My Sexy Lady

My Sexy Lady
Bab.18


__ADS_3

"Benar ... Semua ini memang kesalahanmu Garda. Kamu yang tidak becus menjaga dia hingga dia jadi seorang pembangkang!"


Alan yang juga tengah duduk hanya terdiam, tidak sedikitpun dia melihat maupun bicara sesuatu saat adiknya marah pada putranya sendiri. Dia memang ayah yang dingin, selalu membiarkan putranya bertanggung jawab pada sesuatu yang dia lakukan.


"Papa!" lirih Shena,


"Harusnya kamu membawanya pulang, bukan mendukung semua tindakannya!" ucapnya lagi pada Garda.


Metta bangkit dan langsung menghampiri suaminya, dia menarik lengannya dengan lembut. "Ini bukan sepenuhnya kesalahan Garda, putri kita yang salah!"


Shena diam diam melirik ke arah Garda yang hanya bisa meminta maaf padahal itu bukan kesalahannya. Dirinya yang kabur dari rumah.


"Lo gak bisa bela diri lo sendiri Gar?" desisnya tanpa suara.


Farrel berdecak, dia kembali melirik putri semata wayangnya dan kembali duduk. "Apa kau tahu kenapa Papa membiarkanmu dan tidak mencarimu Shen? Apa kau belum sadar juga dan memilih hidup tidak karuan itu di banding tinggal di rumah dengan nyaman?"


"Ya ... Aku nyaman dengan hidupku saat ini Papa, aku gak suka di kekang. Papa gak bisa maksa aku dong!"


"Shena ... Apa kamu mau terus seperti ini? Kami semua sayang padamu dan ingin memberikan yang terbaik untukmu." sela sang Ibu.


"Ya ... Tapi gak berlebihan Mama ... Aku gak suka! Aku ingin pergi kemanapun aku mau tanpa mereka mereka ini!"


Shena tetap bersikeras dengan keegoisan dirinya sendiri, dia tetap pada pendiriannya yang tidak ingin tinggal di rumah. Sementara Garda terlihat menghela nafas, gadis itu memang keras kepala. Fikirnya.


"Dan Papa salahin aja Garda yang gak mau jagain aku di sini. Dia gak mau ikut tinggal di sini juga!" Shena menoleh pada Garda di belakangnya. Syukurin, karena lo gak bisa belain diri lo sendiri. Batin Garda.


Farrel melirik ke arah Alan, begitu juga dengan Alan. Mereka berdua lantas sama sama melirik ke arah Garda.


"Garda. Kau dengar itu? Dia saja menyalahkanmu atas semua ini. Apa kau mau menerimanya, kau memang salah!"


"Iya Papa ... Aku tahu aku salah, maaf kan aku!" lirihnya dengan menatap ayahnya. "Tapi aku juga tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku di luar negeri dan kembali ke sini."


Kali ini Shena yang berdecak, percuma saja banyak bicara kalau ujung ujungny tetap tidak ada solusi yang terbaik menurutnya.


"Udahlah ... Ngapain ngomong panjang panjang lebar kalau ujung ujungnya aku tetap di sini dan di kekang, terserah kalian saja kalau gitu, aku gak mau urusan!" Ucap Shena yang melenggang pergi, dia berjalan ke kamarnya. "Aku mau kabur lagi pun nanti gak masalah!" gumamnya sendiri.

__ADS_1


Farrel dan Metta menghela nafas melihat sikap putrinya yang semakin keterlaluan, sementara Garda tetap menatap ayahnya. Dia tahu ayahnya akan terus menyalahkannya karena tidak bisa menjaga Shena dengan baik.


"Garda ... Ini semua bukan kesalahanmu, Shena yang keras kepala. Jangan sedih ya!" ucap Metta. "Dan kalian berdua jangan terus menyalahkan Garda, tugasnya bukan pengawal yang di suruh menjaga Shena. Tapi dia hanya seorang adik laki laki yang dipaksa menjaga kakak perempuannya!" tunjuknya pada Farrel dan juga Alan.


"Kak Alan juga jangan terlalu kejam pada Garda, tugasnya sudah sangat berat apalagi ditambah harus menjaga Shena."


