My Sexy Lady

My Sexy Lady
Bab.16


__ADS_3

"Gue gak peduli ... Lo boleh marah sama gue, lo boleh kesal dan pukul gue, gue gak peduli Shen ... Asal lo tetep di sini sampai besok! Gue gak mau lo ngelakuin hal yang bikin diri lo celaka!"


Shena tertegun mendengarnya, bahkan kedua matanya sama sekali tidak berkedip dengan menatap Garda.


"Apa. Lo mau marah sama gue karena gue lagi lagi ikut campur masalah lo. Mata lo melotot karena tiba tiba gue muncul dan nge hancurin rencana lo ini?" tuduh Garda, "Lo benar benar senang tanpa ada gue kan?" Cicitnya lagi masih kesal, kedua matanya tajam disertai rahang yang tegas.


Shena yang sejak tadi terdiam tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya dengan kedua mata berubah nanar kini tersentak, dia memang merindukan Garda. Tapi melihatnya datang dan langsung menuduhnya serta memarahinya membuatnya menjadi kesal.


"Lo datang kemari cuma mau ceramah? Lo muncul tiba tiba dan langsung marah sama gue. Gila lo Gar. Lo gak tahu apa apa ... lo juga gak tahu masalah gue apa Garda!"


Kini gantian Garda yang terdiam, dia menatap Shena yang wajahnya sedikit di tekuk dengan bibir yang terkatup rapat.


"Lo gak bisa ngontrol diri lo kan? Lo seneng hidup kayak gini tanpa ada orang yang ngekang lo kan. Tapi Shen ... Lo harus ingat, lo punya keluarga ....!"


Shena mendengus kasar, "Udah deh ... Kalau lo di sini cuma mau bujuk gue pulang gue gak mau! Gue mau pulang kalau ....!"


"Apa ... Kalau apa? Duit lo abis, barang barang yang bisa lo jual murah abis juga? Kalau lo udah terlunta lunta begitu?" sela Garda dengan sedikit berdesis, "Gue heran sama lo ... Disaat semua orang bermimpi punya hidup kayak lo, di saat semua orang pengen ada di posisi lo ... Lo malah pengen susah!" ucapnya lagi dengan duduk di tepi ranjang, tidak ada lagi tempat untuk duduk sebab penginapan itu sangat kecil. "Shen ... Gue gak habis fikir sama lo!" lanjutnya lagi dengan kedua mata yang menyisir ruangan.


Sebenernya gue kesel dan marah sama Papa karena tetap ngekang gue, dan gue makin kesel karena gak ada lo Gar ... Gue aneh dan gue heran, tapi gak ada yang bisa ngertiin gue selain lo. Gue tahu gue bego, gue juga gak tahu kenapa ... Tapi gue kangen sama lo Gar, gue pengen lo yang jagain gue kayak di luar negeri .... Batin Shena bicara.


"Shen ...!"


"Shena ... Lo denger gue ngomong kan?" tukas Garda yang melihat Shena tidak bicara apa apa sejak tadi.


Akhirnya Garda kembali bangkit, dia membuka jas yang dikenakannya lalu menggantungkannya di tempat khusus yang menempel di pintu masuk.


Melihat Shena masih diam saja, Garda akhirnya masuk ke dalam kamar mandi yang cukup sempit.


"Bagaimana bisa dia hidup dengan tenang seperti ini, kondisi penginapan ini jauh jika dikatakan layak." gumamnya seraya bersiap siap untuk mandi.


Shena sendiri akhirnya memilih untuk tidur, dia naik ke atas kasur yang tidak seempuk kasur di kamarnya. Gemiricik air di dalam kamar mandi seakan membuatnya tenang, tubuhnya yang lelah dengan kedua betis yang terasa pegal sebab selama 2 hari dia hanya berjalan kaki.

__ADS_1


Ceklek!


