
Kaina's PoV
Aku sudah lupa apa rasanya debaran-debaran yang pernah kurasakan bersama Rayshaka dulu. Saat benih cinta yang tidak sengaja tumbuh dalam diriku yang sebelumnya sangat membencinya.
Aku sudah lupa apa rasanya saat dia mencubitku tapi yang muncul sesudahnya justru semu merah di pipi. Sudah lupa sensasi bermain seharian dengannya di Dufan. Sudah lupa deg-degan luar biasa saat dia menempelkan dagunya di pundakku ketika di perpustakaan. Sudah lupa rasanya semua pelukan dan ciuman yang pernah kami lakukan.
Tidak hanya itu. Aku pun sudah lupa rasanya semua sakit yang kubawa pergi bersamaku saat meninggalkan Nagata Paper.
Aku sudah berhasil memulai hidupku yang baru di sini. Dua tahun mungkin sangat sebentar untuk sebagian orang. Namun sangat lama bagi orang yang butuh pemulihan sepertiku, yang pernah menyimpan luka di tempat terdalam relung hati.
Saat Ariana Group -tempat perusahaanku bekerja- melebarkan segmen bisnisnya, yaitu membuka pusat perbelanjaan, aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Aku tahu nantinya kami akan mengadakan sejumlah tender untuk aspek-aspek pendukung berlangsungnya aktivitas mall berlantai tujuh ini. Tentu saja salah satunya di bidang housekeeping.
Pengadaan jasa cleaning service, pengadaan barang berupa alat kebersihan, tisu toilet, tisu wastafel (hand towel) dan sabun pencuci tangan untuk toilet mall yang berjumlah 30 unit dengan masing-masing 10 kamar per unit, sudah pasti akan dilakukan.
Sesungguhnya aku sedikit khawatir jika kabar ini sampai ke Nagata Paper. Karena dengar-dengar dari Keisha, Ray sudah diangkat jadi Area Sales Manager (ASM), dan Bekasi adalah salah satu daerah teritorinya. Jika sampai Ray tahu, sudah pasti dia akan ikut tender kami dan aku seketika mengkhawatirkan diriku sendiri.
Dugaanku benar. Setelah tender dibuka dan diumumkan di sosial media Ariana Group, puluhan proposal masuk ke divisi kami. Dan aku mendapati salah satunya adalah dari Nagata Paper dengan tanda tangan Ray terbubuh sebagai ASM.
Saat itu, Manager Purchasing kami -Pak Willy, yang tahu sebelumnya aku pernah bekerja di Nagata langsung memintaku untuk profesional dalam memberikan penilaian. Aku tergelak, justru menawarkan diri untuk tidak ikut campur dalam tender kali ini. Namun Pak Willy tidak setuju karena team purchasing hanya ada tiga orang, sementara pekerjaan kami masih sangat banyak.
Aku pun berusaha menjalankan kewajibanku sebagai tim penilai dengan tidak melibatkan latar belakangku. Lagian Pak Willy tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa, karena keputusan tetap akan diambil dalam rapat direksi setelah pelamar-pelamar itu melakukan presentasi langsung di hadapan mereka.
Dari sekian banyak proposal, kami menyaringnya menjadi 10 saja per segmennya. Untuk segmen tisu, Nagata terpilih menjadi salah satu peserta yang harus presentasi yang kumaksud tadi.
Saat jadwal mereka presentasi, aku meminta untuk tidak terlibat agar tidak perlu bertemu dengan pihak Nagata. Untungnya Pak Willy setuju akan hal itu. Aku tidak bertemu Ray sama sekali walapun di daftar absensi aku melihat namanya tercantum sebagai peserta yang hadir.
Lalu sampailah di hari ini. Acara yang tidak bisa kuhindari untuk tidak hadir. Selama berada dalam ballroom aku berusaha untuk tidak berkeliaran demi menghindari aku melihat Ray atau pun sebaliknya, Ray yang melihatku. Aku duduk dengan manis di table kami. Menahan diri untuk tidak terlalu aktif bergerak ke sana sini, atau menoleh ke kiri kanan. Karena aku tahu, Ray pasti berada di antara ratusan orang yang ada di belakang meja kami.
Dan yang barusan terjadi itu di luar sepengetahuanku. Pemenang tender itu sama sekali tidak ada yang tahu, bahkan team purchasing sekali pun. Nama-namanya masih menjadi rahasia tim direksi sampai acara ini berlangsung. Oleh karena itu, saat nama Nagata Paper disebutkan, aku sama sekali tidak menyangka sekaligus gembira tidak terkira. Saat menyambut Ray ke atas panggung, Pak Willy melirik ke arahku sambil mengacungkan jempol. Aku tidak mengerti mengapa beliau harus melakukannya karena aku sama sekali tidak melakukan apa-apa.