Garda menatap ke arah Metta, wanita yang selalu membelanya sejak dari dia kecil. Terlebih di depan ayahnya sendiri yang selalu bersikap dingin.


"Istirahatlah. Kau pasti capek!" tambah Metta yang menganggukkan kepalanya berulang kali.


Garda akhirnya ikut mengangguk, dia lantas naik ke lantai 2 dimana kamarnya berada. Ya ... Selama di indonesia, Garda memang kerap tinggal di rumah Farrel dan memiliki kamar khusus pribadi di sana, selain lebih dekat dengan kantor, dia juga bisa menjaga Shena.


Garda tiba di depan pintu kamar, langkahnya terhenti saat melihat Shena mematung dengan kedua tangan yang melipat di dadanya.


"Sini lo ... Gue mau ngomong!" ucapnya yang langsung berjalan ke arah balkon.


Garda mengikutinya keluar tanpa bicara, sementara Shena masih melipat tangan di dadanya dengan tatapan tajam miliknya.


"Kenapa lo gak ngomong apa apa?"


Shena berdecak, "Seenggaknya lo bilang ini bukan salah lo!"


"Ini memang kesalahan gue, dan gue terima!"


"Lo tuh gak pernah berubah ya! Lo selalu nerima nerima aja, padahal itu bukan salah lo Garda!"


Garda menatapnya nanar, "Untuk apa gue bela diri, gue hanya akan bikin urusan lo berantakan. Lo maunya kayak gini kan?"


"Lo datang ke sini bukan karena mereka yang minta?" celetuk Shena seakan baru sadar apa yang di lakukan Garda untuknya.


Garda mengangguk, "Ya ... Mereka emang gak tahu kalau gue kemari!"


"Dan nyari gue?"


Garda menggangguk lagi, kali ini lebih lirih dari sebelumnya. "Ya ... Gue langsung nyari lo begitu mendarat! Terserah lo mau percaya atau enggak, yang jelas gue peduli banget sama lo Shen. Gue gak mau lo kenapa napa. Dan saat Papa bilang lo kabur dari rumah gue sama sekali gak bisa tenang. Gue ...!"

__ADS_1


"Lo bego banget sih!"


Garda menggelengkan kepalanya lagi, "Gue gak bego ... Gue cuma gak mau terjadi sesuatu sama lo!"


"Ya ... bego namanya itu, harusnya lo bilang kalau lo gak tahu apa apa soal gue yang kabur, lo juga bilang ini tuh bukan kesalahan lo!"


Shena tampak kesal sendiri sebab sikap Garda yang selalu membelanya walau dia salah.


"Jadi gue susah buat kabur kalau lo kayak gini terus!" ucap Shena lagi.


"Kenapa ... Lo gak mau gue yang terus di salahin kan?"


"Itu ... Ya bukan gitu, masalahnya lo gak bisa terus belain gue kan, gue gak mau lo terus terusan belain gue. Biarin aja mereka salahin gue Garda!"


Garda menatapnya nanar, mana bisa dia melakukannya lalu terkekeh.


"Kalau lo mau kabur kabarin aja gue!"


"Garda ... Gue serius! Lo fikir ini lucu?"


Garda masih terkekeh, dia senang kembali melihat tingkah menggemaskan dari wanita yang menarik hatinya.


"Gue serius Gar ...!"


Garda melangkah lebih dekat ke arahnya, membuat Shena terkesiap saking dekatnya Garda yang hampir menempel dengan jarak yang sangat dekat.


"Lo khawatir sama gue? Lo gak mau gue nanggung semua kesalahan lo kan?"


Shena mengangguk lirih, dia memang tidak ingin hal itu terjadi. "Ya ... tentu aja, lo sepupu gue tentu aja gue khawatir!"


"Tapi rasa khawatir gue sama lo bukan sekedar rasa khawatir seorang sepupu Shen ... Dan gue gak tahu kenapa!"


Shena menelan salivanya sendiri dan langsung mendorong dada Garda hingga pria itu kembali mundur ke belakang. Shena sendiri bisa merasakan hal yang berbeda saat ada dan saat tidak ada Garda di dekatnya. Tidak bisa di pungkiri dia pun merasakan perasaan aneh itu.


"Minggir. Gue ngantuk ... Gue mau tidur!"

__ADS_1


__ADS_2