My Sexiest Girl

My Sexiest Girl
Chapter 22 - Dipuji Mertua


__ADS_3

"Jadi kapan nih Tya?" tanya Ipin dengan muka memelas.


"Apanya Mas?" jawab Tya kebingungan.


"Married lah," jawab Ipin cepat, "biar nanti nggak ada lagi reader yang komplain kalau aku enak-enakin kamu," lanjutnya.


"Mas ni ngomong apaan sih? Ngebet banget pengen kawin?" sungut Tya.


"Emang iya," jawab Ipin.


"Ih," jawab Tya sambil memalingkan muka ke luar kaca jendela mobil.


Tapi, Tya sebenarnya seneng dan lega. Mereka sekarang dalam perjalanan pulang ke Semarang. Misi mereka berdua ke Jakarta untuk memperoleh restu dari orang tua Tya berhasil mereka lakukan dengan sukses.


Kini tak ada lagi yang menghalangi mereka untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, pernikahan.


Makanya, Ipin sekarang nggak takut lagi ngomong soal itu ke Tya. Dua-duanya sudah dapat restu dari masing-masing keluarga. Ipin juga takut kalau dibiarin lama-lama yang ada nanti malah dia nggak sanggup lagi menghargai komitmen Tya dan mengambil langkah pemaksaan ke pacarnya.


Sepanjang jalan, meskipun Tya dan Ipin masing-masing larut dalam diam, tapi mereka berdua tahu kalau mereka sedang berbahagia.


\=\=\=\=\=


Tok tok tok tok.


Suara sebuah ketukan terdengar di pintu kosan Ipin malam itu. Ipin yang sudah tertidur, ogah-ogahan membuka matanya. Hujan deras juga terdengar mengguyur Tembalang.


"Siapa sih kondisi kek gini gangguin aku tidur?" sungut Ipin yang dengan malas beranjak dari kasurnya yang terbentang di lantai.


Ipin membuka pintu kamar kosnya dan melihat sesosok gadis yang terlihat sedikit basah kuyup berdiri disana.


"Aku hamil Pin," kata gadis cantik itu di sela tangisannya.


\=\=\=\=\=


"Kapan anak kita mau diresmikan? Bapak nggak mau nanti dia kena kasus istrinya hamil duluan," kata Haji Mas'ud sore itu.


Ibu menggelengkan kepalanya, "Bapak ni ngomong kok kayak gitu sih, kalau didengar sama Gusti Allah nanti kayak mana?" jawab Ibu.


"Lha Buk'e kan tahu sendiri gimana kelakuan si Arifin kalau sama Tya. Yang terakhir pas kesini itu, mereka berdua masuk kamar nggak keluar-keluar. Ntah ngapain mereka. Apalagi sekarang Arifin sudah melamar Tya ke Jakarta. Kalau mereka berdua nekat nanti gimana? Mending secepatnya dinikahin," kata Haji Mas'ud.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian terdiam. Itu memang keputusan yang terbaik untuk menjaga hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Nanti Ibu ngomong sama Tya," kata Ibu pelan, percuma ngomong sama si Arifin, Ibu tahu kalau anak laki-lakinya itu seperti kerbau dicocok hidungnya kalau sama calon istrinya.


\=\=\=\=\=


"Assalamualaikum," kata Ibu.


Tya sebenernya kaget juga, ngapain Ibu kok telpon dirinya malam-malam gini? Tadi dia hampir tidur setelah mengerjakan tugas kuliahnya, ketika panggilan telpon datang.


"Waalaikumussalam Bu," jawab Tya, sopan dan pelan, jauh lebih sopan dibanding sama Mamanya sendiri, soalnya ini kan camer. Wkwkwkwkwk.


"Sudah tidur Nduk? Ibu minta maaf lho kalau ganggu Tya malam-malam," kata Ibu.


"Tya belum tidur kok Bu, baru selesai ngerjain tugas kuliah," jawab Tya.


"Rajin bener sih, Ibu tambah sayang sama Tya," kata Ibu.


Muka Tya langsung merah, wuihhhh, Tya dipuji Ibu, jerit Tya dalam hati.


"Biasa aja kok Bu," jawab Tya merendah padahal hampir jingkrak-jingkrak dia.


Eh? Tya jelas kaget lah. Jadi ini ceritanya mertua nguber-nguber menantu buruan married?


