My Sexy Lady

My Sexy Lady
Bab.20


__ADS_3

Mengingat takut Shena kembali kabur dan menjadi tidak karuan, Garda memutuskan ikut pindah ke Indonesia. Tidak ingin terjadi sesuatu pada Shena yang hanya akan memperkeruh keadaan keluarga mereka.


Namun bukan hal mudah karena keputusan Garda bertentangan dengan sang ayah.


Garda pun memutuskan pergi ke rumah ayahnya pagi itu, seusai mengantarkan Shena pergi ke kampus. Belum juga menepikan mobil yang dikendarainya, Alan sudah berdiri mematung di depan rumah kediaman mereka, pria yang selalu tampak dingin itu menatap tajam ke arah mobil.


Garda menghela nafas, bersiap siap menerima kemarahan dari sang ayah. Tapi keputusannya untuk ikut pindah sudah tidak akan berubah.


"Kenapa kau belum juga kembali ke L.A?" tanya Alan tanpa basa basi lagi saat Garda baru saja turun dan menghampirinya.


"Pap ... Aku ingin bicara!"


"Papa sudah tahu apa yang akan kamu katakan." Alan melengos masuk ke dalam rumah, "Farrel benar, mereka pasti sudah gila!"


Garda ikut masuk menyusul ayahnya, dia mengikuti kemanapun ayahnya pergi. Alan masuk ke ruang keluarga, begitu pun dengannya. Dia pindah ke area belakang dan duduk di sebuah kursi dekat taman, Garda pun mengikuti.


"Aku ingin bicara Pap!"


Alan menghela nafas berat, lalu menoleh pada ssng putra yang duduk di sampingnya.


"Aku akan memindahkan semua kerjaan aku di L.A kemari, tolong bantu aku Papa!"


"Alasannya karena Shena?" ujar Alan menohok. "Gar ... Sudah berapa kali Papa katakan kalau kau harus menjaganya dengan baik, tapi Papa rasa kau sudah terjerumus!"


"Apa maksud Papa?"


"Papa El bilang kalau dia melihat keanehan dalam diri mu dan Shena. Apa itu benar. Kalau pun benar ... Itu adalah kesalahan mengingat kalian itu---"


"Aku tahu Papa ... Kita berdua saudara, mungkin karena terbiasa tinggal berdua dan kemana mana berdua sejak kecil. Tapi aku pastikan aku tidak akan bisa melangkah lebih jauh lagi Papa ... Aku memang menyukai Shena, perasaan sayang sebagai sepupu dan juga saudara. Mungkin itu ... Dan Papa gak perlu khawatir ok!"


Melihat kesungguhan Garda dalam bicara Alan tahu jika putranya bjsa di percaya apapun perasaan yang dia miliki saat ini pada Shena.


"Papa akan urus semuanya dengan satu syarat. Papa akan menjodohkanmu dengan seseorang!"


Garda terkesiap, dia bangkit dari duduknya dengan marah. "Pap ... Astaga, umurku aja masih 20 tahun. Dan Papa ingin aku segera menikah begitu? Garda belum ingin berkeluarga, Garda belum siap dan masih banyak mimpi dan cita cita Garda yang belum Garda capai Papa! Pokoknya Garda gak mau."


Sesudah mengatakan hal itu Garda naik ke lantai 2 dimana kamarnya berada, dia berjalan dengan kesal dan masuk ke kamar begitu saja.


Pria itu mengambil ponsel dan menghubungi Uncle Mac.


'Apa Uncle tahu rencana Papa El pada Shena?'


Katanya saat sambungan telepn terhubung.


'Apa yang kau maksudkan. Uncle tidak mengerti!'


'Ayolah uncle ... Kau tahu apa yang aku maksud!'


Terdengar suara hembusan nafas dari ujung telefon, Garda tahu jika dugaannya memang benar. Tidak hanya dirinya tapi juga Papa El akan melakukan hal yang sama pada Shena.


Garda segera menutup sambungan telepon begitu saja tanpa menunggu Uncle Sam bicara. Tidak lama, dia kembali keluar setelah berganti pakaian, menyambar kunci mobil miliknya dan langsung keluar begitu saja tanpa berpamitan.


"Garda ... Kamu mau kemana lagi?" seru sang Ibu yang baru saja keluar dari kamar.

__ADS_1


"Aku pergi dulu!" sahut Garda tanpa menoleh lagi.


Garda melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju kampus Shena. Shena sudah pasti belum tahu tentang hal itu.


Namun Garda tiba tiba menginjak pedal rem dan menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Apa yang gue lakukan, bukankah ini emang yang terbaik untuk sekarang. Gue gak mungkin ngebiarin perasaan gue semakin dalam dan bikin gue buta dan tuli." gumamnya sendiri.


Dan saat itu juga dia memutuskan untuk berbalik arah dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke kampus Shena.


***


Meskipun pada akhirnya Shena mengalah dan tidak lagi berusaha kabur karena ada Garda, tapi dia juga bermalas malasan di kampus. Semua materi pembelajaran tidak ada yang ikut masuk dalam otaknya, dia hanya diam dengan seluruh fikiran yang bercabang kemana mana.


Disaat semua orang mencatat hal hal yang penting, dia hanya mencoreti buku miliknya asal. Tidak ada sedikitpun semangat belajar dalam dirinya.


Dan saat sesi belajar berakhir, Shena lah yang lebih dulu keluar dari kelas, dia membuat teman temannya yang lain heran karena sikapnya yang terlihat tidak ingin berbaur.


Shena pun tidak peduli jika semua teman temannya berbicara tentang hal buruk di belakangnya, dia memang tidak mau dan tidak ingin berurusan dengan orang orang yang menurutnya tidak penting.


