My Sexy Lady

My Sexy Lady
Bab.17


__ADS_3

Keduanya duduk berhadapan disebuah cafe, dengan humberger yang tersaji di atas meja. Kedua tangan Shena melipat di atas meja, dengan kaki yang dia gerak gerakan sesekali. Sedangkan Garda tampak sibuk dengan ponsel di genggamannya.


"Makan aja duluan, bukannya lo laper? Gue harus mengurus sesuatu dulu!"


Shena mendengus pelan, kedua tangannya kini mengambil hamburger lalu memasukannya kedalm mulut, "Memangnya siapa juga yang nungguin lo? Geer banget."


"Ya ... Kalau tidak, ngapain lo diem dari tadi?" desis Garda dengan tertawa, kedua matanya masih sibuk pada ponsel yang dia mainkan.


"Ish ...!" Shena kesal, kembali memasukkan makanan ke dalam mulut dan mengunyahnya cepat.


Makanan milik Shena sudah hampir habis, namun sebaliknya makanan Garda masih belum tersentuh sedikitpun.


"Urusan lo penting banget ya dibandingkan lambung lo?"


"Enggak juga, cuma harus gue selesaikan saat ini juga,"


Garda masih sibuk bermain ponsel, walaupun kedua telinganya sangat tajam dan bisa mendengar semua perkataan Shena dengan baik dan bisa menjawabnya.


"Lo ninggalin kerjaan lo dan malah kesini! Terus kerjaan lo di sana gimana?" Shena masih terus mengunyah, mengunyah dan mengunyah, sesekali dia menyeruput minumana cola miliknya.


"Kenapa. Lo khawatir kalau kerjaan gue berantakan?"


Hingga gigitan hamburger terakhir, Garda tetap mengotak ngatik ponselnya dibandingkan menikmati makanannya. Membuat Shena kesal sendiri.


"Kalau lo gak mau ... Gue yang makan!" Seloroh Shena dengan mengambil hamburger.


Garda mendongkakkan kepala dan langsung terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. "Serah!"


Shena akhirnya memakannya dengan lahap, bahkan dia sengaja mengigit dan mengunyahnya seraya melihat Garda.


Garda sebenarnya memang tidak lapar, dia memang sengaja membiarkan Shena memakan makanan miliknya. Memastikan jika Shena kenyal dibandingkan dirinya sendiri.


Setelah makan dengan kenyang, keduanya kembali ke penginapan, mereka kembali berjalan menyusuri jalanan dengan beriringan. Bercanda gurau dan sesekali tertawa, kadang Shena yang kesal memukul bahu Garda.


Namun langkah keduanya terhenti saat melihat beberapa orang berpakaian hitam hitam dengan logo yang menempel di sisi lengannya. Logo perusahaan milik Alan dimana berkecimpung di jasa pengamanan.


Garda berdecak pelan, begitu juga dengan Shena yang langsung menolehkan kepala ke arahnya.

__ADS_1


"Lo sengaja bawa bawa mereka?"


"Sama sekali enggak ...!"


"Jangan bohong lo Gar ... Mereka bisa tahu tempat ini dari mana kalau bukan info lo." Shena berdecak kesal, Pantesan aja sibuk main ponsel, kayaknya Garda emang sengaja. Kali ini batinnya yang bicara.


Mereka yang berjumlah 4 orang kini berjalan ke arah keduanya, lalu menganggukkan kepala pada Garda dan juga Shena.


"Kami datang untuk menjemputmu Nona ...!"


Shena melengos berbalik arah dan pergi begitu saja, "Gue belum mau pulang!"


2 dari 4 pria itu langsung menyusulnya dan menghadang langkahnya hingga Shena berhenti.


"Maaf Nona ... Lebih baik Nona ikut kami,"


"Gue gak mau." Shena menoleh ke arah belakang dimana Garda hanya berdiri melihatnya tanpa mengatakan apa apa.


"Ayo Non ...!"


Pria itu menggiringnya ke arah mobil, walaupun Shena sudah berontak dan langsung berlari namun dua pria itu berhasil memegangi tangannya. Melihat hal itu Garda tentu saja tidak terima, dia langsung menepiskan tangan pria pria dari Shena.


Satu pria menggelengkan kepala ke arahnya, kembali memegangi tangan Shena. "Maaf ... Tapi ini perintah tuan El."


