My Super Cool Boss

My Super Cool Boss
Bertemu calon mertua.


__ADS_3

Kaina's PoV


Saat berpamitan dengan semua orang kantor tadi, ada sebersit rasa sedih di hatiku. Meskipun cuma sebentar, nostalgia itu memberikan kesan yang sangat baik untukku.


Aku dan Ray sudah di mobil lagi, menuju Tasikmalaya. Katanya dia sudah mulai nervous karena akan ketemu mama dan adikku. Oleh karena itu aku berusaha memberikan ketenangan dengan mempererat genggaman tanganku di tangannya.


"Tadi oleh-olehnya enggak ketinggalan kan? "


"Sayangggg, kamu sudah nanyain itu berapa kali? Sudah sayang, sudah di bagasi kok," aku tertawa lucu sambil mengecup punggung tangannya.


"Hahahaha ... gila, aku nervous banget ini."


"Tenang saja sayang, everythings gonna be ok," kataku lembut. Kasihan sekali dia gugup begitu. Padahal aku sudah bilang kalau keluargaku tidak akan mencakarnya. Apalagi menelannya hidup-hidup.


"Iya sayang. Selama aku sama kamu, aku yakin semua akan baik-baik saja."


"Lebaayyyyy!" terkadang kalimat-kalimat seperti itu seringnya membuatku geli daripada senang.


"Ih, aku serius, jangan diledekin dong," Ray menarik tanganku, mengecup punggungnya, kemudian meletakkannya di atas perutnya.


"Hahaha. Habisnya aku enggak nyangka, seorang Rayshaka bisa nervous juga. Padahal cuma mau ketemu mama doang."


"Itu enggak cuma, sayangku. Kalau aku ketemu client besar, terus gagal dapatin project-nya, itu masih hal biasa, aku masih bisa cari yang lain. Tapi kalau ketemu calon mertua dan enggak kasih restu ke aku, gimana? Aku cari kamu kemana lagi?"


Aku benar-benar tertawa, sekaligus tersanjung mendengarnya. Setakut itu dia jika mamaku tidak merestui.


"Makasih ya sayang, aku tersanjung loh," kulepas genggamanku hanya untuk mengelus pipinya yang bersih.


"Cium dong."


"Apaan. Ini jalan raya ih!"


"Buruan! Mumpung sepi nih!" dia mencondongkan pipinya ke arahku, sementara matanya masih tetap melihat ke jalan raya.


Terkadang aku kelimpungan menghadapi tingkah kekasihku m ini. Terkadang jaim terkadang pecicilan. Kalau keinginannya tidak dipenuhi, dia pasti akan ngambek seperti anak kecil. Kalau sekarang minta kiss sementara lagi di jalan raya, kan aku serba salah.


Cupp!


Mau tidak mau aku mengecup pipinya. Dengan cepat, yang membuat senyum sumbringahnya langsung terkembang. Lagi-lagi kedua matanya mengecil karena tertawa.


Setelah itu dia menggenggam tanganku lagi lalu menciuminya. Bagaimana aku tidak kasmaran terus kalau bersamanya?


*****


Perjalanan tiga jam menuju Tasikmalaya tidak terasa karena aku dan Ray banyak ngobrol tentang ini itu. Kebanyakan masih tentang masa lalu kami. Aku suka saat dia yang memulai pembicaraan tentang itu. Itu menunjukkan bahwa dia pun menyimpan sejuta kenangan tentang kami di masa dulu. Bukan hanya aku saja.


Sebentar lagi kami akan tiba di rumahku. Ray sama sekali tidak menanyakan soal arah jalan ke rumah, karena dia masih ingat saat pernah datang ke sini untuk mencariku. Lagi-lagi Ray mengungkapkan rasa gugupnya. Akucpun melihat raut wajahnya yang sedikit memucat. Ingin ku tertawa, tapi terlalu kasihan. Aku hanya bisa membantu menenangkan dia dengan genggaman seperti tadi.

__ADS_1


Saat akhirnya mobil kami berhenti di depan rumah. Mama dan Kayla sudah menunggu di depan. Aku mengajak Ray keluar.


"Oh my God ! Sayang, aku takut."


"Hahaha ... ayo sayang. Mama sama Kayla baik kok."


Aku turun duluan dari mobil, lalu menghambur ke pelukan mama dan adikku.


"Kamu sehat kan sayang?" tanya mama setengah berbisik.


"Sehat kok ma. Mama dan Kayla sehat kan?"


"Sehat, Kak ..." Kayla menyahut.


Setelah beberapa saat, aku melepaskan pelukanku dan membalikkan badan. Aku melihat Ray sudah berdiri di sisi mobil dan melemparkan senyum ke arah kami.


"Sini ..." aku memanggil lembut.


Kekasihku itu melangkah mendekat. Dari raut wajahnya aku tahu kalau dia masih dikuasai rasa gugupnya, namun dia berusaha menyembunyikannya.


"Mama, Kayla, kenalin, ini Rayshaka."


"Halo Tante. Rayshaka" dia mengulurkan tangannya pada mama. Mama menyambut dengan senyum hangatnya.


"Halo nak Ray. Ternyata kamu lebih cakep dari yang diceritakan Kaina."


"Ah, tante. Biasa saja kok tante," aku melihat mata Ray menghilang lagi saat dia tertawa.


"Halo Kak Ray. Sehat kok, Kak," Kayla membalas uluran tangan Ray.


