
Author's PoV
Hati Kaina girang bukan main saat mobil mereka memasuki gerbang tol Pasteur 1, Bandung. Seperti ada yang bergejolak di dadanya saat kembali ke kota yang pernah ditinggalinya selama lima tahun dengan banyak suka duka. Setiap jalan dan gedung yang ia lewati seperti punya memori khusus dalam otaknya. Dia terhanyut dalam nostalgianya sendiri.
"Mikirin apa sayang? Senyum-senyum terus dari tadi," Ray ternyata menyadarinya. Kekasihnya itu diam saja, tapi pas dilihat ternyata sedang senyum-senyum sendiri.
"Tiba-tiba kangen saja dengan kota ini. Enggak terlalu banyak berubah ya selama dua tahun."
"Banyak taman baru aja sih. Supaya warganya betah di Bandung saja kalau weekend dan liburan. Gedung Sate juga ada yang baru. Sudah pernah lihat di internet?"
"Ohya?" Kaina begitu penasaran, lalu membuka ponselnya.
"Oh iya. Tulisan Gedung Sate-nya jadi jauh ke dalam begitu ya? Sama depannya dilebarin gitu, jadi bisa selfi-selfi tanpa harus mengganggu lalu lintas," Kaina mengingat dulu kalau hendak berswafoto di depan tulisan Gedung sate, pasti harus menunggu jalan raya sepi dulu, supaya fotografernya bisa mengambil dari tengah jalan raya, atau seberang jalan agar seluruh tulisannya kelihatan. Kalau lalu lintas lagi ramai sekali, palingan hanya bisa berfoto di kata 'Gedung'-nya atau 'Sate'-nya saja.
"Iya. Kita nanti pasti lewat dari sana kalau mau ke kos-kosan kamu. Kita bisa berhenti sebentar kalau kamu mau."
Ah iya, sore ini mereka akan ke kos-an Rosa. Kaina yang meminta demikian. Rencananya besok pagi mereka ke kantor Nagata dulu, lalu siangnya berangkat ke Tasikmalaya. Seharusnya mereka ke rumah Ray dulu, namun karena kedua orangtuanya sedang ke luar kota dan baru akan kembali lusa, jadinya mereka memanfaatkan waktu untuk berkunjung ke rumah orangtua Kaina karena jatah cuti gadis itu cuma sedikit. Hanya tiga hari, terhitung dari Senin besok hingga Rabu.
"Boleh sayang. Terimakasih, kamu baik banget," Kaina mencubit pipi Ray gemas. Rayshaka yang sekarang memang sangat jauh berbeda dengan Rayshaka yang ia kenal dulu. Dulu pria itu tingkahnya pecicilan, masih suka bicara asal-asalan, emosian, otaknya rada mesum. Sekarang dia bertumbuh menjadi pria dewasa yang sangat perhatian, penyayang, penyabar, sangat melindungi Kaina. Gadis itu merasa sangat beruntung bisa menjadi pendamping hidup Rayshaka.
"Oh iya, kamu sudah telepon Rosa kan? Mau dibawain apa dia? Mumpung kita masih di jalan, supaya sekalian berhenti."
Tuh kan? Ray begitu peka dan perhatian. Kaina saja lupa bawa oleh-oleh dari Bekasi.
"Sudah kok. Katanya dia ada di kosan. Tapi kalau kita ajak dia makan di luar saja, gimana sayang? Yang dekat kos-kosan saja. Sekalian jalan-jalan malam."
"Boleh. Kamu pilih saja mau makan dimana," balas Ray sambil tersenyum.
*****
Rosa's PoV
Barusan ponselku berbunyi lagi. Kak Kaina bilang sudah ada di tempat kami akan ketemuan sambil makan malam. Katanya dia punya surprise yang ingin ditunjukkan kepadaku, sekalian malam ini mau menginap ditempatku. Kami memang sudah lama tidak bertemu. Hanya berkomunikasi lewat instagram saja. Nomor ponselnya yang baru saja baru aku tahu hari ini.
Kebetulan tempat yang disebutkan Kak Kaina cukup dekat dengan kos-kosanku, jadi aku cukup jalan kaki sekitar lima menit. Ahh ... bagaimana ya rupa Kak Kaina sekarang? Maklum, Kak Kaina jarang update Instagram dan IG story. Tapi di foto profil WhatsApp-nya dia semakin cantik dari yang dulu. Aku jadi tidak sabar menghabiskan malam ini dengannya.
Aku sudah sampai di warung tenda ayam penyet terenak di daerah ini. Seperti biasa, tempat ini ramai sekali. Memang karena masakannya top banget sih. Perbedaan pengunjungnya bisa jomplang sekali dengan ayam penyet yang persis disebelahnya.
