My Super Cool Boss

My Super Cool Boss
Mengungkap kebenaran.


__ADS_3

Sebastian's PoV


Seperti yang sudah pernah terpikirkan olehku sebelumnya, perihal kejanggalan yang terjadi di team sales-ku beberapa waktu yang lalu, aku sudah berniat mencari tahu apa yang terjadi. Meskipun Ferdi dan Kaina sudah tidak di sini aku tetap penasaran dan tidak bisa tidur sampai mengetahui kebenarannya.


Satu minggu setelah Kaina resign, aku mulai mengumpulkan data-data yang kubutuhkan dari orang-oang terdekat mereka di kantor.


Keisha, adalah salah satu narasumber yang sangat membantuku. Dia memaparkan banyak cerita yang membenarkan dugaanku bahwa Rayshaka dan Kaina sempat punya hubungan dekat, sebelum mereka bertengkar. Namun sayangnya Keisha juga tidak pernah mendengar cerita dari Kaina perihal penyebab Raysahaka marah besar waktu itu. Bahkan sepertinya Kaina pun tidak tahu kenapa.


Aku juga diam-diam mendatangi kos-kosan lama Kaina untuk bertemu dengan Rosa. Kebetulan aku mendapat nomor kontak Rosa karena dia ikut gathering kantor waktu itu dan datanya masih ada di arsip.


Aku juga mendengar banyak cerita dari Rosa. Hampir sama dengan yang aku dapat dari Keisha. Hanya saja aku mendapat sedikit clue tambahan bahwa Ray dan Kaina sudah sampai di tahap yang sedikit mendalam. Mereka sudah pernah kissing dan sejujurnya aku cukup surprise mengetahui itu. Rosa juga bercerita tentang Kaina yang dipeluk Ray serta Ferdi dalam malam yang sama. Itu berarti kerumitan hubungan mereka bertiga sudah lebih jauh dari yang aku bayangkan. Membuatku semakin yakin ada yang tidak beres selama ini.


Aku sedikit merasa kecolongan, karena tidak mengetahui hal ini sama sekali. Aku mengira team yang ku anggap team paling solid yang pernah ada itu benar-benar pure hanya berteman. Aku sama sekali tidak bisa membaca makna dari kedekatan mereka selama ini.


Aku sudah mengantongi banyak fakta perihal hubungan asmara segitiga di antara Ray, Kaina dan Ferdi. Setelah itu aku masih harus mencari tahu mengapa Ferdi harus resign. Tanpa aba-aba dan terkesan sangat dadakan. Setelah gathering, dia bahkan sudah tidak masuk kantor lagi.


Di tengah upayaku untuk mencari cara, hal yang tidak terduga terjadi. Sama sekali tidak pernah kepikiran ke sana, tapi itulah awal aku menemukan semua jawabannya.


Franklin, owner Nirvana ressort kebetulan meneleponku untuk buka orderan tisu. Perbincangan kami biasanya memang tidak hanya sekedar urusan tisu. Terkadang kami membahas beberapa isu yang sedang ramai diperbincangkan di sosial media. Politik dan pemerintahan misalnya. Aku dan Franklin memang suka bertukar pendapat, namun kami tidak pernah berniat membuat kesimpulan di akhir obrolan kami.


Setelah itu Franklin bertanya tentang Rayshaka dan Ferdi. Aku sedikit terkejut ketika dia tahu Ferdi. Karena seingatku, aku sama sekali tidak pernah menyinggung Nirvana Ressort pada Ferdi.


Kemudian aku mengingat pernah menyuruh Ferdi survey pasar ke Cirebon. Apakah saat itu Ferdi tanpa sengaja tahu ada Nirvana dan kunjungan ke sana?


Seperti mengetahui isi pikiranku, Franklin justru memberitahu bahwa Ferdi adalah anak dari rekan bisnisnya. Franklin juga menceritakan perihal Ferdi yang datang ke ressort-nya untuk menjalin kerjasama. Franklin juga tidak lupa menceritakan bahwa Ferdi mendatanginya dengan mengusung nama ayahnya. Bukan sebagai sales Nirvana.


Aku terpaku. Hampir tidak bisa berkata-kata beberapa saat.


Jadi seperti itu ceritanya.


