
"Gar ... Gue lapar!"
Garda tercengang, lalu tersenyum dan mengacak pucuk rambut Shena.
"Gue siapin bubur buat lo ya! Bubur terenak yang gue bikin biar lo cepet sembuh." Garda bangkit dan berlalu keluar dari kamar.
Membuat Shena menghela nafas dan mengatur ritme jantungnya yang berdetak tidak karuan sejak tadi, apa jadinya jika dia tidak mengatakan kalau dia lapar tadi. Mungkin akan semakin salah tingkah dan terlena, bisa bisa hal yang pernah terjadi diantara mereka bisa kembali terjadi.
Garda masuk kembali ke kamar dengan semangkuk bubur yang dia buat sendiri.
"Bubur lo Shen,"
Namun Shena tidak lagi berada di atas ranjang, Garda mencarinya namun tidak menemukannya. Hanya gemiricik air yang terdengar di kamar mandi.
Tidak lama Shena keluar dari kamar mandi, berbalut handuk yang hanya setinggi paha dengan handuk kecil menggulung kepalanya.
"Lo mandi. Bukannya lo sakit? Lo demam Shena!"
"Gue udah mendingan Gar, badan gue lengket dan pengen mandi. Jadi lo mending keluar karena gue mau ganti baju!"
"Bubur lo?"
"Gue pasti makan kok, abis ganti baju!"
Garda mengangguk, dia lantas keluar dari kamar dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Hari ini dia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dan hanya menjaga Shena saja sampai keadaannya lebih baik.
Drett
Drett
Ponsel Garda berdering, dia yang hendak merebahkan diri akhirnya kembali bangkit dan mengangkat telepon dari Farrel.
'Ya Papa El?'
'Papa dengar Shena sakit. Apa dia sudah dibawa ke rumah sakit?'
'Udah mendingan kok Pap, dia lagi istirahat!'
'Ok baiklah, kabari terus Papa ya Gar, katakan kalau kau butuh sesuatu!'
__ADS_1
'Iya Pap ... Tenang aja, Garda jagain Shena kok!'
'Ya sudah, Papa tutup telefonnya!'
Tut!
Telepon dari ayah Shena terputus, bertepatan dengan terbukanya pintu dengan lebar.
"Kenapa sih Papa nanya kabar dan apapun itu sama lo terus! Gak sama gue langsung!" Shena menghempaskan tubuhnya di ranjang milik Garda karena kepalanya berdenyut hebat. Sementara Garda menghela nafas. "Segitu gak percayanya papa sama gue! Dia lebih percaya lo dibandingin gue yang anaknya sendiri!" dengusnya lagi dengan kasar.
Garda ikut merebahkan diri disampingnya menatap langit langit yang sama dengannya.
"Papa cuma mastiin aja lo baik baik aja Shen!"
Shena bangkit dari berdiri lalu berlalu pergi dari kamar Garda. "Terserah lo deh!"
Pria berusia 20 tahun itu menghela nafas, menatap pintu kamar yang kini tertutup. Hingga dia memutuskan untuk tidur saja setelah semalaman bergadang.
Shena memutuskan menghubungi Jonathan, menanyakan kabarnya setelah dipukuli Garda semalam, dan pria itu justru datang ke apartemen saat Garda tertidur pulas.
"Babe ... udah aku bilang jangan kemari! Kenapa malah datang,"
"Garda sedang tidur! Lebih baik kita bicara di luar babe?"
"Ide bagus. Aku tidak suka ada dia, dia selalu menganggu kita!" Ucapnya dengan melingkarkan syal dileher Shena dan membawanya keluar.
Sementara Garda terbangun, dia langsung mencari Shena di kamarnya namun tidak menemukannya. Dia juga mencarinya ke semua tempat di apartemen tapi Shena tidak ada.
Akhirnya Garda memeriksa CCTV dan langsung geram melihat jika Shena ternyata pergi bersama Jonathan.
