My Super Cool Boss

My Super Cool Boss
Unpredictable Date.


__ADS_3

Author's PoV


Meskipun Kaina sudah akur dengan Rayshaka, namun gadis itu tetap mencoba untuk tidak terlalu dekat lagi dengan pria itu. Bukan karena ingin menghindar kalau-kalau Ray usil lagi, melainkan karena dia ingin mencoba melupakan perasaannya.


Setelah Ray menciumnya, Kaina terus terang sudah semakin jatuh cinta kepada lelaki itu. Ciuman itu masih sangat lekat diingatannya, bagaimana sensasinya pun masih bisa ia rasakan. Efek sudah lama tidak dibelai, mungkin. Ray menghipnotisnya dengan lumatan lembut dan rengkuhan yang kokoh. Entah kenapa hanya Ray yang ada diingatan gadis itu, padahal Ferdi juga memeluknya dengan cara yang sama.


"Kaina?" seseorang melambaikan tangan ke depan wajah Kaina, membuat ia tersentak kaget.


"Eh Ferdi?"


"Ngelamun saja. Ray kemana?" Ferdi mengambil duduk di sebelah Kaina.


"Enggak tahu, bukannya kalian punya jadwal kunjungan ya?" Kaina tidak bisa menutupi perubahan sikapnya kepada Ferdi sejak dia menemukan map misterius beberapa hari lalu di atas meja pria itu.


"Hari ini kita enggak ada kunjungan. Tapi dia belum muncul juga."


"Kurang tau tuh Fer ...."


Ferdi mengangguk-angguk.


"Kok enggak pada kunjungan, Bro? Pak Sebastian enggak marah kalian di kantor


saja?"


"Enggak, justru kita itu mau ada meeting. Tapi enggak tau nih di Ray kemana."


"Ohhh ...."


Sesaat kemudian bisu.


"Lu sudah sarapan?"


"Sudah ... kenapa?"


"Mau ajakin sarapan di kantin."


"Oh ya? Aduh, aku sudah sarapan nihh." Kaina berusaha memasang tampang menyesal.


"Lunch?"


"Hmmm .... oke."


"Deal."


Kaina mengangguk pasti. Setelah itu Ferdi keluar dari ruangan dan mencoba menghubungi Ray, namun tidak berhasil.


Meeting sementara hanya ada Sebastian, Ferdi dan Kaina. Membahas sales progress di bulan yang sedang berjalan. Sebastian juga lagi-lagi menekankan kalau bulan ini harus bisa mencapai target. Kaina melihat Ferdi dengan sangat antusias mendengarkan arahan Sebastian. Senyum di wajahnya menunjukkan gairah yang berapi-api. Andai Kaina tahu apa yang ada divpikirannya.


Sampai siang, Ray masih belum menampakkan batang hidungnya. Kaina sangat ingin menghubungi Ray, tapi dia sudah komitmen untuk tidak terlalu terikat. Perasaan terlarangnya harus segera diruntuhkan sebelum terlalu jauh.


Seperti janjinya tadi, Ferdi mentraktir Kaina makan siang di kantin. Tadinya Kaina mengajak Keisha, tapi tumben Keisha tidak mau ikutan.


"Omset hancur-hancuran ya, Fer. Gua bingung nih. Serba salah terus."


"Serba salah bagaimana Kai?"


"Yaaa, enggak nge-follow up, ditanyain bos. Follow up terus, kena omel sama customer."


Ferdi tertawa.


"Lu masih enak bro, diomelinnya di telinga saja kan? Gua sama Ray? Di depan muka Kai, disemprot! Sial!"


Kaina tertawa sambil mengaduk-aduk minumannya.


"Enggak enak banget ya jadi sales. Kalau bukan karena terpaksa, gua enggak akan ambil kerjaan ini." Keluh Kaina.


"Lu karena belum turun ke lapangan saja Kai. Coba lu langsung bertemu sama customer, silaturahmi. Ada asyiknya juga kok. Apalagi kalau kita sudah dekat banget sama orangnya."


"Oh ya? Ada gitu yang bisa dekat banget?"


"Ya adalah. Itu si Ray kan dekat banget sama customer-customer-nya. Makanya rajin banget order."


"Lu gimana? Sudah ada yang deket banget gitu enggak?" pertanyaan Kaina mulai menjurus.


"Hmm, ada sih, beberapa." Ferdi menjawab sigkat sambil mengunyah baso di mulut.


"Lu lakukan pendekatan dong, biar pada order. Biar omset kita naik bulan ini."


"Lu tenang saja Kai. Omset bulan ini pasti naik. Drastis!" Ferdi mengedipkan sebelah matanya.


"Oh ya? Lu dapat new customer ya?"


"Hampir. Lagi proses."


