburkan bunga di atas tubuh istrinya yang sudah di balut kain putih.


"Bara sudah Nak," ucap Anna menenangkan putranya.


Bara tak bergeming. Bara terus memeluk erat tubuh Clara. Bara yang sangat terpukul, bahkan Bara tak bisa lagi memakai akal sehatnya saat ini.


"Aku nakal, aku jahat sama Clara. Tapi kalo dihukum kayak gini aku gak kuat," bisik Bara lalu mengecup pipi Clara.


Bara benar-benar tak mau jauh dari istrinya. Sampai seluruh anggota keluarga turun untuk membujuk Bara agar Clara bisa segera di makamkan.


###


Tiga hari berselang setelah pemakaman Clara. Bara masih setia duduk di depan makam Clara sambil memandangi kayu nisan istrinya yang tertancap di tanah pemakaman yang masih merah.


Bara hanya diam meskipun sesekali ia menangis menyesali perbuatannya. Menyesali semua perbuatannya. Bara bahkan enggan untuk datang ke acara pengajian tiga hari kematian istrinya.


"Mau sampai kapan disini?" tanya Bob yang datang dengan buket bunga di tangannya.


Bara hanya menatap Bob sekilas lalu kembali menatap nisan istrinya.


"Pulang, Lia down sejak bundanya tidur. Setidaknya kamu sedikit berguna kalo ada buat Lia," ucap Bob sinis lalu meletakkan bunganya dan pergi.


"Apa aku layak jadi ayah?" gumam Bara yang menahan langkah Bob. "Aku perkosa Clara sebelum nikah, aku bikin dia diganggu mantanku waktu kita awal menikah, dia melawan kista sendirian, dia keguguran karena ku tampar, waktu dia hamil aku malah selingkuh, dia melahirkan aku malah gak ada di sampingnya," sambung Bara.


"Kamu emang ********. Kenapa baru sadar sekarang? Bukannya dah banyak yang berusaha mengingatkan?" ucap Bob lalu melanjutkan langkahnya.


Mendengar ucapan Bob benar-benar membuat Bara mengingat betapa banyak ia di ingatkan semua orang untuk fokus pada Clara. Bara yang begitu bodoh hingga hilang kendali.


"Jagain Lia," suara bisikan Clara terdengar begitu nyata di telinga Bara.


Bara langsung bangun dan melihat sekelilingnya.


"Clara! Clara!" teriak Bara mencari Clara yang berbisik di telinganya.


###


Pagi menjelang. Perlahan Bara mulai membuka matanya. Semua putih dan begitu terang.


Surga? Batin Bara menebak dimana ia berada.


"Alhamdulillah kamu dah bangun," ucap Anna lalu memeluk putranya dengan sangat erat sambil menangis.


Adam dan Lisa hanya menghela nafas lega saat tau Bara mulai bangun.


"Ini dimana?" tanya Bara.

__ADS_1


"Rumah sakit. Dua hari lalu kamu pingsan di deket makam Clara. Untung ada Bob sama Robi. Jadi kamu ada yang nganter ke rumah sakit," jawab Anna.


"Clara mana? Lia mana?" tanya Bara.


"Lia drop. Tapi sejak ada ibu muda yang mau jadi ibu susunya, Lia dah mulai sehat," jawab Anna.


"Istriku mana?" tanya Bara yang kembali berkaca-kaca.


Anna dan Adam hanya diam sementara Lisa bersembunyi dibalik ayahnya.


"Istriku mana? Clara mana?" tanya Bara yang kembali histeris dan menangis.


Bara terlihat sangat terpukul. Bahkan saat orang tua Clara bisa mulai ikhlas. Bara masih saja tak ikhlas menerima kepergian istrinya.


"Bara tenang Nak," ucap Adam sambil memeluk Bara yang menangis. "Bara belum nengokin Lia kan?" sambung Adam yang sukses membuat Bara diam.


"Liat Lia dulu yuk," ajak Anna yang diangguki Bara dengan lemah. "Tapi makan dulu ya," sambung Anna.


Bara kembali diam. Hanya menatap kedepan dengan tatapannya yang kosong.


"Apa aku bisa seneng-seneng, bisa makan, bisa minum waktu istriku gak ada di sampingku? Waktu anakku drop? Aku ini gagal. Gagal jadi suami, gagal jadi ayah," gumam Bara penuh rasa penyesalan yang tak akan pernah habis.


Bara kembali diam. Merenungi kesalahannya. Meratapi kepergian istrinya.


Anna makin khawatir dengan keadaan Bara. Apalagi Bara makin sering meratapi kepergian istrinya. Bara juga makin sering meracau merutuki kesalahannya. Bahkan karena penyesalannya yang begitu mendalam Bara sampai tak berani menyentuh putri kecilnya.