Setiap aku ke sini, menu wajib yang akan aku pesan adalah ayam kremes, sate kulit ayam, kol goreng dan soto. Dengan request khusus sambalnya dikasih banyak.
Aku mencari-cari sekeliling dimana Kak Kaina menungguku.
"Rosa!"
Aku memalingkan kepala ke sumber suara barusan dan demi apa, mulutku terbuka begitu lebar, sanking terkejutnya.
"Kak Kaina, Kak Ray??" teriakku kaget.
Aku bergerak cepat ke arah meja itu. Kak Kaina sudah menyambutku dengan senyumnya yang lebar. Ahh ... benar kan? Dia semakin cantik saja.
"Kak Kaina ... kangennnn ..." aku memeluk Kak Kaina yang tadi langsung bangkit mendapatiku.
"Aku juga kangen banget sama kamu Ros. Kamu sehat kan?"
"Sehat kak. Ah, Kak Kaina tambah cantik saja," aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipinya. Ah, badannya wangi lagi.
"Kamu juga tambah cantik kok. Eh ... ini surprise -nya. Kenalin, pacarku ..."
"Hahhhh??" lagi-lagi aku terbelalak dan mulutku menganga. Tapi kali ini aku menutupnya dengan kedua tanganku supaya tidak malu-maluin.
Kak Kaina dan Kak Rayshaka sepertinya memang sudah berencana membuat aku shock. Lihat saja tawa kencang keduanya.
"Pacar??? Seriusan Kak Ray??"
"Iya Ros. Kaget kamu?" Kak Ray mengulurkan tangannya padaku dan menepuk-nepuknya ramah.
"Seriusan ini? Demi apa? Cerita dongggg," wajah berbinarku tidak bisa kusembunyikan. Seingatku terakhir kali Kak Kaina keluar dari Nagata, hubungannya dan Kak Ray sedang kacau balau. Bagaimana bisa sekarang mereka berpacaran? Aku sudah ketinggalan berita ter-update !
"Nanti saja ya Ros, kita bergadang malam ini. Aku enggak akan melewatkan apa pun, karena aku tahu kamu pasti sudah penasaran gila. Sekarang kita pesan makan dulu. Kami belum makan sejak dari Bekasi tadi."
"Oke-oke. Jangan sampai ada yang dikurangi, juga dilebih-lebihkan ya!" ancamku sambil tertawa. Kak Kaina dan Kak Ray juga tertawa mendengarnya.
Lalu kak Ray menanyakan kami mau pesan apa. Setelah menyebutkan dengan jelas, dia pergi ke meja pemesanan.
"Kak? Kok bisa??" aku begitu tidak sabarannya sampai-sampai ingin dapat spoiler sekarang juga dari Kak Kaina.
"Ssttt ... ceritanya panjang, Ros. Kalau nanti Ray dengar kita ngebahas dia, entar dia ge er. Nanti saja ya," ujar Kak Kaina sambil berbisik cekikian.
"Yahhh ... kepo banget. Tapi baiklah. Nanti kakak jangan pura-pura tidur loh ya!"
"Hahaha ... pasti Ros. Kamu gimana dengan Andre? Masih?"
Aku menggeleng dan itu membuat Kak Kaina cukup terkejut juga.
__ADS_1
"Dia sudah punya tambatan hati yang lain, Kak. Yang lebih cantik dari aku."
"Serius kamu? Kok bisa?"
Kak Ray sudah bergabung lagi dengan kami.
"Ya bukan jodoh saja, Kak. Lagian aku pun sudah punya yang baru. Yang lebih baik dari Andre," ujarku sambil senyum-senyum sendiri mengingat orang tersebut.
"Oh syukurlah. Siapa? Anak supermarket juga?" maksud Kak Kaina adalah supermarket tempatku bekerja.
"Tito."
"Hahh???" gantian, kedua orang di depanku itu yang terkejut bukan main.
"Serius Ros?? Tapi Tito enggak pernah cerita-cerita loh," Kak Rayshaka geleng-geleng kepala.
"Ya ampun, ternyata Dufan membawa berkah ya. Terus sekarang LDR sama Tito?" kini Kak Kaina yang tertawa kecil sambil bertanya.
Aku mengangguk, "Kita ketemu sekali dua minggu. Tito yang ke sini."
"Persis seperti kami dong," balas Kak Ray.
"Iya, Ros. Dulu yah, ada yang bilang bakalan ketemu sekali sebulan saja. Tapi ternyata tiap akhir pekan muncul di depan mata."
Mendengar celetukan Kak Kaina, Kak Ray langsung mencubit pipinya, "Tapi kamu suka kan sayang?" katanya.
"Huaaa ... kenapa aku yang kasmaran melihat kalian berdua?" aku jelas tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku. Benar-benar tidak sabaran menunggu Kak Kaina cerita semuanya.
