
Shena berjalan mondar mandir di dalam apartemennya, semalam Garda tidak pulang ke apartemen dan tidak memberikan kabar apapun padanya, dia resah kenapa pria itu tidak pulang tanpa mengabarinya seperti biasa, bahkan Garda tidak pernah pulang terlambat dan membuatnya menunggu seperti ini terlebih pagi ini dia harus pulang ke indonesia.
"Garda mana sih, tumben banget dia gak ada, biasanya tuh orang kayak CCTV ngikutin gue! Ini kasih kabar juga enggak!" gumamnya kesal.
Sampai jam berlalu dan seorang supir yang datang mengetuk pintu, memberi tahukannya jika dia harus segera pergi ke bandara.
Shena hanya menghela nafas panjang, sampai dia keluar dari apartemen, turun ke basement dan keluar dari gedung apartemen tapi Garda tidak muncul juga.
"Si Agar agar jahat banget!" cicitnya lagi seraya melemparkan ponselnya begitu saja kesamping.
Tak lama Shena tiba di bandara, dia keluar dari mobil dan sengaja memperlambat langkah kakinya berharap Garda muncul di sana. Namun lagi lagi Shena hanya bisa menghela nafas panjang saat pria yang menjemputnya muncul.
"Nona Shena?"
"Uncle Mac? Apa Garda sama uncle?"
Mac yang sudah berambut putih itu menggelengkan kepalanya, "Tidak ada Garda Non, Uncle hanya menjemput Non sendirian saja. Ayo kita pergi Non."
Shena kembali menghela nafas, Garda benar benar tidak mengantarkannya pulang, ucapannya semalam juga tidak berhasil membuat Garda luluh. Hingga akhirnya Shena yang kesal mengikuti Mac untuk masuk ke dalam pesawat.
Sementara Garda melihatnya tidak jauh dari sana, alih alih menemuinya, justru Garda bersembunyi, dia sengaja melakukannya hanya karena tidak ingin Shena berubah fikiran dan merajuk padanya, sebab jika itu dilakukannya, dia tidak akan bisa menolak semua ke inginan Shena, bertahun tahun tumbuh bersama Garda yang lebih dewasa tahu jika Shena lebih kekanak kanakan dan manja. Semuanya tidak ada yang bisa menolak jika berkaitan dengan keinginannya, itu juga lah yang menjadi kekhawatiran ayah dan ibunya karena Shena tumbuh jadi anak yang sangat manja.
Berbeda dengan Garda yang sejak kecil di didik keras oleh sang ayah agar bisa menjaga Shena. Entah apa yang terjadi di keluarganya karena Garda merasa dia di siapkan untuk menjaga shena padahal usia Garda lebih muda satu tahun darinya.
__ADS_1
"Apa aku bukan keluarga Adhinata, apa aku anak adopsi?"
Pertanyaan itu kerap muncul sejak Garda kecil, dia bisa membedakan sikap kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Shena, saat Shena bermain dengan gembira, Garda harus berlatih bela diri, saat usianya 9 tahun, dia sudah pandai bela diri.
"Itu karena kau laki laki, kau harus menjaga keluarga kita termasuk kakak sepupumu Shena, jaga dia sebagaimana aku menjagamu."
Itu yang sering ayahnya katakan sejak dia kecil, sampai perkataan itu tertanam di otaknya dan membuatnya menjadi orang yang benar benar melindungi Shena.
Garda menghela nafas, menatap Shena yang kini semakin menjauh dari pandangannya, semua yang dia lakukan adalah demi kebaikan Shena sendiri.
***
Shena keluar dari mobil dan langsung melenggang masuk ke dalam rumahnya, dan Mac mengeluarkaan koper miliknya dari dalam bagasi. Terlihat kedua orang tuanya berdiri daan menyambutnya.
"Selamat datang kembali Shena sayang!" seru Farrel.
"Lho ... Datang datang sudah marah marah saja, kamu tidak merindukan Mama dan Papa?"
"Udah deh nanti aja, Papa jawab dulu pertanyaan aku, kenapa Papa suruh aku pulang, gimana kuliahku di sana? Harusnya yang papa suruh pulang itu Garda, bukan aku, Garda kan gak kuliah di sana, kerjaannya juga dikit, dia lebih banyak ngintilin aku dari pada kerja Pap,."
Farrel tertawa, "Memangnya kamu banyak pekerjaan juga di sana? Bukankah kamu juga sama saja. Kerjaanmu hanya main main saja di sana!"
Shena melingkarkan kedua tangan pada lengan sang ayah, dengan sedikit merengek atas apa yang menurutnya ketidak adilan ini.
__ADS_1
"Papa sih jahat banget, yang anak kandung Papa itu aku lho Pap, bukan Garda . Tapi Papa lebih banyak hubungi Garda dari pada anaknya sendiri."
"Shen ... Itu karena kami khawatir, kamu lihat dirimu ini, kamu yang berusia 21 tahun ini masih bersikap kenakan kanakaan dan itu yang membuat kami khawatir!" ucap sang ibu dengan memeluknya.
"Ya tapi kan gak harus pasang CCTV 24 jam, baru hari ini aja dia gak ngintilin aku pulang Mama."
"CCTV?"
Shena mengangguk, "Bagi au Garda itu CCTV berjalan,"
Farrel menghela nafas, "Pekerjaan Garda cukup banyak di sana, ditambah dia juga harus menjagamu dengan baik, jadi Papa putuskan kamu akan kembali tinggal di sini dan pindah kuliah juga."
"HAH. Pap ... Jangan dong, semua teman temanku ada di sana, gimana mungkin aku pindah ke sini, ke kampus sini, lagian kuliahku itu hanya perlu 2 tahun lagi Pap. Papa jahat banget." ucapnya dengan semakin merengek saja.
"Lihatlah kelakuanmu? Bagaimana Papa bisa percaya kalau kamu bisa tinggal sendirian di sana tanpa pengawasan Garda!!"
Shena mencebikkan bibirnya, semua yang di ucapkannya tidak akan membuat keputusan ayahnya berubah kali ini, sia sia saja sebab ayahnya tidak akan mendengarkan nya dan juga tidak akan mempercayainya kali ini, sangat berbeda jika Garda yang bicara.
Mungkin ini sebabnya Garda gak ikut pulang sama gue ataupun nganterin gue ke bandara, dia gak bisa nolak gue dan itu bahaya, lo keterlaluan banget sih Gar ... Awas aja kalo lo ke sini, gue bakal minta perhitungan sama lo nanti. Batin Shena bicara dengan kesal.
Farrel dan juga Metta hanya bisaa menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan putrinya itu. Shena maasuk kedalam kamar tanpa ingin peduli orang tuanya, bahkan dia melewati meja makan begitu saja padahal makanan kesukaannya berkumpul di sana.
Bruk!
__ADS_1
Gadis itu masuk ke dalam kamar miliknya, dia melemparkan tas selempangnya begitu juga dengan sepatunya. Dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang di kamar yang tidak pernah sedikitpun.
"Awas aja lo Gar ... Lo yang bikin gue harus balik dan kuliah di sini sementara lo enak enakan di sana!"