
Ayu Destya Ningrum.
Cantik banget namanya, secantik wajahnya. Rambutnya hitam lurus. Kulitnya putih bersih tapi bukan putih pucat kurang sinar matahari ya.
Hari itu, dia menginjakkan kakinya di Semarang. Kota yang asing bagi dirinya dan berada di Jawa Tengah.
Dulu dia sering ketawa sendiri kalau ngomongin soal 'Jawa'.
Di Jakarta, tempat dirinya lahir dan dibesarkan, orang akan mengidentikkan Jawa dengan Kampung.
Dan yang masuk hitungan Jawa itu ya ini. Tempat yang sekarang dia injak.
Ayu Destya Ningrum, yang punya nama panggilan Tya, tiap kali berkenalan dengan orang yang agak culun pasti langsung teringat kata Jawa.
Tya kalau ngelihat mbak-mbak asisten rumah tangga saat main ke rumah temen-temennya juga selalu teringat kata Jawa. Sama seperti asisten rumah tangga di rumahnya sendiri.
Saat Tya ngelihat orang yang bicaranya kalem dan suaranya pelan, dia juga langsung teringat kata Jawa.
Tapi kini, Tya berdiri di Jawa, tepatnya di Semarang. Tempat dia menentukan pilihan untuk melanjutkan kuliahnya.
Tya nggak nyadar kalau tempatnya lahir dan besar selama ini juga masih termasuk dalam Pulau Jawa. Setidaknya itu kata Atlas yang dipakai untuk pelajaran Geografi.
Dan tak seperti bayangannya, Semarang ternyata ramai banget, bising dan sering macet juga.
Lha mana Jawa yang kampung dengan hamparan sawahnya?
Tya kemudian melihat ke segerombolan anak-anak yang dia tahu warga keturunan Tionghoa. Kayaknya anak-anak usia SD.
Dan saat mereka lewat di dekat Tya, Tya tertawa tiba-tiba. Anak-anak yang putih bersih dan bermata sipit itu sedang bercakap-cakap dengan bahasa Jawa dan logatnya yang medok banget.
Sama sekali nggak sesuai dengan tampilan wajah mereka.
Tya kemudian memasang telinganya baik-baik dan kini dia bisa mendengar suara percakapan di sekelilingnya. Dan Tya pun tersenyum.
"This is it. Gue nggak nyasar. Beneran Jawa ini," gumam Tya.
Karena saat ini Tya bisa mendengar suara orang di sekitarnya semua bercakap-cakap dengan bahasa Jawa.
__ADS_1
Tya mengeluarkan Hpnya dan memesan taksi online untuk mengantarnya ke hotel.
Yup. Tya sengaja datang ke Semarang seminggu sebelum kuliah tiba karena dia ingin mencari kost-kostan terlebih dahulu dan membiasakan diri dengan lingkungan di sekitar kampusnya. Kampus tempat dia akan menghabiskan masa kuliahnya.
Sebenarnya Papa dan Mama nggak tega ngebiarin Tya ke Semarang sendirian. Tapi Tya ngotot dan pengen belajar mandiri. Akhirnya Papa dan Mama menyerah pada keinginan anak semata wayang mereka.
Dan disinilah Tya sekarang. Berada di sebuah kota yang asing baginya dan berharap untuk memulai kehidupan kuliahnya yang fresh.
\=\=\=\=\=
"Apaan sih? Ngeliatin segitunya. Norak banget anjirrr," gumam Tya ketika menyadari ada maba cowok yang ngeliatin terus ke arahnya sejak tadi.
"Tapi ganteng juga sih," lanjut si Tya sambil tersenyum dalam hati.
Di tempat lain.
Arifin masih tak percaya dengan apa yang barusan terjadi dengan dirinya. Saat dia ngeliat mahasiswi baru yang satu jurusan dengan dirinya tanpa sengaja, si adek kecil langsung menggeliat bangun tanpa dikontrol. Dan sejak itu, Arifin selalu mencuri-curi pandang ke arah si gadis yang bikin dia ereksi itu.
