My Sexiest Girl

My Sexiest Girl
Chapter 4 - Good News


__ADS_3

Kok malah ngelantur soal si Saiful ya?


Kita balikin lagi ke storynya lah.


"Bro, mau ikutan BEM nggak?" tanya Saiful kepada Arifin yang masih sarapan.


"Buat apaan Pul?" tanya Arifin.


"Pake 'f' bukan pake 'p', **!!!" protes si Saiful saat ngedenger panggilan Arifin ke dia.


Arifin garuk-garuk kepala, "penting ya? Aku aja nggak pernah protes dipanggil 'Pin', kadang malah 'Ipin' juga. Kamu mau kupanggil Ipul?" tanya si Arifin tanpa dosa.


"Ya itu kamu. Kamu orang Jawa. Nrimo kan? Aku kan orang Timur. Harus punya prinsip," protes si Saiful.


"Bukannya kamu asli Jepara ya?" koreksi si Arifin.


Saiful terdiam. Iya juga ya?


"Emang susah ngomong sama bocah satu ini," keluh si Saiful yang emosinya mulai naik di pagi yang cerah ini gara-gara si Ipin.


Saiful memejamkan mata, kemudian dia menarik napas panjang dan menahannya selama 10 kali hitungan setelah itu dia menghembuskannya perlahan-lahan.


Itu trik yang dipelajari Saiful untuk meredakan amarahnya. Trik yang selama ini sudah sering dia praktekkan dan lumayan ampuh hasilnya.


Setelah itu, Saiful membuka matanya kembali dan berniat berdiskusi secara dewasa dengan si ** di depannya satu ini.


"Kamu habis ngapain Pul? Nahan berak ya?" tanya Arifin.


Nyuttttttttt.


Emosi Saiful yang tadi sudah reda kembali naik gegara kalimat Si Arifin barusan.


Kali ini, dia nggak mencoba lagi untuk meredakan emosinya dengan triknya tadi tapi langsung memaki Arifin sekeras-kerasnya.


"**!!!!!"


Seisi kantin sontak melirik ke arah Saiful. Dan Saiful hanya bisa menundukkan kepalanya. Tengsin berat cuy.


"Gara-gara kamu ni, Pin!" gerutu Saiful sambil melirik ke sampingnya.

__ADS_1


Tapi, sebelah kiri Saiful kosong.


Si Ipin sudah bergeser duduknya sejauh 2 meter dan bersikap seakan tak kenal dengan Saiful. Dia juga asyik meneruskan sarapannya seolah-olah tak terjadi apa-apa.


Saiful hanya bisa menahan malu dan mengatupkan rahangnya.


Saat jam kuliah sudah mulai dan kantin mulai sepi, Si Ipin mendekat lagi ke arah Saiful.


"Kamu tadi ngajakin aku ikut BEM ya Pul?" tanya si Ipin tanpa merasa berdosa.


Saiful diam tak menjawab.


"Jangan gitu lah. Masa gitu aja marah. Lebay ah," lanjut si Ipin.


Saiful menarik napas panjang dan mengelus dadanya.


"Keknya, kalau aku tetep temenan sama kamu, umurku bakalan lebih singkat deh Pin," gumam si Saiful.


"Wkwkwkwkwk. Masa sih?" jawab si Ipin sambil tertawa kecil.


"Udah ah, kumat ntar darah tinggiku. Habis kuliah terakhir nanti, aku mau daftar BEM, kamu mau ikutan nggak?" tanya si Saiful.


"Kayaknya nggak deh," tolak Arifin.


"Cewek lain ada nggak?" tanya Arifin mulai timbul harapan, ngarep si Seksi ikut juga.


Saiful pun menyebut beberapa nama cewek dari angkatan mereka tapi nama si Seksi belum juga disebutin sama Saiful.


"Dia nggak ikut ya?" batin Arifin kecewa.


Saiful tahu kalau tak ada satupun nama mahasiswi cantik yang disebutinnya barusan menarik hati sohibnya. Akhirnya Saiful pun pasrah.


Keknya dia nggak bakalan sukses ngajak si Ipin barengan sama dia gabung ke BEM.


