My Sexy Lady

My Sexy Lady
Bab.23


__ADS_3

Aga gak nyambung kalau langsung baca bab ini. So karena dua bab sebelumnya sempet eroor. So kembali ke 2 bab sebelumnya yaaa.... Terus dukung mereka juga yaaa.. Makasih.


.


Mendengar tawaran yang diberikan Tira. Membuat Garda berang. Dia benar benar tidak menyukai sikap Tira. Shena melihat hal itu, dia langsung menarik lengan bajunya karena mulai sedikit gerah.


"Tidak perlu. Ayo Shena!" ajak Garda.


Benar dugaan Shena, Garda mulai kepanasan.


"Hey bung, apa sikap lo berlebihan?"


Garda menghentikan langkah kakinya, dia kembali menoleh ke arah belakang dimana Tira kini berdiri dan tidak ingin mengalah.


Shena mengernyitkan dahi. "Garda, mending kita pergi. ini bukan urusan lo. Kita hanya akan berdebat hal gak penting nanti!"


Garda mendengus dengan suara sinis, "Gue gak suka orang itu di sini!"


"Namanya Tira! Yudistira. Dan ini kerjaan Papa dan Mama, mereka selalu mencampuri urusan gue!"


"Lo fikir gue enggak? Papa juga kayak gini sama gue. Gue kabur dan gue kesini malah lihat lo juga di sini!"


Shena terbeliak. "Astaga ... Lo yakin? Jadi mereka semua mau jodohin kita berdua dengan orang orang yang gak jelas?"


Mereka terus bergumam gumam dengan suara pelan. Bahkan dan hanya terdengar oleh mereka berdua saja. Tira yang berdiri hanya melihat keduanya yang tampak akrab.


"Gak usah deh Tira. Gue yakin buku itu lebih penting buat lo. Biar gue beli sendiri aja. Lo tinggalin aja laptop gue di situ ya!" ujar Shena menyadari jika sejak tadi Tira hanya berdiam diri.


"Shena benar. Lo mending pergi dari sini!"


Tira berseringai. "Lo gak punya hak buat ngusir gue. Ini bukan tentang lo. Ini soal gue dan Shena. Lo siapa? Pacarnya. Kalau lo pacarnya mana mungkin Shena di jodohin sama gue!"


Garda tidak kaget lagi, hal itu bisa dia duga sejak melihatnya awal tadi.

__ADS_1


"Memangnya gue peduli sama lo?" jawab Garda.


Mau tidak mau Shena harus mengendalikan situasi yang sudah mulai tidak singkron. Dia menarik lengan Garda yang hendak berjalan kearah Tira lagi.


Begitu juga dengan Tira yang sudah melangkah maju dan langsung memasang wajah tidak suka.


"Hey ... Tenanglah, kalian berdua. Kita gak perlu berantem kayak gini!" ujar Shena. Dia tidak ingin Garda lepas kendali seperti saat menghadapi Jonathan dulu yang menciptakan konflik yang lebih besar sampai membuat Jonathan berakhir di rumah sakit dalam keadaan babak belur.


Garda menatap Shena dengan sinis kerena Shena terkesan lebih membela Tira dibandingkannya. "Gue hanya ingin bantu lo Shen. Sekalipun Tira adalah pria yang dia jodohkan buat lo tapi gue rasa dia gak pantas ada di sini!"


Pandangan Tira pada Garda semakin tajam saja. "Lo gak punya hak untuk menghakimi siapa yang boleh atau gak boleh di sini. Kami sedang berbicara dan berdebat secara sehat. Dan itu gak ada hubungannya sama lo!"


Tanpa disangka Tira mendengar gumaman pelan dari mereka berdua, dan Garda semakin kesal saja. Shena tidak ingin keributan mereka semakin kentara, sebab akan menimbulkan masalah baru dan membuat kedua orang tuanya bertindak keras lagi.


"Garda. Gue tahu lo ... Mending kita pergi aja, gue gak mau bikin Papa kesini karena denger lo ribut."


Tira tersenyum dengan puas mendengar ucapan Shena yang menyuruh Garda pergi dibanding menyuruhnya pergi sesuai keinginan Garda.