"Daerah mana?" Kaina sudah hampir menemukan jawaban atas prasangkanya.


"Ada deh, tunggu saja tanggal mainnya."


Kaina mendesah pelan. Kecewa.


Setelah makan siang, Kaina sudah mendapati Ray di ruangannya. Detak jantungnya memburu. Rindunya sedikit terobati. Tapi dia tidak serta merta langsung menghampiri Ray. Justru Ray yang datang ke mejanya bersama Ferdi. Duduk diam tanpa ada tujuan.


Belakangan Kaina seperti merasa ada magnet antara dia dan Rayshaka. Setelah insiden di toilet itu pastinya. Ray seperti selalu ada di sekelilingnya. Entah disengaja, entah hanya kebetulan. Setiap Kaina meninggalkan ruangan Ray, pria itu pasti mengekor menuju ruangan Kaina. Apabila Kaina berlama-lama di ruangan depan, dia juga akan ada disana. Seperti sekarang ini.


Kaina sengaja beranjak dari kursinya dan main ke ruangan divisi lain. Dia bosan mendengar celotehan Fany yang terlalu kegirangan lantaran di gombal Ray. Kaina membahas tentang film terbaru dengan Dody, si admin stok. Dalam waktu lima menit, Kaina sudah mendapati Ray di sebelahnya sambil bermain game.


"Eh, lu kok malah disini?" Katanya sambil mencolek-colek lengan Kaina dengan tangan kiri, tapi matanya tetap tertuju pada handphone di tangan kanan.

__ADS_1


"Loh, memangnya kenapa? Lu berdua juga kan main game," ujar Kaina pura-pura cuek.


"Ayo kesana saja."


"Aduh, apaan sih, geli tahu!" Kaina menjauhkan lengannya dari jari Ray yang usil. Dia menahan tawa melihat reaksi Ray yang sedikit kekanakan.


"Lengan lu banyak lemaknya, enak buat dimainin."


"Asem!" Kaina menampar lengan Ray keras.


"Aw! Sakit ihh!"


"Buncit lu juga enak dimainin!" Sekarang Kaina sengaja mencubit-cubit kecil perut Ray yang sedikit berlemak.


"Lu bukan mainin. Itu nyubit namanya."


Kaina menjulurkan lidah ke Ray. Hatinya selalu senang kalau bisa bersenda gurau seperti itu dengan pria itu. Hatinya hangat setiap Ray ada di dekatnya, menyentuhnya. Kadang Ray akan menangkap tangannya yang usil kemudian memelintirnya dengan gemas. Kaina pura-pura meringis kesakitan agar Ray melepas pelintirannya.


Dari balik kaca transparan ruangan admin, Ferdi memperhatikan kedua orang itu dengan hati yang memanas.


*****


Sabtu siang, Kaina kembali berkutat di perpustakaan umum. Sudah lama dia tidak membunuh waktu dengan membaca, apalagi tentang jurnalistik. Sejak datang tadi, perpustakaan sepi. Dia bahkan bisa membaca dengan tenang. Sampai-sampai dia sanggup membaca setengah dari buku yang ada di hadapannya saat ini.


Kaina terserang kantuk yang luar biasa. Kuapnya melebar tidak tau malu. Hoaaaaammmmm ....


"Eh?" tapi dia langsung menutup mulut dengan tangannya saat mendapati Ray duduk di kursi depan. Laki-laki itu meliriknya dengan tatapan jijik.


"Kalau nguap itu ditutup! Jorok!" Ray melempar bola kertas dan mengenai jidat Kaina.


"Aww!! Lu kenapa ada terus sih disini?" Kaina mengingat hari pertama dia bertemu Ferdi di Engkong Ramen, hari itu juga dia bertemu Rayshaka di perpustakaan ini. Waktu itu masih Rayshaka yang menakutkan seperti monster.


"Gua memang rutin ke sini setiap Sabtu. Lu saja yang baru keliatan." Ray bergerak pindah ke kursi di sebelah Kaina. Debaran jantung Kaina menjadi. Lagi-lagi takdir mengijinkan mereka menghabiskan waktu bersama.


"Lu suka jurnalis, Bro? Perasaan bacaan lu tentang jurnalistik terus."


"Iya. Bukan marketing. Hahahaa."


Ray menggerakkan kursinya yang beroda menjadi agak merapat ke punggung Kaina, mencondongkan kepala sampai dagunya nyaris menempel di pundak gadis itu. Kaina tersentak, tapi tidak terlalu ketara.


"Kenapa suka jurnalistik?" suara Ray terdengar menggema di dekat telinga Kaina.


"Suka saja. Kan enak baca-baca berita, info-info terkini."


"Setelah tau, memangnya mau diapain?"


"Enggak diapa-apain. Dapat informasi saja."


