My Sexy Lady

My Sexy Lady
Bab.15


__ADS_3

Mengetahui sang putri kandung pergi dari rumah dan menghilang, membuat Farrel yang biasanya panik kini lebih tenang setelah bicara dengan beberapa orang yang bisa menenangkannya termasuk Garda. Shena pun asik dengan kegiatan barunya, dia bisa pergi kemanapun sesuka hati tanpa ada orang orang yang melarang atau pun mengawasinya.


Gadis itu juga tinggal di sebuah penginapan melati dengan harga yang cukup murah. Makan mie instan dan juga nasi kepal.


Hal sederhana yang selalu dia ingin lakukan, sampai satu ketika dia sadar jika uang cash nya hampir habis tidak bersisa.


Shena menghela nafas, mengeluarkan sisa sisa kembalian dan juga recehan dikantongnya.


"Sial ... Baru aja 2 hari duit gue udah habis!" dengusnya dengan menghitung koin koin kembalian.


Jumlahnya tidaklah banyak, dan lagi lagi dia menghembuskan nafas, "Perasaan duit celengan gue udah gue bawa semua kok abis lagi ya!"


Tapi Shena belum menyerah juga, dia justru berinisiatif untuk mengambil uang dalam jumlah yang banyak tapi tidak ingin ketahuan. Shena keluar dan mencari sebuah toko jam tangan.


Shena keluar dari toko jam tangan setelah berhasil menjual jam tangan mahal miliknya. Walau dia tahu jika dia rugi besar karena menjual jam tangan merek terkenal dengan murah.


"Gak masalah buat gue ... Yang penting gue punya duit!" cicitnya dengan tersenyum puas.


Setelahnya dia masuk ke dalam mini market, membeli beberapa camilan dan soft drink, tidak lupa juga mie instan kemasan.


Wanita cerdas itu tahu jika keluarganya pasti tidak berdiam diri, dia memang tidak akan mungkin menggunakan kartu apapun untuk biaya kebutuhannya karena sudah pasti akan mudah dilacaknya. Tapi hati kecilnya terus bertanya kenapa kedua orang tuanya tidak heboh seperyi biasanya padahal dia sudah pergi selama 2 hari.


Niat hati untuk iseng dan ingin tahu, Shena menuju mesin ATM, dia berniat mengambil uang yang dia miliki serta penasaran dengan reaksi keluarganya.


"Hah ...? Gak bisa?" gumamnya pelan seraya kembali menarik kartunya dari lubang mesin.


Saat itu juga dia sadar kalau kartu yang dimilikinya sudah tidak lagi bisa di gunakan.


"Astaga ... Dugaan gue benar, Papa sengaja gak nyari gue! Dia malah ngelakuin hal ini agar gue balik sendiri karena kekurangan uang, dia fikir gue gak bisa hidup tanpa uang. Salah besar ... Gue bakal buktiin kalau gue bisa hidup! Masih banyak barang yang bisa gue jual!"" gumamnya tidak peduli.


Shena pun kembali ke penginapan, alangkah kagetnya saat dia melihat semua barang miliknya ada di luar kamar.


"Kenapa barangku ada di luar?" katanya sengit pada seorang pria yang berdiri tidak jauh darinya.

__ADS_1


"Maaf Non ... Tapi waktu menginap sudah habis satu jam yang lalu dan saya tidak menerima konfirmasi apa apa dari anda."


"Ya tetap saja gue kan sudah bayar uang sewa! Pokoknya gue gamau tahu masukan lagi barang barang gue ini!"


"Maaf Non ...! Tapi tetap tidak bisa, kamar ini sudsh ada penyewa baru." Jawabnya.


Membuat Shena membulatkan kedua matanya sempurna. "What ... Padahal gue telat 1 jam dan kamar ini udah ada yang sewa? Gila aja ... Terus lo fikir gampang nyari penginapan malem malem gini?"


"Mungkin Nona bisa cari di sebelah sana?" tunjuknya pada ujung jalan yang terlihat gelap.


