
Flashback On.
Apartemen yang ditinggalinya kini tampak sepi, biasanya akan ada suara suara berisik. Entah itu mengomel, entah itu hanya membicarakan kesehariannya atau teman temannya. Garda menghela nafas, baru saja satu hari Shena tidak ada, dia merasa hidupnya kini terasa hampa.
Drett
Drett
Baru saja hendak membuka pintu kamar, ponselnya berbunyi nyaring, dengan segera dia merogoh ponselnya dan menempelkannya di telinga.
"Halo. Ada apa Uncle Mac?"
"Kau tahu tempat mana saja yang kerap di datangi Non Shena saat dia marah dan pergi dari rumah!"
Langkah Garda terhenti begitu saja, dia melirik sebentar layar ponsel miliknya untuk sekedar memastikan saja.
"Bagaimana?"
"Apa maksudnya Shena kabur dari rumah?"
"Benar ... Dan kami sudah mencarinya kemana mana!" jawab Mac di ujung telefon.
Saat itu juga Garda menutup sambungan telepon dengan pria paruh baya yang tidak ingin pensiun dari pekerjaannya bersama sang ayah. Garda pun bergegas masuk dan mengambil barang miliknya saat itu juga, dia berniat kembali ke indonesia untuk mencari Shena.
Bukan hal yang mudah mencari Shena, gadis itu sangat cerdas perihal urusan bersembunyi alias kabur, dia akan rela kehilangan uang banyak ketimpang ketahuan. Dan Garda sudah tahu hal itu, Shena tidak akan menggunakan kartu debit maupun kartu kartu yang bisa di lacak dengan mudah.
Garda memutuskan memeriksa rangkaian penjualan barang barang mewah dengan harga dibawah pasaran, toko toko yang tidak terlalu besar juga cenderung sepi. Hal itu menjadi sangat mudah bagi Garda, dia sangat mengenal Shena dengan baik.
Dan hari itu, dimana seseorang memberinya info tentang penjualan sebuah jam tangan mewah dengan harga miring. Dan setelah mendapatkan info lebih lengkap barulah dia menuju tempat itu tanpa memberi tahukan pada siapa pun termasuk Uncle Mac.
Garda pun masuk ke tempat penginapan di sore hari, dimana Shena tengah sibuk berbelanja. Dia memaksa petugas penginapan untuk memberikan kunci padanya.
"Aku tambah dua kali lipat dari harga asli, tapi aku minta kamar yang kedua dari ujung itu!"
"Maaf tapi kamar itu sudah masih ada yang isi!" sahut petugas penginapan, dia tidak ingin ceroboh apalagi soal pekerjaannya yang memang banyak yang aneh aneh.
Garda mengeluarkan sejumlah uang dan menyimpannya di atas meja. "Uang ini milikmu asal kau kosongkan kamar yang aku mau!"
Kedua mata petugas pria itu terbelalak sempurna melihat uang dengan jumlah yang banyak di depan matanya, dia juga harus menelan saliva saat deretan angka dengan nominal yang melebih penghasilannya dalam satu bulan kerja.
__ADS_1
"Aku harus memberi alasan apa pada tamu yang masih menginap?"
"Terserah kau ... Apa aku juga yang harus memikirkannya?" tukas Garda.
"Baiklah ... Deal ... Kebetulan wanita itu sudah hampir telat. Dan dia belum menghubungiku untuk memperpanjang waktu." ucapnya kemudian.
Garda mengangguk, itulah yang dia inginkan. Dan niatnya hanya agar Shena mau kembali pulang dan tidak membuat keluarganya khawatir, tapi setelah Garda melihatnya langsung. Apalagi melihatnya berdebat dan di usir dari penginapan. Berjalan sendirian di keremangan jalan justru membuatnya semakin khawatir. Alih alih kembali pulang, gadis keras kepala itu justru semakin berniat kabur lebih jauh.
Flash back Off
"Jadi lo sengaja datang kesini saat tahu kabar gue kabur?"
"Hm ... Uncle Mac yang kasih tahu gue kalau lo kabur dari rumah! Dan gue rasa cuma gue yang bisa nemuin lo sekarang Shen!"
