
Shena dibuatnya kesal, betapa tidak. Dia tidak pernah mau ikut campur urusan pekerjaan, tidak pernah mau jika berkaitan dengan perkantoran. Terlebih pekerjaan yang bisa dilakukan oleh orang lain.
Tok
Tok
Tok
Suara pintu diketuk dari luar, terlihat Asisten Wu masuk dan menghampiri Garda, "Ada tamu untuk Nona Shen."
"Shena ... Tamu?" lirih Garda.
"Siapa?" tukas Shena lalu bangkit dari sofa dan membuka pintunya lebar, terlihat wajahnya berubah seketika. Tampak berseri seri juga merona.
"By. Udah datang?" sambungnya lagi dengan tersenyum saat melihat Jonathan yang berdiri menunggunya di luar pintu.
"Hai Babe ...!" Ujar Jonathan maju guna mengecup kedua pipi Shena kiri dan kanan.
Shena menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam, membuat Garda berang dan menatap keduanya tajam. "Kenapa lo datang kesini? Lo gak ada urusan di sini!"
Shena yang membawa Jonathan masuk pun terus tersenyum."Ya ada lah ... Nemenin gue! Lo gak larang seseorang datang kemari kan? Yang gak boleh itu gue yang pergi."
Shene mengerdik, membawa Jonathan untuk duduk. "Gak usah peduliin dia By!" Ujarnya pada Jonathan yang menatap Garda dengan sengit.
Garda mendengus dengan menatapnya tajam, bahkan dengan rahang yang semakin tegas terlihat. Merasa kepanasan dan juga terbakar api cemburu melihat interaksi keduanya.
"Shen! Selesaikan data itu, gue perlu hari ini." tukasnya dengan tegas.
Shena yang tengah tertawa bahagia dengan Jonathan pun berdecak kesal, dia meraih laptop dan juga berkas dan mulai mengetikkan semua data satu persatu.
"Awas aja lo Agar agar!"
"Babe. You ok? Biar aku yang kerjakan." tawar Jonathan mengambil alih laptop dari atas paha Shena.
Gadis itu tentu saja senang, menjulurkan lidah pada Garda yang terus memperhatikannya.
"Apa lo. Gak boleh juga? Dia bantuin gue lho ya ... Gak ada larangannya kan, yang penting kerjaan ini cepet kelar dan gue bisa pergi." sahut Shena bangga dan penuh keyakinan jika dia bisa bebas pergi.
Garda berdecih, bukan itu masalahnya. Entah kenapa dia makin tidak suka melihat keduanya terus berdekatan, tidak suka Shena lebih dekat dengan pria lain. Tidak suka pokoknya, apalagi saat pria itu menyentuhnya.
"Tolong ambilkan berkas merah itu!" ujarnya dengan kesal.
Shena berdecak, mengambil berkas yang di tunjuk Garda dan memberikannya.
"Bukan yang ini, yang satu lagi. Cari tahun terbaru!"
__ADS_1
"Lo cari gara gara mulu Gar!" desis Shena kesal, memberikan apa yang Garda cari.
Garda terus mencari cara agar Shena sibuk sendiri, sampai menyuruhnya untuk mengambil apapun yang sebenarnya dia bisa lakukan sendiri, bahkan untuk sekedar mengangkat telepon yang tidaklah penting.
Trak!
Shena melemparkan gagang intercom yang berada di atas meja dengan kesal.
"Lo sebenarnya kenapa sih! Heboh bener bikin gue sibuk, lo gak suka sama gue?" tanya Shena yang menghempaskan bokongnya di kursi di depan Garda.
"Enggak! Siapa bilang, gue cuma jalankan amanat papa El ... Kalau kau harus belajar lebih giat, juga belajar caranya bekerja." jawab Garda tanpa berani melihatnya langsung, wajahnya tertunduk pada layar ponsel namun tidak juga menggerakkan sesuatu di sana.
"Alah ... Itu aja yang jadi alasan lo." Shena bangkit dari duduknya, lalu kembali menghampiri Jonathan.
"Gimana By ... Udah selesai?"
"Apa jika selesai. Kita bisa pergi keluar?" Jonathan menunjukan apa yang sejak tadi dia kerjakan,
"By!"
