
Author's PoV
Kaina tiba di kontrakannya jam sembilan malam. Awal bulan biasanya penuh dengan kejutan dari Willy. Pekerjaannya ada saja yang bertambah. Padahal pekerjaannya hari kemarin pun masih ada yang belum selesai dan deadline-nya sudah dekat.
Sebelum dia mandi, dia membuka kulkas dan memeriksa apa yang bisa dimasaknya untuk mengisi perut yang sudah kelaparan. Dia melihat ada wedges potatoes di freezzer. Dia menggapai kantong plastik tersebut dan membawanya ke dekat tempat masak.
Dia mengambil wajan dan meletakkannya di atas kompor, menghidupkan apinya, lalu menuang minyak goreng.
Tidak butuh waktu lama, sepiring kentang goreng sudah terhidang di hadapan gadis itu. Dia mengambil saos dan mayonaise dari kulkas dan siap memberi makan cacing-cacing di perutnya.
Belum sempat dia menuang saosnya, pintunya di ketuk dari luar.
Kaina terperanjat. Tidak pernah ada orang yang bertamu ke tempatnya. Tetangga sebelah rumahnya sekali pun, karena dia sangat introvert dan kurang pintar bergaul sekarang.
Kaina tidak berani bergerak dari kursinya. Suara ketukan itu terdengar lagi. Kaina semakin takut. Bahkan untuk mengintip dari jendela pun dia tidak berani.
Saat dia ketakutan, tiba-tiba ponselnya bergetar. Dia semakin terkejut dan meraih benda itu.
Ah, Ray!! Untung saja dia menelepon. Rasa takut Kaina bisa ke-distract walau sebentar.
"Halo Ray?" suaranya sedikit bergetar.
"Lu dimana sih? Gue ketuk kok enggak dibuka?"
Hah??? Kaina melongo ke arah pintu.
"'Lu dimana memangnya??"
"Depan pintu rumah lu. Gue ketuk dua kali enggak ada sahutan. Lu di rumah kan?"
Kaina segera berlari mendekati jendela. Menyibak tirai dan mendapati Ray melambaikan tangan.
Apa yang dia lakukan di sini? Tanya Kaina di dalam hati.
Ceklek! Suara pintu terbuka.
"Hei ... kok bisa sampai ke sini?"
Rayshaka mematikan ponselnya lalu memasukkan benda itu ke saku celana.
"Gue baru sampai dari Surabaya. Besok ada kerjaan di kantor sini. Gue nginap di sini ya?"
Apa?? Gila saja!! Kaina membesarkan matanya.
" Enak saja! Nanti gue digrebek!"
"Duh, gue lapar. Belum sempat makan. Lu lagi masak apa?"
Seakan tidak perduli suara keras Kaina, Ray malah membuka sepatunya dan menerobos masuk ke dalam rumah itu.
Kaina masih mematung di pintu rumahnya. Apakah dia sedang bermimpi??
"Wahh, kebetulan banget lu baru selesai masak. Gue comot ya!" tangan jahil Ray dengan cepat menyambar sepotong kentang goreng yang bahkan belum disentuh oleh pemiliknya.
Kaina kebingungan. Dia memandang situasi di luar. Apa tidak apa-apa dia menutup pintu sementara ada Ray di dalam??
"Ray!" sia meneriaki pria itu. Dia masih membiarkan pintunya terbuka.
"Lu kok bisa ke sini? Tau rumah gue dari mana?"
"Hans."
"Hans?? Lu masih berhubungan dengan Hans??"
Ray mengangguk sambil mengunyah kentang lagi.
"Terus Hans tahu lu mau nginap?"
"Ya enggak dong. Kalau dia tahu, dia pasti enggak akan kasih. Lupa kalau dia ngelindungin lu banget?"
Kaina spontan mencubit lengan Ray.
"Habis makan, pulang. Gue enggak mau kena grebek," Kaina duduk di kursi yang ada di hadapan Ray. Wajahnya ditekuk menunjukkan kalau dia kesal. Namun tak dapat dipungkiri kalau jantungnya berdebar begitu kencang. Terakhir dia melihat Ray di mall, lima hari yang lalu. Pria itu pun tidak pernah menghubunginya setelah itu. Lalu tiba-tiba dia muncul di rumahnya, yang begitu rahasia. Tria dan Arista saja tidak tahu alamatnya.
"Lu sewot banget sih? Enggak kangen gue? Gue kangen loh ...."
Kaina melemparkan tatapan membunuh pada Ray. Mengapa pria itu bisa santai begitu di saat dia sudah berdebar hebat?
__ADS_1
Untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, Kaina bergerak mengambilkan air minum untuk pria itu.
"Lu tau enggak?" katanya ketus.
"Apa?" jawab Ray santai, sambil mengunyah lagi.
