My Sexiest Girl

My Sexiest Girl
Chapter 15 - Screening


__ADS_3

Rena cuma diem aja dari tadi.


Semuanya seperti mimpi. Awalnya dia pikir Ipin anak rumahan biasa. Terus berubah jadi anak kampung dan ternyata sekarang aslinya anak juragan. Selama ini, dia merasa kalau dia dan Ipin jadian tu udah untung di Ipin.


Rena cantik dan tajir, Ipin cuma menang ganteng doang. Oke lah sedikit encer juga otaknya. Tapi sekarang, Rena nggak punya apapun yang bisa dia banggain di depan Ipin.


Pura-pura miskin sekarang lagi ngetrend ya? keluh si Rena dalam hati.


Kalau si Tya, beda yang dia pikirin. Setelah semua yang terjadi, dia punya setumpuk harapan untuk seriusan sama si Ganteng. Dia sama sekali nggak mikir soal ekonomi sama sekali. Cuma satu yang ada di kepalanya saat ini.


Gue bakalan lolos screening calon mertua nggak ya? bisik Tya dalam hati.


Si Ipul lain lagi. Dia dari tadi mikirnya, ni Ipin emang cupu banget, mobil di rumah berderet-deret, ngapain kuliah pake motor? Tinggal bawa satu ke kampus, dah pasti cewek yang levelnya di atas Rena sekalipun bakalan ngekor. Puas deh tu ngincip sana ngincip sini.


Asli, emang otak si Ipul ini nggak pernah jauh dari ****.


Tasha?


Gegara kasus di gudang tadi, yang terbayang di otaknya cuma Ipin yang lagi bertelanjang dada. Dia udah buang jauh-jauh image Ipin si cowok baek. Digantinya jadi Ipin si cowok 'hot'. Dia buru-buru pengen balik aja ke kamar kosnya. Ntah mau ngapain. Wkwkwkwk.


Si empunya rumah?


Nggak mikir apa-apa dia. Wkwkwk. Karena dia lagi happy banget. Dah lama Ipin pusing mikirin gimana caranya ngajak Tya ke rumahnya buat dikenalin ke keluarganya, tapi sampe sekarang belum nemu juga caranya. Ipin takut kalau ceweknya takut terus mundur teratur. Eh, lha kok malah nongol sendiri ke sini tanpa diundang mirip jelangkung.


Gimana nggak happy dia?


Jadi kelima orang yang katanya mahasiswa itu, asyik sibuk dengan pikirannya masing-masing di ruang tamu rumahnya Ipin.


Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya dan berjilbab keluar dari dalam, dia tersenyun ramah ke Ipin dan kawan-kawannya. Dia memberikan senyuman penuh arti ke arah Ipin dan melirik ke gadis di sebelahnya yang terlihat gugup dan tegang.


Ibu langsung tahu kalau tu cewek adalah calon mantunya tanpa dikasih tahu anaknya.


"Ini Ibuku," kata Ipin sambil berdiri di sebelah Ibu.

__ADS_1


"Makasih lho dah ngerepotin. Jauh-jauh jenguk Bapaknya Arifin dari Semarang," kata Ibu sambil bersalaman ke Tya, yang duduk di sebelah Arifin.


Tya dengan cepat menyambut tangan Ibu dan menciumnya.


"Tya Bu," kata Tya ngenalin diri.


Ibu langsung tersenyum dan menggunakan tangan satunya lagi untuk mengelus rambut Tya dengan lembut.


Setelah itu, Ibu bersalaman dengan kawan-kawan Ipin yang lain. Tapi dia tidak mengulangi usapan tangannya ke gadis selain Tya. Semua kawan Ipin sadar itu. Dan mereka tahu kalau Ibunya Arifin dah ngerti siapa calon mantunya.


Mereka lalu ngobrol-ngobrol biasa tentang daerah asal mereka satu persatu dan sebagainya. Obrolan ringan aja.


Si Mbak yang tadi ngebukain pintu, keluar lagi dari dalam membawa minuman dan makanan ringan.


"Kalian kan belum pernah ke Salatiga dan sekitarnya to? Nginep sini aja ya? Biar nanti diajak muter-muter sama Arifin," kata Ibu, "lagian kan dah mahasiswa, nggak perlu minta ijin ortu lagi kan?"