*****


Setelah mengetahui fakta itu, aku lagi-lagi berpikir keras, mengapa Ferdi harus sampai se menyerah itu sampai harus resign.


Mungkin dia kecewa karena Franklin justru melihat kerja keras Ray, bukannya mengutamakan hubungan baik dengan papanya.


Mengapa kekecewaan yang seperti itu harus menamparnya dengan sangat keras sampai harus berhenti, seakan-akan pencapaian baiknya yang lain di kantor ini tidak berarti.


Apakah yang terjadi saat gathering itu?


Mengapa di antara ratusan orang yang makan dari katering ya sama, hanya Kaina yang keracunan makanan?


Aku semakin tidak betah duduk berlama-lama. Aku selalu gusar setiap kali melihat Ray lewat dari ruanganku. Aku penasaran apakah Ray juga tahu jika Ferdi ternyata pernah berusaha mencuranginya?


Jika tidak, ini benar-benar gila.


*****


Pagi ini aku sengaja datang lebih awal ke kantor. Aku ada janji dengan pihak IT untuk mengecek history cctv kantor. Aku ingin melihat apakah ada yang mencurigakan terjadi di ruangan sales pada waktu-waktu itu.


Dan penemuanku pagi ini sungguh membuatku gemetar setelahnya.


*****


Sebelum makan siang, aku menelepon line ruangan Rayshaka. Aku memintanya saat jam makan siang untuk datang ke ruanganku.


Jam duabelas siang, kudengar ketukan di pintu. Rayshaka muncul setelah aku mengizinkannya masuk.


"Lu enggak makan siang Ray?"


"Tadinya mau makan bos, tapi bos telepon suruh ke sini."


Kami berdua tertawa kecil. Basa-basi yang tidak penting seperti itu memang sudah menjadi budaya kami. Aku yang memanggilnya saat jam makan siang, ya impossible dia masih sempat makan dulu. Kira-kira begitu.


"So, Ray ... bagaimana Randy dan Jenni?" aku menyebutkan nama sales dan telemarketing baru kami. Pengganti Ferdi dan Kaina.


"Masih oke bos, so far."


"Oke-an mana, Kaina atau Jenni?"


Rayshaka tergelak. Aku tidak pernah berhenti menggodanya soal Kaina. Sampai saat ini. Apalagi setelah aku tahu kalau dia dan Kaina sudah sampai di level sentuhan fisik yang sensual. Ini pasti pukulan keras bagi Ray.


"Si bos kayak enggak tahu saja," katanya melempar umpan balik. Aku jadi ikut tertawa.


"Yaa, gua sih sama-sama saja Ray. Kan gua tanya elu. Siapa tau Kaina punya kesan yang lebih buat lu."


Kami semakin tergelak mendengar ocehanku sendiri. Sesungguhya aku sedang bingung, ingin memulai obrolan seriusku dari mana.


"Ehm ... oke. Sekarang Serius," aku medehem, "Ray..."


"Ya, Bos?"


"Lu tau nggak, kalau dulu ... Ferdi juga pernah datang ke Franklin?"


Kalimat pertamaku sukses membuat Rayshaka mengernyitkan keningnya.


"Nirvana? Bos tahu darimana?"


Aku menyodorkan sebuah map berwarna kuning ke hadapan Ray, "Ini Franklin yang kirim ke kantor."


Rayshaka dengan cekatan membuka map itu dan membaca isinya. Dengan teliti dan seksama.


Setelah paham semua isinya, wajahnya sedikit memerah karena bingung.

__ADS_1


"Ini tanggal 12 Juni. Berarti pas dia gua suruh survey pasar ke Cirebon. Itu sebelum kita gathering Ray."


Ray masih tidak berhenti menatap wajahku.


"Gini gini ... gua mau jelasin dari awal kenapa gua bisa ketemu ini. Oke?"


Ray tidak bersuara, tapi mengangguk pelan.


"Jadi ini berawal dari kecurigaan gua, saat Ferdi mendadak resign. Enggak ada angin, atau hujan, pokoknya setelah gathering dia enggak ke kantor lagi. Dia mengajukan resign hanya lewat WhatsApp ke gua, dengan alasan disuruh orangtua. Lu juga pasti dapat chat begitu kan dari Ferdi?"


Ray mengangguk lagi.