"Gue baru sampai rumah jam sembilan tadi. Bela-belain enggak langsung mandi dan ganti baju gara-gara sudah kelaparan. Dan setelah gue masak, lu tiba-tiba datang, makan makanan yang bahkan belum gue sentuh dan sekarang hampir ludes," jelas Kaina sambil meletakkan minum di depan Ray, lalu memangku tangannya sambil memandang kesal pada pria itu.
Namun yang terjadi, pria itu malah tergelak mendengar penuturan Kaina.
"Astaga, sori sori sori ... lu lagi kelaperan ya? Sini duduk makanya, biar makan bareng."
Kaina lagi-lagi memicingkan mata.
"A..." tahu-tahu Rayshaka menyodorkan sepotong kentang goreng padanya.
Kaina bergeming.
"A. Atau gue habisin nih."
"Makan saja, gua bisa masak lagi," Kaina berputar ingin kembali ke pantry, namun tahu-tahu Ray menangkap pergelangan tangannya.
"Hahaha ... ih ngambek. Bercanda Kai."
"Ih, sudah makan makanan gue, sekarang pegang-pegang. Awas!"
Raysaka spontan menarik pinggang Kaina hingga kepalanya menempel di perut gadis itu.
"Gue kan tadi sudah bilang kalau gue kangen. Apa itu belum cukup?" suaranya tiba-tiba melembut di perut Kaina.
Gadis itu shock. Apa yang Ray lakukan? Jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat.
"Ehm ... i ... iya, lepasin R ... Ray ...." ucap Kaina gugup sambil menepuk lengan kokoh Ray yang melingkari pinggangnya.
"Enggak mau. Sampai lu ijinin gue nginep."
"Gila! Ih ... lepasin!"
Alih-alih melepaskan diri dari tubuh Kaina, pria itu malahan semakin menarik Kaina mendekat agar dia bisa memeluknya semakin erat.
"Sstt ..." gumam pria itu.
"Selama di Surabaya pikiran gue cuma sama lu di sini."
"Liar. Buktinya lu enggak pernah chat atau nelepon gue."
"Biar lu nyariin. Gue tungguin chat lu, tapi enggak ada."
Tubuh Kaina bergetar. Bagaimana mungkin dia punya keberanian untuk menyapa pria itu duluan? Dia tidak se-depresi itu.
"Lu kangen gue enggak?"
"Ehm ... gu ... gue kebelet Ray. Lepasin dong."
"Jawab dulu."
Akhirnya Kaina pasrah. Entah darimana datangnya keberanian itu, dia mengangkat tangan kirinya, lalu meletakkannya di punggung Ray. Kemudian tangan kanannya mulai membelai rambut pria itu.
"Ray ... memangnya aku ini siapa sampai berani kangen sama kamu?"
Di saat Kaina mulai ber-'aku kamu', itu tandanya dia memulai pembicaraan yang serius. Itu membuat Ray sedikit melonggarkan pelukannya dan menengadah ke arah Kaina.
"Memangnya rindu punya batasan? Setiap orang berhak merasakannya, Kaina." suara Ray sangat lembut. Jauh dari nada bercanda atau pun ocehan.
"Tapi ini berlaku khusus untuk Rayshaka saja. Aku merasa tidak layak."
Ray pun bangkit berdiri. Membuat Kaina yang harus menengadah kepadanya.
Pria itu menangkup pipi gadis itu dengan kedua telapak tangannya yang besar.
"Kamu berhak, Kaina. Aku mengijinkanmu merindukanku kapan saja. Karena aku pun sudah merindukanmu selama ini, tanpa seizinmu."
Napas Kaina tercekat. Darahnya mulai naik ke ubun-ubun lagi. Apa yang dikatakan Ray barusan? Dia merindukan gadis itu selama ini? Selama ini kapan maksudnya?
"Ma ... maksud kamu ... apa ... Ray?" tanyanya gugup sambil memandangi kedua bola mata Ray yang teduh.
"Jangan bersembunyi lagi dari aku, please. Aku tahu kamu menghindariku selama dua tahun ini. Sekarang, katakan kalau kamu rindu, katakan kalau kamu kesal, katakan juga kalau kamu senang kalau ada aku, katakan semua yang kamu rasakan tentang aku. Sudah cukup dua tahun aku kehilangan kamu."
__ADS_1
....
"Kaina ... dua tahun ini ... apa pernah, sekali saja kamu merindukan aku?"
Napas Kaina memburu. Semua yang terucap dari mulut Ray seperti sambaran petir di siang bolong baginya. Apa-apaan ini?
"Aku membuat keputusan besar dengan membatalkan pernikahanku, karena aku menyadari buka Silvi yang kubutuhkan. Melainkan kamu. Apakah kamu merasakan hal yang sama, Kaina?"
Kaina sama sekali belum merespon. Ray menatap lurus mata yang kebingungan itu.
"Kamu ... bercanda kan? " suara gadis itu bergetar. Hidungnya tiba-tiba memerah dan bola matanya mulai berkilauan. Ada air yang sebentar lagi akan merebak dari sana.
