My Super Cool Boss

My Super Cool Boss
Pengakuan Rayshaka.


__ADS_3

Kaina's PoV


Aku tahu ini tidak benar. Tidur bersama lawan jenis yang bukan suami adalah dosa terlarang baik secara hukum dan agama. Aku sebenarnya gugup, meskipun kami sudah pernah melakukannya satu kali, di gathering waktu dulu. Namun kali ini rasanya lebih deg-degan. Pikiranku melayang ke luar rumah. Paranoidku muncul membayangkan kalau-kalau tadi ada tetangga yang melihat Ray masuk ke sini dan tidak kunjung keluar.


Ray sudah duduk di sofa depan saat aku selesai mandi. Dia memperhatikan ponselnya dengan seksama hingga tidak menyadari kedatanganku.


"Ray," aku memanggilnya, baru dia menoleh. Di tanganku sudah ada dua gelas susu jahe hangat yang kemudian aku sodorkan satu kepadanya.


"Terimakasih. Kamu sudah selesai mandi rupanya. Sini," Ray menepuk sebelahnya. Aku menggeleng. Nanti dia akan menciumku lagi. Aku sudah kenyang dengan ciumannya.


"Sini. Kan aku sudah bilang jangan jauhin aku lagi," Ray menatapku geram.


"Apaan sih ? Sentimen banget," aku ngedumel tapi tetap saja menuruti perintahnya. Aku benar-benar brengsek.


Kini dia tersenyum lebar.


"Besok, setelah ngantor sebentar, aku akan langsung balik ke Bandung. Kita akan LDR-an setelah ini. Kamu siap?"


"Siap apanya?" tanyaku munafik, pura-pura polos.


Ray kemudian menyosor wajahku lagi, namun tidak menciumku.


"Apa perlu aku memberikan label bahwa sekarang kamu adalah milikku?"


Wajahku memerah. Miliknya katanya?


"Memangnya aku mau?" tantangku berani.


"Masih mau main petak umpet?" lagi-lagi wajahnya berubah mengeras. Mendadak serius. Membuatku takut.


"Tapi kan kamu belum ajak aku pacaran secara resmi," jawabku takut-takut.


Ray tiba-tiba menjentikkan jarinya ke keningku, membuatku menjerit kesakitan.


"Memangnya kamu anak SMP yang perlu ditembak dengan cara kekanakan begitu?"


Aku mendorong tubuhnya agar menjauh dariku, lalu aku bergeser membuat jarak.


"Ya enggak. Tapi ... aku takut patah hati lagi jika terlalu percaya diri ... seperti dulu."


Perkataanku membuat suasana menjadi hening. Tatapan Ray berubah sendu. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam benaknya. Tapi aku tidak takut perkataanku akan menyinggungnya karena dia pun pasti tahu itu benar.


"Sini ..." pria itu bersuara pelan, lalu ingin menarik tanganku lembut. Aku tidak sanggup menolak. Dia terlalu mempesona.

__ADS_1


Dia membuatku duduk di atas pangkuannya.


"Dengarkan aku baik-baik dan jangan memotong pembicaraanku."


Dia mau bicara apa? Sepertinya akan panjang. Dan haruskah aku duduk di pahanya begini? Sambil berhadapan pula. Rasanya mesum sekali.


"Dulu aku dan Silvi dijodohkan. Awalnya aku dan kamu masih belum dekat. Masih seperti musuh bebuyutan. Aku tidak keberatan dijodohkan karena Silvi, hmm, dia not bad. Saat aku mendapati Sivi selingkuh, aku sedih karena aku sudah mulai membuka diri padanya. Lalu setelah itu kita dekat. Aku mulai goyah karena aku nyaman sama kamu. Aku butuh kamu kayak aku butuh oksigen. Sampai kalau jauh dari kamu saja aku sudah menggila. Apalagi saat kita berciuman di toilet dan di gathering waktu itu. Kala itu aku sudah yakin kalau aku sudah move on dari Silvi."


Ray menarik nafasnya sebentar.


