
"Masih jauh nggak?" kata Ipin.
"Deket kok Mas," jawab Tya sambil tersenyum ke arah Ipin.
Yes, that's right.
Ini adalah hari dimana Ipin berkunjung ke camernya di Jakarta. Mereka berdua sudah jadian 6 bulan sebelum akhirnya ortu Tya ngasih lampu ijo agar putri mereka satu-satunya membawa pacar mereka ke rumah.
Ipin jelas seneng, ikan sepat ikan gabus, makin cepat makin bagus. Itu pantun favorit Ipin yang cocok untuk urusan ini. Makanya, sekalipun dia harus nyetir ke Jakarta, tetep dia jabanin.
Tak lama kemudian, Ipin dan Tya dah nyampe di salah satu perumahan menengah atas di daerah pinggiran Jakarta.
"Ini perumahan Tya," kata Tya pelan, "Tya tumbuh besar disini."
Ipin dengan antusias melihat ke sekelilingnya. Jadi disini gadisku tumbuh? kata Ipin dalam hati.
Beberapa menit kemudian, mobil Ipin parkir di depan sebuah rumah yang berpagar tinggi dan megah.
"Masuk Mas, Papa sama Mama pasti di rumah, soalnya Tya kan dah bilang mau ajak Mas kesini," kata Tya sambil tersenyum.
Ipin dan Tya kemudian turun dari mobil dan membawa oleh-oleh yang mereka bawa dari Semarang.
Sesampainya di dalam halaman, Ipin bisa ngelihat dua orang berdiri di depan rumah.
Seorang pria paruh baya yang terlihat rapi dan bersih dan seorang wanita paruh baya yang wajahnya mirip banget sama Tya.
Ipin bisa nebak kalau mereka adalah camernya. Ipin pun memberikan senyuman termanisnya untuk mereka berdua.
Eh, tapi Ipin kaget. Mamanya Tya membalas senyuman Ipin dengan ramah, tapi Papanya Tya mukanya datar aja.
"Oke, mungkin memang seperti adatnya orang kota," batin Ipin dalam hati.
Tya menggandeng tangan Ipin dan mereka berdua akhirnya berdiri di depan Papa dan Mama.
Arifin berinisiatif untuk memperkenalkan dirinya dan mengajak camernya bersalaman.
"Arifin, Om," kata Ipin.
Papa bersalaman dengan Ipin tapi masih memasang muka datarnya, Ipin mulai ngerasa sesuatu ada yang salah, tapi dia menepisnya.
"Nggak, tenang aja. Semuanya pasti lancar," bisik Ipin dalam hati.
Tya yang ngelihat Papa juga merasa ada yang aneh. Papa nggak pernah kek gitu sebelumnya, sekalipun dengan orang yang nggak Papa sukai.
Ipin lalu bersalaman dengan Mama dan memberikan oleh-oleh yang mereka bawa dari Semarang. Kalau Mama, dia menyambut salaman calon menantunya dengan semangat dan juga mengucapkan terima kasih saat Ipin memberikan oleh-olehnya.
"Kamu serius sama anakku?" tanya Papa tiba-tiba dengan nada ketus.
__ADS_1
Asli, Ipin langsung kaget, "kok gini sih? To the point tapi nadanya nggak enak," batin Ipin dalam hati.
Tapi Ipin tak gentar, dengan tegas dia menjawab pertanyaan camernya, "saya serius pengen memperistri Tya Om," jawab Ipin.
"Kamu boleh serius, tapi saya nggak ngijinin!" jawab Papa dengan raut muka mulai nggak enak.
"Pa!!" teriak Tya.
Tya sama sekali nggak nyangka kalau Papanya bakalan ngomong gitu. Dia langsung ngelihat ke arah cowoknya.
Muka Ipin macam habis kena tonjok di perutnya. Mules, sakit, kecewa.
Ini kali pertama Tya ngelihat Ipin yang seperti itu sejak dia mengenal cowoknya.
Tya ngerasa ada sebilah pisau ditusukkan ke dadanya. Sakit banget.
"Ipin," bisik Tya dalam hati.
"Papa kok ngomong gitu ke Arifin sih?" teriak Tya ke arah Papanya dengan muka marah dan mata hampir menangis.
Tya yang sebelumnya berdiri di sebelah Mama langsung berlari menuju kekasihnya yang masih di depan Papanya.
Tya berdiri di depan Ipin dan menghadap ke Papanya. Matanya menatap marah dan seolah-olah tak percaya kalau pria paruh baya yang di depannya sekarang adalah orang yang telah membesarkan dia selama ini.
"Kamu diam saja!!" kata Papa.
"Papa sudah membesarkan kamu selama puluhan tahun. Papa berhak menentukan masa depanmu. Termasuk dengan siapa kamu akan menikah!!"
"Papa?" kata Tya yang mulai menangis terisak-isak.
Cowoknya, kekasihnya dan calon suaminya dikata-katain orang kampung nggak jelas sama Papanya. Tya belum pernah ngerasaain sakit di dadanya melebihi yang sekarang dia rasakan.
Bahkan saat dia dulu sering kena bully gara-gara fisiknya, rasa sakit yang Tya rasakan nggak ada apa-apanya dibandingkan sekarang.