Garda merekatkan gigi gigi gerahamnya, jelas saja dia semakin marah. "Gue mulai muak dengan omongan lo.yang gak tahu diri di sini."


"Gue rasa lo terlalu percaya diri kalau lo selalu bisa ngendaliin segalanya. Lo body guard Shena? Atau lo pengawal rumah ini?"


"Tira ... Lo udah keterlaluan. Mending lo mingkem deh karena lo gak tahu apa apa!"


"Oh ... Iya juga, gue gak tahu apa apa sama hal nya dengan pria yang berdiri di sana! Dia juga gak tahu apa apa tentang kita Shena! Harusnya lo bisa bersikap adil bukan?"


Tira tetap tersenyum pada Shena namun menanggapi Garda dengan bengis. Mulai terfikirkan jika Garda adalah seseorang yang akan menjadi penghalang perjodohan mereka.


"Gue gak butuh pendapat lo!" jawab Garda dengan nada tinggi.


"Pendapat gue?"


"Pendapat lo yang hanya omong kosong!"

__ADS_1


"Hey bung. Lo gak kenal siapa gue!"


"Dan lo juga gak kenal siapa gue Tira! Jadi jangan macam macam sama gue!" ujar Garda dengan penuh emosi. "Jangan ngomong apapun apalagi berpendapat karena lo di sini bukan siapa siapa!"


Tira lagi lagi tertawa. Dia tidak peduli emosi Garda yang semakin memuncak karenanya. Dia juga terus mempertahankan egonya dan tidak mau mendengarkan apapun perkataan Shena.


Shena mulai jengah mendengar keributan dua pria itu yang akan berakhir seperti yang dia duga. "Heh ... Kalian berdua. Udah cukup ya, gue gak mau denger kalian ngomong. Diem kalian berdua! Kalian cuma bakal bikin kacau hidup gue!"


Setelah mengatakan hal itu Shena melenggang masuk, dia meninggalkan Garda dan juga Tira begitu saja tanpa peduli mereka lagi.


Melihat Shena pergi. Tira memandang tajam pada Garda. Dan mendekatinya.


"Gue gak akan mundur. Lo gak punya hak untuk menghalangi apapun kami nantinya."


Garda tidak gentar sedikitpun. Tatapan keduanya beradu dengan sengit menggambarkan ketegangan antara Garda dan Tira yang semakin meningkat. Keduanya terus berdebat dan saling menyerang tanpa ada yang mau mengalah. Emosi terlibat dalam percakapan mereka sejak awal, dan mereka saling menyalahkan satu sama lain. Situasi yang hanya memperburuk salah satu hubungan mereka.


Percakapan ini menggambarkan ketegangan mereka tidak juga selesai sampai Shena pergi beberapa menit yang lalu. Hingga Farrel merasa sesuatu yang tidak beres setelah melihat Shena naik ke lantai dua rumah dan masuk ke dalam kamarnya.


Melihat Tira dan Garda yang masih saling berdiri berhadapan dengan otot otot yang menegang terligat jelas di wajah mereka membuat Farrel yakin jika sesuatu terjadi.


"Apa yang kalian ributkan? Garda ... Kau pergi ke ruangan kerja dan tunggu Papa di sana!"


"Papa?" cicit Tira yang merasa heran kenapa Farrel menyebut dirinya papa pada Garda.


"Garda!" untuk kedua kalinya namanya di sebut, barulah Garda bergerak dari tempatnya. Dia masuk kedalam rumah.


"Tira ... Maafkan Garda, dia memang terlalu bersikap posesif pada hal hal yang berkaitan dengan Shena. Mereka tumbuh bersama sejak kecil dan menjaga satu sama lain. Jadi kamu pasti paham!"


"Jadi ... Garda kakak Shena? Adik ... Mereka sepupu?" ujar Tira.


Farrel menganggukkan kepalanya. Meraka tidak tahu jika Garda masih berdiri di belakang pintu masuk dan sudah pasti mendengar semuanya dengan jelas.


"Garda adalah sepupu Shena ... Kau juga harus lebih menghormatinya ya!"

__ADS_1


__ADS_2