
"Tambah lagi Tya, biar makin berisi," kata Mbak Nur ke arah Tya sambil tersenyum tengil.
"Mbak ngeledek Tya ya?" sungut Tya ke arah calon kakak iparnya yang memang tengil itu.
Seisi meja makan langsung dipenuhi tawa keluarga Arifin. Arifin hanya tersenyum kecil melihat interaksi ceweknya dengan kakak kandung dia satu-satunya.
Sudah empat bulan sejak mereka jadian. Ini kali kedua Tya ke rumah Arifin di Salatiga. Kali ini, Tya sendirian.
Haji Mas'ud sudah sehat kembali dan bisa beraktifitas seperti biasanya. Di meja makan, semua anggota keluarga Haji Mas'ud lengkap dengan Tya sebagai tambahan calon anggota baru mereka.
Selesai makan, seperti biasa, tiga orang wanita yang membereskan perabotan makan mereka. Ipin dan Bapaknya ngacir ke teras samping untuk menikmati rokok mereka.
"Tya gadis yang baik Le. Bapak setuju kamu nikah sama dia," kata Bapak.
"Bapak nggak setuju pun Ipin tetep nikah sama dia," balas Ipin sambil ketawa.
Anak ini!! sungut Haji Mas'ud dalam hatinya. Tapi dia seneng, keinginan dia untuk memperoleh calon menantu yang bakalan punya gelar sarjana bakalan kesampaian. Untuk orang nggak berpendidikan seperti dia, itu sebuah kebanggaan tersendiri.
"Keluarga Tya gimana? Kamu dah kesana?" tanya Bapak.
"Belum Pak, Arifin dah ngomong ke Tya. Tapi Tya belum ngasih jawaban juga," jawab Ipin pelan, ada rasa kuatir sedikit dalam dirinya.
"Sabar Le. Mungkin istrimu butuh waktu untuk minta restu keluarganya. Dia kan wanita, nggak kayak kamu yang bisa berangkat sendirian ngambil keputusan untuk milih calon istrimu," kata Bapak.
"Kamu berani kan ke Jakarta sendirian?" tanya Bapak setelah mereka terdiam selama beberapa saat.
"Berani lah Pak. Arifin kan laki-laki," jawab Ipin.
"Kalau nanti jadi nikah, Si Tya mau diajak tinggal disini? Dia mau jadi ibu rumah tangga atau mau kerja?" tanya Bapak lagi.
"Eh," Ipin kaget, dia belum kepikiran sampe ke situ.
Iya juga ya. Tya pengen jadi wanita karier atau pilih jadi ibu rumah tangga untuk Ipin?
Saat masih memikirkan masalah itu, Tya keluar dari pintu samping. Dia menganggukkan kepala ke Bapak terus mendekat ke Ipin.
"Pin, sholat dulu yuk?" ajaknya.
Tya masih malu untuk memanggil Ipin dengan panggilan 'Mas' kalau ada orang ketiga diantara mereka.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
"Mas," protes Tya.
Sehabis sholat di Masjid seberang rumah tadi, Ipin langsung menyeret Tya ke kamarnya. Ini kali pertama Tya di kamar Ipin. Kamar Ipin yang asli, yang ditempati Ipin sejak kecil. Bukan kamar kosnya di Tembalang.
Sama seperti yang terjadi berkali-kali sebelumnya, Tya akan selalu menepis tangan Ipin kalau tangan jahil itu mulai bergerak nakal ke area terlarang miliknya.
"Tya tu emang keukuh banget ya?" bisik Ipin lirih.
"Mas nggak suka? Lebih suka kalau Tya masrahin segalanya ke Mas sekarang?" tanya Tya dengan nada serius.
"Mas suka, karena itu artinya Tya punya prinsip. Mas nggak bakalan kuatir kalau Tya jauh dari pandangan mata Mas," jawab Ipin sambil tertawa kecil.
"Ih. Emangnya Tya cewek apaan?" sungut Tya.
"Tya," panggil Ipin.
"Mmmm," jawab si Tya yang asyik memejamkan mata sambil menikmati debaran jantung cowoknya.