Lagian, Arifin kan anak sendiri, kok Ibu malah nelpon Tya nyuruh nanya ke Arifin? Seolah-olah, Tya yang anak sendiri, Arifin justru menantunya.


Tya jelas berbunga-bunga lah. Humph, liat aja nanti kalau si Ipin berani ngebully Tya, Tya aduin ke Ibu sama Bapak. Coba aja liat nanti Ibu sama Bapak lebih belain siapa? kata hati si jahil Tya.


Dan Tya yakin kalau mertuanya bakalan ngebelain dia dibandingkan anak mereka sendiri. Tya tahu itu.


"Iya Bu, nanti Tya omongin ke Mas," jawab Tya.


Mas? Dah ganti ya sekarang? Terakhir masih manggil Ipin deh, kok sekarang sudah mesra gitu manggilnya? batin Ibu.


Dan saat itu, Ibu bener-bener percaya omongan Bapak. Arifin dan Tya musti nikah secepatnya. Titik.


\=\=\=\=\=


Arifin kaget dengan kata-kata dan kedatangan tiba-tiba gadis di depannya.

__ADS_1


Sudah lah datang cuaca kayak gini, ngomong hamil pula, emangnya aku pernah nyumbang benih ke rahimmu? sungut Ipin.


"Kamu nggak nawarin aku masuk Pin?" tanya Rena.


"Sorry Ren, aku nggak bisa. Kamu kok malah kesini sih? Kok nggak ke tempat bapaknya janin yang ada di rahimmu?" tanya Ipin.


Ipin berdiri di tengah-tengah pintu dan menutupnya dengan badan. Satu tangannya teracung ke depan dengan posisi telapak tangan menahan Rena dan tangan satunya memegang hp. Tentu saja menghubungi Tya.


"Angkat dong Tya," gumam Ipin pelan sambil menelpon Tya, yang panggilannya terus menerus bernada sibuk.


Ipin terus menerus mencoba menghubungi kekasihnya dan belum juga berhasil.


"Kamu kok kayak gitu ke aku Pin? Kita tu pernah dekat bertahun-tahun. Sekarang giliran aku kena masalah, tak bisakah kamu meminjamkan dadamu sebentar untuk tempatku bersandar?" kata Rena disertai isak tangisnya.


"Nggak," jawab Ipin pendek dan tegas.


Enak aja, kamu tu bom waktu berjalan. Kamu hamil dan entah siapa bapaknya, kalau aku sampai lengah dan ngebiarin kamu masuk ke kamarku, setelah itu kamu teriak ke dunia kalau aku yang menghamilimu, aku bisa apa?


Dan tebakan Ipin memang tepat, Rena mau menggunakan trik itu untuk mendapatkan Ipin, cowok baik dan suami impian yang terlepas dari tangannya.


Rena tahu kalau Ipin tu cowok baek, dulu saat dia berbohong dan menyebar berita kalau mereka jadian, Ipin sama sekali tidak membantahnya dan mereka justru beneran jadian.


Rena ingin melakukan hal yang sama sekarang, dia ingin masuk ke kamar Ipin, memaksa cowok itu merasakan tubuh Rena lalu berteriak ke seluruh dunia kalau Ipin yang menghamilinya. Dan Ipin tak akan berani bilang kalau mereka sama sekali tak pernah berhubungan badan.


"Alhamdulillah," gumam Ipin setelah panggilan telponnya berhasil masuk ke nomor Tya.


Tak lama kemudian, suara Tya terdengar, "Assalamualaikum, napa Mas?"


"Waalaikumussalam, Tya ke kosanku sekarang ya? Penting banget, Kalau nggak, Mas nggak janji bisa nikahin kamu," kata Ipin cepat.


Tak ada jawaban dari seberang, setelah itu suara Tya terdengar, "Iya Mas, tiga menit," kata Tya tanpa bertanya.


"Kamu nelpon Tya, Pin? Kamu? Kok bisa sih lebih milih dia dibanding aku?" kata Rena.


Ipin cuma terdiam. Mereka saling diam selama beberapa menit, saat Tya datang tergesa-gesa dan berdiri kaget melihat Rena dan Ipin.


Tya langsung berlari ke sebelah Ipin dan berdiri di sampingnya.


"Sekarang dah ada Tya, kamu kalau mau masuk kamarku, silahkan," kata Ipin ke arah Rena.

__ADS_1


Rena menundukkan kepalanya dan mengusap air mata yang membasahi pipinya. Tak ada harapan lagi untuknya.


__ADS_2