Saat itu, Arifin baru sadar kalau wanita sempurna itu beneran ada. Sumpah gila. Cantik banget. Dadanya berisi. Pantatnya bahenol. Proporsi badannya bener-bener perfect.
Arifin belum tahu kalau perjumpaan ini hanyalah awal dari perjuangan panjang dan paling melelahkan yang akan dia hadapi.
Yang akan membuatnya patah semangat dan sadar kalau kata-kata bijak 'besarnya usaha sebanding dengan hasilnya' itu benar adanya.
\=\=\=\=\=
"Ayu Destya Ningrum," gumam Arifin.
Dia berhasil mendapatkan nama gadis itu di hari pertama kuliah dimulai.
Kenalan?
Nggak. Dia ngedengerin dan fokus 120% saat dosen mata kuliah Kewarganegaraan ngabsen mahasiswa baru di kelas mereka.
Lha kok nggak kenalan?
Jangankan kenalan. Arifin dah nyoba mendekati Si Seksi pagi tadi, tapi kakinya gemetaran nggak ketulungan saat dia masih lima meter dari gadis itu.
__ADS_1
Arifin nggak berani nerusin lagi, karena dia yakin, kalau dia maksa, dia bakalan pingsan bahkan sebelum bisa ngucapin kata 'hai'.
Lebay?
Nggak. Ini serius. Arifin dah sering gonta ganti cewek saat di SMA dulu. Tapi nggak pernah sekalipun cewek-ceweknya dulu memberikan reaksi sedahsyat ini kepada dirinya.
Sesuatu yang justru bikin dia makin yakin kalau si Seksi memang titik lemahnya. Mirip kryptonite bagi si Superman.
\=\=\=\=\=
"Bro, mau ikutan BEM nggak?" tanya Saiful, salah satu kawan akrab Arifin setelah dia kuliah di kampus ini selama lebih dari dua bulan.
Saiful tiba-tiba saja sudah duduk di samping Arifin yang sedang asyik menikmati sarapan paginya di kantin kampus.
Si Saiful ini dulu sempat bikin keki Arifin. Dari dulu, Arifin pengen banget punya kawan dari Indonesia Timur. Dan Arifin tahu kalau memang ada kuota dari Undip untuk siswa dari seluruh Indonesia.
Mereka masuk tanpa melalui jalur SPMB tapi melalui jalur PSSB. Itu lho, yang melamar masuk ke kampus negeri saat kita masih SMA dan menggunakan tolok ukur nilai rapor dan piagam penghargaan sebagai syaratnya.
Nah, biasanya Kampus dengan sengaja mengambil satu orang tiap provinsi untuk kursi jatah PSSB ini. Jadi Arifin yakin kalau dia bakalan punya kawan dari seantero negeri.
Tapi.
Si Kampret Saiful ini mengecewakan angan-angan Arifin. Dia masuk sebagai mahasiswa PSSB dari provinsi Papua. Dan Arifin sudah berharap punya kawan berkulit hitam untuk pertama kalinya.
Saat tahu kalau Saiful, yang nama lengkapnya adalah Saiful Bahri, ternyata mahasiswa PSSB dari Papua, Arifin tak percaya.
"Kok kamu nggak keriting?" tanya si Ipin waktu kenalan dengan Saiful untuk pertama kali.
"Maksud kamu apaan Bro?" tanya si Saiful nyolot.
"Kamu kan dari Papua, kok nggak keriting? Terus nggak item?" tanya Arifin lagi tanpa merasa berdosa.
"Aku memang dari Papua. Dari kecil sudah disana dan besar juga disana. Tapi Bapak sama Ibuku asli Jepara. Bapakku dapat penugasan disana," jawab Si Saiful.
Ampun deh.
Arifin menepuk jidatnya sendiri. Itulah kenangan awal yang mereka punya saat memulai persahabatan mereka berdua.
__ADS_1