My Sexiest Girl

My Sexiest Girl
Chapter 14 - Cium Tangan


__ADS_3

Ipin mengajak mereka bertiga keluar dari gudang itu. Tapi mereka bertiga ngerasa ada yang sedikit aneh. Semua orang yang papasan dengan mereka selalu tersenyum ramah dan menganggukkan kepalanya ke Ipin dengan sopan.


Ipin emang anak kuliahan tapi nggak perlu segitunya juga kan? batin mereka bertiga.


Sesampainya di luar gudang, seorang wanita berjilbab dan berbaju rapi mendekati mereka berempat.


"Mbak, ini ada temanku. Aku tinggal pulang dulu ya?" kata Ipin.


"Iya Mas, nanti siang saya antar pembukuannya ke rumah," jawab si Mbak dengan sopan.


Tya, Tasha dan Ipul ngelihat interaksi mereka berdua dengan tatapan sedikit aneh dan setelah mengingat tingkah semua orang yang tadi berpapasan dengan mereka pun mulai curiga.


"Ini gudang siapa Pin?" tanya si Ipul, mewakili pertanyaan yang sama di kepala Tya dan Tasha.


Ipin ngelihat dengan pandangan kaget ke arah Ipul, "emang napa Pul?" tanya Ipin.


"Nggak pa-pa, katanya Bapakmu sakit, ni kita mau jenguk, kok kamu malah disini?" jawab si Ipul.


Muka si Ipin langsung cerah waktu ngedenger itu, "jadi kalian kesini karena itu? Maafin aku ya dah bikin kalian repot," kata Ipin.


"Aku dikerjain sama Mbakku. Bapak cuma meriang kok. Nggak kenapa-kenapa. Tapi tetep harus istirahat di rumah. Jadi aku bantuin Bapak jaga gudang," jawab Ipin sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau Bapak nggak kenapa-kenapa," kata Tya sambil menghembuskan napas lega.


Ipin melirik ke arah Tya dan tersenyum, "cewekku perhatian sama camernya ternyata," batin Ipin dalam hati sambil meremas jemari Tya.


Dari tadi emang masih gandengan tu anak berdua. Padahal baru nggak ketemu dua hari aja, emang sama-sama somplak.


"Jadi ini gudang Bapakmu?" tanya Ipul kepo.


Ipin cuma menganggukkan kepalanya dan tersenyum sebagai jawaban.


Ipul langsung berdecak kagum. Sialan, ternyata tajir juga si Ipin ni, kata Ipul dalam hati.

__ADS_1


"Ke rumah aja ya? Aku bawa motor kok, nanti kalian ikuti aja dari belakang," kata Ipin beberapa saat kemudian.


"Aku bonceng Ipin aja," jawab Tya dengan cepat yang disambut senyuman oleh Ipin.


Tasha langsung monyong. Gini amat sobat gue. Giliran dah ketemu doinya, gue langsung ditinggalin, keluhnya dalam hati.


Tasha jalan sama Ipul ke mobil Rena sedangkan si Ipin yang masih gandengan sama Tya menuju ke motor Ipin.


Tak lama kemudian Ipin mengklakson mobil Rena, isyarat agar mereka mengikuti motornya dan Ipul balas mengklakson sebagai jawaban.


Satu motor dan satu mobil terlihat jalan beriringan setelah itu.


Waktu Rena ngelihat si Tya bonceng Ipin, awalnya juga dia kaget dan melongo tapi setelah mengingat kejadian tadi saat Tya ngomong kalau Bapaknya Ipin adalah penjual pisang, hanya orang goblok yang nggak ngeh kalau sebenarnya yang jadian sama Ipin tu si Tya bukan Tasha.


Rena ngelirik ke spion tengah ke arah Tasha yang duduk di jok belakang, "mereka dah lama ya jadian?" tanya Rena ke Tasha.


Tasha cuma mendenguskan napas saat mendengar pertanyaan Rena. Sampe sekarang dia masih kesel dengan kelakuan cewek di depannya itu. Tapi setelah itu Tasha sadar, kalau Rena nggak selingkuh, nggak bakalan juga Tya sama Ipin jadian kan?