"Shen ... Kenapa lo selalu keras kepala, padahal lo lagi sakit!" desisnya dengan langsung menyambar jaket miliknya dan segera turun.
Garda tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu, dan dia mau tidak mau harus mencari Shena. Pria itu mengendarai motornya, benda itu cukup efektif dibandingkan dengan menggunakan mobil karena bisa menyelip diantara mobil mobil dan lebih cepat pula.
Motor pun melaju dengan kecepatan tinggi, meliuk liuk diantara kendaraan lainnya.
Mencari keberadaan gadis berusia 22 tahun bukanlah hal yang mudah, gadis itu bukan anak kecil yang bermain di taman hiburan, bukan juga bermain gelembung air. Tujuan Jonathan pasti ke klub, hotel maupun tempatnya sendiri.
"Jo kita akan kemana?" tanya Shena saat kekasihnya itu melajukan mobil ke ruas jalan yang terasa asing.
__ADS_1
"Satu tempat dimana hanya akan ada kita berdua Babe." sahut Jonathan.
Jonathan membawanya ke suatu villa yang tidak jauh dari pesisir pantai, villa milik keluarganya yang tampak kosong.
Mereka berdua pun turun dari mobil, berjalan dengan tertawa dan saling merangkul. Padahal Shena baru saja sembuh dari demamnya semalaman.
"Babe ... Kita akan lebih leluasa di sini, aku bisa merawat dan menjagamu. Bukan Garda yang selalu mengganggu kita." Jonathan menyuruh Shena duduk, sementara dia mengambil dua gelas wine.
"Babe ... Aku gak minum dulu! Kepala ku masih sedikit pusing."
Jonathan menyimpan wine untuk Shena di atas meja, sementara dia sendiri menenggak wine miliknya.
"Kalau begitu aku buatkan jus saja ya?"
Shena mengangguk, melihat Jonathan membuat jus jeruk untuknya.
"Ini Babe, minumlah! Ini sangat menyegarkan." ujqrnya lagi. Setelah itu dia duduk di samping Shena dan merengkuh pundaknya.
"Babe ... kok aku ngantuk ya!"
"Kemarilah ... mungkin kamu kelelahan. Beristirahatlah di sini!"
Shena menyandarkan kepalanya di dada Jonathan begitu pun dengan Jonathan yang memeluknya erat. "Thanks Babe, nyaman banget!"
Jonathan menggangguk, membuat Shena tertidur dengan sendirinya. Pria itu mengulas senyuman. Mulai menggerayangi tubuh Shena pelan pelan.
Dia juga menyelusupkan tangan dibalik T- strit yang di pakai Shena, menyentuh kulit mulusnya dengan lembut.
Shena yang tertidur tampak tidak sadar hal itu, membuat Jonathan semakin berani saja. Dia mulai membuka pakaian Shena, mendaratkan kecupan di sana sini, tentu nya dengan pelan pelan.
Obat tidur yang sudah dia campur ke dalam jus tadi sudah bekerja, dan membuat Shena terlelap dengan pulas.
Jonathan menganggkat tubuhnya, merebahkannya di sofa panjang. Bersiap siap untuk melakukan hal yang dia inginkan sejak lama, melihat kecantikan Shena dan juga kepolosannya.
"Aku sudah menunggu lama untuk hal ini Babe, tapi pria itu selalu menggagalkannya. Tapi tidak untuk hari ini, tidak ada yang akan mengganggu kesenangan kita lagi Babe." gumam Jonathan yang tidak lagi bisa menahan has ratnya, dia mulai membuka pakaiannya sendiri.
Jari Jonathan tampak menyusuri tubuh Shena yang mulus, membuat gejolaknya semakin menyeruak saja. Dia juga melu matt bibirnya dengan lembut meskipun tidak mendapatkan perlawanan dari lawan.
"Kita akan bersenang senang Babe!"
__ADS_1