
Author's PoV
Acara sarapan pagi ini masih disponsori oleh masakan mama Kaina yang dibuat se-simple mungkin, namun tetap membuat anak dan calon menantunya makan dengan lahap. Bubur ayam buatan sendiri dan gulai sapi dengan bumbu seadanya.
Setelah makan, Kaina dan Rayshaka duduk bercengkrama di ruang tamu. Kayla keluar sebentar mengantar baju jahitan temannya yang sudah selesai ia kerjakan. Sedangkan mama Kaina sedang asyik membersihkan album-album lama foto keluarga.
"Ray, sini deh. Tante tunjukin foto Kaina waktu kecil. Kamu pasti tidak menyangka kalau dulu dia tidak se-feminim sekarang."
"Ih mama ... jangan buka aibku gitu dong. Malu sama Ray," protes Kaina tidak setuju dan ingin merebut album foto itu, namun Ray sudah lebih cepat melesat bergerak ke arah calon ibu mertuanya.
"Nih ... dulu waktu dia SD, paling enggak suka kalau rambut panjang. Pasti selalu dipotong pendek seperti ini."
Rayshaka tertawa melihat Kaina kecil dengan rambut pendeknya. Poni 'selamat datang'-nya membuat wajahnya semakin chubby di usianya yang masih sepuluh tahun. Kulitnya yang berwarna cokelat sawo matang memang sudah menjadi ciri khasnya sejak kecil.
"Ini foto pas lagi ngapain, Tante?" Ray menunjuk foto saat Kaina memegang piala sambil duduk di lantai.
"Oh itu, dia menang lomba menulis cerita pendek. Senang sekali dia waktu itu. Iya kan sayang?"
"Oh? Kecil-kecil sudah bisa menulis kamu? Pantesan besarnya pengen jadi jurnalis."
Kaina tersenyum mendengar pujian Ray. Apalagi pria itu tidak lupa membubuhkan ekspresi cinta berupa cubitan di pipi.
"Nah kalau yang ini, pas dia dan Kayla di strap sama papanya karena rebutan crayon sampai nangis."
"Aah, masak sih, Ma? Mana ada ... coba lihat!" Kaina memeriksa kebenaran yang diceritakan mamanya. Eh, benar saja, itu foto sewaktu dia dan adiknya habis bertengkar karena tidak ada yang mau mengalah pakai pensil warna. Dua-duanya mau pakai crayon.
"Lucu ya, Kaina dan Kayla waktu kecil. Hidungnya Kaina mirip tante banget," Ray menggumam.
"He-em ... kalau Kayla lebih ke papa."
Mereka melihat-lihat lebih banyak foto lagi. Kaina dan mamanya mengulang setiap kisah dibalik setiap foto dan Ray begitu antusias mendengarnya hingga saat tangan Kaina membalikkan satu lembar album dan menampakkan sebuah foto yang sepertinya tidak asing baginya.
"Eh, foto ini ... kok bisa ada di sini?"
"Eh?" Kaina dan mamanya mengikuti arah jari telunjuk Ray.
Dalam foto yang dimaksud Ray ada dirinya dan ibunya sewaktu masih usia belasan tahun, bersama dua orang yang baru diketahuinya adalah kedua orangtua Kaina. Dia juga pernah menemukan foto itu dalam berkas mamanya dan sedikit tahu latar belakang dari foto itu. Jika dua orang itu adalah orangtua Kaina, berarti ...?
"Kamu ... tahu siapa wanita dan anak kecil ini?" Kaina membesarkan matanya, berharap Ray menggelengkan kepala.
"Itu ... aku ... dan mama ..."
Kaina spontan menegakkan dirinya sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Senada dengan itu, mama Kaina juga terkejut sambil memandang Ray seolah meminta penjelasan.
"Apa ... pria ... yang sekarat ... waktu itu... adalah ... papa kamu?" suara Rayshaka bergetar ketakutan.
Air mata Kaina meluncur tanpa sadar. Dia masih shock di tempat.
"Ray ... jadi ... anak remaja yang dulu bersama wanita itu ... adalah ... kamu?" Mama Kaina ikut bertanya terbata.
Rayshaka dan Kaina masih beradu pandang seakan berbagi keterkejutan. Ray seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran kekasihnya itu saat ini.
"Kaina ... aku ... baru tahu ...."
"Sepertinya ... a ... aku ... tidak akan ikut ke Bandung," Kaina berkata cepat lalu berlari dengan kencang ke kamarnya.
Rayshaka mengusap wajahnya pelan. Kejadiannya terlalu cepat sampai dia tidak bisa berpikir sama sekali.
Calon ibu mertuanya juga terdiam, memaku menatap foto yang ia takutkan akan menjadi sumber masalah antara Kaina dan Ray.
Diluar perkiraan, Ray mengambil ponselnya, lalu menelepon salah satu kontak di sana.
"Ma ... sudah sampai Bandung? Oh ... papa dimana? Oh begitu. Ma, sepertinya plan Ray sama Kaina untuk datang ke rumah, mundur sedikit. Ada masalah, belum bisa pulang hari ini. Hm ... iya. Oke ma. Nanti disampaikan. Bye ..."