Rena terlihat kaget, itu artinya mereka dah jalan lebih dari dua bulan kan? Dan itu artinya, gadis yang membuat Rena nggak bisa balikan sama Ipin tu ternyata si Tya?


Ipin nggak mau balikan sama aku gara-gara cewek chubby model Tya gitu? Rena bener-bener nggak terima setelah tahu kenyataan di depannya.


Apanya sih yang diliat Ipin dari Tya? Ibarat kata, orang buta juga bakalan lebih milih Rena kali. Lha ini si Ipin? Kok bisa-bisanya? Rena nggak habis pikir gegara itu. Selama perjalanan, mereka bertiga hanya terdiam.


Tak lama kemudian mereka sampai di perkampungan yang terlihat ramai. Pohon yang ada di sekeliling mereka juga didominasi oleh pohon pisang.


Dan yang terlihat aneh, rumah di perkampungan ini terlihat bagus-bagus dan rapi. Jauh dari bayangan mereka yang mengharapkan deretan rumah papan di kampung yang agak jauh dari kota ini.


Parahnya lagi, mereka bukan orang kampung udik yang nggak melek teknologi. Mobil Rena bukanlah sesuatu yang wah disini, banyak mobil sejenis diparkir di halaman rumah-rumah itu.


Tak lama kemudian, mereka sampai ke depan sebuah rumah yang paling besar dan megah di tengah-tengah kampung. Sebuah masjid besar yang cantik dan megah juga berdiri di seberang jalan rumah itu.


Saat motor Ipin sampai di depan rumah itu, beberapa anak-anak langsung berlari mendekati motor Ipin.

__ADS_1


"Mas Arifin," panggil mereka sambil bersalaman dan mencium tangan Ipin satu-satu.


Dan karena Tya ada di boncengan Ipin, tangan Tya juga jadi sosoran kecupan mereka.


Salah satu anak yang pemberani bahkan berteriak, "ini pacarnya Mas Arifin ya?" teriaknya.


Ipin cuma tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "iya. Cantik kan?" tanya Ipin.


"Cantik Mas," jawab mereka kompak dan sebagian ada yang mengacungkan jempolnya.


Tya jelas malu banget. Tadi juga tangannya dah dicium rame-rame sama anak-anak itu. Udah seperti ibu pejabat atau artis aja Tya disini.


"Mereka anak-anak yatim di kampung sekitar sini," kata Ipin, "Ibu yang pengen Bapak bikin panti asuhan," lanjutnya.


Tya hanya menjawab dengan anggukkan kepala dan senyuman.


Arifin tersenyum jahil dan menggoda Tya, "kalau Tya jadi Nyonya Arifin nanti, kudu siap-siap juga ngeladenin mereka. Tya nggak alergi anak-anak kan?"


Tya melayangkan cubitan mesra ke pinggang Arifin sebagai jawaban.


Setelah itu, motor Arifin masuk ke dalam rumah yang paling besar itu. Ipul mengikutinya dan parkir di halaman depan rumah.


Arifin turun dari motor dan nungguin mereka bertiga di depan rumah bareng si Tya. Nggak berani gandeng Tya lagi sekarang. Minta dihajar Ibu? Kan belum resmi jadi mahram.


Seorang perempuan muda berjilbab berlari keluar dan membuka pintu rumah.


"Mbak, bilangin Ibu sama Mbak Nur, kawan-kawan kuliah Ipin pada maen ke rumah," kata Ipin ke si Mbak.


"Iya Mas," jawab si Mbak terus lari ke dalam lagi.


Saat Rena, Ipul dan Tasha nyampe ke samping mereka, Ipin pun mengajak mereka masuk kedalam. Mereka berempat sempat ngelirik mobil yang diparkir di garasi sebelah rumah.


Busyet dah, tu garasi apa showroom ya? batin mereka.

__ADS_1


__ADS_2