Ipin hanya menundukkan kepalanya, "jadi dimata keluarga Tya, aku ini hanya orang kampung yang asal usulnya nggak jelas?"
Dia ingin marah, teriak, dan membantah. Tapi mulut Ipin sendiri seperti terkunci. Orang yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri bahkan sebelum dia bertemu, sekarang menghina dirinya seperti itu.
Tya yang masih menangis terisak-isak, melihat ke arah Mama, meminta penjelasan dan pembelaan, tapi Mama juga menundukkan kepalanya memandang lantai teras rumahnya.
"Tya, Papa sudah memilihkan jodoh untukmu. Dia jauh lebih baik dari laki-laki yang di belakangmu. Orang kampung ini nggak layak untuk jadi suamimu," kata Papa agak melunak sambil membujuk anaknya.
Tya kembali menatap Papanya.
Dia sama sekali tak percaya kalau Papa setega itu.
"Tya nggak mau. Tya sayang Ipin. Sekalipun Papa mengganti Ipin dengan laki-laki yang seribu kali lebih baik dari Ipin, Tya nggak akan mau," jawab Tya di sela isak tangisnya.
__ADS_1
"Kamu berani melawan Papa sekarang? Setelah apa yang Papa lakukan demi kamu?" kata Papa dengan nada mulai meninggi.
"Tya nggak peduli. Tya sayang Ipin. Tya hanya mau menghabiskan hidup Tya sama Ipin," jawab Tya dengan mata menyala marah dan suara tangisan di sela-sela perkataannya.
Ipin bimbang melihat semuanya.
"Haruskah aku memisahkan Tya dan Papanya?" bisik Ipin dalam hati.
Papa melihat ke arah Ipin, "Kamu!!! kamu lihat kan sekarang apa yang kamu perbuat kepada anakku? Sekarang dia berani melawanku! Aku ini Papanya. Aku yang membesarkan Tya, dan sekarang kamu datang entah dari mana dan membuat Tya seperti sekarang ini."
Ipin makin bimbang, kata-kata Papa memang benar. Ipin tahu seberapa besar rasa sayang Tya kepada dirinya. Dia tidak ragu akan hal itu. Tapi justru karena itu mungkin Tya berani melawan keluarganya.
"Apa yang harus kulakukan?" keluh Ipin dalam hati.
Tya melihat interaksi antara Papanya dan Ipin. Dia bisa melihat dan merasakan apa yang Ipin rasakan. Dia juga bisa merasakan kebimbangan Ipin dan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya.
"Mas, asalkan Mas bersedia, Tya rela meninggalkan keluarga Tya dan kawin lari bersama Mas. Tya sayang Mas, lebih dari apapun," bisik Tya lirih ke arah kekasihnya.
Tangan Tya menggenggam erat jemari Ipin. Dia tak ingin melihat kekasihnya seperti sekarang ini, karena Tya sayang Ipin. Dia akan melakukan segalanya untuk kekasihnya.
Saat Ipin melihat tatapan mata Tya yang sudah membulatkan tekadnya, Ipin seperti disengat listrik.
"Kenapa aku bimbang? Tya memilihku. Tya melakukannya karena rasa sayangnya kepadaku melebihi apapun, sekalipun itu keluarganya," bisik Ipin dalam hati.
"Apakah aku seorang pengecut?"
"Tya berani memilihku, akankah aku mengecewakannya?"
"Tya mempersembahkan dirinya, jiwa, dan raganya untukku. Kenapa aku tak berani menerimanya?"
"Tidak. Aku bukan seorang pengecut," kata Ipin dan dia tersenyum, semua kebimbangan dalam hatinya lenyap.
Ipin meremas jemari Tya, "aku tak akan pernah ngecewain Tya. Aku sayang Tya."
Tya tersenyum. Dia tahu pilihan apa yang sudah dibuat oleh kekasihnya.
Ipin tak memperdulikan lagi semuanya, dia menggandeng tangan Tya dan mengajaknya berjalan ke luar ke arah mobilnya yang di depan pagar.
"Persetan dengan restumu, aku akan bawa lari anakmu," gumam Ipin yang disambut senyuman manis Tya.
Mereka berdua melangkah pelan sambil bergandengan tangan, meninggalkan rumah tempat Tya dibesarkan sedari kecil. Seiring waktu, langkah pelan mereka berubah menjadi lari kecil dan mereka berdua tersenyum bahagia.
Berlari menuju masa depan mereka berdua.
"Pa," panggil Mama pelan saat melihat anaknya dibawa kabur pacarnya di depan mereka berdua.
Wajah datar Papa berubah, dia menyunggingkan senyuman lega sekaligus sedih, "anak kita sudah dewasa Ma, dan dia mendapatkan laki-laki yang baik sebagai calon suaminya. Papa nggak lagi kuatir masrahin Tya ke Arifin."
__ADS_1
Mama tersenyum bahagia, dengan cepat dia berlari menyusul anak satu-satunya dan kekasihnya yang hampir mencapai gerbang rumah mereka.
"Tya, berhenti Sayang. Kalian sukses melewati screening Papa," teriak Mama.