
Author's PoV
Seperti dugaan Kaina, kedatangannya menggemparkan seisi kantor Nagata Paper. Belum lagi dia datang bersama Rayshaka yang tidak segan-segan menggandeng tangannya saat masuk ke lobi.
"Gilaaaaa ... ada siapa ini?" kebetulan Rayshaka membawa Kaina ke ruangan Sebastian.
"Hahaha ... apa kabar, Pak?" Kaina tertawa renyah sambil menjabat tangan mantan atasannya itu. Sebastian masih tampan dan maskulin seperti biasanya.
"Sehat sehat, Kai. Kamu sehat? Eits, makin cantik saja nih. Kayaknya penantian Ray enggak sia-sia ..."
Ray tertawa sambil membuka kursi untuk Kaina. Kekasihnya itu menurut.
"Nih, tanyain si bos nih kalau kamu enggak percaya gimana depresinya aku pas kamu resign. Iya enggak bos?"
"Wah, iya loh, Kai. Kacau loh dia pas aku kasih tahu kamu resign. Kayak dunia mau kiamat saja. Hahaha ..."
Kaina tertawa nyaring. Menatap Ray sebentar.
"Kamu gimana, Kai? Kata Ray sekarang jadi purchasing di Ariana ya?"
"Iya, Pak. Karena enggak bisa marketing, jadi purchasing saja. Hahaha ..."
"Kamu kok mau sama dia, Kai? Kan kemarin sudah disakitin?" Sebastian yang sedang tidak punya kesibukan itu mencoba menggoda Kaina dan Rayshaka.
Kaina tertawa malu, sekalian tidak tahu mau jawab apa.
"Bos jangan begitu dong. Itu kan masa lalu, Bos. Sekarang kan sudah beda. Iya kan sayang?" jawab Ray terkekeh sambil mencari-cari sesuatu di tumpukan berkas yang ada di sudut ruangan Sebastian.
Kaina lagi-lagi hanya bisa tergelak. Dia memang tidak biasa terlalu banyak bicara di depan Sebastian. Meskipun dia bukan anak buah pria itu lagi, Kaina masih tetap sungkan jika harus terlalu akrab dengannya, apalagi untuk hal pribadi.
"Tapi amazing loh kalian berdua. Langgeng-langgeng yah. Buruan nikah, biar enggak di embat orang lain," pesan Sebastian.
"Siapa yang berani ngembat dia aku sabet, Bos. Sudah capek-capek nunggu dua tahun nih," Rayshaka datang menghampiri sudah dengan map di tangannya.
Saat Sebastian dan Ray mulai berbicara soal pekerjaan, Kaina pamit ingin menyapa anak-anak yang di belakang.
Sepertinya dia sudah ditunggu-tunggu semua orang untuk keluar dari ruangan Sebastian. Saat dia baru keluar saja, sudah langsung dikerubutin orang-orang yang ada di ruangan depan. Bagaimana lagi kalau dia masuk ke ruangan oprasional ya?
"Eh, kamu makin cantik loh ..."
"Kerja dimana sekarang, Kai?"
"Lebih fresh loh. Kamu perawatan ya?"
"Beneran sudah pacaran sama Pak Ray?"
"Wahh, kalau iya, selamat yaaa."
Pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan teman-temannya kepada Kaina, membuat gadis itu kelimpungan untuk menjawabnya. Apalagi saat pertanyaan soal hubungannya dengan Ray. Dia bingung apakah harus terbuka sekali atau harus memberikan jawaban mengambang, seperti : ada dehhh.
Tapi sebelum dia menjawab, Ray tiba-tiba keluar dari ruangan Sebastian, hendak memfotokopi berkas yang ada di tangannya.
Melihat Kaina dikerubungi orang-orang, Rayshaka menimbrung sebentar.
"Ehm ... ada apa ini? Jangan tanya dia yang aneh-aneh. Kalau mau tanya, ke gua saja," katanya menyelamatkan Kaina yang kebingungan.
"Eh, benaran pacaran nih, Pak?" masih ada juga yang berani bertanya secara gamblang. Tidak segan meskipun Ray seorang ASM.
__ADS_1
Saat ditanya begitu, Ray meraih tangan Kaina, lalu menggenggamnya. Kemudian dengan iseng mengecupnya dengan cepat.
Hanya hitungan detik saja, namun Kaina dan semuanya sontak kaget karena tidak percaya Ray melakukannya.
"Ih kamu!" Kaina refleks melotot sambil memberi isyarat kalau ini sedang di kantor. Namun terlambat, aksi Ray itu sudah membuat kericuhan.
"Gila gila ... benaran nih, calon nyonya ASM," celetuk entah siapa.
Setelah puas dengan ruangan depan, Kaina masuk ke ruang oprasional. Lagi-lagi dia di 'cie-cie'-in anak-anak yang sepertinya sudah melihat kehebohan itu dari ruangan dalam.
"Bu Arni..." Kaina memberi salam pada Ibu Arni kepala administasi.
"Wahh, kamu beda banget sekarang, Kai. Makin cantik loh."
Ah, pujian itu lagi, batin Kaina.
"Ah, karena sudah lama enggak ketemu saja mungkin bu," jawab Kaina merendah.
"Kamu kerja dimana sekarang?"
Kaina kembali harus menceritakan pekerjaannya saat ini kepada teman-temannya yang ada di dalam sana.
"Oh, jadi ketemu Ray lagi kebetulan karena kamu purchasing ? Memang kalau sudah jodoh pasti bertemu lagi ya?" Bu Arni seperti sangat surprise mendengarkan cerita Kaina. Kaina mengangguk malu-malu.
