My Sexy Lady

My Sexy Lady
Bab.13


__ADS_3

Sudah sepekan Shena berada di Indonesia, begitu juga dengan Garda yang tidak memberi kabar sedikitpun padanya sampai hari ini. Shena juga sudah masuk perkuliahan di kampus barunya, hingga sedikit melupakan sosok Garda yang biasanya selalu muncul setiap waktu.


Gadis itu berjalan sendirian di koridor kampus, kedua tangannya sibuk berbalas pesan pada teman temannya di luar negeri, dia tetap pada ketidak inginannya kuliah di Indonesia hingga kuliah dengan bermalas malasan.


"Oh jadi ini Nona muda yang tidak mau kuliah di Indo itu, maunya di luar negeri saja?" suara seorang gadis berambut pirang dengan beberapa temannya.


Tawa cekikikan terdengar renyah saat Shena melewqti mereka, tapi Shena tidak mau ambil pusing hingga dia tetap berjalan saja.


"Aiihhh sombong amat ya!"


Tawa beberapa teman si gadis terdengar lebih keras dari sebelumnya, sedikit mengganggu pendengaran Shena. Tapi dia tetap tidak ingin meladeni mereka.


"Percuma gue ladeni, mereka cuma orang orang norak dan inilah yang gue benci dari negara gue sendiri. Dasar tukang nyinyir." Gumam Shena pelan.


"Hey ... Apa maksud lo?" seorang pria muncul dari dan berjalan ke arahnya. "Lo ngehina negara lo sendiri sementara lo makan dan be rak di sini? Gak malu lo?"


Shena tertawa tipis. "Kalau gak kepaksa gue juga males kali, apalagi ketemu orang orang kayak kalian?"


Semua gadis yang tadi cekikikan ikut menghampirinya dengan kesal, hingga Shena di kerubungi mereka semua.


"Enak bener lo ngomong kayak gitu, so banget lo!"


"Kalau gue emang sok kalian mau apa? Suka suka gue lah!" Ucap Shena dengan mendorong pria didepannya dan berjalan kembali.


"Sombong sekali!"


Pria itu mencekal lengannya dengan kuat, hingga Shena menoleh dengan menahan sakit.


"Lo fikir lo siapa Hm?"


"Gue ... Lo gak tahu siapa gue! Jadi mending lo minggir!" ucap Shena dengan melepaskan tangan pria berambut gondrong itu.


Namun pria itu tidak melepaskannya hingga beberapa pria berseragam hitam hitam datang dan menghampirinya. Satu dari mereka melepaskan tangan Pria itu dengan kasar dan langsung mendorongnya hingga dia tersungkur.


"Nona tidak apa apa?" tanyanya pada Shena.

__ADS_1


Tatapan Shena menyalang, inilah yang juga dia benci dari keluarganya. Orang orang yang selalu mengikuti dirinya dan menjaganya, membuatnya terlihat seperti gadis yang lemah dan selalu dilindungi.


Shena juga berdecak, lantas berbalik dan meninggalkan mereka semua. Para gadis dan pria pria yang melihatnya pun sedikit takut.


"Sekali saja mengganggu nona kami, patah tangan kalian semua!" ucap pria berbaju hitam hitam itu.


Shena sudah masuk kedalam mobil, begitu pula tiga orang pria yang juga masuk kedalamnya.


"Bisa gak sih kalian gak usah ikut campur! Nyebelin banget sih, gue bisa ngatasin hal beginian." dengus Shena kesal.


"Maaf Nona, itu tidak bisa karena tugas kami menjaga Nona!"


Shena mendengus kesal, lalu melipat tangannya di depan dada. Dia tidak mungkin melawan perintah Papanya sendiri.


"Gue benci Papa! Gue benci Garda!" dengusnya lagi.


Mobil melaju kencang menuju rumah kediamannya dengan wajah Shena yang tampak merengut. Tidak berselang lama akhirnya tiba di pelataran parkir.


Shena turun dari mobil dengan kesal, membanting pintu mobil dengan keras dan melemparkan tas miliknya pada pria yang terus mengikutinya dari belakang.


