My Sexy Lady

My Sexy Lady
Bab.08


__ADS_3

"Gue gak cemburu yaa! Gue hanya peduli sama lo!"


Shena bangkit dari ranjang dan berdiri menghadapnya dengan kedua tangan berkacak di pinggangnya.


"Alah Bulllshitt. Lo suka sama gue dan lo cemburu lihat gue sama pacar gue!"


Garda yang sedang berusaha mengontrol amarahnya semakin terpancing karena Shena. Dengan kasar dia mencekal lengan Shena.


"Dengar, kalau lo gak suka gue ada di sini dan mengganggu kencan lo ... Lo bilang sama sama Papa! Lo fikir lo siapa, lo hanya gadis murahan yang tidak bisa menjaga kehormatan diri lo sendiri sampe semua keluarga khawatir dan ngirim gue buat jagain lo. Mikir pake otak!"


Bruk!


Garda menghempaskan Shena begitu saja sampai dia terhuyung dan terduduk di tepi ranjang, terdiam dengan mulut terkatup setelah mendengar ucapan Garda yang kasar padanya.


Gadis murahan yang tidak bisa menjaga kehormatan dirinya sendiri. Membuat keluarga khawtir dan mengirim Garda hanya untuk menjaganya saja.


Shena terdiam, dengan kedua mata yang panas hingga akhirnya air matanya tumpah begitu saja, sementara pintu kamar tertutup dengan keras saat Garda membantingnya dan keluar kamar.


"Brengsekk ... Lo fikir lo siapa Garda, berani ngomong kayak gitu tentang gue, lo fikir cuma lo yang bisa jagain gue. Lo fikir lo hebat!" serunya dengan menangis sesegukan.


Sementara Garda yang masih dikuasai emosi kini membuka lemari es dan mengambil satu botol minuman beralko hol jenis keras dan langsung menenggaknya.


Dia juga keluar dan berdiri di balkon, mencoba mengatur emosinya sendiri. Menyesali apa yang keluar dari mulutnya dan memaki Shena dengan sangat kasar. Sementara Shena terus menangis melemparkan semua barang barang yang ada di kamarnya hingga kamar itu berubah seperti kapal pecah.


Dia hanya bisa marah pada Garda, meluapkan kekesalannya pada benda benda yang tidak bersalah ketimbang menelepon kedua orang tuanya dan mengadu. Karena kedua orang tuanya sangat percaya pada Garda dan apapun yang di katakannya.


Lama kelamaan tangisnya reda sendiri, dia meringkuk di atas ranjang karena kelelahan dan tertidur begitu saja.


Tidak berselang lama Garda masuk, menyisir seluruh benda yang berantakan di seluruh kamar. Pria yang lebih muda namun lebih dewasa itu menghembuskan nafas saat melihat Shena tertidur dengan kedua mata bengkaknya.


Garda menarik selimut dan menyelimutinya, dia juga membereskan benda benda yang berjatuhan ketempatnya semula. Dia tidak pernah bisa benar benar marah pada gadis itu, gadis yang tidak pernah dewasa dan kekanak kanakan.


Setelah membereskan semuanya, Garda kembali keluar dan kembali menikmati minumannya seorang diri dengan menatap hamparan langit gelap tanpa bintang malam itu.

__ADS_1


Kemarahan Garda memang di picu oleh kecemburuan semata, tidak pernah terima jika Shena mencintai orang lain apalagi disentuh sembarangan seperti tadi. Dia tidak terima jika gadis yang diam diam di sukainya sejak lama dimiliki orang lain.


Sampai Garda terjaga hingga dini hari, samar samar dia mendengar rintihan dari kamar Shena, dan segera masuk untuk memeriksanya.


Shena terlihat berkeringat, dahinya dipenuhi keringat sebesar biji jagung dan terlihat menggigil.


"Lo sakit?" tanyanya dengan menempelkan punggung tangan di dahinya.


Dan benar saja, suhu tubuh Shena sangat panas. Garda merasa bersalah karena perkataannya tadi, dan segera mencari obat untuknya.