"Ayo masuk masuk. Mama sudah masakin untuk makan malam. Kalian menginap kan ?"


"Iya ma, menginap kok."


Sebelum kami masuk ke rumah, aku dan Ray kembali sebentar untuk mengambil oleh-oleh dari bagasi mobil.


"Makasih sayang ..." Ray sempat menatapku lega saat kami berada di belakang mobil.


"Aku yang makasih sayang, kamu sudah berani ketemu mama dan Kayla."


"I love you ..." katanya pelan penuh arti.


"I love you more, baby ..." kusempatkan mengelus pipinya sebentar sambil mengucapkan cinta dengan tulus. Ia balas mencium tanganku dan melemparkan ciuman lewat udara.


*****


Author's PoV

__ADS_1


Kaina dan Rayshaka mengambil giliran untuk menggunakan kamar mandi. Saat Kaina mandi, Ray mengobrol dengan ibu Kaina. Kecanggungannya sudah hilang saat mendapati sambutan keluarga Kaina yang begitu hangat untuknya.


Rayshaka merasa beruntung karena ibu calon mertuanya cukup bisa diajak berbincang banyak hal. Dia jadi tidak mati gaya kalau harus diam-diam saja. Tinggal cukup jauh dari kota besar tidak mengurungkan hasrat beliau untuk tahu banyak hal. Dia rajin membaca koran untuk mengetahui apa saja yang sedang update di jagad Indonesia Raya ini. Rayshaka sampai merasa malu pada dirinya sendiri karena ada beberapa informasi yang dia sendiri tidak tahu namun ibu Kaina tahu.


Sekitar pukul delapan malam, mereka makan malam bersama. Hidangan ala kadarnya yang sudah dipersiapkan calon mertuanya membuat Ray merasa sangat dihargai dan dihormati. Jika Kaina dirawat dan dibesarkan di rumah yang penuh cinta ini, dia yakin kelak anak-anak mereka pun pasti akan tumbuh besar dengan penuh cinta, karena ibunya adalah Kaina Larasati.


"Jadi rencana kalian kedepannya seperti apa, Ray?" Mama bertanya ringan di sela-sela makan mereka.


"Jadi begini, Tante. Besok saya juga akan bawa Kaina untuk dikenalin ke orangtua saya. Setelah saling kenal, saya rencananya akan langsung ajak orangtua saya ke sini untuk lamaran, Tante."


Mama mengangguk-angguk.


"Kaina sudah siap untuk berkomitmen bersama Ray?" kini mama balik bertanya pada Kaina.


"Sudah, Ma."


"Baiklah ... kalau kalian sudah sepakat dan benar-benar sudah siap, mama merestui. Besok, tolong titipkan salam mama pada calon besan mama di Bandung."


"Makasih, Tante," Rayshaka spontan bergerak untuk memeluk mamanya Kaina dari belakang. Kaina dan Kayla sampai terkejut bukan main, namun akhirnya tertawa bahagia.


Kaina juga nyaris tidak bisa menyelesaikan makannya karena perasaan senang yang membuncah di dalam hati. Rasanya ingin segera menghambur ke pelukan Rayshaka dan meluapkan rasa bahagianya.


Setelah selesai makan, mereka berempat masih melanjutkan obrolan yang sudah sampai entah dimana. Mereka membahas usaha taylor Kayla yang semakin berkembang. Mereka juga membahas perkembangan kota Tasikmalaya yang terbilang lumayan pesat. Salah satunya kebersihan kota semakin kesini semakin diperhatikan oleh semua warga Tasikmalaya.


Mereka juga tak lupa membahas awal hubungan Kaina dan Rayshaka. Kaina kembali bercerita dengan santai, karena sudah hafal setiap runutan peristiwa-peristiwa yang mereka alami.


*****


Pukul sepuluh malam, Ray sudah berbaring di kamar tamu. Kamar yang tidak terlalu luas, namun cukup nyaman untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Dia memandangi seisi kamar ber cat putih bersih itu. Beberapa pigura menggantung menghiasi tembok. Ray tergoda untuk melihat foto-foto itu. Sepertinya foto-foto keluarga.


Ada foto Kaina dan Kayla sewaktu masih remaja. Ada foto Kaina bersama ibunya. Ada foto Kayla dan Kaina sendiri-sendiri. Ada foto keluarga bersama almarhum ayah Kaina.


Ray tersenyum mendapati foto Kaina kecil dan Kaina saat masih remaja. Kesempatan besar untuk mengabadikannya sekarang. Dia pun mengambil ponselnya, lalu menjepret pigura-pigura foto itu beberapa kali.


Setelah itu dia mengirim salah satu foto masa kecil Kaina ke WhatsApp kekasihnya itu.


Rayshaka : 10.14 "Hello, little Kaina ... 😘😘"


Selang dua menit kemudian, Kaina membaca pesannya dan langsung mengirim balasan.


Kaina : 10.16 "Ih sayanggggg ... foto jadul banget 🤣🤣🤣."


Rayshaka : 10.16 "Dari kecil sudah cantik."


Kaina : 10.17 "Sayangku bisa aja. Jadi malu... 😅😅"

__ADS_1


Mereka masih saling berkirim pesan sampai Kaina bilang dia sudah mengantuk. Seperti biasa, Ray selalu mengucapkan kata cinta untuknya, sebagai pengantar tidur.


*****


__ADS_2