
"Gak usah ngarep!" ujar Shena dengan ketidak puasan, "Gue gak mau nerima perjodohan sialan ini. Lo fikir gue gak laku sampe harus di jodoh jodohkan? Gue bisa nyari sendiri. Yang lebih tampan dan dan baik selain lo! Ngerti lo?"
Tira terkekeh tidak percaya, Shena tife gadis pembangkang dan tidak menurut sekalipun itu pada dua orang tuanya. Membuatnya semakin menarik dan ingin menaklukannya.
"Gue faham. Gue hargai kejujuran lo Shena. Dan makasih. Gue emang tampan dan baik. Lo gak akan nyesel. Dan gue harap kita bisa berteman. Kedepannya kita gak tahu. Bisa saja lo bakal suka sama gue!"
"Najis!" ujar Shena yang langsung duduk di kursi, mengeluarkan laptop miliknya. "Nih ... Dari pada lo banyak bacott mending lo kerjain ini. Gue sangsi lo bisa dengan IPK standar kampus."
Tira menarik kursi dengan kedua alis yang mengernyit. "Kayaknya lo bukan hanya gak suka orang tua lo ngejodohin kita. Tapi gue lihat lihat lo juga gak suka kuliah di sini!"
"Emang iya ... Gue gak suka tinggal di indonesia dengan banyak orang orang nyinyir dan gak bisa maju kayak orang orang di luar negeri. Mereka bisa berkembang pesat karena orang orangnya gak suka nyinyir."
Tira tertawa. "Sikap lo skeptis amat! Lo gak tahu seramah apa orang indonesia. The most people___"
__ADS_1
Brak!
Shena menyimpan buku dengan kasar di atas meja saat Tira bicara. "Berisik ... Mending lo mulai tuh sama tugas itu. Itu pun kalau lo mau kita berteman kayak lo bilang tadi!"
Tira tertawa lagi, dia sangat suka kepribadian Shena yang tidak labil. Dia mulai melihat isi dari catatan Shena. "Setelah lihat lo dalam 20 menit ini. Gue jadi punya pandangan berbeda terhadap kita Shena. Gue pikir...!"
"Berisik!" Shena menutup dua lubang telinganya dengan menggunakan ear phone yang terhubung pada musik di ponselnya dan menyandarkan punggungnya di kursi. Bersikap santai dan tidak peduli apapun yang dikatakan Tira.
Dugaan Garda benar setelah melihat Tira yang sedang bersama Shena. Dia berjalan menghampiri mereka.
"Shen ... Gue perlu ngomong sama lo!" ujarnya pada Shena yang justru terlelep mendengarkan musik di telinganya.
Tira menengadah padanya. Dan langsung mengernyit. "Lo gak lihat kalau dia tidur?"
__ADS_1
Garda jelas tahu, tapi bukan berarti Tira yang harus ikut bicara.
"Siapa lo?"
"Gue ...? Apa gue harus kasih tahu lo siapa gue?"
Garda berdecih, tidak diberi tahu pun dia bisa menduganya dengan mudah siapa pria yang kini berani mengotak ngatik barang pribadi milik Shena. Hal privasi yang tidak bisa sembarangan di lihat orang sekalipun itu hanya sebuah laptop.
Merasakan ada orang lain disampingnya, Shena membuka kedua matanya dan melihat Garda. Dia tersentak kaget dan jelas terlihat wajah Garda yang tidak suka pada Tira.
"Kebetulan lo datang Gar, anterin gue ke toko buku! Gue harus beli satu buku yang gue gak punya!" Shena bangkit, waktu yang pas untuk pergi dan Garda datang sebagai penyelamat.
"Buku apa yang lo gak punya, kali aja di rumah gue ada. kalau pembahasannya tentang tugas lo ini kayaknya sih ada. Lo satu jurusan sama gue Shen. Jadi lo jangan dulu beli. Pake punya gue aja!"
__ADS_1