"Ohh.. sejak kapan suka?"


"Sejak dulu. Sejak bokap gua masuk koran. Hahaaa ..."


"Geli woy!" Kaina langsung bergidik menggerakkan bahunya. Tapi Ray tetap usil. Menjahili Kaina sepertinya kesenangan tersendiri untuknya.


"Tapi enak. Kulit lu halus juga ya? Pakai lotion apa lu?" Ray malah sengaja memuji.


"Kotoran sapi," Kaina berusaha menyembunyikan wajahnya yang memanas dengan melanjutkan bacaannya, meskipun tidak bisa fokus. Ray masih belum mengangkat kepalanya sedikit pun. Laki-laki itu selalu sukses membuatnya melambung tinggi.


"Gua mau juga dong."


"Serius lu? Senin gua bawain deh."


"Bener ya. Duh, jadi ngantuk ..."


Darah Kaina langsung naik ke ubun-ubun saat Ray meletakkan pipinya di atas bahunya.


"Ray! Ih!" Kaina menggeser tubuh Ray dengan kuat, tapi Ray malah menarik pinggang Kaina dengan tiba-tiba. Darah Kaina membeku. Ray bertengger di punggungnya, dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kaina.


Mata Kaina langsung mengawasi sekeliling, sepi. Pantas saja Ray berani.


"Something wrong, Bro?" tanyanya pelan. Untuk sesaat tidak ada suara dari balik punggungnya. Ray malah mengeratkan pelukannya dan mengganti posisi pipinya, membuat janggut dan kumisnya bergesekan dengan kulit punggung Kaina yang sedikit terbuka. Kaina menggigit bibir.


"Ray?" Kaina mengulurkan tangan kanannya dari bawah ketiak untuk menyentuh pipi kanan Ray dan dia sangat terkejut mendapati sesuatu yang basah di pipi laki-laki itu.


"Ray?" Kaina melakukan gerak refleks pelan, mengangkat tangan kanannya, melewati kepala pria itu. Berputar kecil dan mengangkat kedua pipi Ray. Pria itu tertunduk lemah dengan wajah yang basah.


"Kenapa?" Kaina meraba wajah itu dengan lembut. Pria itu membisu lemah. Jantung Kaina seperti diremas melihat laki-laki itu berurai air mata.


Entah darimana datangnya keberanian Kaina, dia membawa Ray ke dalam pelukannya.


Tangis kecil Rayshaka terdengar. Kaina menenangkan dengan sabar.


"Take a deep breath, Ray ... apa pun masalahnya lu pasti bisa lalui," bisiknya lembut.


Ray semakin erat memeluk pinggang Kaina.


"Tapi kali ini hati gua sakit," desahnya di bahu Kaina.


"Do you want to tell me?" Kaina membujuk lembut sambil mengusap-usap punggung Ray.


"Pacar gua selingkuh."


Gerakan tangan Kaina terhenti sebentar. Ray ternyata begitu mencintai kekasihnya sampai bisa nangis seperti ini. Hati Kaina seperti tertusuk ribuan jarum tajam. Dia terluka mendapati orang yang dia sukai ternyata sangat mencintai pasangannya. Lantas siapa dia begitu berani mengharap lebih akan hubungan pertemanan ini?


"Darimana lu tau kalau dia selingkuh?" tangan Kaina bergerak lagi mengusap-usap rambut pria itu.


"Gua lihat sendiri dia sedang kencan di Braga tadi malam."

__ADS_1


"Lu nyamperin?"


Anggukan Ray terasa mengiyakan. Lalu Ray mengangkat kepalanya. Menghadap Kaina yang langsung menyodorkan tisu.


"Karena gua pergokin, dia malah minta putus." Ray melanjutkan sambil mengambil tisu tersebut dan membersihkan mukanya yang basah. Kaina hanya memperhatikan, namun hatinya perih.


"Gua enggak ada bedanya sama lu, Kai. Dikhianatin."


Kaina mengingat bagaimana dulu Ray setia berada disampingnya saat putus dengan Hans. Apakah dia harus melakukan hal yang sama?


"Trus lu maunya bagaimana dengan dia?" Kaina tidak berhenti mengelus lengan Ray yang menggeleng lesu.


"Tanya hati lu yang paling dalam. Kalau masih sayang, pertahankan," sambungnya.


Ray masih sibuk dengan sisa air matanya sementara Kaina masih mengamati.


"Lu jelek kalau nangis, Bro. Kayak anak kecil," ejek Kaina. Dia tidak bisa mengontrol tangannya untuk tidak menyentuh wajah pria itu. Jemarinya yang lentik mencubit kedua pipi Ray dengan usil.