"Kenapa, Ros? Beda ya sama kita yang dulu? Yang dulu kita berantem mulu ya?" kata Kak Kaina seperti mengerti jalan pikiranku. Aku mengangguk keras.
"Aku mah aslinya romantis Ros, dulu cuma gengsi saja. Hahaha ..."
Candaan Kak Ray membuat meja kami riuh lagi. Bersamaan dengan itu pesanan kami datang.
Kami cepat-cepat menikmatinya sebelum dingin. Tentu saja sambil bercerita banyak tentang ini dan itu.
*****
Kaina's PoV
Rayshaka menghantar kami sampai ke kosan Rosa. Sebelum dia pulang, tidak lupa dia merangkulku lalu menghadiahkan ciuman selamat malam di pipi dan kening. Dia melakukannya dengan cepat saat Rosa berjalan di depan kami untuk membukakan pintu.
"Hati-hati ya," pesanku setelah Ray menurunkan tas ransel dari mobil.
Belum selesai dia mengunci pintu, Rosa sudah berteriak meluahkan semua ketidaksabarannya.
"Ayo kakk, buruan ceritaaaaaaa ..." katanya.
"Hahaha ... bagaimana kalau kita bersih-bersih dulu? Badanku lengket semua nihh."
"Yahhh ... ya sudah, Kak Kaina mandi dulu gih. Cepetan!"
Aku terkekeh geli. Hasratnya yang tinggi harus segera dipenuhi sebelum bringasnya keluar. Cepat-cepat aku mengambil handuk dan perlengkapan mandi dari dalam tas, lalu kabur menuju kamar mandi.
*****
Akhirnya setelah aku dan Rosa sudah selesai beres-beres, kami sudah mengambil posisi tidur di atas kasur. Aku pun memulai ceritaku.
Seperti janjiku pada Rosa, aku tidak melewatkan setiap detail penting yang menjadi cerita menarik antara aku dan Rayshaka. Sambil bercerita, tak jarang aku kembali merasakan getaran-getaran cinta yang kurasakan dalam setiap kisah kami.
"Jadi kalau kalian enggak kunjung ketemu, kak Ray bakalan nunggu terus, gitu?" kubiarkan Rosa sesekali memotong ceritaku. Karena aku pun mengerti pasti banyak hal yang membuatnya surprise, sekalian bingung. Sama seperti aku sendiri yang empunya kisah, masih suka bingung sendiri kenapa kami bisa sampai di titik ini.
"Entahlah, Ros. Katanya sih begitu. Tapi, sepertinya memang dia serius. Kamu lihat kan tadi pembawaannya? Beda banget dengan yang dulu."
"Iya, Kak. Memang masih Kak Ray yang dulu, tapi versi dewasa banget. Sepertinya dua tahun masa-masa sulit kalian membuat Kak Ray dan Kak Kaina menjadi pribadi yang lebih matang seperti sekarang ini."
Aku mengiyakan tanda setuju.
"Seperti mimpi enggak sih, Kak? Kalau ingat dulu gimana ...."
"Banget, Ros. Sampai sekarang saja masih suka enggak nyangka kalau itu benar-benar Ray. Aku suka merasa Tuhan terlalu baik, sampai hal yang kukira mustahil, ternyata Dia kabulkan."
Rosa memelukku dari samping.
"Itu karena kalian memang sudah ditakdirkan untuk bersama, Kak. Kalau pun masih harus bertahun-tahun lamanya, kalau sudah jodoh, pasti bertemu," katanya bijak.
"Iya, Ros. Lucu ya kalau diingat-ingat. Yang awalnya musuh bebuyutan di kantor, sekarang mau menikah saja."
"Hah?? Menikah?? Serius, Kak??" kali ini adik kos ku itu sampai terduduk sangking kagetnya. Aku dan Ray memang tidak menyinggung soal pernikahan selama makan bersama tadi.
Aku mengangguk, "Sebenarnya ini juga cuti karena mau ketemu dengan keluarga. Besok kami akan ke Tasikmalaya. Ke rumahku."
Mata Rosa terbelalak. Kedua tangannya menutup mulutnya yang menganga lebar. Perasaan sejak kami bertemu dia sudah melakukan itu hampir sepuluh kali. Apa hidupku se-mengejutkan itu?
__ADS_1
"Aku speechless, Kak."
"Hahahaha ... doakan saja lancar ya, Ros. Besok itu baru perkenalan ke keluarga saja. Habis itu kita baru bicarakan semua-semuanya."
"Aminn. Pasti aku doakan, Kak. Supaya Kak Kaina dan Kak Ray dimuluskan jalannya sampai menikah, punya anak, sampai kakek nenek. Aminnnn."
