My Sexiest Girl

My Sexiest Girl
Chapter 21 - Wisdom


__ADS_3

"Kamu ngerokok Pin?" tanya Papa.


Ipin ragu mau jawab jujur. Dia masih trauma sama camernya yang ini. Sadis bener, hampir aja dia gagal dapat restu dari beliau.


"Napa? Kamu masih ngambek ya dah dikerjain Papa tadi?" tanya Papa sambil terkekeh.


"Nggak berani saya Om," jawab Ipin sambil tersenyum kecut.


"Kok Om? Panggil Papa aja. Bukannya kamu kesini mau ngelamar Tya?" jawab Papa.


"Ha?" Ipin jelas kaget lah.


"Tadi itu udah Papa anggap kamu ngelamar Tya. Dan Papa dah nerima lamaranmu, ngapain masih panggil Om?" kata Papa sambil tersenyum.


Fyuhhhhh.


Ipin membuang napas lega. Sakit, pedih, takut, dan semua perasaan nggak enak yang dia alami tadi terbayar lunas waktu ngedenger kata-kata Papa barusan.


"Arifin ngerokok Pa," jawab Ipin, kali ini dia nggak takut lagi untuk jujur ke pria yang duduk di sampingnya, kan dia dah jelas dapat lampu ijo yang nyala terang. Wkwkwkwkwk.


"Kalau gitu ngerokok aja. Panggil Tya suruh ambilin asbak di dalam," kata Papa.


Mereka berdua memang lagi ngobrol bareng di teras samping rumah Tya. Mama dan Tya entah ngapain di dalam rumah, tentunya mereka memberikan kesempatan ke Ipin dan Papa biar saling mengenal.


Ipin terlihat ragu, dia emang belum pernah nyuruh-nyuruh si Tya untuk melakukan apapun seperti ngambilin asbak atau hal-hal sepele lainnya.


"Nggak pa-pa. Kamu tu suami. Kamu pemimpin keluarga. Jangan terlalu manjain si Tya," kata Papa.


"Ma," panggil Papa dengan suara agak keras ke dalam rumah, setelah terdiam sebentar.


"Napa Pa?" tanya Mama tak lama kemudian dari pintu samping yang langsung tembus ke ruang keluarga.


"Minta si Tya ambilin asbak di dalam tu buat Arifin," kata Papa.


Mama menganggukkan kepalanya dan kembali masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, Tya keluar dengan asbak dan dua gelas kopi hangat di tangan.


Tya meletakkan kopi itu disamping Papa dan kekasihnya. Setelah itu, dia meletakkan asbak di samping Ipin.


"Papa jahat!!" sungut Tya sambil menghilang kembali ke dalam rumah.


Papa cuma tertawa kecil melihat tingkah putrinya.


"Kamu tahu nggak maksud Papa tadi?" tanya Papa ke arah Ipin.


Ipin yang sudah menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya, melirik ke arah Papa, "sedikit Pa," jawab Ipin jujur.

__ADS_1


Papa tertawa.


"Tadi, Papa cuma pengen mastiin dua hal," kata Papa pelan sambil meminum kopi di tangannya.


Ipin manteng telinganya untuk mendengarkan alasan Papa ngerjain dia dan Tya tadi. Soalnya Ipin juga merasa kalau yang tadi itu dah kelewatan juga sih.


"Yang pertama, seberapa serius si Tya itu sama kamu dan seberapa besarnya rasa sayang dia ke calon suaminya," lanjut Papa.


"Kalau tadi Tya memilih untuk meninggalkanmu dan mendengarkan kata-kataku. Itu artinya, dia nggak serius sama kamu."


"Wanita, suatu saat akan ninggalin keluarganya dan ikut suaminya."


"Kalau dia lebih memilih keluarga dibanding sang suami, suatu saat nanti kalau kalian ada masalah, dia pasti pulang ke rumah ini."


"Papa nggak mau itu."


"Saat Tya menjadi istrimu. Dia sudah menjadi milikmu, bukan lagi milik keluarga ini. Tya nggak boleh lagi balik ke rumah ini tanpa seijinmu. Apapun alasannya."


"Sekalipun dia anak Papa satu-satunya. Papa mau dia jadi istri yang baik bagi suaminya. Bukan anak yang baik bagi orang tuanya."


"Yang kedua, Papa ingin tahu seberapa serius kamu mempertahankan Tya dan seberapa besar rasa sayangmu untuk Tya."


"Kalau kamu tadi menyuruh Tya untuk nuruti kata-kataku dan meninggalkan dia di rumah ini, kamu nggak layak jadi suami anakku."


"Papa pengen Tya punya suami yang baik, dan Papa nggak pengen punya menantu yang baik."


"Karena Tya akan bahagia di tangan suami yang menyayangi dia, bukan di tangan menantu yang berusaha nyenengin mertuanya."