Saat Ray menutup ponselnya, dia segera menghampiri calon mertuanya yang masih terpaku dengan tatapan kosong.
"Tante ..." katanya, seraya meraih kedua tangan wanita paruh baya itu, lalu menatapnya dengan penuh iba, "maafkan saya ..."
Air mata wanita itu menetes mengenai punggung tangan Ray.
"Saya tidak bermaksud membuka kembali luka keluarga. Saya meminta maaf, Tante," tanpa disadari air mata Ray pun tertumpah. Ia mencium kedua punggung tangan wanita yang sudah basah itu.
"Saya sama sekali tidak tahu menahu dengan hal ini kalau bukan karena melihat foto itu, Tante ..."
Masih diam, senyap...
Setelah itu, tiba-tiba tangan mama Kaina bergerak melepaskan genggaman Ray. Membuat pria itu mengangkat wajahnya, berdebar dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Wanita itu mengusap wajah Ray yang basah. Dia bisa melihat kesedihan yang terpancar dari bola mata anak muda itu. Ketakutan yang ia rasakan sama dengan ketakutan Ray. Mereka sama-sama mengkhawatirkan Kaina.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nak. Kita semua hanya sedang terkejut. Tante tahu kamu anak yang baik."
Ray menangis lagi. Menjatuhan kepalanya di pangkuan wanita itu. Dia sangat ketakutan jika harus kehilangan Kaina.
"Mungkin Tuhan memang sudah menyuratkan kamu sebagai pengganti almarhum ayahnya Kaina. Bagaimana pun masa lalunya, kita harus berdamai dengan itu. Tante yakin Kaina akan mengerti."
"Makasih, Tante." Ray menghambur memeluk tubuh mungil wanita kuat yang ada dihadapannya. Kaina benar-benar beruntung sejak kecil dia dididik dan dibesarkan oleh wanita tangguh seperti ini, batin Ray.
*****
Kaina's PoV
Bagaimana mungkin aku bisa menghabiskan sisa hidupku bersama anak dari seseorang yang sudah mengakibatkan kematian papa?
Tuhan, mengapa harus Ray? Mengapa harus seperti ini?
Aku mengabaikan suara ketukan pintu kamar untuk yang ke sekian kalinya. Mama dan Ray bergantian memanggilku dengan lembut. Namun hatiku entah mengapa bisa sekeras baja begini. Aku tidak ingin dibujuk. Sekali pun itu mama.
*****
Author's PoV
Sudah jam satu siang. Rayshaka masih berdiri di ambang pintu kamar Kaina.
Kayla yang sudah tahu kejadiannya ikut membujuk Kayla dengan suranya yang lembut.
Tanpa mereka sadari, Kaina sedang tertidur pulas di dalam. Kelelahan menangis karena merasa menanggung beban seorang diri.
*****
Rayshaka duduk di teras rumah sambil menghirup udara malam. Matanya yang sedikit bengkak terasa perih terkena tiupan angin.
Jam tujuh malam ... Kaina tidak kunjung keluar dari kamarnya. Untungnya tadi siang gadis itu mengirim pesan pada Kayla, menyuruh mereka untuk tidak mengusiknya. Jadi Ray tahu jika dia baik-baik saja di dalam sana. Meskipun puluhan chat Ray tidak dibaca sama sekali.
Padahal, dia sudah meminta maaf lewat chat yang ia kirimkan. Dia tidak tahu menahu jika Kaina adalah putri dari seorang pria yang pernah diamuk massa karena mamanya. Ray sama sekali tidak tahu itu. Tapi Ray tetap saja menyalahkan dirinya atas masa lalu mereka.
Pundak Ray ditepuk pelan. Mama Kaina sudah berdiri di sebelahnya.
"Kaina belum membalas chat kamu?"
"Belum, Tante ..."
Ray menundukkan kepalanya. Mendesah pelan.
"Iya tante. Siap." Ray pasrah. Memangnya apa yang bisa diperbuatnya? Mendobrak pintu kamar? Dia tidak se-putusasa itu. Dia mengenal Kaina. Gadis itu tidak suka diusik jika sedang tidak enak hati.
"Kamu tenang saja yah. Tante yakin kalian sudah jodoh yang ditakdirkan Tuhan untuk bersama."
"Iya tante. Semoga ...."
Makan malam hening. Tidak ada Kaina. Tidak ada yang berbicara. Bahkan bunyi sendok yang beradu dengan piring pun seperti begitu diminimalisir agar tidak membuat keributan.
*****
Jam sepuluh malam ... Ray kembali duduk di kursi yang ada di teras. Dia tidak betah di dalam kamar. Menyesakkan hati dan kepalanya. Apalagi kamar tamunya ada di sebelah kamar Kaina.
Ray menatap ponselnya lagi. Pesannya sudah dibaca gadis itu. Tapi tidak berkenan membalasnya.
Ray gemetar. Bagaimana jika Kaina tidak bersedia berbicara padanya sampai besok? Apakah dia harus pulang ke Bandung seorang diri?
