
Sepasang pria dan wanita berjalan menyusuri jalan pasar Bandungan pagi itu. Di tempat ini, pasar buka mulai jam 12 malam. Para petani membawa hasil panen sayur mayurnya dan para pedagang dari Kota sekitarnya akan membawa mobil pick up mereka ke sini untuk membeli hasil sayur mayur itu dan menjualnya di Kota.
Tya belum tahu itu, makanya selepas mandi junub dan sholat subuh pagi tadi, ketika Ipin mengajaknya jalan-jalan pagi, Tya agak ragu. Sepagi ini, emang ada yang jualan?
Dan Tya pun kaget ketika melihat kehidupan para petani dan pedagang sayuran di Pasar Bandungan pagi itu. Betapa mereka adalah para pekerja keras yang rajin sekali. Di saat yang lain sedang terlelap, mereka sudah berjibaku mencari sesuap nasi, berpeluh keringat dan menawarkan dagangannya ditemani gelapnya dini hari.
Tya merapatkan tubuhnya ke arah suaminya dan Ipin pun memeluknya, "Dingin ya Dek?"
Tya menganggukkan kepalanya dan mereka berdua berjalan menyusuri pasar Bandungan yang sudah ramai pagi itu sekalipun mentari masih enggan menampakkan diri.
Tya melihat seorang penjual kue serabi sedang menuangkan adonannya ke dalam panggangan yang ada di depannya. Bau harum langsung tercium ke sekitarnya.
Ipin melirik istrinya dan mengajak Tya mendekati si penjual Serabi, "Dek Tya mau?" tanya Ipin.
"Iya Mas," jawab Tya sambil tersenyum, "tahu aja sih suamiku kalau Tya ngences," bisik Tya dalam hati.
Kedua sejoli itu lalu kembali berjalan-jalan menyusuri pasar Bandungan sambil menikmati kue serabi di tangan mereka.
*jangan ditiru gaess. ini nggak boleh. kalau di rumah, sering kena protes Ai kalau makan sambil jalan, layas robbana ... apa gitu dia teriaknya. wkwkwk.
Tya dan Ipin tak berhenti menyunggingkan senyum di bibir mereka. Mereka bahagia, dan mereka tahu itu. Kalau bisa, waktu berhenti saja dan mereka tetap seperti ini selamanya.
"Dek," panggil Ipin.
"Ya Mas?" jawab Tya sambil melihat ke arah suaminya.
"Dek Tya belum ada keinginan berhijab ya?" bisik Ipin pelan.
Bukan apa-apa, dari dulu, Ipin tu nggak rela kalau wajah dan tubuh Tya disedekahin gratisan ke mata cowok-cowok di jalan.
Tapi, dulu mereka kan masih pacaran, Ipin takut mau ngomong sama Tya. Sekarang pun, sekalipun sudah nikah, Ipin masih sedikit ragu-ragu juga. Tapi dia harus melakukan itu, nyesek ngebayangin mata-mata jelalatan seenaknya ngeliatin tubuh seksi dan wajah cantik istrinya.
"Tya pengen banget Mas. Dah kepikiran sejak masuk kuliah dulu. Tapi ... " Tya ragu-ragu mau melanjutkan kata-katanya.
Ipin mendengarkan istrinya dengan perhatian.
__ADS_1
"Tapi, Tya tu malu banget. Tya ngerasa kalau Tya belum layak pake hijab. Kelakuan Tya nggak ada alim-alimnya. Tya takut kalau dinyinyir orang. Pake jilbab kok kelakuan kek gitu. Makanya Tya jadi ragu-ragu terus," bisik Tya lirih.
"Dek Tya kan sekarang dah jadi istri Mas, masih takut kalau dinyinyir orang? Dek Tya rela kalau Mas makan ati terus?" tanya Ipin.
"Makan ati?" tanya Tya bingung.
"Mas nggak rela kalau istri Mas jadi sasaran mata jelalatan cowok lain. Dek Tya punya Mas. Biar Mas aja yang nikmatin keindahan Dek Tya," jawab Ipin.
Tya terdiam. Tya juga nggak bakalan rela kalau dia bikin suaminya merasa kek gitu.
"Iya Mas," jawab Tya.
Ipin langsung tersenyum cerah, "Makasih ya Dek," bisiknya pelan sambil mencium istrinya.