Pintu kamar mandi kini terbuka, Garda yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya keluar dengan acuh, Wajahnya tampak segar dengan sisa sisa air yang masih mengucur. Dadanya yang bidang terpangpang nyata dengan otot otot perut yang keras. Garda berbalik untuk mengambil pakaian miliknya, membuat Shena menelan saliva saat melihat bahu serta punggungnya yang masih basah, yang tegap dan membuatnya berdebar debar.


Gadis berusia 21 tahun itu memegang dadanya yang terus berdebar. Hingga Garda kembali berbalik dan Shena terkesiap kaget, dia memilih memejamkan kedua matanya untuk berpura pura tidur, dia tidak ingin Garda tahu jika dirinya menikmati pahatan tuhan yang sempurna miliknya.


Garda yang mengambil pakaiannya, dari mulai atasan dan bawahan, dari mulai menyemprotkan sedikit parfum di tubuhnya juga rangkaian ritual lainnya. Pria itu tersenyum tipis seolah tahu jika Shena hanya berpura pura tidur, dia juga terlihat salah tingkah dengan berguling ke kiri dan ke kanan dengan resah.


"Gak usah pura pura tidur ... Gue tahu lo gak beneran tidur Shen ... Gue mau cari makan ... Lo mau gue beliin apa?" tukas Garda.


Tidak ada jawaban dari Shena, gadis itu terperanjat kaget namun tetap menutup kedua matanya.


"Gue tahu lo lagi berusaha keras!" ucapnya lagi, kali ini dengan terkekeh.


Apa magsudnya? Hati Shena bicara.


"Ayo bangun ... Gue mau beli Junk food!"


Mendengar jenis makanan yang sebenarnya tidaklah sehat itu Shena membuka kedua matanya. Dan tersentak kaget saat melihat wajah Garda yang kini berada di hadapannya dengan sangat dekat.


Aaaarrgg!


Grep!


Sedetik kemudian, tubuhnya yang hampir terguling kini berada di pelukan Garda, tangan Garda yang sigap menangkapnya tepat waktu. Seketika waktu seakan berhenti berputar, keduanya hanya saling menatap dengan dalam.


Degup jantung Shena kini terus berirama tidak karuan dengan keringat yang mulai membuatnya sedikit gerah seiring dengan suasana kamar yang mendadak panas.


"Le--lepasin gue Gar!"


"Gue gak yakin!" desis Garda lirih, semakin menggenggam tangannya kuat.

__ADS_1


"Gue bilang lepas!"


Shena tidak ingin terus berada di situasi yang membuatnya salah tingkah, dia harus sadar jika perasaan anehnya itu adalah salah.


"Lo yakin minta gue lepas?"


Shena mengangguk lirih, mulai melirik ke arah lain hanya karena tidak ingin terus berlama lama menatap Garda yang kini justru tersenyum.


"Ok ... Jangan salahin gue!"


Garda melepaskan pegangannya, sedetik kemudian dia bangkit bertepatan dengan teriakan Shena yang kini terjerembab jatuh ke bawah.


Arrrggrrhhh!


Bruk!


"Gardaaaaaaaa!" teriaknya panjang. Kesal dan juga sakit. "Lo ih ...!"


Gelak tawa Garda terdengar renyah, sementara Shena berusaha bangun dengan bokong dan pinggangnya yang sakit, tidak lupa juga kepalanya yang terbentur ujung meja di sisi ranjang.


"Lo sengaja ya bikin gue jatoh Gar!" Serunya kesal.


"Gue udah bilang jangan salahin gue! Lo lupa ini kamar kecil dengan ranjang kecil nona Manja?"


Shena berdecak kesal, mengusap pinggangnya yang terasa patah. "Sialan lo!"


Garda masih tertawa walau saat ini tawanya berubah kecil setelah melihat wajah Shena yang marah.


"Lo harus tanggung jawab, beliin gue hamburger doble cheese!"


"Oke Shena ... full saus dengan double tomato tanpa sayuran."

__ADS_1


Shena kini tersenyum, hanya Garda yang selalu ingat apa yang dia sukai dan tidak dia sukai.


"Ayo pergi ... Gue bisa denger bunyi perut lo keroncongan!"


__ADS_2