"Ada lagi yang lain?" tanya Ipin dengan pandangan mata ngarep.


Saiful agak heran dengan tingkah Arifin. Perasaan nama semua mahasiswi cantik dah aku sebutin deh. Tinggal yang nggak masuk kriteria cantik doang. Tapi tak apalah. Mana tahu aja dia berubah pikiran.


Lalu si Saiful menyebutkan nama semua mahasiswi yang dia tahu sudah duluan daftar ke BEM. Saiful tidak memperhatikan saat mata Ipin bersinar untuk sekejap saat dia menyebutkan sebuah nama tadi.

__ADS_1


Setelah itu tanpa menunggu Arifin komen, Saiful langsung melanjutkan kata-katanya.


"Kalau kamu nggak ikut, nggak pa-pa juga sih. Tapi nanti aku sendirian disana. Nggak asyik banget," kata Saiful nyerah juga akhirnya.


"Oke. Ayo daftar. Kapan? Sekarang?" kata Arifin.


Saiful yang mendengarnya langsung bengong. Ni anak? Ngerjain aku ya dari tadi? ** betul ni, gerutu Saiful dalam hati.


Saiful nggak tahu kalau Arifin sama sekali nggak ngerjain dia dan Arifin baru berubah pikiran karena ada satu nama yang dia cari di antara deretan nama yang disebutkannya tadi.


Tapi Saiful senang, karena akhirnya dia berhasil membujuk Arifin masuk BEM bareng dia.


\=\=\=\=\=\=


"Tya, ada good news banget nih, gila," teriak si Natasha ke arah Tya yang sedang sibuk ngerjain tugas kuliahnya.


Nggak susah sih. Kan baru semester awal. Mata kuliahnya juga mata kuliah SMA kelas 4 kalau pake istilahnya senior-senior di kampus.


"Good news apaan Sha? Lu tu ya, bukannya ngerjain tugas," sungut si Tya.


"Alah, kita ni kan dah mahasiswa Tya. Bukan anak SMA lagi. Ngapain sih musti serius bener?" protes si Natasha.


"Serah deh. Nah tadi lu ngomong good news. Apaan?" tanya Tya.


Si Natasha dengan mata berbinar-binar dan bersemangat mulai ceritanya, "kamu tahu kan si cogan di angkatan kita? Yang namanya Arifin, dia ikutan daftar ke BEM juga lho. Asyik nih. Kita bakalan bisa ngegebet doi."


Tya tersenyum tipis. Jelas lah dia tahu si cowok ganteng yang dimaksud sama kawan sekamarnya. Dia kan si cowok norak yang dulu ngeliatin Tya terus.


Tapi Tya nggak kegeeran atau apa. Dia nyadar banget kok sama dirinya sendiri. Untuk cowok sekeren Arifin, mungkin yang masuk daftar incarannya tu cewek seperti si Renata atau mungkin Natasha yang sekarang Naudzubillah senengnya gegara Arifin ikutan BEM bareng mereka.


Jadi, good news yang dimaksud si Natasha, sama sekali bukan good news buat Tya. Biasa aja keles.


Tya dengan adem ayem mulai ngerjain tugasnya lagi, sedangkan Natasha asyik berjoget ria. Emang kawan sekamarnya ini hobi berat ngedance.


Untungnya dia nggak sampe parah habis nongkrong di diskotik. Tapi, emang speaker aktif yang ada di kamar mereka berdua tu lumayan cukup lah buat bikin geter kaca jendela kamar kos-an mereka.


"Tya, setel lagu ya?" kata Natasha dengan wajah dibikin memelas tapi ekspresi ceria, nah tu, coba kalian bayangin deh kaya mana.


"Ntar, dikit lagi gue kelar ni," jawab si Tya dengan ekspresi cool.

__ADS_1


Si Natasha nungguin Tya ngerjain tugasnya dengan tenang di belakang Tya dan jarinya masih gerak-gerak dengan irama imajiner dalam kepalanya.


Keknya salah masuk jurusan ni kawan sekamar Tya.


__ADS_2