Ah Rayshaka ... pria itu semakin tampan saja. Dan semakin langsing juga sepertinya. Aku juga tidak melihat ada brewok tipis yang ia pelihara seperti dulu. Kudengar dari Keisha, Ray tidak jadi menikah. Tidak jelas alasannya apa. Tapi kuakui, dia pintar merawat dirinya.
Kami semua tidak berhenti memberi tepuk tangan saat map tanda kontrak diberikan secara simbolis. Setelah sesi pemotretan, barulah kami menghentikan tepuk tangan riuh itu. Jajaran direksi berfoto dengan Ray secara bergantian.
Saat aku terhanyut dalam perhatianku padanya, pria itu tiba-tiba menemukanku. Senyum yang tadi dia tebarkan tiba-tiba hilang, mungkin terkejut melihat keberadaanku. Aku pun demikian. Aku refleks membuang wajah ke sebelah kanan dan kiri. Pura-pura melihat sesuatu. Kemudian memutuskan untuk merogoh handphone di saku dan memainkannya.
Tanpa sadar aku menahan nafas begitu lama. Saat ekor mataku mendapati Ray turun dari panggung dan kembali ke kursinya, aku baru bisa bernafas lega. Namun setelahnya aku sudah tidak bisa duduk dengan tenang. Punggungku seperti ditusuk-tusuk oleh tatapan tajam seseorang. Seperti. Semoga saja tidak.
*****
Author's PoV
Acara penting itu akhirnya selesai. Orang-orang mulai bubar dari tempat duduknya. Namun para pemenang tender diminta untuk mengikuti Willy ke ruang kantor pengelola mall.
Saat itulah Rayshaka dan Kaina mau tidak mau harus bertemu. Kaina yang tadinya ingin menghindar, tidak menemukan caranya karena Willy mewajibkan tiga orang timnya ikut meeting tertutup bersama para pemenang tender.
Saat dia berjalan menuju pintu ballroom, Rayshaka sudah menunggunya dengan senyum di wajahnya. Kaina mengutuk alam semesta yang telah merencanakan ini.
"Hai ...." Rayshaka mengulurkan tangannya terlebih dahulu saat Kaina sudah sampai di hadapannya.
"Hai. Apa kabar, Ray?"
"Baik, baik. Kamu apa kabar?"
__ADS_1
Mereka berjabat tangan sambil menebar senyum simpul. Tidak ada yang tahu kalau detak jantung Ray berpacu begitu cepat saat ini dan Kaina juga bergetar saat telapak tangannya bersentuhan dengan tangan besar Ray.
"Baik juga. Sendiri ke sini?"
Mereka mulai berjalan meninggalkan pintu ballroom mengikuti rombongan yang sudah berjalan di depan mereka.
"Sendiri. Kamu sudah lama bekerja di sini?"
"Baru dua tahun. Kamu? Kata Keisha sudah jadi ASM ya? Keren ..." Kaina memuji sambil menepuk lengan Ray sebanyak dua kali.
"Wah, masih rajin berhubungan dengan Keisha?"
Kaina mengangguk, "Katanya kamu juga enggak jadi menikah sama Silvi," Kaina tergelak kecil. Membuat Ray sedikit terkejut.
"Wah ... kamu ... masih suka kepo sama Nagata juga ternyata," Ray menggoda seperti bagaimana dia suka menggoda Kaina dulu. Matanya menghilang.
"Enggak kok. Keisha saja yang suka tiba-tiba singgung," Kaina mengelak halus, mencoba menjaga harga dirinya. Tapi senyumnya tetap tidak dapat dia sembunyikan.
"I see ... berarti kamu juga tahu kalau Fany sudah enggak di Nagata lagi?"
Mendengar nama Fany disebut membuat wajah Kaina sedikit mengeras. Tentu saja dia tahu. Gosip itu sudah menyebar dan Keisha juga sudah menyampaikan padanya kalau Fany diberhentikan oleh Pak Sebastian.
Waktu itu Keisha benar-benar menunjukkan amarahnya saat menghubungi Kaina. Dia kesal karena baru tahu semuanya setelah sahabatnya itu pergi. Seharusnya mereka masih bisa bersama seandainya Kaina tidak se-bodoh itu menyimpan semuanya.
"Tahu ...." jawab Kaina pelan.
"Alasannya juga tahu?" entah kenapa suara Ray sedikit tegas tapi tetap lembut.
Kaina menggeleng, "Enggak ...."
Kini gadis itu mengangguk pasti.
"Oh ...." Rayshaka mengangguk. Mustahil Keisha tidak menceritakan semuanya. Apa Kaina sengaja tidak ingin membahas tentang hal itu lagi? Ray mencoba mengerti.
"By the way, congrats sudah memenangkan tender ini. Aku surprise sekali Nagata yang terpilih."
"Thank you. Memangnya bukan purchasing yang pilih pemenangnya?"
"No. Aku cuma ikut seleksi proposal saja. Sesudah itu enggak terlibat. Semua diputuskan sama tim direksi."
"Oh begitu. Berarti aku menang dengan cara yang supportif kan ini? Bukan karena nepotisme?"
