
Tya datang dan membawa tiga gelas teh hangat ke kamar Ipin. Kan memang kosan Ipin ada dapurnya tapi dipake sama-sama.
"Makasih," kata Ipin, Rena diem aja sambil nerima teh hangat dari Tya.
"Lu ngapain ke kosan cowok gue malem-malem gini?" tembak Tya langsung setelah pantatnya nyentuh kasur di sebelah Ipin.
Rena melirik sekilas ke arah Tya, "ini bukan urusanmu, aku ada urusan sama mantanku. Bukan sama kamu," jawab Rena.
"Asal lu tahu ya Ren, Ipin bukan lagi pacar gue. Dia tunangan gue. Dia dah ngelamar gue ke ortu gue di Jakarta 2 bulan lalu. Jadi jangan seenak lu ngomong kalau ini bukan urusan gue," jawab Tya sengit.
Rena kaget, secepat itu?
Kan mereka baru jadian 8 bulan lalu, dan Ipin sudah melamar Tya saat mereka baru jadian 6 bulan? Padahal sama aku, Ipin dulu jalan hampir setahun.
Rena melihat ke arah Ipin meminta penjelasan dan tak mendapatkan jawaban. Diam berarti iya.
"Lu nggak usah ngeliat ke cowok gue segitunya. Bentar lagi kami juga married. Nggak nunggu kelar kuliah dulu," kata Tya menjatuhkan bom nuklir berikutnya ke dada Rena.
Jangankan Rena, Ipin aja kaget. Serius nggak nih si Tya? Awas aja kalau PHP doang, kata Ipin dalam hati sambil tersenyum cerah. Tya mencubit paha Ipin pelan saat dia melihat senyuman cowoknya.
"Kalau emang gitu, aku pulang dulu. Nggak ada lagi urusan aku sama kalian," jawab Rena pelan.
"Lu nggak bisa seenaknya datang dan pergi kek gitu dong Rin!" protes Tya, "ini kos tunanganku, bukan tempat lu bisa mampir seenaknya."
Rena terdiam dan tak jadi beranjak dari tempatnya.
"Rena hamil," kata Ipin pelan.
Tya memasang raut muka kaget. Rena hamil, dia datang kesini, jangan-jangan Ipin? Si mesum ni! Nggak bisa nahan diri ya?
Tya langsung melotot ke arah Ipin, tapi sebelum sempat keluar satu katapun dari Tya, Ipin langsung ngejelasin, "bukan sama aku."
Tya menelan lagi kata-kata makian yang hampir aja dia semburkan ke Ipin, "kalau ngomong, jangan dipotong-potong kek gitu dong Mas. Bikin Tya geregetan tahu nggak?" sungut Tya.
"Apaan sih? Kan Tya tahu kalau aku cuma mesum sama Tya," bisik Ipin pelan banget ke telinga Tya.
"Ihhhh," sungut Tya sambil mendorong tubuh Ipin agar menjauh.
__ADS_1
Rena jelas keki lah. Dua orang mahluk di depan dia sama sekali nggak nganggap kalau dia ada di depan mereka.
Tapi tak lama kemudian, Tya nyadar sama kelakuan Si Rena yang sekarang ada di dekat mereka. Dan saat dia memikirkan apa tujuan Rena ke kosan Ipin, Tya langsung naik pitam.
"Jadi lu kesini mau nubruk tunangan gue gitu? Gue tu nggak habis pikir sama elu Ren. Kok tega banget sih mau manfaatin Ipin kek gitu?" teriak Tya ke Rena.
"So what? Memangnya kamu aja yang boleh dapetin Ipin? Aku nggak?" bantah Rena.
"Ngaca dong Ren! kelakuan lu aja kayak gitu. Tapi lu ngarepin cowok kaya Ipin buat jadi suami. Lu tu sarap ya?" kata Tya.
"Itu urusanku. Kamu nggak berhak ngejudge aku," jawab Rena.
Tya menarik napas, "oke. Itu urusan lu. Sekarang gue minta lu pergi dari sini dan jangan pernah kesini lagi kek sekarang," kata Tya.
"Ini kosan Ipin, bukan kamu. Kamu emang tunangan dia. Tapi selama janur kuning belum melengkung, aku berhak ngejar Ipin," kata Rena, "dan sekalipun kalian dah married, aku juga tetep bakalan ngejar dia. Itu hakku."
Ipin kaget. Rena ternyata?
Sakit.
Ya. Sakit jiwa. Dia narsis akut, yang terlalu mencintai dirinya sendiri, sehingga merasa kalau dunia berputar mengelilinginya dan juga merasa kalau semua keinginnannya musti dia dapatkan. Ini lebih parah dari sekedar gurita.