"Lalu kamu masuk rumah sakit. Aku depresi. Tidak bisa ada di sisimu karena berbenturan dengan proyek Nirvana. Dua minggu kamu di RS Cisarua adalah waktu yang sangat menyiksa untukku. Lalu, tiba-tiba mamaku menelepon. Meminta agar aku dan Silvi rujuk kembali. Aku jelas-jelas menolak, karena aku sudah punya kamu."


....


"Tapi mama bilang perjodohan itu sudah menjadi perbincangan banyak kolega bisnis mereka. Kalau dibatalkan, papa dan mamaku akan malu besar. Mau tidak mau aku terpaksa kembali ke Silvi. Aku tahu bukan hanya aku saja yang menderita di sini. Kamu pun pasti akan menderita. Oleh karena itu, aku sengaja ingin membuat kamu membenciku dan menjauhiku dengan membawa Silvi ke RS bersamaku waktu itu."


Aku merasakan hatiku mulai terpengaruh dengan penuturan Ray. Detak jantungku mulai tidak normal.


"Namun sebaliknya, alih-alih ingin membuatmu cemburu, aku pun mendapati diri marah besar saat Hans menjengukmu di RS di hari yang sama. Aku terpukul melihat mantan yang menghianatimu saat itu memeluk dan mencium keningmu. Aku marah sekali. Tapi aku pun tidak punya hak untuk melarangmu, karena aku tahu kamu butuh seseorang setelah kutinggalkan."


....


"Aku semakin meyakinkan diriku bahwa ini adalah jalan terbaik. Kamu kembali kepada Hans, aku kembali kepada Silvi demi keluarga. Aku membuat seolah-seolah aku sangat mencintai Silvi. Setiap hari membahas Silvi ke kamu, sampai kamu bosan. Aku tahu kamu sedih dan patah hati. Tapi saat itu pun aku patah hati. Kamu menjauhiku. Selalu menolak tawaran pulang bareng. Sudah tidak mau bergabung denganku di ruangan, selalu pergi ke ruangan lain. Aku sakit ketika kamu menghindar. Tapi itulah yang aku inginkan."


....


Tanpa sadar air mataku menetes, tapi cepat-cepat kuusap dengan punggung tangan.


"Waktu begitu cepat berlalu, sampai kamu tiba-tiba resign tanpa sepengetahuanku. Pak Sebastian sengaja menyembunyikan itu karena tahu kamu sudah sangat menderita karenaku. Aku shock. Aku merasa kecolongan. Aku terlalu asyik menyiksamu sampai lupa kalau kamu pun juga punya limit untuk menghadapi semuanya. That's why malam itu aku datang ke rumahmu untuk meminta maaf."


....


"Setelah kamu pergi ... aku cari sales dan telemarketing baru. Selama satu minggu mereka trainning denganku. Setelah mereka sudah bisa ku lepas, pak Sebastian memanggilku untuk membahas masalah tentangmu dan Ferdi. Dia menceritakan semua observasinya. Singkat cerita aku tahu jika Ferdi pernah berniat mencurangi aku di Nirvana. Kemudian aku mendapati fakta bahwa Ferdi berniat meracuni aku, bekerjasama dengan Fany. Namun Fany malah ingin meracuni Kamu. Kamu yang sudah tahu semuanya mengambil resiko dengan mengambil minumanku."


Ray membuat ingatanku kembali ke masa-masa pahit yang sudah berhasil kulupakan. Air mataku lolos lagi dari peraduannya.


"Aku terpukul mengetahui fakta itu. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Apalagi aku masih tega menyakiti hatimu setelah itu. Aku merasa berdosa dan tidak tahu diri sudah melepaskan gadis yang rela mengorbankan dirinya demi aku. Gadis yang tidak peduli jika bisa saja racun itu akan merusak lambungnya sepenuhnya. Aku mencarimu ke Tasik. Ingin membawamu kembali ke dalam hidupku. Tapi kata pegawai yang ada di rumahmu, kamu sudah ke Jakarta bersama Hans."


....