Gadis itu berjalan ke arah kantin, dari pada harus pulang dan kedua orang tuanya menjadi marah. Lebih baik menunggu di kantin kampus sampai semua sesi pelajaran berakhir.


Shena tertawa dalam hati, "Gue benar benar cerdas, Papa dan Mama pasti gak akan tahu selama gue masih berada di lingkungan kampus." cicitnya sendiri.


Sampai 3 jam berakhir begitu saja, Shena asik dengan jejaring sosial miliknya dan tidak peduli dengan orang orang yang berlalu lalang silih berganti. Dua mangkuk baso dan 2 piring nasi sudah bersih tanpa sisa di atas mejanya. Minuman juga yang hanya tinggal gelas kosongnya saja.


Sampai akhirnya ponselnya berdering saat itulah dia sadar jika semua sesi sudah berakhir. Shena pun memutuskan keluar dari kantin, menuju mobil yang sudah terparkir yang datang menjemputnya pulang.


Bruk!


"Wey ... Kalau jalan pake mata dong!" seru Shena yang langsung memegangi ponsel yang hampir terlepas dari genggamannya.


"Lo fikir lo gak ngelakuin hal yang sama?"


"Eeh ... Gak usah nyolot lo!" Shena melotot, tidak ingin mengalah pada pria berjaket hitam itu.


"Siapa juga yang nyolot!"


Shena berdecak kesal, dia langsung menghentakkan kakinya dan menginjak sepatunya yang bersih hingga pria itu mengaduh.


"Arrgghh!"


Shena kemudian berlalu begitu saja, dia langsung masuk kedalam mobil sebelum supir pribadinya ikut keluar dan melakukan hal hal yang tidak dia inginkan.


"Syukurin!" ucapnya dengan mendelik tajam di balik jendela yang tidak terlihat dari luar.


Mobil melaju kembali ke rumahnya, jarak kampus dan rumahnya memang tidak terlalu jauh. Hingga hanya membutuhkan hampir setengah jam saja.


Tak lama mobil pun tiba di depan rumah, Shena mengernyit saat melihat beberapa mobil terparkir di halaman rumahnya.


"Ada apa ini Pak?" ucapnya pada supir yang menjemputnya.


Supir yang ditanya pun tidak menjawab apapun, dia hanya melirik ke arah Shena dari balik spion kaca.

__ADS_1


Shena pun mendengus kesal, "Biar gue cari tahu sendiri aja!"


Tak lama Shena pun keluar dari mobil dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah.


"Ini dia orangnya!" seru sang ayah membuatnya terperanjat. "Sini sayang!" ucapnya lagi.


Shena melihat kedua orang tuanya juga beberapa orang yang tidak dia kenal duduk di sana. Perlahan lahan dia pun mendekat ke arah mereka.


"Ini putriku ...!" ucap Farrel yang memperkenalkan Shena.


"Wah cantik sekali ya."


"Iya dong Tante, aku kan perempuan. Kalau tampan berarti laki laki!" tukas Shena yang langsung menyalami tamunya yang terlihat seperti sepasang suami istri juga ditambah anak kecil kira kira berusia 10 tahun.


"Ternyata putrimu pintar bercanda juga ya!" tukas pria yang kemungkinan adalah suami.


Semua orang ikut tertawa, hanya Shena yang terlihat biasa saja dan tidak tertawa.


"Ada apa ini Papa?"


"Gantilah baju mu dulu sambil menunggu Yega kemari!" ujar Farrel.


"Yega. Siapa dia? Kenapa aku harus ganti baju untuk menunggunya kemari?" Shena justru balik bertanya.


Dua orang suami istri itu terkekeh melihat tingkahnya.


"Benar benar anakmu itu!" bisik Farrel pada sang istri.


Metta hanya tersenyum tipis seraya membulatkan kedua mata ke arah suaminya.


"Tidak apa apa Pak Farrel ... Kami suka putrimu yang tampil apa adanya, cantik dan natural."


"Tentu saja Pak Roni,"


"Begini sayang, Yega itu putra kami. Dia akan segera datang kemari untuk berkenalan denganmu dan juga keluarga."


"Kenalan?" desis Shena yang menatap keduanya bergantian. "Maksudnya?" kali ini Shena menoleh pada orang tuanya sendiri.


"Apa putrimu belum kau beri tahu Pak Farrel?"


Farrel tersenyum, "Memang baru akan aku kasih tahu. Sayang duduk sini. Maksud dan tujuan Ayah dan Ibu Yega kemari untuk menjodohkan putranya denganmu."


Shena hampir tersedak ludahnya sendiri. "Apa maksud Papa? Jodohin aku?"


"Betul sayang ... Kami berharap bisa memiliki menantu cantik dan baik sepertimu Shena." ucap Ibu Yega.


"Dari mana Tante tahu aku baik. Asal Tante tahu aja kalau aku bukan anak baik baik, aku sering kabur dari rumah dan aku gak betah diam di rumah, aku juga malas belajar karena aku lebih senang traveling. Aku juga suka minum alkohol dan aku suka bikin Papa dan mama marah. Apa Om dan Tante tidak keberatan?" ungkap Shena dengan lancar tanpa keraguan.


Semua orang terperanjat terlebih Farrel dan Metta yang langsung menyorotinya tajam.


"Shena!"


Tepat saat Farrel bangkit dan hendak menarik sang putri untuk kembali duduk, seseorang masuk ke dalam.

__ADS_1


"Permisi --- Om ... Tante, Ibu ... Aku sudah datang!"


__ADS_2