
"Sakit?" tanya Robi yang kembali ke kafe tempat Tina menunggu.
"Aku yang harusnya ada di sana," gumam Tina yang membayangkan bila ia berada di posisi Clara saat ini.
Untung bukan elu Tin. Batin Robi.
"Kamu gak mau mundur aja? Mereka dah bahagia banget loh. Liat aja gimana Bara jagain Clara, apa kamu gak bisa paham gimana posisi mu sekarang?" tanya Robi yang benar-benar tak mau Clara tersakiti dan kalah taruhan.
"Bara dah janji buat jalanin jadwal yang ku buat. Sembilan kali, dia janji mau bernostalgia sama aku. Dan aku pasti bisa kembali sama dia kayak dulu. Persis kayak dulu. Bahkan lebih," ucap Tina ambisius.
Wah bisa kalah gue kalo si oneng sampe beneran mau nemenin Tina nostalgia. Batin Robi yang merasa kecolongan.
"Asal kamu tau ya Bi, tante Anna itu cocok sama gue. Dia emang gak suka poligami tapi dia gak masalah kalo anaknya cerai," ucap Tina tegas.
"Ya kan bu Anna, pak Adam?" tanya Robi merendahkan. "Eh Tin, asal lu tau ya, Bara sama Clara itu sempet mau pisah berkali-kali dan selalu jadi lebih baik setelahnya. Lagian Bara gak mungkin lepasin istri sama anaknya gitu aja buat kamu," sambung Robi.
"Mungkin!" ucap Tina optimis "Kalau Bara kembali cinta aku, Clara gak akan ada apa-apanya lagi. Termasuk anak haram di perutnya itu!" sambung Tina penuh emosi.
"Anaknya Clara itu suci, dibuat pakek hati dari hubungan yang halal. Jadi kamu jangan asal ngomong!" ucap Robi membela Clara.
"Terserah!" bentak Tina kesal "Liat aja nanti. Bentar lagi Bara akan bertekuk lutut buat aku lagi!" ucap Tina seolah apa yang di ucapkannya dapat terwujud dengan mudah.
"Aku suka Clara. Jangan ganggu dia!" bentak Robi yang sudah terpancing.
"Kalau begitu bukannya bagus kalau dia pisah dari Bara?" tanya Tina yang merasa mampu mempengaruhi Robi.
Robi hanya menggeleng lalu mengusap wajahnya gusar dan pergi begitu saja.
###
Clara benar-benar senang dengan kejutan dari suaminya. Entah berapa banyak bunga yang di habiskan Bara untuk menghiasi hotelnya itu. Clara juga langsung memakai gelang pemberian suaminya.
"Suka?" tanya Bara lalu menuangkan air dingin ke gelas Clara.
"Ini seperti mimpi," ucap Clara lalu menggenggam tangan Bara erat dengan senyumnya yang mengembang.
Fyuh, gak sia-sia aku repot seharian. Batin Bara lega.
"Dari tadi aku takut tau gak sih kalo kamu gak suka sama dekornya," ucap Bara lalu mengeratkan genggaman tangannya dengan Clara "Kamu cantik banget hari ini," sambung Bara memuji istrinya yang terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
"Terimakasih ya kak," ucap Clara lembut.
"Kamu emang cantik sayang serius," ucap Bara meyakinkan istrinya.
"Aku tau, tapi terimakasih sudah jadi suamiku, sembuhin aku, didik aku sampe jadi pribadi yang lebih baik. Aku seperti terlahir kembali karena kakak. Terimakasih banyak ya kak. Maaf belum bisa jadi yang terbaik dan sesuai kriteriamu," ucap Clara lalu mengecup punggung tangan Bara.
"No Clara kamu yang memperbaiki semuanya aku hanya mengingatkan," ucap Bara lalu mengelus pipi Clara lembut "I love you," bisik Bara.
Kling! Sebuah pesan masuk ke ponsel Bara.
"Sebentar ya, bisnis," ucap Bara lalu bangun dan mengecup kening Clara.
"Iya jangan lama-lama ya," ucap Clara mengijinkan.
"I love you," ucap Bara lalu cepat bergegas keluar untuk menemui Tina.
***
****** gue! Kok bisa sampe lupa kalo ada janji! Batin Bara lalu cepat-cepat menemui Tina yang sudah menunggu dari tadi.
"Hay," sapa Tina lalu melambaikan tangannya.
"Gapapa mungkin besok kita bisa makan bareng," ucap Tina maklum lalu memeluk Bara dan sengaja mengecup dadanya hingga lipstik merahnya menempel di kemeja Bara.
"Hmm ya. Nanti akan ku jadwalkan," ucap Bara lalu duduk di depan Tina "Sudah makan?" tanya Bara.
"Belum, aku nunggu kamu. Ku kira hari ini jadi soalnya," ucap Tina lalu memasang wajah sedihnya.
"Maaf, aku lupa kabarin," ucap Bara yang merasa bersalah.
"Gapapa lagian kita kan di belakangan. Jadi aku gak masalah," ucap Tina maklum meskipun ia tetap sedih.
"Kamu jangan lupa makan. Maaf gak bisa lama,"
"Kamu masuk aja pasti dah di tunggu Clara," potong Tina lalu bangun dan berjalan keluar diikuti Bara.
"Mau ku kirim makanan?" tawar Bara sambil mengikuti tina.
__ADS_1
"Tidak usah, aku bisa makan sushi tadi pagi," ucap Tina menghindari Bara sambil menunjukkan kotak bekalnya.
"Ya ampun maaf. Maaf sekali aku gak sempat mikir makanan. Maaf ya," ucap Bara sambil mengelus tengkuknya.
"Iya gapapa aku paham," ucap Tina "Inget ya masih sembilan loh berarti," sambung Tina sedikit bercanda lalu membuka pintu mobilnya.
"Ah iya," ucap Bara lalu tersenyum getir.
"Aku pulang dulu ya, besok ku kirim kado buat istrimu," ucap Tina lalu mengecup bibir Bara sambil melumatnya.
Bara hanya diam tak membalas, tapi juga hanya membiarkan apa yang dilakukan Tina padanya.
"Bye," ucap Tina lalu masuk dan pergi begitu saja meninggalkan Bara dan kebahagiaannya.
"Lo Bara kan?" tanya Bob yang tiba-tiba muncul dan menepuk bahu Bara.
"Hah? Ah elu, gue kira siapa," ucap Bara sambil memegangi dadanya yang deg-degan karena kemunculan Bob.
"Tadi siapa?" tanya Bob tanpa basa-basi.
"Bukan urusanmu, kamu mau apa kesini?" ucap Bara berusaha mengelak meskipun jelas terlihat kalau ia gelagapan.
"Lo jangan main gila ya di belakang Clara!" ucap Bob sedikit membentak lalu berjalan meninggalkan Bara dan masuk ke dalam untuk menemui Clara.
Gawat jangan-jangan Bob mau laporan sama Clara. Batin Bara panik lalu segera ke kamar mandi untuk merapikan penampilannya.
###
"Oh! Itu suamiku," pekik Clara yang sudah cukup lama menunggu suaminya sambil mengobrol bersama Bob dan Robi.
"Nunggu lama?" tanya Bara basa-basi yang langsung mendapat tatapan tajam dari Bob.
"Enggak, kayaknya sih. Abis aku ngobrol sama Bob, kak Robi, Lisa juga tadi dari sini," ucap Clara ceria.
Apa Bob gak cerita ya? Batin Bara menebak-nebak.
.
.
__ADS_1
.
tembus 20 👍 100 vote 5 komen aku up lagi hati ini!