"Bibir Mas asem banget ni dari tadi," bisik Ipin.
Muka Tya langsung merah. Itu kode alam mereka berdua yang artinya Ipin minta dicium Tya. Wkwkwkwk.
Ipin dan Tya melakukan ciuman pertama mereka sebulan lalu. Waktu itu karena sudah bosen dengan jalan-jalan atau nongkrong di cafe atau resto, mereka memutuskan ngabisin malem minggu berdua aja di kamar kos Ipin.
Semuanya sih cuma alesan, sebenernya Ipin dan Tya sama-sama pengen mesra-mesraan aja. Kebetulan sebelum sampai di kosan, Tya pengen es krim. Entah kenapa malam itu Tya pengen banget es krim. Mereka mampir ke minimarket dan membeli es krim sama jajanan lain lalu pulang ke kosan.
Sesampainya di kosan Ipin, Tya langsung membuka es krim dan memakannya. Tahu sendiri kan kalau lagi makan es krim? Pasti belepotan bibirnya, dan sebagai pacar yang baik, Ipin pengen membersihkan sisa es krim di bibir Tya dengan tissue.
"Kayak anak kecil aja, makan es krim belepotan," kata Ipin sambil memegang tissue di tangannya.
Tya cuma mencibirkan bibirnya dan masih tetap asyik menikmati es krimnya.
"Sini Mas bersihin," kata Ipin.
Tya pun membiarkan Ipin mendekat ke arahnya. Tapi lama kelamaan ketika Ipin dah dekat, Tya merasakan mukanya memanas dan malu.
"Ipin ngapain sih dekat banget?" keluh Tya lirih dalam hati.
__ADS_1
Muka Tya memerah dan dia pun memejamkan matanya.
Ipin justru kaget saat dia ngelihat si Manis memejamkan mata. Kok malah merem? batin si Ipin.
Tapi saat dia ngelihat wajah manis Tya yang terlihat pasrah, Ipin tanpa sadar menyorongkan mukanya dan melumat bibir Tya pelan banget.
"Ipin!!" teriak Tya dalam hati.
Tya kaget. Dia nggak nyangka kalau Ipin bakalan ngebersihin bekas es krimnya bukan pake tissue tapi pake bibir si doi.
Tapi lumatan bibir Ipin yang lembut dan mesra benar-benar bikin Tya lemes luar dalam, dan Tya menikmatinya.
Tya membiarkan saja kekasihnya itu terus melumat bibirnya pelan. Sesaat kemudian Tya merasakan kedua telapak tangan Ipin di wajahnya yang sudah memanas dari tadi.
Tya menikmati ciuman mesra Ipin tanpa membalasnya. Dia nggak tahu karena memang ini pengalaman pertamanya. Jadi Tya cuma pasrah dan membiarkan Ipin sesukanya.
Setelah beberapa menit, Ipin akhirnya melepaskan bibir Tya.
"Ini yang pertama?" tanya Ipin dengan napas yang agak tersengal.
Tya menganggukkan kepalanya.
Ipin langsung tersenyum lebar waktu melihat jawaban Tya. Dia maju dan memegang punggung Tya.
"Mas mau ngapain?" tanya Tya lirih sok bego, padahal dah jelas dia ngerti maunya Ipin.
"Lagi ya? Bibir Tya manis," kata Ipin.
Tya mencibirkan bibirnya, "bibir Mas asem."
"Serius?" tanya Ipin kaget.
Tya ketawa kecil, "ya udah sini, biar nggak asem," bisik Tya yang langsung bikin Si Ipin panas dingin.
Itulah awal dari kode alam mereka.
"Mas, ini kan di rumah Mas. Kalau nanti ada yang liat, Tya kan malu Mas," jawab Tya.
"Ngapain malu? Kan dah dapet lampu ijo," jawab Ipin.
__ADS_1
"Mas, nanti takutnya keluarga Mas nganggep Tya cewek apaan," jawab Tya.
Ipin menarik napas panjang. Pinter banget sih ceweknya cari alesan.