"Kalian nikah kan untuk seumur hidup. Bukan untuk setahun dua tahun."


"Ada saatnya nanti, Papa dan Mama bakalan duluan ninggalin Tya sendirian."


"Papa mau saat itu terjadi, Tya berada di tangan suami yang menyayanginya, karena dia nggak akan punya siapa-siapa lagi di dunia."


"Jadi, Papa harus ngelakuin ini untuk mastiin kalau kamu memang layak untuk Papa pasrahin anak Papa satu-satunya."


"Papa harap kamu ngerti alasan Papa," kata Papa pelan mengakhiri petuahnya.


Ipin terdiam, dia kini sadar kalau Papa melakukan itu semua demi anak satu-satunya. Anak yang mungkin akan meninggalkan mereka setelah mereka rawat dan besarkan bertahun-tahun. Anak yang akan meninggalkan orang tuanya dan menjadi istrinya.


Ipin kini paham betapa susahnya menjadi orang tua, yang bahkan harus berpikir bagaimana caranya memastikan supaya anaknya bisa tetep hidup bahagia setelah mereka tiada.


"Terima kasih Pa. Arifin janji akan menjaga dan menyayangi Tya," jawab Arifin pelan, dia benar-benar mengucapkan janji itu dengan sepenuh hati dan akan berusaha memenuhinya dengan segenap tenaganya, sampai akhir nanti.


Tak ada lagi rasa marah ataupun kekesalan terpendam untuk pria yang kini sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri itu.

__ADS_1


Papa tersenyum saat melihat Ipin berjanji dengan sungguh-sungguh di sebelahnya.


"Sekarang ngaku, kalian sudah ngelakuin sejauh apa?" tanya Papa tiba-tiba dan Ipin berasa terhempas kembali ke tanah waktu ngedengernya.


"Pa?" tanya Ipin dengan senyuman kecut di bibirnya.


"Halah, Papa tahu kelakuan anak jaman sekarang. Ngaku!!" desak Papa sambil mendelik ke arah Ipin.


Ipin melihat ke arah Papa dengan tatapan minta diampuni, lalu dia menghisap rokoknya dalam-dalam.


"Keknya, nggak bakalan ada habisnya ni aku dibikin babak belur sama Papa," keluh Ipin dalam hati.


\=\=\=\=\=


"Mas ngobrol apa aja sama Papa tadi?" tanya Tya sambil merapikan sprei kamar tidur tamu yang bakalan dipakai Arifin malam ini.


Sekalipun Ipin dah dapat restu, ortu Tya tetep nggak ngijinin Ipin dan Tya tidur sekamar, apalagi saat Papa tahu kalau Ipin belum mengambil mahkota si Tya.


Awalnya Papa nggak percaya, baru setelah Ipin bersumpah dengan nama Allah, Papa langsung tertawa bahagia. Berkali-kali dia bilang kalau Tya emang pinter milih calon suami, tapi tetep aja bikin Ipin keki. Siapa yang nggak keki kalau diinterogasi hal begituan sama camer?


"Kepo. Obrolan laki-laki mana boleh dikasih tahu ke Tya," jawab Ipin.


"Ooo gitu? Sekarang Mas dah maen rahasia-rahasiaan sama Tya ya?" kata Tya sambil berkacak pinggang dan ekspresi muka minta dicium.


Serius.


Makanya ngelihat Tya yang ngegemesin kayak gitu, Ipin nggak kuat lagi dan langsung nubruk pacarnya.


Ipin menindih tubuh Tya diatas kasur yang barusan dirapiin Tya dan melumat bibirnya.


Tya awalnya berontak, tapi penolakan Tya cuma bertahan tak lebih dari dua menit, setelah itu, hanya suara desahan napas dan bibir yang saling mengulum terdengar dari dalam kamar itu.


Dari dulu, Ipin tahu kalau dia nggak bakalan bisa ngerubah pendirian Tya soal keperawanan dan malam pertama, tapi dia menemukan penggantinya sejak satu setengah bulan lalu.


Ipin berhasil membujuk Tya untuk memuaskan hasratnya dengan melakukan service ke adek kecilnya dengan menggunakan mulut mungil Tya.


"Tya, Mas pengen banget ni," bisik Ipin pelan setelah mereka puas berciuman.


"Ish, Mas ni. Ini kan dirumah Tya. Mas nggak takut apa sama Papa?" jawab Tya dengan muka memerah.


"Ini juga gara-gara Papa tahu. Gara-gara insiden tadi sore, Mas jadi nyadar kalau Mas nggak bisa hidup tanpa Tya," kata Ipin.


"Gombal!!" sungut Tya dan bibirnya mencibir ke arah Ipin.


Tapi tetep aja Tya mulai bergerak turun dan membuka celana pendek yang dipakai cowoknya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, suara seseorang yang sedang menikmati es krim terdengar dari kamar tamu rumah Tya.


__ADS_2