Garda menghela nafas, dia menatap Shena dengan nanar. "Ikut saja dulu!"


"Lo emang brengsekk Gar ... Lo gak bisa diharepin!"


Akhirnya mau tidak mau Shena ikut bersama mereka, dia masuk ke dalam mobil dengan terpaksa. Sementara Dua pria lainnya sudah masuk ke dalam kamar penginapan untuk mengambil barang barang miliknya.


Shena terduduk di tengah tengah, dia di apit oleh dua pria di sisi kiri dan kanannya, sementara dua pria lainnya berada di kursi depan.


Terlihat Garda berlari ke arah mobil miliknya yang terparkir tidak jauh, dia langsung masuk dan mengikuti mobil yang membawa Shena pergi.


"Sialan emang si Garda, dia sengaja ngelakuin ini agar gue balik ke rumah!" desis Shena.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah kediaman keluarga Adhinata, begitu juga mobil yang di kendarai oleh Garda yang mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Mobil berhenti tepat di lampu merah, Shena mengedarkan pandangannya dan mencari kesempatan untuk bisa kabur. Hingga tepat ponsel pria berdering dan dia mengangkat teleponnya. Kesempatan itu tidak di sia siakan oleh Shena, dia langsung mendorong bahu dan menekukkan punggung pria yang sedang menerima telepon itu hingga akhirnya tanganya bisa menggapai pintu mobil dan membukanya.


Setelah terbuka, Shena melompat keluar dari mobil dengan cara menginjak punggung pria itu dengan keras.


Shena akhirnya bisa keluar, dengan cepat dia berlari dari jalan dan menyebrang, dia juga berlari cepat walau saat ini kedua pria ikut keluar dan mengejarnya. Begitu juga dengan Garda yang berada di mobil miliknya dan terperanjat melihat Shena.


Garda tentu saja tidak bisa turun dari mobil untuk mencegahnya sebab lampu lalu lintas sudah beruhbah warna. Hingga akhirnya dia memilih melajukan mobil nya dan berhenti tidak lama kemudian.


"Astaga Shen ...!" gumamnya seraya membuka seat belt yang membelit di tubuhnya.


Garda juga langsung keluar dari mobil dan ikut bergerak untuk menyusulnya, dia berlari ke arah lain agar bisa menemukan Shena.


"Arggghh! Brengsekk kalian akan aku hajar!" Pekik Shena yang kembali meronta ronta saat kedua pengawal itu memeganginya kembali.


Garda semakin mempercepat larinya, dan langsung berusaha melepaskan Shena yang terus berteriak, gadis itu pula menendang nendang kedua kaki bahkan lutut mereka.


"Gue bilang biar gue yang urus!" sentak Garda.


"Maaf ... Tapi kau tidak berhak ikut campur, kalau pun merasa keberatan silahkan bicara pada Tuan besar." pungkas karyawan dari ayahnya itu.


Kedua pria itu kembali memasukkan Shena kedalam mobil dan kali ini mereka memperketat pengamananya hingga Shena tidak berkutik.


Hingga tidak lama kemudian mereka tiba di tujuan tanpa drama drama dari Shena. Dua pria itu turun dengan masih mengapit putri satu satunya keluarga Adhinata itu dan langsung membawanya masuk ke dalam rumah.


Garda menyusulnya dari belakang, dia sedikit kaget karena melihat kedua orang tuanya juga asa di sana, dia juga melihat kedua orang tua Shena.


Farrel menhela nafas saat melihat kondiri dari putrinya yang berantakan, rambutnya yang bisa si bilang kusut dan tidak karuan.


"Kau puas Nak?" tanyanya dengan suara berat.


Alih alih menyambangi Shena sang putri dan bicara padanya. Justru Farrel malah bergerak ke arah Garda yang berada tidak jauh dibelakang Shena.


Plak!


Tamparan keras mendarat sempurna di pipi kanannya dan membuat Shena terperanjat kaget. Namun Garda tetap tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Dia hanya menundukkan kepalanya saja.


"Maaf Papa ... Aku tidak bisa menjaga Shena dengan baik!"

__ADS_1


"Benar ... Semua ini memang kesalahanmu Garda. Kamu yang tidak becus menjaga dia hingga dia jadi seorang pembangkang!"


__ADS_2