"Jangan senang dulu," kata Tya sambil tertawa.
"Eh?" Ipin kaget.
"Sebagai gantinya, Mas harus ngurangin ngerokok. Ya?" kata Tya.
Ipin terdiam dan berpikir sebentar, "butuh proses, tapi Mas janji," jawab Ipin mantap.
Mereka berdua lalu tertawa kecil dan kembali berjalan menyusuri jalanan Bandungan pagi itu.
Mereka tahu kalau setelah ini kehidupan mereka tak akan sama lagi seperti dulu, saat mereka masih lajang dan seorang diri. Dulu, mungkin mereka bisa hidup dengan cara yang mereka suka dan mereka mau. Tapi kini, mereka harus belajar untuk berkompromi.
Karena sekarang, mereka punya pasangan hidup yang akan menemani hari-hari mereka. Pasangan hidup yang tentu saja harus mereka dengarkan pendapatnya.
Pasangan hidup yang akan mereka ajak diskusi untuk melakukan kompromi dalam keseharian. Tapi justru karena itu mereka tahu kalau perjalanan hidup mereka yang penuh tantangan baru saja dimulai.
Dan mereka berdua saling memegang erat jari pasangannya karena mereka tak lagi sendirian saat menghadapi tantangan yang akan datang.
\=\=\=\=\=
Mulut Ipin terbuka lebar ketika melihat Tya, Mbak Nur, dan Ibu masuk ke dalam rumah sambil tertawa-tawa.
__ADS_1
Setelah honeymoon mereka di Bandungan, Ipin dan Tya kembali ke Salatiga. Ini kan sedang liburan kuliah pergantian tahun ajaran. Mereka memanfaatkannya sepuasnya.
Saat Tya mengutarakan maksudnya untuk membeli gamis dan hijab ke Mbak Nur dan Ibu, mereka berdua girang sekali. Dengan bersemangat, mereka langsung menculik istri Ipin tanpa minta ijin ke pemiliknya.
Kemana lagi kalau bukan belanja?
Dan itulah yang bikin Ipin kaget sekarang, "Dek Tya beli baju atau mau buka butik sendiri?" tanya Ipin sambil tersenyum kecut.
Gimana nggak?
Tya megang empat kantong besar, Mbak Nur dan Ibu masing-masing megang dua kantong di tangan kanan kirinya.
"Apaan sih? Kamu tu harusnya seneng sekarang Dek Tya dah mau pake hijab. Kan semua pakaian dia harus ganti. Besok pagi, kita mau belanja lagi. Sekalian. Tya nggak boleh pake lagi celana panjang dan baju ketat," cerocos Mbak Nur.
"Iya Pin, kan Ibu dah bilang kalau kamu nggak boleh ngirit-ngirit lagi. Apalagi ini demi hijrah istrimu. Awas kalau kamu ngelarang Tya belanja baju sama hijab," kata Ibu.
Tya cengar-cengir bahagia. Dia dah nebak dari dulu kalau Mertuanya bakalan ngebelain dia. Sekarang terbukti, Ipin kena semprot Ibunya sendiri.
Ipin tersenyum kecut. Kalau diterusin bisa-bisa dia dikeroyok oleh wanita-wanita di depannya.
\=\=\=\=\=
"Banyak bener sih Dek," keluh Ipin.
"Humph. Tya bilangin sama Ibu lho nanti," sungut Tya.
Ipin cuma tersenyum kecut. Tya sekarang selalu ngeluarin senjata andalannya.
Mereka sedang pindahan sekarang. Beberapa hari lalu Ipin dan Tya berhasil mendapatkan kontrakan rumah yang sesuai dengan keinginan mereka. Rumah kecil ukuran type 30. Kan mereka sekarang cuma berdua. Lagian, mereka hanya akan menempati rumah ini selama beberapa bulan saja sampai mereka lulus kuliah.
"Ada barang-barang yang mau diambil ke kosan Tya?" tanya Ipin.
"Dikit aja. Mas tu, ke kosan Mas dulu aja," kata Tya.
"Punya Mas juga nggak banyak. Ntar sekalian aja," jawab Ipin.
__ADS_1
Mereka berdua lalu bersama-sama memindah barang-barang dari mobilĀ mereka ke rumah kontrakan.
Lelah, capek, sibuk, tapi mereka bahagia.