"Heh ... Lo gak tahu siapa gue. Mau lo gue bikin tempat ini tutup?" sentak Shena.


Pria itu mengulas senyuman, "Untuk uang sewa saja telat 1 jam bagaimana bisa menutup tempat ini!"


"Gue serius! Gue bakal bikin tempat ini tutup! Selamanya ...!" ketusnya kesal. "Awas ... Ambil tas gue itu!"


"Maaf Nona ... saya rasa itu bukan urusan saya!" tukas pria itu dengan melenggang pergi begitu saja.


Di usir? Ya ... Baru pertama kalinya Shena mengalami pengusiran paksa dalam hidupnya. Benar benar situasi yang membuatnya kesal dan marah tidak karuan. Tapi apa yang bisa dia lakukan malem ini, bahkan saat semua kartunya di bekukan.


"Sialan ...! Awas aja nanti!"


Shena kembali menggendong ransel miliknya, juga tas kecil dan sebuah kantong berisi makanan yang baru saja dia beli di mini market. Dari kejauhaan terlihat sepasang mata mengarah menatap dirinya.


Pria itu sontak kaget melihat keadaan Shena, tapi gadis itu snagat keras kepala sekali.


Akhirnya mau tidak mau dia masuk kembali ke kamar yang dia sewa malam ini dan berusaha untuk tenang agar semua berjalan lancar.


Hingga akhirnya Shena berjalan ke arah jalan dengan penerangan gelap dan cahaya remang remang. Kedua matanya waspada dan takut sesuatu hal buruk terjadi.


Hingga sebuah tangan menariknya dari belakang.


Shena terkesiap, dia langsung menendang kaki seseorang itu.

__ADS_1


"Aarggh!"


Shena melihatnya dalam cahaya keremangan, kedua maniknya kini membola sempurna saat tahu siapa seseorang yang membuat jantungnya hampir copot. "Garda?"


Garda meringis, memegangi kakinya yang sakit, "Iya ... ini gue!"


"Ngapain lo di sini?"


"Lo harusnya bersyukur ada gue di sini, lo mau celaka karena berjalan sendirian kayak gini?"


"Jangan ngeles lo! Gue tanya ngapain lo di sini?"


Garda terdiam, semenjak Farrel memberitahukan Shena yang pergi dari rumah dia langsung pulang dengan penerbangan paling pertama. Mana bisa dia membiarkan Shena begitu saja, dia juga tidak tahan saat melihat Shena kesulitan seorang diri apalagi di malam malam seperti saat ini, hingga dia memutuskan mengikutinya.


"Lo pasti di suruh Papa nyariin gue kan?"


Garda menggelengkan kepalanya. "Papa lo justru larang gue nemuin lo, gue cuma di suruh ngecek keadaan lo aja ... Tapi gue gak bisa Shen ... Gue terlalu khawatir sama lo!"


Sesudah mengatakannya, Garda menarik tangan Shena dan membawanya pergi. Sedangkan Shena diam dan tidak bisa berkata kata setelah mendengar ucapan Garda.


Garda membawanya kembali ke penginapan, dan Shena heran karena Garda membawanya ke kamar yang dia sewa sebelumnya.


"Jadi udah berapa hari lo ngikutin gue?" Shena menepiskan tangan Garda tepat di depan kamar. "Kebangetan banget sih lo ... Lo yang sewa kamar ini dan bikin gue di usir?" ucapnya lagi.


"Gak gitu Shen ... Gue!"


"Alah ... Lo ngeles aja!" Shena berbalik arah, dia tidak ingin masuk ke dalam kamar karena kadung kesal.


Tapi Garda kembali menariknya, kali ini dia menariknya sampai Shena masuk ke dalam dan menutup pintunya dengan cepat.


"Gar ... kurang ajar banget sih Lo!"


"Gue gak peduli ... Lo boleh marah sama gue, lo boleh kesal dan pukul gue, gue gak peduli Shen ... Asal lo tetep di sini sampai besok! Gue gak mau lo ngelakuin hal yang bikin diri lo celaka!"

__ADS_1


__ADS_2