Dia juga merawatnya dengan mengompres dan mengganti pakaiannya, membuatkannya minuman agar panasnya kembali turun.


Garda menjaganya sampai hari mulai pagi, sama sekali tidak tidur karena menjaga Shena.


Dan akibatnya dia tertidur di samping Shena, kepalanya tertelungkup dengan setengah tubuhnya terduduk di kursi.


Shena mengerjap, tangannya pegal karena kepala Garda. Gadis itu juga baru sadar jika kamarnya kembali rapi.


Tidak ada jawaban dari Garda, pria itu tertidur karena lelah. Dan Shena hanya menghela nafas. Hubungan keduanya memang sepupu, ayahnya dan ayah Garda adalah adik kakak, tapi hubungan darah keduanya begitu rumit, ada sesuatu yang sulit di cerna fikirannya sendiri.


Garda selalu marah ketika dirinya berkencan, dia mudah emosi tapi tidak pernah sekalipun meninggalkannya.


"Gar, maafin gue! Lo mungkin bener ... Gue gak bisa jaga diri gue makanya lo di kirim buat selalu jagain gue, tapi lo bener bener jahat Gar, omongan lo bikin hati gue sakit! Lo kayak orang kesurupan dan lo gila!" cicit Shena.


Tidak tahu jika Garda sudah terbangun dan mendengarkan semua ucapannya.


"Gue juga minta maaf Shen ... Gue keterlaluan sampe bikin lo sakit!" ucapnya tiba tiba.


Dan membuat Shena terkesiap tidak menyangka.


"Lo denger gue ngomong?"


Garda menatapnya lirih lalu mengangguk, "Gue denger semuanya Shen, gue tahu gue salah ... Gue ... Gue cemburu dan marah karena lo!"

__ADS_1


"Garda ... Kita udah bahas masalah ini, kita sepupu Gar! Lo gak bisa punya perasaan lebih sama gue!" terang Shena.


Keduanya saling menatap satu sama lain, dengan perasaan aneh yang tiba tiba menggelayuti keduanya.


"Gar ...!"


"Gue gak bisa berhenti Shen, gue gak bisa ngontrol perasaan gue sama lo! Gue gak bisa pura pura terlihat baik baik saja saat gue lihat lo sama pacar lo itu!" lirih Garda.


"Gar tapi ... Lo tahu kalau itu salah!"


Keduanya terdiam untuk sesaat, saling menatap satu sama lain.


"Sebaiknya kita emang gak tinggal sama sama!" cetus Shena.


Garda menggelengkan kepalanya, "Gue gak bisa ... Gue tahu lo akan hilang kontrol kalau gue gak ada, gue gak akan ngebiarin itu terjadi! Lo adalah amanat yang harus gue jaga Shen!"


"Tapi Gar ...! Gue takut..." lirih Shena.


Garda kini menggenggam tangan Shena, merekatkan jemarinya dengan lembut.


"Gue bakal kontrol emosi gue, tapi lo harus janji kalau lo gak akan ngelakuin hal hal yang bikin lo sendiri rugi Shen!"


Shena terdiam, menatap manik manik hitam milik Garda, apa yang dia takutkan mungkin sama dengannya. Takut jika tiba tiba perasaannya berubah, perasaan yang menurutnya aneh yang sering tiba tiba muncul saat bersama Garda.


Gue takut kalau perasaan ini ternyata adalah cinta, dan itu terlarang buat kita Gar. Batin Shena.


Andai lo tahu Shen, cinta ini gak pernah salah tempat dan salah orang. Tapi kenapa gue harus cinta sama lo sementara tugas gue benar benar berat buat selalu jaga lo Shen. Batin Garda.


Keduanya masih terus saling menatap, saling menelisik dalamnya kedua pandangan dengan tangan saling menggenggam hangat.


Ada sesuatu yang sulit diartikan, tidak terucap dalam kata dan makna.


"Gar ... Gue lapar!"

__ADS_1


__ADS_2