My Sexiest Girl

My Sexiest Girl
Chapter 7 - Sahabat


__ADS_3

Cogan Jomblo.


Itulah headline yang lagi trending di kampusnya Tya selama beberapa hari terakhir. Apalagi saat mereka menghubungkan cerita penyebab kejombloan si Ganteng, makin banyak lah yang simpati sama si Ipin.


Dan tentunya banyak bermunculan member Rena's haters club.


Apalagi sedari awal sudah banyak yang nggak suka sama sikap Rena yang pilih-pilih dalam berkawan. Makin jadilah setelah dapat angin segar.


Ipin sendiri?


Mana ngurus dia, lagi berbunga-bunga hatinya gara-gara dah berhasil ngajak ngobrol Tya untuk pertama kali, meskipun cuma satu kalimat saja.


Awal yang bagus untuk Ipin yang membuat dia makin berani dan membulatkan tekadnya untuk mendapatkan si Seksi. Bukan untuk jadi pacar, tapi langsung mau dilamar.


Tapi si Ipin jadi mikir dua kali, takutnya si Seksi malah mundur teratur kalau Ipinnya terlalu ngebet, kan malah runyam nanti. Jadinya Ipin memutuskan untuk mencoba jalur normal.


Tembak dulu, jadian, kira-kira sebulan atau dua bulan, langsung seret si Seksi ke penghulu. Wkwkwkwk.


Lha? Mau apa lagi coba.


Ipin dah ngerasain sendiri berkali-kali efeknya hubungan tanpa nafsu. Runyam ujungnya.


Ipin juga sadar, orang selalu merasa risih kalau ngomongin soal nafsu, tapi tanpa itu, yang namanya cinta atau sayang nggak bakalan jalan.


Mana ada buah hati aka buahnya cinta kalau nggak dibantu sama nafsu.


Love without sex is bullshit.


Nggak bakalan ada Ipin-ipin kecil penerus generasi bangsa dan garis keturunan keluarga Haji Mas'ud kalau sampe Ipin nggak bisa 'on fire' sama calon istrinya sendiri.


Nggak mungkin kan pake jasa orang lain?


Karena itu, bagi Ipin, mendapatkan Tya hukumnya wajib aka fardhu 'ain. Demi kesejahteraan bagian pangkal pahanya dan juga demi calon-calon anaknya.

__ADS_1


Para ladies yang masih berstatus jomblo juga blingsatan seperti lintah yang disiram garam sejak berita putusnya Ipin dan Rena. Banyak yang mencoba menunjukkan rasa simpati mereka atas 'musibah' yang menimpa Ipin dan menawarkan bantuan untuk 'mengobati' luka si Ganteng. Tentunya dengan jadi pacar si Ipin lah.


Tapi Ipin jelas menolak niat baik mereka dengan senyuman maafnya. Karena dia sendiri sedang mengumpulkan keberaniannya untuk melakukan hal terpenting dalam hidupnya.


Nembak si Tia.


\=\=\=\=\=


Finally, sampailah cerita ke adegan penuh kekerasan dan air mata yang ada di Prolog. Nggak usah ditulis ulang ya? Baca aja tu Prolog, terus balik lagi ke sini.


\=\=\=\=\=


Tasha pulang ke kamar kosnya dan mendapati sohib terkentalnya di kampus sedang mewek bombay di kasurnya sambil meluk guling yang sudah basah kuyup seperti habis dicuci.


Guling mah nggak diusah dicuci. Cukup sarungnya aja yang dicuci, dalemnya ya dijemur aja. Mau berapa lama nunggu kapas tu kering kalau direndam dalam air?


Sebagai sohib yang baik dan perhatian, tentunya Tasha kudu nanya dong, ngapain si Tya nangis segitunya.


"Ngapain Sayang kok nangis segitunya? Cerita dong sama Mama Dedeh," kata Tasha mencoba bercanda.


"Ish. Jangan galak-galak dong Say," balas Tasha sambil tersenyum, "harap bersabar, namanya juga lagi usaha," kata hati si Tasha.


"Cerita lah, gue dengerin kok. Mana tahu bisa bantu," lanjut si Tasha, emang harus diakui mental cewek satu ini, pantang menyerah.


Tya meluk gulingnya lagi sambil mewek, "Ipin nembak gue tadi," bisik si Tya lirih.


What?????


Jantung si Tasha hampir rontok waktu ngedenger kalimat pertama si Tya. Si Ganteng nembak Tya? Dengan reflek Tasha ngelirik ke luar jendela. Semarang nggak hujan salju kan ya? kata Tasha dalam hati.


Tya makin keki waktu ngelihat tingkah sahabatnya. Lu sahabat gue bukan sih? Segitunya. Sampe nengok keluar jendela.


"Seriusan lu?" tanya Tasha masih tak percaya.

__ADS_1


Tya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dan Tasha kehilangan kata-kata.


"Terus ngapain lu mewek?" tanya Tasha ke Tya, "jangan bilang lu tolak dia ya?" lanjutnya dengan muka sadis.


"Gue nggak nolak dia," jawab Tya, belum berhenti mewek juga.


"So?" tanya Tasha penasaran, asli penasaran, ini berita terheboh abad ini kalau emang beneran kejadian.


Ipin nembak Tya.


Kalau sampe berita ini tersiar di kampus mereka, bakalan geger dunia persilatan. Siapa yang bakalan nyangka kalau si Ganteng bakalan nembak Tya yang chubby gitu?


Tya malah mewek makin keras, "gue nggak nolak dia. Gue bahkan nggak ngasih jawaban apa-apa. Tapi..."


"Tapi?" muka Tasha makin condong ke arah Tya karena saking penasarannya.


"Gue malah nampol si Ipin. Keras banget lagi," jawab si Tya dan kembali nggambreng keras setelah bilang gitu.


Tasha langsung lemes dan terduduk di lantai waktu denger kata-kata Tya. Dia nggak nyangka sohibnya justru malah nampol Ipin yang nembak dia. Harusnya lu jejingkrakan dong Tya, bukan malah nampol si Ganteng, jerit Tasha dalam hati.


Setelah terdiam beberapa menit si Tasha menarik napas dalam dan bangun lagi, setelah itu dia duduk di kasur Tya dan megang tangan si Tya.


"Tya, besok kita bolos kuliah dulu ya? Gue mau ngajak lu ke psikiater. Keknya ada yang salah sama otak lu," bisik Tasha pelan.


Tya langsung menepis tangan Tasha dan melotot ke arah sahabatnya, "lu kata gue gila ya?"


Tasha nyengir aja, "habisnya lu juga gitu sih. Ditembak Ipin bukannya diiyain, tapi malah nampol. Gue tahu kalau lu ada rasa sama Ipin. Nggak usah muna. Gue sering liat kok kalau lu suka curi-curi pandang ke dia pas ada acara kumpul anak BEM," kata Tasha.


Tya terdiam, emang iya sih, kalau dia nggak ada rasa ke Ipin, mana mungkin dadanya nyesek banget waktu ngeliat Rena selingkuh sama Ipul?


"Tapi, ini salah Ipin. Waktu gue nanya alasan dia nembak gue. Dengan teganya dia bilang.." kata-kata Tya terhenti dan ragu.


"Dia bilang apa?" kejar si Tasha.

__ADS_1


Tya menundukkan kepalanya, "dia bilang gue cewek terseksi yang pernah dia lihat. Lu liat deh body gue? Bagian mananya yang seksi coba. Sakit banget ati gue ngedengernya," bisik Tya lirih, tangisnya juga mulai reda.


__ADS_2