
"Kamu mau nggak jadi pacarku?" tanya Arifin ke gadis bernama Tya yang ada di depannya.
Wajah Tya terlihat kaget saat mendengar kata-kata Arifin, "si Ipin nembak gue?" batin Tya.
Tya memang anak Jakarta, wajar dong kalau dia pake lu-gue. Sedangkan Arifin yang sedang nembak dia sekarang asli Salatiga, sudah pasti bahasanya baku banget pake aku-kamu.
Tapi jangan salah, meskipun panggilannya Ipin, dia jauh dari mirip dengan Ipin di serial kartun TV 9 Upin-Ipin.
Ipin itu salah satu mahasiswa idola di kampus mereka. Biar aslinya dari Salatiga yang orang bilang cuma kota kecil, Ipin ganteng, atletis, hobi basket dan diving. Dah gitu dia aktif di BEM dan nilai akademiknya di atas rata-rata.
Makanya Tya kaget sekali saat Si Ipin nembak dia.
"Jadi gimana?" tanya Arifin setelah melihat Tya bengong dan tak kunjung menjawab pertanyaan terpenting dalam hidupnya.
Tya terlihat sedikit gelagapan saat Arifin menanyainya lagi. Tya menarik napas dan berusaha menenangkan detak jantungnya yang mulai bergetar-getar kuat. Seperti saat dia ngedengerin sahabatnya si Natasha muter lagu 'Bangarang'-nya Skrillex di kamar kosan mereka.
Tya menarik napas panjang dan berusaha menenangkan debaran jantungnya. Setelah itu, dia melihat ke arah Arifin dan ingin tahu alasan si Ipin nembak dirinya.
"Alasan kamu apa nembak aku?" tanya Tya, meskipun dalam hatinya, dia sangat ingin menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk si Ganteng di depannya itu.
Arifin yang justru terlihat gelagapan sekarang. Dia bingung mau jawab apa.
"Kamu pengen jawaban yang jujur dariku?" tanya Arifin dengan suara sedikit bergetar dan gugup.
__ADS_1
Tya menganggukkan kepalanya.
Arifin terdiam dan menarik napas, "tapi kamu nggak boleh marah ya?" kata si Arifin.
Tya kembali menganggukan kepala, tapi kali ini dia mulai mengernyitkan alisnya, "keknya ada yang salah deh. Ngapain Ipin pake bilang gitu?" batin Tya.
"Aku pengen kamu jadi pacarku, karena.."
Arifin berhenti sebentar dan terlihat ragu-ragu sebelum akhirnya dia terlihat membulatkan tekad dan membuka mulutnya kembali.
"Karena kamu cewek terseksi yang pernah kutemui dan kamu cewek satu-satunya yang bisa bikin aku ereksi," kata Arifin dengan suara bergetar tapi anehnya kata-katanya keluar dengan lancar.
Suasana menjadi hening seketika. Tya terlihat agak telat memproses kata-kata Ipin barusan. Dan kemudian.
Arifin tiba-tiba merasakan matanya berkunang-kunang setelah sebuah tamparan dia terima di pipinya. Tamparan super keras dari Tya yang langsung ngacir meninggalkan dirinya dan terlihat sedikit menitikkan air mata.
Arifin hanya bisa terbengong di tempatnya berdiri.
"Aku bener-bener jujur, Tya," bisik Arifin perlahan sambil mengelus-elus pipinya yang masih terasa panas dan terlihat sedih. Dia masih belum mengerti dimana letak kesalahan dari kata-katanya.
Tya berlari meninggalkan si Arifin sambil menangis. Kalimat Arifin barusan adalah kata-kata terjahat yang pernah dia dengar dalam hidupnya.
Bagaimana tidak? Dia mengharapkan Arifin memberikan seribu satu alasan yang pasti akan dia iyakan tanpa berpikir.
__ADS_1
"Karena kamu baik."
"Karena kamu lucu."
"Karena kamu pinter."
Bahkan jika Ipin memberikan alasan super ngeles seperti, "karena aku lagi jomblo atau karena aku cuma iseng," Tya tetap akan menerima si Cowok Idola itu jadi pacarnya.
Tapi kenapa dia harus memberikan alasan 'seksi'?
Tya sadar diri, dia jauh dari predikat seksi. Tya punya badan yang jauh dari kata ideal. Meskipun dia tidak masuk kategori gendut, tapi dia chubby.
Dan Tya yakin seyakin-yakinnya kalau dirinya itu tidak seksi.
Sejak SMA dan sejak Tya mengenal rasa ketertarikan terhadap lawan jenis, Tya sudah mencoba melakukan segalanya untuk merubah fisiknya. Fitness, aerobik, diet dan semua cara yang dia tahu, tapi hasilnya tetap seperti sekarang ini.
Sampai akhirnya Tya menyerah, dia hanya berolahraga dan menjaga makan seperlunya. Hanya agar dirinya tetap sehat dan energik.
Tya juga kenyang akan bully-an kawan-kawannya sejak SMA dulu. Betapa menyedihkan perlakuan yang dia terima karena fisik yang dia miliki. Hingga akhirnya membuat Tya memutuskan untuk kuliah di tempat yang jauh dari keluarga dan semua kenangan buruk yang dia punya di Jakarta.
Tya memiliki luka dalam dirinya yang susah disembuhkan karena fisiknya. Dan setelah dua tahun kuliah di Semarang dengan tenang, luka itu kembali diusik lagi.
Diusik oleh kalimat yang diterimanya dari Arifin barusan.
__ADS_1