My Sexiest Girl

My Sexiest Girl
Chapter 1 - Pisang


__ADS_3

Oke, sebelum kita masuk ke adegan tampol-menampol yang ada di prolog, ada baiknya kita flashback dulu ke belakang. Biar jalan ceritanya nyambung.


Kira-kira 6 bulan sebelum kejadian, mmmm terlalu dekat kayaknya.


Kita mundurin lagi.


Kira-kira 2 tahun sebelum kejadian, saat Arifin lulus SMA, mmmm masih terlalu dekat.


Kita mundurin lagi deh.


Kira-kira 20 tahun sebelum kejadian, nah pas banget ni. Ini waktu si Arifin mau lahir. Kita mulai ceritanya dari sini.


20 tahun sebelum kejadian tampol menampol yang ada di Prolog, ada seorang penjual pisang di Salatiga yang namanya Abdul Mas'ud.


Pak Abdul Mas'ud yang sering dipanggil Pak Mas'ud ini waktu itu hanya memiliki seorang anak perempuan yang dia beri nama Nur Alfiah dan masih berusia 4 tahun.


Tapi Pak Mas'ud yang bercita-cita punya anak laki-laki tak pernah menyerah dan akhirnya Bu Mas'ud hamil tepat dua puluh tahun sebelum adegan kekerasan di Prolog.


Pak Mas'ud si penjual pisang biasanya akan menggunakan sepedanya untuk membeli pisang dari petani atau penduduk dan menjualnya ke pasar. Dia mengambil selisih harga sebagai keuntungannya.


Saat Istrinya melahirkan dan ternyata anak keduanya laki-laki, Pak Mas'ud senang sekali. Dia memberi nama anak laki-lakinya Muhamad Arifin.


Karena do'anya untuk mempunyai anak laki-laki terkabulkan, Pak Mas'ud menjadi semakin rajin berdagang. Terkadang dia bahkan pulang larut malam. Dia tidak ingin anak laki-lakinya kelak bekerja keras membanting tulang seperti dirinya.


Meskipun dia sangat membutuhkan uang, Pak Mas'ud masih tetap berdagang dengan jujur dan mengambil untung seadanya. Meskipun dia orang desa dan berpendidikan rendah, Pak Mas'ud memegang teguh prinsipnya.

__ADS_1


Mungkin memang sudah diatur oleh Gusti Allah dan digariskan seperti itu jalannya, pada suatu hari Pak Mas'ud bertemu tak sengaja dengan karyawan bagian Pembelian sebuah perusahaan roti yang berada di Semarang. Kalian pasti tahulah, nama Perusahaan itu Nissin, yang bikin biskuit legendaris kaleng merah itu lho.


"Pak Mas'ud, kalau kami minta Bapak supply pisang dalam jumlah besar ke perusahaan, kira-kira Bapak sanggup nggak?" tanya si Karyawan waktu itu.


Pak Mas'ud agak ragu untuk mengiyakan, bukan apa-apa, dia hanya pedagang kecil, kalau nanti ternyata bermasalah, apa yang bisa dia gunakan untuk melawan si raksasa Kaleng Merah.


Tapi bayangan wajah Nur dan Arifin muncul di kepalanya, mereka lah yang memberi keberanian kepada Pak Mas'ud untuk mengiyakan tawaran dari Karyawan tersebut.


Dan akhirnya, ekonomi keluarga Abdul Mas'ud langsung meroket karena pintu rejeki yang satu itu.


Karena keterbatasan dana, awalnya Pak Mas'ud hanya sanggup mensupply ratusan kilogram pisang per hari, seiring berjalannya waktu, omset Pak Mas'ud mencapai angka berton-ton dalam sehari.


Coba kalian hitung sendiri, kalau semisal untung yang didapat oleh Pak Mas'ud tiap kilogram pisang yang dijualnya sebesar seribu rupiah, tiap satu ton pisang, dia mendapat laba bersih satu juta rupiah.


Saat Arifin masih sekolah di SMP, Bapak dan Ibunya berangkat naik haji ke Tanah Suci, sekarang panggilan Pak Mas'ud berubah menjadi Haji Mas'ud.


Meskipun dengan semua perubahan yang keluarga mereka alami secara ekonomi, keluarga Pak Mas'ud hidup dengan cara sederhana. Mereka juga membantu warga di sekitar mereka dengan membudidayakan pisang dan menjadi penampung hasil panen para tetangganya.


Selain itu, karena tidak ingin anak-anaknya menjadi 'kacang yang lupa kulitnya', Pak Mas'ud dan istrinya tetap membiasakan anak-anak mereka menggunakan panggilan kampung seperti Pak'e dan Buk'e, bukan panggilan ala orang berada seperti Papa-Mama atau Papi-Mami.


Arifin kecil juga tumbuh dengan mendengarkan cerita perjuangan Bapaknya saat masih berjualan pisang dengan sepeda. Saking seringnya cerita itu diulang-ulang sang Bapak, Arifin kecil sampai hapal diluar kepala. Mata pelajaran sejarah pun masih kalah dengan cerita kisah hidup Haji Mas'ud.


Hasilnya?


Arifin tumbuh menjadi anak kampung sederhana seperti Bapaknya. Haji Mas'ud yang duitnya di rekening sampai angka milyaran tapi masih sering pake kaos oblong dan sarungan kalau kemana-mana.

__ADS_1


Saking sederhananya, bukan sekali dua para tamu yang berkunjung ke rumah Haji Mas'ud salah mengira sang Empunya rumah sebagai tukang kebun di rumahnya sendiri.


Fast forward lagi.


Saat Arifin berusia 17 tahun dan mendapatkan SIMnya untuk pertama kali, Haji Mas'ud menyuruhnya memilih motor apa yang mau dia beli. Saat itu, Ninja RR jadi idola para remaja. Banyak yang ngambek dan merengek ke orang tuanya untuk membelikan motor garang itu biar tampil keren saat ngapel ke pacarnya, meskipun dengan cara mencicil sekalipun.


Arifin, di lain pihak, memilih motor matic merk Honda BeAT untuk motor pertamanya. Motor yang dia pakai sampai sekarang saat sudah kuliah.


Saat Arifin ditanya sama Bapaknya kenapa dia pilih motor itu?


Arifin waktu itu menjawab, "biar sama seperti kawan-kawan yang lain."


Jawaban yang membuat sang Bapak bangga kepada anaknya. Tak percuma dia cekoki dan cuci otak anak laki-lakinya sejak kecil dengan cerita perjuangan hidupnya.


Mungkin karena pengaruh gizi yang tercukupi, Arifin tumbuh menjadi pemuda yang sehat dan ganteng. Sejak SMA, dia jadi idola di sekolahnya. Dia juga sempat pacaran dengan beberapa gadis cantik di sekolahnya.


Waktu itu, Arifin sudah merasakan sedikit keanehan pada dirinya. Sekalipun pacarnya berparas cantik dan bertubuh sempurna, saat Arifin berdekatan dengan mereka, sama sekali tidak ada pikiran kotor atau nafsu yang datang kepada dirinya.


Apalagi saat beberapa kawan dekatnya bercerita tentang hal-hal bejat yang mereka lakukan bersama gadis-gadis mereka, Arifin hanya bisa mendengarkan.


Karena dia tak pernah merasakan dorongan itu datang.


Adakah yang salah dengan diriku?


Kata-kata itulah yang selalu menghantui Arifin selama masa SMAnya.

__ADS_1


__ADS_2