
"Yang penting lo baik baik aja Shen! Gue gak masalah apapun itu."
Garda menatapnya dengan dalam, entah apa jadinya jika terlambat sedikit saja, dia tidak hanya akan membuat seluruh keluarganya kecewa namun juga akan kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Shena dengan baik.
"Lo emang sepupu terbaik gue Gar!" cicit Shena lagi, "Thanks ya!"
Garda tersenyum simpul, tersadar jika posisinya memang hanyalah sebagai sepupu dan tidak akan pernah berubah. Dia hanya mengangguk kecil, dengan tatapan lirih pada Shena yang kini menatap langit langit ruangan. Tak lama kemudian, suara ponsel Garda terdengar nyaring,
Drett
Drett
Alih alih menatap layar ponsel, Garda justru tetap menatap Shena.
"Kenapa Gar, siapa yang telefon?"
Garda terdiam tidak menjawab, sekilas dia menatap ponsel dan langsung memperlihatkan layar ponsel yang masih menyala itu padanya. Shena terbelalak sempurna saat melihat layar ponsel milik Garda menampilkan nama ayahnya.
"Kenapa gak lo angkat? Kenapa Papa doyan banget hubungi lo dibandingkan gue yang anak kandungnya, apa karena lo lebih bisa di percaya Papa di bandingkan gue?" katanya.
Garda lagi lagi terdiam, dia bingung harus mengatakan apa pada Shena. Melihat hal itu Shena menagmbil alih ponsel Garda, menekan tanda hijau lalu memberikannyaa pada Garda.
"Udah angkat aja, dan jangan bilang apa yang gue alami, gue gak mau mereka semua khawatir sama gue, lo thu sendiri kan kalau mereka itu gimana?" katanya lagi dengan membalikkan tubuhnya ke arah samping, membelakangi Garda.
Garda menghela nafas, dia tidak mungkin menutup telefon pada saat sambungan itu justru tersambung, dia bangkit dari duduknya dan langsung berlalu keluar dari sana untuk mengangkat telefon dari Farrel, Ayah Shena.
Diam diam Shena menolehkan kepalaanya, mencuri pandang ke arah pintu dan mempertajam telinganya namun dia malah kesal sendiri karena tidak mendengar apapun. Hingga akhirnya dia memilih untuk turun dari ranjang dan berjalan mengendap ngendap dengan tiang infus yang dia geret di tangannya. Dia juga perlahan membuka pintu dan melihat Garda yang tengah bicara melalui sambungan telepon itu bersama Ayahnya.
"Apa sih yang mereka omongin, kayaknya serius banget!" gumamnya.
Sejurus kemudian, Shena langsung berbalik dan langsung berlari kembali ke ranjang setelah dia melihat Garda yang menutup sambungan telefon dan berbalik ke arahnya.
__ADS_1
Brak!
Bruk!
Kaki Shena tersandung tiang yang dia bawa sendiri hingga hampir terjatuh dengan tiang semi besi itu membentur ranjang, membuatnya panik dan takut jika Garda tahu kalau dirinya tengah berusaha menguping pembicaraannya.
"Lo kenapa?" tanyanya heran, dengan tingkah Shena yang aneh.
"Gak apa apa! Emangnya gue kenapa?"
Garda menatapnya dengan tajam, kembali duduk dikursinya seraya melihat Shena yang gelagapan.
"Besok pagi lo pulang ke indonesia!"
Shena menoleh dengan wajah kaget, "Pulang, lo gila ... Gue belum libur musim dingin kok, kok pulang?"
Garda mengerdik, "Papa lo yang minta."
"Lo jangan bercanda Gar, papa gak mungkin bakal nyuruh gue buru buru balik kalau lo gak asbun alias asal bunyi, lo bilang sama papa gue apa yang terjadi sama gue kan? Kok lo gitu sih, gue kan udah bilang sama lo jangan bilang apa apa ... Gar gue gak mau pulang, Gue mau di sini!?"