Ray memberanikan diri menghubungi ponsel Kaina.
Tanpa dia duga, Kaina mengangkat teleponnya! Jantung Ray tiba-tiba berdetak hebat.
Tapi hening. Kaina tidak mau bicara.
"Ke sini ... aku di teras," Ray memerintah pelan.
"Kamu saja yang ke sini. Pintu enggak dikunci."
"Oke ..."
Ray mematikan ponselnya, lalu menghembuskan nafas lega. Akhirnya Kaina mau bicara.
Ray masuk ke dalam rumah, lalu mengunci pintu. Mengecek tirai. Setelah semua aman, dia mengetuk kamar Kaina. Gadis itu mempersilahkan masuk.
Ray tidak menutup pintu. Dia masih tahu batasan meski pun dia sangat ingin berduaan dengan kekasihnya.
Kaina duduk sambil memeluk lututnya di atas kasur. Ia mengawasi langkah Ray yang mendekat, kemudian duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Matanya menangkap mata sembab Ray. Membuat gadis itu merasa bersalah sudah membuatnya demikian.
Ray duduk di sisi kasurnya. Memandangnya begitu dalam, penuh kesedihan.
Tangan Kaina terulur, menjamah pipi lelaki itu.
"Maafkan aku ..." bisiknya pelan. Air mata rasa bersalahnya mengucur lagi. Mengiris-iris hati Ray sebegitunya.
Pria itu meraih tangan Kaina dan menciumnya berkali-kali.
"Aku terlalu egois sudah nyalahin kamu," lanjut Kaina terisak pelan.
Ray tidak tahan lagi. Setiap hal yang berhubungan dengan Kaina memang selalu membuatnya sentimental. Air matanya tidak malu-malu ikut keluar seiring dengan sesenggukan yang terdengar pelan.
Kaina benar-benar tidak menyangka Ray akan sesentimental itu. Apa dia sudah sejahat itu?
Ia menarik tangan Ray dan memintanya mendekat. Pria itu menurut. Benar-benar sangat lemah sekarang.
Kaina memeluknya dengan erat, penuh cinta. Rasanya begitu menyesal sudah membuat pria itu harus mengeluarkan air mata karenanya.
"I'm sorry," Kaina meminta maaf sekali lagi. Dikecupnya pipi Ray dengan dalam.
Ray membalas pelukannya, mengelus kepalanya lembut, penuh sayang.
"Aku yang harusnya meminta maaf, sudah membuka luka lama kalian semu. Maafkan aku ...."
Kaina melepas pelukannya. Menarik diri. Dia menangkupkan kedua tangannya di pipi pria itu. Jempolnya bergerak membersihkan air mata yang masih tersisa di sana.
"I love you ..."
"I love you more, sayang."
"Maafin aku ya, sudah buat kamu sedih seharian ini."
"Sudah ... enggak apa-apa," Ray mengusap rambut Kaina. Mencium keningnya lagi.
Mereka kembali saling melabuhkan rindu dalam pelukan. Memaafkan satu sama lain, membuat damai satu sama lain.
Setelah sekian lama...
"Tante pasti senang kamu sudah baikan ..."
"Ah iya ... aku harus ke kamar mama. Mama pasti kebingungan juga dengan sikapku."
Ray mengangguk. "Mau aku temani?"
Kaina menggeleng. "Makasih sayang. Tunggu aku di ruang nonton saja yah."
Ray mengangguk pasti. Dia akan menunggu Kaina selesai berbicara dengan mamanya. Lagipula dia masih belum puas melepas rindunya kepada gadis yang sudah menghilang selama satu harian itu.
*****
Sekitar dua puluh menit, Kaina dan mamanya keluar dari kamar. Saling beriringan, saling bergandengan. Melihatnya Ray tersenyum bahagia.
"Nak Ray ... katanya Kaina lapar. Tante mau masak nasi goreng. Mau sekalian dimasakin?"
"Wah, repot-repot tante ..."
"Enggak kok. Masakin satu porsi atau dua porsi kan api kompornya sama-sama saja. Enggak ada bedanya."
"Oh ... boleh deh kalau begitu, Tan. Hehehe..." Ray tersenyum segan, menampakkan semua gigi putihnya.
"Oke. Tunggu sebentar ya. Kalian ngobrol duu saja."
Sepeninggal mama Kaina ke dapur, Kaina duduk di sebelah Ray. Menggamit lengan kekasihnya itu dan bergelanyut manja.
"I miss you ..." Ray mencolek hidungnya.
"Kiss dong ..." Kaina meminta dengan berani.
"Ada tante loh ..."
"Enggak akan ketahuan kok. Ayoo ..." Kaina menyodorkan bibir yang sudah dimonyongkan. Sangat agresif.
Ray mengawasi sekeliling sebentar, lalu menempelkan bibirnya di atas bibir gadis itu.
Meskipun cuma sebentar, ciuman itu berhasil membuat hati keduanya bergetar dan kembali berbunga-bunga.
*****
__ADS_1