Ray menggeleng. Dia semakin mengikis jarak antara mereka berdua. Tubuhnya sudah hampir menempel di tubuh gadis itu, demikian pula wajah mereka.
"Mustahil selama dua tahun aku masih single kalau aku bercanda, Nona Kaina Larasati."
Kaina tidak ingat apa-apa lagi saat tiba-tiba bibirnya disentuh dengan lembut oleh Rayshaka. Matanya menjatuhkan bulir bening yang sedari tadi ia tahan. Hatinya mendadak seperti copot karena bekerja dua kali lebih cepat. Seluruh tubuhnya seketika lemas dan hampir saja terjatuh jika Ray tidak cepat menopangnya. Semua pertahanannya yang kokoh, runtuh seketika.
Kaina merasakan lumatan Ray yang lembut, sembari pria itu mulai memeluknya. Kaina terbuai. Matanya tertutup dengan sendirinya, tidak tahu malu. Menikmati detak jantung mereka yang se-irama.
Kini Ray sudah bersandar di pinggir meja sambil mendekap Kaina yang bertumpu padanya. Kedua tangan kekarnya melingkar di punggung gadis itu.
Karena sudah lama tidak ciuman, Kaina cepat kehabisan nafas. Baru tiga puluh detik, dia melepaskan dirinya sebentar untuk mengambil udara. Namun itu pun Ray tidak mengijinkannya lama-lama. Pria itu langsung membekap bibirnya lagi.
Kaina meremas kemeja Ray karena sekujur tubuhnya geli. Bisa-bisanya dia terhanyut dan membalas ciuman itu. Otaknya bagai disengat listrik bertegangan tinggi sehingga kehilangan akal.
*****
Rayshaka's PoV
Berciuman kembali setelah sekian lama, membuat kerinduanku pada Kaina semakin menjadi. Aku tidak mau memberi jeda di ciuman kami selama api di dalam dadaku masih berkobar. Aku menyadari Kaina sudah kehabisan napas. Namun aku tidak akan mengijinkan gadis itu lolos dengan mudah.
Sampai akhirnya aku pun kehabisan oksigen, aku melepaskan bibirku dengan kesal. Napasku memburu, begitu pun dengan dia.
Kaina menamparku kecil.
"Aku bisa mati ******!" katanya kesal.
Aku spontan tertawa. Saat dia ingin membersihkan sekitar bibirnya yang basah oleh salivaku, aku menahannya. Aku tergoda untuk mengecupnya lagi. Pelan dan lembut. Setelah itu aku membersihkan bibirnya dengan tanganku sendiri. Beserta sisa-sisa air matanya. Lalu tahu-tahu Kaina pun menjulurkan tangannya, membersihkan bibirku dengan ujung sweater-nya.
Kami kemudian bertatapan lagi. Aku tidak bisa menyembunyikan cinta dari mataku. Membuat Kaina tertunduk salah tingkah.
"Aku mau mandi. Ngelihat kamu bikin gerah terus," kataku menggodanya lagi.
"Habis mandi pulang ya?"
"What? Masih kekeuh enggak ijinkan aku nginap?"
Kaina memutar bola matanya.
"Astaga!!!!" tiba-tiba dia menutup mulutnya dengan tangan, "dari tadi pintu rumah terbuka!" katanya sambil ingin kabur dari jangkauanku. Namun kedua kakiku dengan cepat menahan tubuhnya.
"Biar aku yang tutup, sayang."
Kaina membesarkan bola matanya lagi. Mungkin kaget mendengar aku memanggilnya 'sayang'.
Aku pun melepaskan pingitanku, lalu bergerak menuju pintu depan.
Tanpa ada beban, aku menutup pintu itu dengan enteng. Menguncinya hingga terdengar bunyi ceklek sebanyak dua kali. Lalu aku merapihakn tirai jendela yang tadi sempat disibak oleh Kaina.
Saat aku berbalik, Kaina sudah mematung di belakangku.
"Sudah ya, aku mau mandi," kataku sambil melewatinya dengan senyum licik. Namun cepat-cepat dia menghadang langkahku dengan merentangkan kedua tangannya.
"Tunggu!" katanya dengan alis terpaut.
"Kenapa sayangg?" aku menggoda dengan menjulurkan wajahku padanya.
"Aku cuma punya satu kamar. Kamu tidur di luar!"
"Iya. Bareng kamu kan? "
"Enak saja. Ih jauh-jauh sana!!"
Aku mencium pipinya bertubi-tubi sebelum akhirnya membebaskannya yang sudah kesal luar biasa.
Saat memasuki kamar mandi, senyuman tidak pernah lepas dari bibirku. Bahkan saat mencuci wajah, rambut, menyikat gigi, membasuh badan, aku masih tergila-gila dengan gadis itu. Dia sangat manis, seperti dulu. Masih penurut dan tidak bisa membohongi hatinya.
__ADS_1
Terimakasih masih mencintaiku, Kaina.
*****