Shena masuk ke dalam rumah, dia mencari keberadaan ayahnya yang super protektif padanya.


"Sayang ... Kau sudah pulang Nak?"


"Mana Papa Mami?"


"Papa ada di ruangan kerja. Kenapa?"


Alih alih menjawabnya, Shena justru melenggang begitu saja, dia masuk kedalam ruangan kerja sang ayah.


"Papa ... Please! Jangan bikin aku jadi norak!"


"Kenapa ... Ada apa Shen? Baru saja pulang dan kau marah marah pada Papa?"


"Suruh Garda pulang kemari. Kalau enggak aku gak mau kuliah lagi! Papa tahu orang orang itu bikin aku malu?"

__ADS_1


"Orang orang itu? Siapa?"


"Pengawal yang Papa suruh ikut kemana pun aku pergi, itu norak banget, seenggaknya Garda jagain aku 3 meter di belakang aku. Gak kayak mereka!"


Farrel tertawa melihat kekesalan putrinya, dia lantas bangkit dari duduknya.


"Papa jangan ketawa, itu gak lucu ... Bikin aku gak bebas, dari kecil sampai umurku sekarang kenapa aku gak pernah ngerasa bebas. Itu sebabnya aku gak betah tinggal di sini, aku gak mau ...!"


"Shena ... Papa hanya tidak ingin putri Papa ini kenapa kenapa! Papa hanya ingin jagain kamu sayang!"


"Tapi aku gak mau Papa! Aku ingin pergi kemana aku mau tanpa ada yang ngikutin aku, aku ingin bersenang senang tanpa ada yang orang orang yang ngawasin aku! Dari pada mereka bertiga lebih baik Garda aja ...!" Shena terdiam cukup lama, menatap ayahnya yang masih tersenyum. "Enggak juga sih, Garda juga sama aja tapi minimal dia tahu diri saat aku seneng seneng dan baru nyamperin kalau aku ngaco aja!"


"Papa sudah dengar kalau teman temanmu di kampus tidak suka padamu, itu sebabnya Papa suruh pegawai Alan melindungimu!"


"Papa ... Papa Alan itu emang punya perusahaan jasa pengamanan, tapi gak mesti aku juga di jagain terus dong!"


"Shena!"


"Pokoknya kalau Papa masih suruh orang orang itu ngawasin aku, aku bakal kabur dari rumah!" ucap Shena yang langsung keluar dari ruangan kerja ayahnya dengan terus menggerutu.


Tidak lama Shena masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. "Kalau gini terus gue bisa setress, gue gak nyaman dengan semua perlakuan yang makin berlebihan ini."


Malam itu juga Shena mengemasi barang barang penting miliknya, dia juga hanya mengambil beberapa helai pakaian ganti saja ke dalam sebuah ransel yang berukuran sedang, tidak lupa membawa uang dan barang berharga lainnya.


Untuk menghindari para pengawal yang berjaga jaga, Shena terpaksa turun dari balkon lalu mengendap ngendap melalui jalan belakang. Jalan yang kerap dipakai para asisten rumah tangga untuk keluar masuk. Dia juga melewati dapur dengan menutup kepalanya agar tidak ketahuan.


Sampai akhirnya Shena berhasil keluar dari rumahnya sendiri. Dan memutuskan menaiki taksi walaupun dia belum tahu harus pergi kemana.


Hampir 15 menit dia tertidur didalam taksi, hingga sampai akhirnya dia merasa keadaan tenang dan juga hening, tidak ada suara suara kendaraan bermotor atau pun suara klaskson kendaraan lain. Tidak juga merasa tubuhnya berguncang karena perjalanannya.


Sampai dia terperanjat karena taksi yang dia tumpangi berhenti di pinggir jalan.


Shena menatap kiri dan kanan, supir juga tidak terlihat ada di dalam sampai dia mencarinya di luar. Terlihat suoir taksi berbicara dengan seseorang diluar, seorang pria yang berdiri saja seperti orang yang sedang mabukk.


"Sial ...! Jangan jangan mereka ngerencanain sesuatu lagi!"

__ADS_1


__ADS_2