"Aku tidak menemukan jawaban atas keberadaanmu. Semua orang yang kuanggap bisa membantu pun, tidak tahu dimana kamu berada. Akhirnya aku memutuskan untuk jujur kepada mama, kalau aku dan Silvi tidak mungkin berlanjut. Aku menceritakan tentang kamu ke mama dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan menunggu kamu kembali. Atau lebih tepatnya, menunggu Tuhan mengabulkan doaku untuk mempertemukan kita kembali."


Aku lagi-lagi mengusap wajahku dengan tangan yang sudah basah kuyup.

__ADS_1


"Jadi, Kaina ... karena Tuhan sudah mempertemukan kita kembali. Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Persetan dengan ucapan cinta. Karena jika kepastian yang kamu inginkan, aku bisa menikahimu besok dan segera mengikatmu dengan namaku."


Aku terpaku mendengar kalimat terakhir pria itu. Dia sama sekali tidak bercanda. Aku mengenal setelan raut wajahnya jika sedang serius dan saat ini dia sedang dalam mode itu. Aku akui sedikit tersanjung.


"Mau?"


Aku cepat-cepat menggeleng. Itu tidak mungkin dan tidak masuk akal.


"Tapi mau LDR-an?" lanjutnya sambil mengeringkan wajahku dengan telapak tangannya yang lebar.


Caranya mengajak berpacaran cukup aneh. Tapi LDR Bandung - Bekasi tidak terlalu buruk.


"Memangnya aku punya pilihan?" jawabku akhirnya. Toh tanpa persetujuanku pun dia tetap akan menguberku sampai ke lubang semut sekali pun. Seperti katanya barusan, dia tidak akan melepaskanku kan ?


"Bagus. Sini peluk dulu," dia menarik tubuhku sehingga terjatuh di pelukannya. Aku lagi-lagi merasakan kehangatan yang tak terkira. Hatiku yang beku selama dua tahun lamanya seperti mencair setiap bersamanya.


"Aku mencintaimu," bisiknya pelan tepat di telingaku, disusul kecupan lama di ubun-ubun. Bulu romaku berdiri. Kata-kata pemungkas yang tidak pernah kubayangkan akan aku dengar dari pria bernama Rayshaka, pria yang namanya selalu kusebut di dalam doaku bertahun-tahun ini.


"Aku mencintaimu, Ray .... " balasku pelan. Hampir tak berdaya.


"Aku tahu sayang ...."


*****


Setelah Ray memelukku lama, aku melepaskan diri. Kami lanjut berbincang-bincang dengan posisi duduk yang normal.


Sekarang aku seperti merasakan ada yang berbeda dari kami berdua setengah jam yang lalu. Pengakuan Ray yang begitu detail tentang masa lalu kami, membuatku sangat lega. Lega mengetahui bahwa dulu cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Mungkin karena kami hanya belum waktunya saja bersama.


Aku juga lega mengetahui bawah Ray tidak melewatkan sedikit pun garis penting dari kejadian waktu itu. Aku cukup salut mendengar analisa pak Sebastian yang berhasil membawa mereka pada semua fakta-fakta yang tersembunyi.


Sekarang aku meminta maaf kepada Ray, atas masa lalu kami yang begitu pahit. Aku mengakui, sedikit banyak semuanya menjadi rumit dikarenakan sifat kekanakanku yang memilih pergi begitu saja, lalu bersembunyi dari semua orang. Membuat kami terlalu lama menderita, sampai dua tahun lamanya.


"Tidak apa-apa sayang. Justru waktu yang panjang ini telah membuatku lebih siap lagi semisal Tuhan tiba-tiba mempertemukan kita. Seperti yang sudah aku katakan tadi, jika kau ingin kita menikah besok pun, aku sudah siap."


Aku mengerjapkan mata seraya menelan ludah.


"Ya ya ya ... aku percaya. Tapi bisa kan jangan menakut-nakutiku begitu?"


"Hahahaha ... kenapa harus takut? Toh cepat atau lambat kau akan menikah denganku."


Aku bergidik. Menikah? Besok? No way. Tapi aku harus katakan lagi, aku tersanjung disaat dia berani menjanjikan sebuah masa depan yang pasti. Bukan sekedar hubungan biasa yang nantinya bisa saja akan berakhir lagi.


Pernikahan.

__ADS_1


*****


__ADS_2