Kaina mengangguk sambil mengacungkan jempolnya lagi.
Mereka sudah sampai di ruangan pengelola mall. Team purchasing dan Willy duduk berbaris di sisi kiri meja meeting dan para pemenang tender di sisi yang satunya lagi.
Willy memulai rapat dengan kata pembukaan. Mengucapkan selamat sekali lagi pada semua yang ada di ruangan itu. Lalu beliau meminta Kaina mengeluarkan lembaran kontrak yang akan dibagikan ke semua supplier, untuk dibaca dan ditandatangani.
Setelah itu, semua pemenang dibagi menjadi tiga kelompok. Tiap kelompok di handle satu orang purchasing, untuk membahas sistem database dan PO (Purchase Order)-nya.
Willy sengaja memasukkan Nagata ke kelompok Kaina, karena tadi dia melihat kedua orang itu sudah akrab. Karena sudah tidak ada unsur persaingan disini, atasan Kaina itu tahu kalau mereka akan mampu menjalin kerjasama yang baik. Tapi Willy tidak tahu kalau ternyata itu membuat Kaina sedikit berdebar.
Sementara itu, dalam hati Rayshaka tersenyum. Dia memang masih ingin berbincang-bincang dengan Kaina lebih lama. Apalagi kali ini mereka akan bicara one on one.
__ADS_1
Kaina sengaja menempatkan Ray di nomor urut terakhir dari empat supplier yang menjadi tanggungjawabnya. Yang dilakukan Kaina adalah memberikan database perusahaan kepada perwakilan perusahaan supplier itu, lalu membuat jadwal untuk pembelian dan pengiriman barang.
"Nagata gimana? Masih se-ribet yang dulu birokrasinya?" Kaina bertanya di sela-sela Ray meng-input database di laptop pribadi miliknya. Pria itu berdecak.
"Hanya itu yang kamu ingat dari Nagata?" nadanya sedikit mengejek.
"Hahaha ... aku hanya enam bulan di sana. Enggak banyak yang bisa diingat."
Ray mengangguk-angguk, pura-pura mengerti.
"Masih sama. Kamu tahu persislah ...."
"Seluruh cabang juga sama? Kamu pegang apa saja sih sekarang?"
"Bandung, Bogor, Bekasi, Karawang, Cirebon."
"Banyak ya. Nomaden dong kamu."
"Eh, sekarang ber 'aku-kamu'? Enggak 'gua-elu'?" sindir Ray cepat sambil tertawa. Lagi-lagi kedua matanya hilang. Kaina juga baru menyadari bahasa formal yang dia pakai sedari tadi ke Rayshaka.
"Iya. Sudah lupa," jawabnya cuek.
"Keren keren ... berarti temen kamu baik-baik semua di sini."
Kaina mengangguk sambil tersenyum.
Obrolan mereka berlanjut lagi sampai urusan mereka selesai. Ariana mall resmi menjadi customer besar Nagata di cabang Bekasi. Kaina sudah memberikan PO untuk keperluan tisu toilet dan hand towel bulan ini. Lumayan mencengangkan, Kaina memesan 500 box sekaligus, namun untuk pengirimannya disepakati parsial sebanyak empat kali.
Saat Ray akan pulang, kelihatan sekali wajahnya sedikit berat. Saat dia berpamitan dan menjabat tangan Kaina lagi, Kaina bisa merasakan Ray menggenggam tangannya dengan kuat.
"Nomor handphone-mu sudah ganti. Boleh aku minta?"
"Kan sudah ada nomor kantor. Kamu bisa hubungi ke sana untuk konfirmasi pengiriman," Kaina tersenyum. Sebenarnya dia tahu maksud Rayshaka.
"Nomor pribadi, Nona ...."
Wajah Kaina ingin sekali bersemu merah,tapi dia tahan. Dia tidak ingin Ray menilai bahwa dia masih Kaina yang sama seperti dulu.
"Sini-in kartu nama kamu saja, nanti aku yang hubungin," tentu saja dia tidak akan memberikannya begitu saja.
Ray tergelak kecil mendapati Kaina masih membentengi dirinya.
"Nomorku masih sama. Kalau kamu enggak keberatan, nanti tolong missedcall aku."
"Oke." Kaina membentuk huruf 'O' dengan dua jarinya.
"Ohh, belum hapus nomorku ya?" Ray malah menggoda.
"Dulu mau hapus sih, tapi lupa terus ...." canda Kaina seraya membereskan mejanya. Dia tersenyum kecil.
Rayshaka tergelak kecil. Dia tahu Kaina berbohong.
Begitulah akhirnya. Ray meninggalkan ruangan itu dengan hati yang sedikit kecewa, karena tidak berhasil mendapatkan nomor handphone Kaina. Sebaliknya, Kaina bernafas lega, karena dia berhasil menahan dirinya untuk tidak langsung menyerahkan diri begitu saja.
__ADS_1
*****