Pria itu tertawa kecil. Sesaat mereka terdiam, Ray menarik nafas secara teratur dan membuangnya perlahan.


"Lu traktir gua nonton yuk, Bro. Sumpek gua," katanya tiba-tiba.


"Sekarang?"


"Gua mumetnya sekarang, kalau lu mau traktir besok, sudah enggak ada gunanya. Ayo! Lu juga harus kasih gua makan."


Kaina memasang tampang protes, tapi Ray sudah menariknya dengan tidak sabaran.


*****


Kaina's PoV


Ray yang sedang galau berhasil membuatku repot di sisa hari ini. Sedikit-sedikit dia bergelanyut di pundakku. Saat di bioskop saja dia bukannya menonton, malah tidur sambil memeluk lenganku. Dengkurannya hampir terdengar kalau scene sedang tidak ada suara. Aku mendengus kesal karena sudah menghamburkan uang hanya untuk menemaninya tidur.


Tapi aku cukup diuntungkan karena bisa menikmati wajah tampannya selama kurang lebih dua jam.


Setelah menonton, dia request makan ke Pizza Hut. Seloyang pizza habis dalam waktu setengah jam dan kuhitung aku cuma makan dua potong. Aku cuma geleng-geleng kepala melihat perutnya yang semakin ke depan.


Jam sepuluh malam, dia mengantarku ke kosan. Tapi apes, saat lewat tukang jagung bakar, dia menyetop mobilnya lagi. Dia benar-benar menguras dompetku.


"Aa', mau dua ya. Teh botolnya juga dua."


Pemilik gerobak jagung mengangguk dan bergegas mempersiapkan.


"Lu sudah coba hubungi dia lagi, Bro?" aku memulai obrolan lagi.


"Ngapain? Enggaklah. Gua kalau sudah putus, ya putus saja."


"Tapi lu sampai se nangis itu, impossible sudah ikhlas."


"Ya, soal ikhlas enggaknya, semua bakal dijawab oleh waktu."


"Oh ...." aku menggumam. Tidak bisa dipungkiri kalau ada secercah harapan yang menyembul dalam benakku. Andai saja kamu mengetahui perasaanku Ray.


"Lu gimana sama mantan? Masih berhubungan?"


"Enggak."


"Oya? Baguslah."


Aku hanya mengangguk tanda setuju. Bagaimana mau berhubungan, aku bahkan tidak pernah kepikiran Hans lagi. Yang ada di pikiranku hanya kamu Ray. Kenapa magnetmu begitu kuat, membuatku mampu menghapus semua memoriku dengan Hans begitu cepatnya?


Jagung bakar kami pun terhidang bersama dengan minumannya.


"Oh ya bro, calon customer lu yang di Cirebon, Nirvana Ressort apa kabarnya?"


"Masih dalam proses, doain yah, proposalnya tembus."


"Kalau tembus, lu jadi promosi dong ya?"


"Iya, mudah-mudahan."


"Ohhh ...." aku mengangguk-angguk tanda mengerti. Mengerti kalau di dalam timku ternyata sedang ada persaingan tidak sehat.


"Kalau Ferdi lagi fokus ke customer yang mana?"


"Dia masih sekitaran Purwakarta sama Subang. Ada beberapa restoran yang lagi dia loby."


"Itu yang Nirvana, emang cuma lu ya yang bisa maju? Si Ferdi gimana?"


"Itu bos yang atur, Kai. Dia nunjuk gua, karna Ferdi masih baru. Kenapa sih? Lu suka banget ya sama si Ferdi??" Ray melempar tatapan curiga. Aku penasaran seandainya aku bilang iya atau aku bilang tidak, dia bakalan jawab apa.


"Engga kenapa-kenapa. Tapi Ferdi tau lu lagi nungguin Nirvana?"


"Enggak. Cuma bos sama lu yang tau," Ray melahap jagungnya sampai habis. Sementara aku tidak sanggup menelan yang sudah ada di dalam mulut.


"Kalau ... hmm, enggak jadi deh."


"Kalau apa?"


"Enggak jadi deng," jawabku seperti orang linglung.


Apakah Ferdi sedang mencurangi Ray? Tapi sah-sah saja karena pak Sebastian tidak pernah menyinggung tentang hal tersebut di depan kami bertiga. Seandainya Ferdi berhasil melobi Nirvana Ressort, dia tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Pak Sebastian tidak pernah memproklamirkan kalau ressort itu hanya boleh di-handle oleh Ray.


"Lu kayak orang galau saja. Yang lagi galau kan gua," protes Ray. Aku tertawa sumbang.


Setelah itu kami berbincang-bincang secara acak. Tanpa sadar aku sudah menghabiskan malam minggu dengannya, orang yang sedang aku taksir sepenuh hati.

__ADS_1


*****


__ADS_2