
Menurut kalian lebih baik jadi cowok brengsek atau jadi cowok baik?
Kalau kalian jawab cowok baik, itu bullshit. Coba perhatiin deh, betapa larisnya tulisan-tulisan dengan tema 'bad boy' di wattpad.
Apalagi kalau mengusung ide 'bad boy tobat setelah ketemu sama cewek baik-baik' wuiihhhhhh. Dijamin laris manis macam pisang goreng di musim hujan. Ngantri yang baca.
Padahal kan dah jelas, laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, begitu juga sebaliknya.
Kalau pake bahasanya Haji Mas'ud, "kalau kamu sering keluyuran di pasar ya ketemu jodohmu di pasar. Kalau keluyuran di masjid ya ketemu jodohmu di masjid."
Bad boy tobat setelah ketemu cewek baik-baik? Njirr. Ngimpi lu Tong.
Mungkin terjadi sih, tapi ya itu, peluangnya kecil banget.
Emangnya kamu se-spesial itu bisa bikin si Bejat tobat? Ngaca woiii. Kalian tu cuma satu dari sederet trophy yang dikoleksi si Bejat.
Back to story.
Nah, si Arifin ini, niat hatinya mau jadi Bad Boy yang bejat juga. Tapi apa mau dikata, si adek kecil nggak mau diajak kerja sama. Dia nggak pernah bisa ereksi saat deketan sama cewek-ceweknya.
Arifin juga kenyang diputusin ceweknya selama SMA. Lha kok bisa?
Ya iya.
Dikira yang mesum cuma cowok aja. Mungkin ceweknya Arifin sering curhat sama temen-temennya dan cerita soal-soal kebejatan mereka bersama pacarnya, alhasil cewek Arifin mungkin ngerasa aneh dengan gaya pacaran Arifin yang seperti anak SD.
Akhirnya keluarlah kata-kata putus yang bikin Arifin keki dan garuk-garuk kepala.
"Kita temenan aja ya? Kamu terlalu baik untuk aku."
**!!
Susah kan jadi cowok baik-baik di jaman serba mesum sekarang ini?
__ADS_1
Arifin sempat galau juga dengan kondisi dirinya. Sempat terbersit pikiran-pikiran ngawur bin ajaib dalam kepalanya.
"Mungkinkah aku terlahir sebagai Gay? Penyuka sesama jenis?"
Tapi Arifin langsung menepisnya. Dia tidak pernah merasakan ketertarikan berlebihan kepada kawan-kawannya sesama jenis.
"Mungkinkah aku terlahir impoten?"
Itu pikiran kedua yang muncul di kepalanya setelah dia dengan yakin menolak hipotesanya yang pertama.
Alasan kedua ini yang lebih masuk akal di kepala Arifin. Dan dia akhirnya lulus SMA masih dengan keperjakaannya yang utuh dan menganggap dirinya impoten bawaan dari lahir.
Setelah lulus SMA, Arifin mengutarakan niatnya untuk kuliah.
Haji Mas'ud sendiri sebenarnya tidak pernah meminta Arifin untuk kuliah. Buat apa coba? Toh nanti setelah lulus, Arifin bakalan jadi penjual pisang meneruskan usaha Bapaknya.
Tapi Arifin bersikeras untuk kuliah. Dan dia menggunakan kata-kata Bapaknya sebagai alasan.
Haji Mas'ud terdiam dan merenung. Iya juga. Toh dia masih kuat untuk menjalankan usahanya sekarang. Biar aja Arifin keluyuran di kampus. Haji Mas'ud pengen juga punya menantu bergelar sarjana. Kan keren tu.
Akhirnya, Arifin pun keterima kuliah di Semarang.
Pengennya sih dulu Arifin mau kuliah ke Jogja. Tapi nggak dikasih sama Bapaknya. Kejauhan, katanya.
Mau kuliah di Salatiga, yang ada kampus Satya Wacana. Haji Mas'ud nggak mau nanti dapat menantu yang beda keyakinan.
Arifin pun akhirnya resmi berstatus mahasiswa di kampus Undip Fakultas Kelautan dan Perikanan.
Kok jauh sekali sama Pisang? Di Undip nggak ada Pertanian. Kalau mau ngeyel kuliah jurusan pohon pisang, Arifin harus lari ke Bogor. Nggak mungkin Haji Mas'ud ngijinin anak kesayangannya kesana.
Salatiga Semarang kan dekat. Cuma satu setengah jam aja kalau naik kendaraan pribadi pulang pergi. Takut kalau Arifin kenapa-kenapa di jalan, Haji Mas'ud nawarin anaknya beli mobil buat pulang pergi kuliah.
Nggak tanggung-tanggung, Haji Mas'ud nyuruh Arifin milih Fortuner atau Pajero, alasannya, biar lancar nanti milih calon menantu di kampus.
__ADS_1
Anak dan Bapak sama sablengnya.
Arifin cuma nyengir kuda saat itu, "Arifin mau tetep pake motor lama Arifin aja Pak'e. Biar nggak capek, nanti Arifin ngekos aja di Tembalang."
"Lha kok malah ngekos?" tanya Haji Mas'ud kaget saat anaknya ngomong kek gitu.
"Arifin pengen tetep hidup sederhana dan belajar mandiri," jawab Arifin.
Itulah pertama kalinya Haji Mas'ud merasa kalau program cuci otaknya sudah kebablasan merasuk ke kepala anaknya. Haji Mas'ud menyesal setelah mendengarkan alasan yang dipakai Arifin untuk minta ijin ngekos selama kuliah.
Haji Mas'ud cuma bisa menarik napas dalam dan mengiyakan permintaan anaknya.
Dan dimulailah kehidupan normal seorang mahasiswa bernama Muhamad Arifin.
Arifin memulai kehidupan kuliahnya dengan penuh semangat. Dia tahu kalau mahasiswa berbeda sekali dengan siswa.
Dulu semasa SMU, kawan-kawan Arifin ya hanya seputaran Salatiga dan sekitarnya, tapi kini, mahasiswa dari seluruh negeri akan berdatangan ke kampusnya.
Dia ingin melihat mahasiswa berkulit hitam dan berambut keriting dari Indonesia Timur.
Dia ingin mendengarkan logat melayu dari kawan-kawannya yang datang dari Sumatra.
Dia juga ingin bercakap-cakap dengan menggunakan kata-kata lu-gue dengan anak Jakarta seperti yang pernah dilihatnya tanpa sengaja di sinetron-sinetron nggak mutu yang diputar berulang-ulang di TV.
Dan di hari pertamanya ke kampus yang akan menjadi tempatnya menimba ilmu selama bertahun-tahun itu, Arifin tidak menyangka kalau dia akan mengalami sebuah pertemuan yang mengubah hidupnya.
Sebuah pertemuan yang akan selalu diingatnya. Pertemuan dengan mahluk terseksi dan terindah yang pernah dia jumpai.
Yang membuat Arifin berjanji akan mendapatkannya dengan segenap usaha dan tenaganya.
Mahluk seksi yang mematahkan anggapan Arifin bahwa dia selama ini impoten dan bukan sepenuhnya laki-laki.
Mahluk indah yang bernama Ayu Destya Ningrum.
__ADS_1