Jonathan tertawa, begitu juga dengan Shena, layar laptop yang mereka lihat menampilkan kata I Love you dengan huruf besar, bukan data data yang harusnya di input.
"Shena. Papa El telepon!"
Tawa Shena berhenti mendadak saat mendengar papanya menelepon, dia langsung berbalik dan melihat ke arah Garda yang tengah menunjukkan ponselnya yang menyala.
Shena merebut ponsel dari tangan Garda dengan kasar seraya mendengus kesal padanya.
'Halo Papa?'
'Halo sayang? Kau berada di kantor?'
'Hm ... Kapan Papa akan suruh Garda balik ke indonesia?'
'Memangnya kenapa? Papa sengaja kirim Garda untuk menjagamu di sana, dia juga tengah belajar mengelola perusahaan Nak.'
Shena mendengus, menyuruh Jonathan yang memegangi tangannya menutup mulutnya agar tidak bicara dan diketahui oleh ayahnya, dia juga melepaskan tangan darinya.
'Pap!'
Shena merengek bak anak kecil yang selalu manja, namun dia tahu keputusan tidak akan berubah.
'Sayang ... Kau tahu seperti apa mama mu kan! Papa gak berani ambil keputusan sendiri, ini juga demi kebaikanmu. Dan tolong, kamu gak usah terlalu dekat dengan Jonathan. Papa tidak suka padanya.'
Shena yang berdiri menghadap Jonathan tentu saja menoleh pada Garda yang berada di belakangnya, pria itu hanya tersenyum tipis dengan dahi naik turun.
__ADS_1
'Bisa kamu berikan ponsel pada Garda? Papa ingin bicara padanya.'
Shena berbalik dan menghampiri Garda, menyodorkan ponsel dengan bibir yang mencebik.
"Papa ingin bicara! Awas saja mengadu kalau Jonathan ada disini!" desisnya pelan.
Garda tentu saja mengangguk dengan senyum yang lebih lebar lagi, dan mengambil ponsel miliknya dari tangan Shena.
'Halo Papa El.'
Garda bangkit dan berjalan menjauh, menatap keluar jendela dengan tangan yang dia masukkan ke dalam saku, persis seperti ayahnya Alan Alfiansyah.
'Hm ... Aku mengerti!'
'Ok Pap ... Tenang aja, aku akan menjaganya dengan baik!'
Shena yang mendengar percakapannya dengan sang ayah tentu saja memburunya, dia berdiri mendekat dan menempelkan telinganya di belakang Garda, hingga Garda harus menahan tawa melihat tingkahnya.
'Ya Pap ... 24 jam aku menjaganya, walau dia sangat keras kepala!'
Bruk!
Shena memukul bahunya keras, dengan kedua mata melolot sempurna.
"Gak usah ngadu!" gumamnya pelan,
Garda hanya mengerdik, membalikkan tibuhnya menyamping, 'Ya Pap ... Ok! Enggak kok, Shen gak suka minum sekarang,'
Shena mengikutinya dengan terus mendekatkan telinganya untuk menguping, dan memberi jempol saat Garda mengatakan hal itu, menutupi kesalahannya. 'Tapi aku gak tahu kalau kemarin, dia pulang malam.'
Shena mencubit pinggangnya sampai Garda meringis, dan melepaskan tangannya lalu menggosok pinggangnya sendiri. "Apa yang lo lakukan? Sakit tahu."
"Kenapa ngadu sama Papa! Awas ya...."
Sambungan telepon sampai terputus karena Shena mencoba merebut ponsel dari tangannya, dia juga memukul mukul bahu Garda berulang kali.
"Lo makin hari makin galak!"
"Itu karena lo nyebelin Gardaa! Lo bilang gak akan ngadu apa apa. Tapi semua lo ceritain sama papa."
"Ya karena papa tanya, dan gue gak bisa bohong." Garda terkekeh namun kembali harus meringis karena Shena kembali mencubit pinggangnya. Membuat keduanya terlibat perdebatan lagi dan tentu saja Jonathan yang melihatnya juga tidak terima.
Dia menarik tangan Shena, "Babe!"
"Hey ... Jangan kasar padanya!" Garda mendorongnya, hingga Jonathan terhuyung ke belakang.
__ADS_1
"Gardaaa!"
"Tapi Shen ...!"