"Om Mac? Kenapa dia yang jemput gue, emangnya lo gak ikut pulang?" tanya nya lebih heran lagi.
Garda menggelengkan kepalanya, "Gak. Kerjaan gue masih banyak di sini, lo besok pulang sendiri."
Shena mengerjapkan kedua matanya tidak percaya, "Lo sengaja kan, lo nyuruh gue pulang seakan akan kalau itu Papa yang suruh. Biar apa, biar lo gak repot jagain gue kan Gar, lo fikir gue mau apa dijagain terus sama lo, gue gak mau ... Lo nya aja yang suka ikut campur urusan gue!"
Shena kembali marah, padahal sebelumnya dia terlihat sedih dan malah meminta maaf pada Garda, namun kini dia kembali merajuk dan kesal.
"Pokoknya gue gak mau pulang, kalau pun gue mau pulang, lo juga harus ikut gue pulang ... Gue gak mau Papa banyak tanya ini dan itu dan juga marahin gue Gar ... Gue mau lo ikut gue."
"Gue gak bisa ninggalin kerjaan gue di sini, gue juga banyak urusan di sini. Bukannya lo juga jadi bebas kemana mana tanpa ada gue nanti?" ucap Garda menohok.
__ADS_1
"Pokoknya kalau lo gak pulang, gue juga gak pulang. Titik gak pake alesan!"
Garda tetap menggelengkan kepalanya dengan lirih seraya menatap wajah Shena yang mengiba padanya, dia memang menginginkan yang terbaik bagi Shena, termasuk menjauhkan gadis itu dari pria yang bernama Jonathan.
"Kata Dokter lo udah bisa pulang kalau lo udah gak pusing lagi, suster akan ke sini dan bukain selang infus lo." Garda bangkit lagi dari duduknya. "Gue harus pergi dulu, ada sesuatu yang harus gue urus!"
Garda akhirnya pergi dari ruangan perawatan, dia juga langsung keluar dari rumah sakit itu dan tentu saja menyuruh orang lain untuk menjaga Shena selama dia pergi.
Mobil melaju dengan kencang mengarah ke sebuah tempat. Urusannya dengan Jonathan masih belum selesai hingga dia kembali ke tempat dimana villa Jonathan berada.
Semilir angin siang itu disertai desiran ombak ombak yang menggulung besar tidak membuat Garda gentar. Dia turun dari mobil dan segera masuk ke dalam bangunan bergaya semi eropa itu.
Jonathan terlihat sedang duduk duduk santai, terlihat seperti tidak bersalah sedikit pun dengan ponsel yang tengah dia mainkan.
Mendengar langkah kaki di belakangnya, Jonathan menoleh ke arah Garda lalu tersentak dan bangkit dari duduknya. "Gar ... Gue bisa jelasin semuanya. Itu ... lo salah faham tentang kejadian semalam antara gue dan juga Shena."
Garda tidak ingin mendengar alasan apapun darinya, dia menempelkan jari telunjuk dibibirnya agar Jonathan diam.
"Apa lo fikir semua alasan yang keluar dari mulut sampah lo itu penting? Apapun alasan lo itu gak masuk akal buat gue, jadi lo mending diem."
"Gar ... Gue!"
Bugh!
Garda melayangkan pukulannya tepat pada rahang Jonathan yang terus mencari alasan tanpa berniat minta maaf sedikit pun.
"Lo gak ngerasa bersalah sedikitpun. Hah ... Brengsekk!"
"Gar ... Lo, itu karena gue dan Shena saling cinta, dan kita berdua ngelakuinnya atas dasar suka sama suka! Jadi lo gak ada hak buat ngomong kayak gini sama gue! Shena juga pasti gak akan terima kalau tahu lo mukulin gue Gar!"
Bugh!
__ADS_1
Sekali lagi Garda memukul wajahnya dengan keras sampai Jonathan tersungkur, luka kemarin saja belum kering kini semakin terluka lagi, Jonathan meringis kesakitan.
"Gue gak peduli apa yang lo bilang Jonathan, lo emang pengecut! LO brengsekk!"