Kawan-kawan Arifin tertawa mendengar candaan Ibu si Arifin.


Tiba-tiba, seorang wanita berjilbab yang terlihat cantik dan masih seumuran mereka keluar dari dalam rumah dan terlihat ketawa senang, "mana calon adekku?" teriaknya kenceng begitu sampe ke ruang tamu.


"Nur!" tegur Ibu ke kakaknya Ipin.


Mbak Nur cuma senyum-senyum jahil ke arah Ibu, "ini kakaknya Arifin. Nggak beda jauh kok umurnya. Harap maklum ya Nak, agak tengil memang," kata Ibu.


"Ibu," protes Mbak Nur karena dibilang tengil, setelah itu dia ngelihat satu-satu kawan si Ipin.


Sama seperti Ibu, Mbak Nur juga langsung tahu siapa ceweknya Arifin. Ya jelas lah. Pasti yang duduk di sebelah adeknya dan sekarang lagi malu-malu kucing sok jaim.


Mbak Nur langsung mendekat ke Tya dan dengan cueknya narik tangan Tya, "pinjem bentar Pin," kata Mbak Nur.


Bukan kalimat pertanyaan minta ijin. Tapi kalimat pernyataan sebatas informasi. Dia nggak nerima penolakan dari Ipin atau Tya sama sekali.


Tya jelas ngikut lah, masak mau ngelawan calon kakak ipar?

__ADS_1


Mereka berdua lalu ngilang di dalam rumah.


Tak lama kemudian, Ibu juga pamit ke dalam. Tinggal Ipin dan ketiga kawannya yang tersisa.


"Kalian nginep aja ya? Ntar habis ini, kalau dah ilang capeknya, kita jalan-jalan. Pernah naik ke gunung Ungaran atau liat Rowo Pening nggak? Deket kok dari sini," kata Ipin.


"Banyak wisatanya juga, udaranya juga enak, adem, seger. Nggak kayak Tembalang, panas," lanjut si Ipin.


Si Ipul mah langsung 'yes' aja jawabannya, kapan lagi bisa piknik gratis? Nggak mungkin kan patungan? Anak juragan gitu loh.


Rena terlihat bimbang sebentar, dia kayaknya nyesel berat sekarang, harusnya yang tadi dielus rambutnya sama Ibu dan yang diseret masuk ke dalam sama Kakaknya si Ipin bukan Tya. Harusnya dia.


Tapi dia sudah kehilangan kesempatan itu.


Tasha juga setuju untuk nginep disini, sama kaya Ipul. Toh sekali-sekali happy-happy dan bolos kuliah kan nggak pa-pa.


Tya nggak usah ditanya deh, dia keknya dah dianggep keluarga sendiri disini. Dia aja entah dibawa kemana sekarang sama Kakaknya Ipin. Mereka juga ragu kalau si Tya bakalan diijinin balek ke Semarang. Wkwkwkwk.


"Oke deh kalau gitu," jawab Ipin.


Tiba-tiba Tya keluar dari dalam rumah, "Pin, kata Ibu, kawan-kawan suruh diajak makan siang dulu."


"Yuk ah cuy. Nyante aja kalau disini," kata Ipin sambil beranjak berdiri.


"Ish, udah kaya elu aja yang punya rumah," sungut Tasha ke Tya, bercanda tentu saja.


Mereka semua ketawa mendengar candaan Tasha, termasuk si Rena juga tersenyum, meskipun agak pahit dikit.


"Apaan sih Sha?" jawab Tya sambil melotot, tapi jelas dong dia seneng.


Soalnya proses screening calon mertua dah berjalan lancar dan Tya udah dapat lampu ijo dari Ibu dan Kakaknya Ipin.


Tya juga tersenyum sendiri saat dia ingat waktu tadi Kakak Ipin narik dia ke dalam, Mbak Nur bilang, "Tya udah Mbak anggep adek sendiri, Mbak dari dulu pengen banget punya adek cewek. Nanti kalau Arifin berani macem-macem, bilang aja ke Mbak, biar Mbak yang sentil telinganya."

__ADS_1


Gimana nggak berbunga-bunga hati si Tya?


__ADS_2