Rena tersenyum sinis, "aku pernah membuatmu memilihku. Dan aku bisa melakukannya lagi. Aku bisa saja bilang ke semua orang kalau aku hamil anakmu. Kamu bisa apa?" kata Rena ke arah Ipin, dia bener-bener nekat sekarang.
"Silahkan, aku pastikan akan menuntutmu dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik," kata Ipin.
"Kamu tu cuma cowok mis ... " kata-kata Rena terhenti, sosok Ipin yang tertanam di kepalanya tetap belum berubah, cowok kampung miskin yang dulu selalu nurutin permintaan Rena, meskipun sekarang dia tahu kalau itu salah besar.
"Udah. Lu mending pergi Ren. Gue eneg ngelihat muka lu," kata Tya.
\=\=\=\=\=
"Bro, tanggung jawabmu mana? Laki-laki berani berbuat harus berani bertanggung jawab," kata Ipin ke sohibnya.
"Bukan aku nggak mau tanggung jawab. Aku juga laki-laki. Tapi si Rena itu ... " kata-kata Ipul terhenti.
"Rena itu kenapa?" tanya Ipin.
__ADS_1
"Rena itu nggak seperti yang kamu kira Pin. Aku tahunya juga setelah semua terjadi. Setelah kami main ke rumahmu di Salatiga waktu itu, dia mendadak menjadi 'brutal', dan aku tahu kalau itulah aslinya Rena," kata Ipul pelan.
"Brutal gimana?" tanya Ipin kebingungan.
Ipul menarik napas panjang, "dia player Pin. Dia nggak cuma maen sama satu cowok. Pernah sekali waktu dia keceplosan kalau dia pernah maen sekali bertiga. Sama dua cowok sekaligus. Kamu bayangin Pin! Aku aja sampe bergidik ngeri," kata Ipul pelan.
Astaghfirullah, segitunya?
"Makanya aku heran, kok bisa cewek seperti dia betah selama jadian sama kamu Pin. Kata dia, saat jadian sama kamu, dia sama sekali nggak ngelakuin itu semua selama berbulan-bulan. Sampe akhirnya dia nggak tahan lagi dan saat itulah aku ... kamu tahu kan?" kata Ipul pelan, "kayaknya dia tu beneran sayang kamu Pin, tapi dia sendiri nggak nyadar atau telat nyadar sama perasaannya sendiri," lanjut Ipul.
"Kalau kamu di posisiku, kamu mau bertanggung jawab untuk kehamilan Rena?" tanya Ipul yang disambut diam oleh Ipin.
\=\=\=\=\=
Dan seperti dugaan Ipul, Rena tak berhenti mengejar Ipin. Chat, telpon, nempel di kampus, dan nyamperin ke kosan.
Rena makin nekat makin hari. Tya sudah beberapa kali melabrak Rena, tapi cewek sakit itu tak mempedulikannya sama sekali.
"Ren, kamu tu. Aku jijik ngelihat kamu. Tolong hargai aku," kata Ipin sore itu, dia mulai eneg ngelihat cewek sakit ini, apalagi ngebayangin cerita Ipul soal kebrutalan Rena.
Seperti biasa si Rena nyegat Ipin di kampus sepulang kuliah mereka. Kebetulan Tya nggak ngambil mata kuliah ini.
"Pin, aku sayang kamu. Cuma kamu, satu-satunya cowok yang nggak bisa ilang dari kepalaku Pin," jawab Rena.
"Tapi aku enggak Ren. Aku nggak ada rasa untuk kamu. Aku sayang Tya," jawab Ipin tegas.
"Peduli setan dengan si Tya. Kita pernah jadian sebelum dia hadir mengusik kita kan?" jawab Rena.
"Aku sayang Tya, bahkan sebelum kita jadian. Dan kita nggak jadian, kamu maksa kita jadian. Inget kan?" jawab Ipin.
"Buatku sama aja Pin," kata Rena.
"Sorry Ren, aku beneran nggak bisa. Terus terang aja, Ipul dah cerita soal kelakuanmu. Semua kebrutalanmu. Bahkan soal hobimu main bertiga. Sumpah. Aku jijik sama kamu Ren," kata Ipin, nggak tahan bener dia sama cewek di depannya.
Muka Rena langsung berubah mendengar kata-kata Ipin, "itu fitnah Pin. Aku nggak pernah ngelakuin kek gituan, Pin."
Rena mulai menangis sekarang, sakit benar denger Ipin bilang jijik ngelihat dia.
__ADS_1
"Kalau emang itu fitnah, sekarang kasih tahu aku, siapa bapak janin di rahimmu?" tanya Ipin.
Rena tak menjawab dan masih terus menangis. Ipin meninggalkan gadis itu sendirian di tempatnya.