Ibu Arni masih mengajaknya ngobrol banyak tentang semuanya. Tapi seperti biasanya mereka berbicara seperti berbisik-bisik. Apalagi saat bu Arni menyinggung soal Fany. Dia menceritakan bagaimana Fany dikeluarkan dan menimbulkan kehebohan di kantor.
Kaina sebenarnya tidak terlalu tertarik membahas Fany. Namun info yang dia dapat dari Bu Arni cukup memuaskan rasa penasarannya. Karena Keisha tidak menceritakan sampai se detail itu.
Setelah selesai dengan Ibu Arni, Kaina pun menuju teman hijabersnya yang sedari tadi masih diam-diam saja. Seperti tidak mau menghampiri Kaina duluan, karena masih dikerubungi banyak orang.
"Heeeiii ... sehat Sis?" Keisha tertawa sambil menggeser duduknya agar Kaina bisa mendapat tempat.
"Sehat dong ... sibuk banget, Bu?"
Keisha masih tertawa sambil memukul lengan Kaina.
"Kamu gimana? Enggak cerita-cerita sudah sama Ray. Heuuu ..."
"Sstt ... nanti makan siang bareng yuk. Sebelum aku sama Ray jalan."
"Oke cuss ... aku selesaiin kerjaan dulu kalau gitu."
Kaina memberikan lambang huruf O dengan dua jarinya. Dia melihat jam di tangannya. Dua puluh menit lagi akan istirahat. Dia harus izin makan siang dengan Keisha ke Ray.
Tapi baru saja ingin meraih ponselnya, pria itu sudah muncul di ambang pintu.
"Cie ciee ... kamu berseri-seri sekali Ray?" Bahkan Ray pun tidak luput dari godaan bu Arni.
"Harus dong bu, kan sudah ada calon istri."
Seisi ruangan kompak riuh lagi. Apalagi ibu Arni. Meskipun sudah tua, beliau masih seperti anak muda, yang sangat peka masalah percintaan.
Mata Rayshaka menghilang lagi karena ikut tertawa terbahak-bahak mendengar perkataannya sendiri.
Lalu dia menghampiri Kaina, mencolek lengan gadis itu tanda menyapa.
"Eh Keisha ... sehat Sha?" lagi-lagi dia menggoda.
__ADS_1
"Eh, lu traktir gua kapan? Gua udah kasih nomor ponsel Kaina loh."
"Oh iya, belum sempat traktir nih. Sekarang saja ayo."1
Wah, padahal tadi Kaina dan Keisha sudah berencana ingin makan berdua. Mereka pun tanpa sengaja saling bertatapan.
"Tapi tadi aku sama Keisha janji mau makan bareng. Nanti kita makan bareng lagi sebelum ke Tasik. Enggak apa-apa?"
"Oh ... kalian mau ngerumpiin aku ya? Oke oke. Aku makan sama pak bos saja," Rayshaka sama sekali tidak marah. Dia malah tanpa sadar mengusap pucuk kepala Kaina. Di depan orang-orang!
Kaina spontan menarik kepalanya cepat, sambil memberi kode ke Rayshaka.
Seakan sadar dengan kode Kaina, Ray menarik tangannya dan spontan menutup mulut. Lalu saat dia melihat sekeliling, orang-orang sedang memperhatikan mereka dengan mupeng, alias muka pengen.
Hal tersebut membuatnya dan seisi ruangan spontan tertawa.
"Sori sori sori ..." rupanya Ray jadi salah tingkah. Dia pun kabur dari ruangan sebelum di bully oleh orang-orang.
"Ada-ada saja ya si Ray. Beda ya dengan Ray yang dulu?" Ibu Arni berdecak.
"Bu, bukannya beda. Tapi memang dari dulu kalau sama Kaina, dia memang pecicilan orangnya," balas Keisha sambil tertawa. Membuat Kaina jadi malu sendiri. Tangannya spontan menepuk lengan Keisha.
"Hayu ah, sudah jam duabelas," Kaina mengingatkan sambil melirik jam tangannya lagi. Dia sudah kenyang diinterogasi di dalam ruangan ini.
*****
Kaina dan Keisha sudah duduk bersama di sebuah restoran ramen dekat kantor. Dulu setiap jam makan siang mereka juga sering makan di sana. Resto yang budget-nya sangat minim namun tetap enak di lidah. Yaa meskipun masih kalah sama Engkong Ramen.
Saat pesanan mereka datang, Kaina begitu excited. Dia rindu sekali menikmati makanan itu.
Sebelum dia menyentuh makanannya, dia mengambil ponsel dan mengambil gambar.
"Pasti mau laporan ke Ray," tebak Keisha cepat.
"Loh, kok kamu tahu sis? Jadi malu," Kaina hampir saja mengurungkan niatnya.
"Hahaha ... it's oke. Ngertilah protektifnya Ray," katanya.
Kaina mengangguk tanda setuju kata-kata Keisha. Setelah itu dia pun menyelesaikan chat-nya ke Rayshaka :
Kaina : 12.14 "Sayang, makan dulu ya. Sayang jadinya makan apa?"
Setelah itu dia meletakkan ponselnya lalu mengaduk mi ramennya dengan penuh semangat.
"Cerita dong, setelah Ray dapat nomor kamu, selanjutnya gimana ..."
Here we go again ...
"Nah, setelah kamu kasih nomorku ... bla bla bla ...."
Kaina kembali menceritakan semuanya ke Keisha dalam tempo yang begitu singkat, sampai jam istirahat usai. Namun dijamin bisa memuaskan hasrat kepo temannya itu.
Dalam hati Kaina mulai menghitung ada berapa banyak lagi orang yang mungkin perlu mendengarkan kisahnya dari awal. Mamanya, adiknya dan mungkin mamanya Rayshaka.
Hahh ... perjalanan masih panjang.
*****
__ADS_1