Shena berdecih mendengarnya. "Cuma lo yang apa?"
"Ne mu in lo!" ucapnya dengan penuh penekanan, langkah kakinya kembali maju mendekat dan menatap Shena dalam dalam.
Sementara dilantai bawah, Farrel dan Alan masih terus saling menatap diam diam. Lalu Farrel bangkit di ikuti oleh Alan dibelakangnya. Metta yang melihat keduanya aneh itu tampak heran.
"Kenapa mereka itu!"
"Apa kau merasa ada yang aneh dengan anak anak kita Al?" tanya Farrel yang langsung mendudukkan bokongnya di sofa.
"Sepertinya begitu El ... Apa yang harus kita lakukan? Apa kita akan membiarkan mereka seperti itu terus?"
Farrel menghela nafas panjang, "Aku tidak tahu harus bagaimana, kalau kau?"
"Aku justru bertanya padamu. Bukannya malah bertanya balik padaku!" seru Alan dengan kedua matanya yang tajam.
"Aku tidak ingin mereka semakin jauh bertindak Al ... Keluarga kita tidak akan berkembang jika mereka memiliki hubungan yang ... Kau tahu maksudku kan?"
"Maksudmu kau tidak ingin berbesan denganku?" sela Alan dengan cepat.
"Kau tahu sendiri Al ... Kita hanya bersaudara berdua saja, setelah ibu dan ayah meninggal kita hanya berdua saja. Kita juga hanya memiliki satu anak. Keluarga kita tidak akan bertambah Al!"
Alan mendengus, apa yang di katakan Farrel memang benar, mereka tidak lagi memiliki keluarga sepertu orang lain. Hanya berdua dengan istri dan anak saja.
"Lalu bagaiman?"
__ADS_1
"Apa menurutmu mereka memiliki hubungan khusus?" tanya Farrel dengan kedua alis yang berjingkat.
"Aku rasa tidak sejauh itu, mereka sangat menyakini jika mereka hanya sepupu El ... Jadi mungkin mereka belum sadar saja!"
"Sejak kapan kau faham soal begituan Al ... Kau tidak akan mengerti apapun soal perasaan mereka."
Alan mendengus kesal, kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Jadi kita harus bagaimana?"
"Kita harus mencarikan jodoh untuk Shena dan juga Garda, Itu lebih baik menurutku! Bagaimana?"
Alan terdiam menatap langit langit, itu juga bukan rencana yang buruk. Dan demi kenyamanan keluarga maka itulah jalan yang terbaik.
"Baiklah ... Terserah padamu,"
Setelah berunding keduanya kembali keluar dari ruangan kerja. Mereka kembali duduk di ruang tamu di mana para istri mereka justru tertawa tawa bersama.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Metta penasaran.
"Masalah sedikit pekerjaan." jawab Farrel.
Kedua mata Metta jelas memicing ke arah suaminya itu. "Jangan bohong padaku sayang. Katakan ada apa?"
"Carikan kandidat jodoh yang terbaik untuk putri kita sayang."
Metta tersentak kaget, hal yang menurutnya tidak lah mudah tapi terlihat bukan perkara sulit dikatakan.
"Hah? Kau yakin? Putri kita masih harus menyelesaikan kuliahnya. Aku tidak yakin sayang! Shena belum dewasa, bahkan dibandingkan Nissa dulu seusianya sangat beda."
"Ya aku tahu sayang, justru itu kita harus mencari kandidat yang paling cocok! Benar kan Al?" ucap Biru dengan melihat Alan dan minta dukungan.
"Ya ... Benar, aku pun akan melakukan hal yang sama untuk Garda. Aku akan mencari gadis dengan kandidat yang paling ok!"
"Hah ...?"
Lagi lagi Metta dan Dinda dibuatnya kaget,
"Apa kalian fikir semudah itu mencari jodoh untuk mereka? Aku rasa kalian sudah gila. Mencari jodoh itu tidak semudah menjual gorengan!"
"Lalu apa pendapatmu tentang mereka. Apa kau tidak melihat sesuatu yang aneh pada Shena dan Garda?" Tanya Farrel pada sang istri,
__ADS_1
"Sesuatu apa ... Apa nya yang aneh?"