"Aminn. Makasih doanya, Ros. Eh ... sekarang gantian dong, kamu ceritain kenapa bisa berlabuh sama Tito."
Kini gantian Rosa yang menceritakan awal hubungannya dengan Tito. Tentu saja dengan menceritakan akhir hubungannya dengan Andre terlebih dahulu.
*****
Sebelum aku dan Rosa tidur, aku meraih ponsel. Mengecek apakah ada chat dari Rayshaka. Benar saja, ada 5 pesan WhatsApp yang ia kirimkan.
Rayshaka : 20.20 "Sayang, aku sudah sampai rumah ya. Mama titip salam 😘😘😘"
Rayshaka : 20.45 "Sayang? Lagi ngobrol sama Rosa ya?"
Rayshaka : 20:55 "Wahh, aku dicuekin nih? 😑😑😑"
Rayshaka : 21:20 "Sayang, masih belum selesai ngobrolnya sama Rosa? Ngobrolin apa saja sayang sampai lama banget? Kangennnn ... 😣😣😣"
Rayshaka : 21.40 "Sayang, aku ngantuk. Aku tidur duluan ya sayangku. Besok aku jemput ya sayang. I love you. Mwuacchhh! 😘😘😘"
Aku tersenyum. Hatiku berbunga-bunga tidak karuan. Apalagi saat dia bilang dia kangen. Kenapa dia selalu membuatku berdebar begini sih?
Aku melirik jam dinding. Pukul 21.50. Pesan terakhirnya sepuluh menit yang lalu. Dia pasti belum tidur. Aku pun mengetik pesan balasan.
Kaina : 21.50 "Sayangku 😘😘😘 ..."
Belum ada lima detik, pesanku langsung dua centang biru. Benar kan, dia belum tidur?
Rayshaka : 21.50 "Ngobrolin apa saja sih sayanggg sampai lama begitu? Pacarmu ini sampai terlupakan loh 😑😑😑"
Kaina : 21.51 "Hahaha... maaf sayang, biasalah, kalau cewek sudah ngerumpi kayak apa 😚😚. Tadi mama bilang apa sayang?"
Rayshaka : 21.52 "Ngerumpiin aku ya? 😑😑😑. Iya, tadi mama menelepon, nanyain lusa kamu jadi ke rumah apa enggak. Aku bilang jadi. Terus mama bilang titip salam ke Kaina."
Kaina : 21.52 "Wahh, jadi malu...😬😬😬"
Rayshaka : 21.53 "Ciye, yang disalamin calon mertua 😄😄. Kamu lagi apa? Rosa sudah tidur? Pengen dengar suara sayang."
Padahal dia cuma mengatakannya lewat chat, tapi lagi-lagi berhasil membuat aku di mabuk kepayang.
Aku pun turun dari kasur sebentar, mencari earphone dari dalam tas. Setelah memasangnya ke ponsel, aku mencari aplikasi Duo dari Google, lalu mencari nama Ray. Kemudian aku menekan tombol Start untuk memulai video call.
Dering telepon terdengar sebanyak dua kali, lalu wajah pria tampan itu sudah muncul di layar ponselku.
"Sayanggg, kangen," seperti biasa, kalimat itu selalu jadi pembuka setiap kali kami melakukan video call. Wajahnya yang putih bersih sengaja dibuat cemberut untuk membuktikan perkataannya.
Aku tertawa geli. Dia sangat lucu dan menggemaskan.
"Aku juga kangen kamu sayang. Katanya mau tidur. Kok masih seger?"
"Enggak bisa tidur kalau belum dengar suara kekasihku."
"Pacarku gombal banget sih? Belajar dari siapa sayang?"
Dia tertawa dari seberang sana. Memamerkan deretan gigi putihnya yang rapih.
"Beneran kangen. Padahal baru pisah satu jam yang lalu."
"He-em ..."
"Enggak sabar pengen cepat-cepat tinggal satu atap sama kamu. Biar bisa lihat kamu setiap malam."
Aku tidak menjawab perkataannya barusan. Hanya memandanginya dengan lekat-lekat.
"I love you sayang," katanya lagi. Menambah rasa cinta di hatiku padanya.
"I love you too, honey. Kamu bikin aku mabuk lagi. Jadinya ngantuk."
"Hahahaha ... ya sudah. Berhubung aku sudah melihat kamu dan mendengar suara kamu, sekarang aku bisa tidur dengan tenang. Jangan lupa sebelum tidur, berdoa dulu."
"Iya, pasti. Kamu juga sayang. Tight sleep yah. I miss you."
"I miss you too, Kaina-ku."
Klik.
Aku meletakkan ponsel begitu saja. Hatiku yang berdebar perlu untuk segera ditenangkan.
*****
__ADS_1