Makin hari keadaan Bara makin memburuk, meskipun ada sedikit rasa lega dalam hati Bara saat melihat dan tau bila anaknya mulai sehat. Bahkan Lia surah tidak drop lagi dan mampu tumbuh dengan baik.


"Ayah minta maaf ya Nak, kalo ayah gak bodoh pasti sekarang kamu tidur di samping bunda," gumam Bara yang melihat putrinya dari balik kaca sebelum akhirnya Bara di bawa untuk menenangkan diri.


"Ayah em kamu boleh panggil aku Bara. Aku gak pantas jadi ayahmu," gumam Bara lagi lalu menyeka air matanya.


(((


Tiga bulan berselang. Setelah Bara menenangkan diri dan setidaknya mampu menerima kenyataan. Bara kembali ke rumahnya dan Clara. Melihat semuanya masih sama, Bara berusaha keras menahan rasa sedihnya.


"Mas Bara dah pulang mas?" sambut bibi yang terlihat masih sama seperti dulu dan tengah sibuk mengurus rumah.


Bara hanya diam sambil menatapnya dingin lalu masuk ke kamarnya.


"Sayang, aku kangen kamu. Aku banyak tato sekarang. Aku malas makan, gak selera kalo gak ada kamu," ucap Bara seolah sedang bercerita dengan Clara.


"Sayang, hari ini aku mulai ngajar lagi. Aku gak boleh ketemu anak kita dulu. Ayahmu masih marah sama aku," ucap Bara lagi sambil melepas bajunya dan berganti baju.


"Sayang, aku gak kuat kayak gini terus. Apa ini yang kamu rasakan selama ini?" tanya Bara sambil memakai kemejanya.

__ADS_1


Bara melanjutkan aktivitasnya berganti baju dan sedikit menyisir rambutnya yang kini terlihat seperti berandalan. Apalagi tatonya juga hampir memenuhi tubuh. Baik tangan, kaki, leher, perut, punggung, bahkan ke pelipisnya.


"Aku ngajar dulu," ucap Bara dengan matanya yang berkaca-kaca saat sampai di lantai bawah.


Bara kembali teringat dengan jelas bagaimana saat ia meninggalkan Clara saat itu.


Pyar! Dengan emosi Bara membanting guci Cina di sampingnya. Lalu pergi tanpa ekspresi apapun.


Saat Bara sampai di kampus pun banyak orang yang pangling akan penampilan barunya yang begitu baddas. Tatapan hangat Bara dan senyum tak pernah lagi singgah di wajah Bara yang ada hanya tatapan dingin yang begitu tajam dan menyudutkan. Meskipun tetap saja banyak yang menyukai Bara dan segala perubahannya.


"Sekian," ucap Bara menyudahi kelasnya tanpa tanya jawab lalu keluar begitu saja.


Bara yang awalnya ingin pulang kembali kerumahnya kembali berpikir ulang. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengunjungi orang tuanya sebelum pulang ke rumahnya.


Bara masuk begitu saja tanpa salam atau ekspresi seperti biasa. Bara terus masuk lalu berhenti di ruang tengah menatap fotonya bersama Clara dan keluarga besarnya yang terlihat begitu bahagia.


"Bara?" panggil Anna memastikan.


Bara hanya membalik badannya dan menatap bundanya.


"Ya allah Nak, kok sekarang jadi kayak gini kamu," ucap Anna lalu memeluk putranya yang terlihat sangat kurus dan amburadul.


"Makan dulu yuk, nanti kita nengokin Lia ya?" ajak Anna sambil mendorong putranya ke dapur.


"Bunda, rasanya melahirkan itu gimana?" tanya Bara yang pasrah mengikuti bundanya ke ruang makan.


Anna hanya diam lalu menghela nafas.


"Apa sakit sekali? Kenapa Clara mati?" tanya Bara lagi tanpa ekspresi.


Anna hanya diam seolah tak mendengar ucapan Bara.


"Apa Tina bunuh Clara?" tanya Bara yang membuat Anna mulai memperhatikannya.


"Tina?" tanya Anna cukup terkejut.


"Bu Anna, ada tamu. Katanya istrinya mas Bara," ucap bibi yang memelankan suaranya.


Dengan tak sabaran Bara segera berlari ke ruang tamu, berharap benar-benar istrinya yang datang begitu pula dengan Anna.


"Bara! Aku hamil sudah tiga bulan, anak kamu," ucap Tina yang langsung memeluk Bara.


MY PERFECT HUSBAND III (last sekuel, cek di bio)


__ADS_1


__ADS_2