"Yang kedua, Kaina keracunan makanan. Di antara banyaknya orang yang makan makanan yang sama, kenapa hanya Kaina yang keracunan? Bahkan Dokter bilang dia keracunannya parah sekali. Bukan sejenis keracunan ringan semisal karena makanan basi atau berjamur. Sepertinya Kaina mengkonsumsi zat pencuci perut. Entah sengaja atau tidak."


Aku menarik nafas sebentar.


"Nah, pas gua lagi mikir hubungan dua fakta sebelumnya, muncul ini, yang ketiga," aku mengetuk-ngetukkan jariku di atas map kuning yang ada di depan Ray, "Pas lagi teleponan sama Franklin soal orderan, tiba-tiba dia cerita soal Ferdi ke gua. Lu tau enggak, kalau bokapnya Ferdi ternyata temannya Franklin?"


"Serius, Bos??" ekspresi Rayshaka tidak berbeda denganku saat pertama kali tahu fakta ini.


"Yes. Franklin cerita ke gua dan bilang kalau Ferdi ke sana pakai power bokapnya. Gila enggak?"


....


"Persoalannya, gua bingung kenapa Ferdi bisa kepikiran ke Nirvana. I mean, kalau pun dia survey pasar, impossible kalau bisa ketemu Nirvana hanya karena kebetulan lewat. Betul? Nah, pagi ini, gua menemukan fakta lagi. Siap-siap tercengang lu, Pak."


Aku menggeser laptop-ku agar Ray juga bisa melihat apa yang akan kutunjukan.


"Ini rekaman cctv tanggal 2 Juni. Hari pertama kita masuk kerja setelah libur lebaran. Jam 7.50, dimana sepertinya kamu belum sampai di kantor. Sepertinya kamu telat bangun karena terlena dengan liburanmu bersama Kaina ya?"


Wajah tegang Ray berubah saat mendengar kalimatku yang terakhir. Tentu saja aku tahu dari Rosa.


"Bos tahu darimana? Ah si bos punya banyak mata-mata nih," dia tertawa menutupi rasa malunya. Wajahnya semakin memerah.


"Ada deh. Hahaha. Oke, kembali ke laptop. Jadi pagi itu Ferdi menemukan sesuatu di meja kerja lu. Coba lihat? Map apa yang dia buka."


Rayshaka mencondongkan badannya supaya bisa melihat rekaman itu dengan jelas. Di layar terlihat Ferdi berjalan menuju meja kerjanya dan melihat-lihat semua tumpukan map miliknya. Tidak ada yang menarik perhatian Ferdi, sampai dia menyentuh sebuah map berwarna merah hati dan membacanya cukup lama.


"Itu map proposal kita ke pak Franklin, Bos."


"Yes ! Absolutely ! Lihat apa yang dia lakukan berikutnya ...."


Ray menatap layar lagi. Melihat Ferdi meletakkan map tersebut. Lalu merogoh saku celananya. Mengeluarkan smartphone dan mengambil foto di atas map miliknya. Ferdi tidak melewatkan selembar pun.


Ray melongo ... belum sepenuhnya sadar apa yang dilakukan Ferdi.


"Menurut gua, dia tahu kalau lu lagi pendekatan sama Nirvana dan kebetulan dia kenal si Franklin. Jadi ini kesempatan untuk dapat promosi dengan cara yang gampang."


Ray masih bergeming. Sepertinya ucapanku sangat mengejutkan baginya.


Aku melanjutkan menunjukkan rekaman lain kepada Ray. Dimana saat itu Kaina sedang ada di ruangan sales dan bersih-bersih meja Ray. Tidak lama kemudian dia beralih ke meja kerja Ferdi. Melakukan hal yang sama, bersih-bersih. Selang beberapa saat kemudian, dia membuka sebuah map. Membaca isinya, lalu meletakkannya kembali.


"Loh, itu kan map ini, Bos?" Ray mengetuk map kuning yang diberikan Franklin padaku.


Aku mengangguk.


"Jadi, Kaina tahu kalau Ferdi juga punya misi yang sama dengan lu, Pak."


Seketika Ray bereaksi terkejut sambil meremas rambutnya.


"Bos, pantasan saja," ujarnya dengan mata membulat.


"Pantasan apanya, Ray?"


"Beberapa waktu yang lalu, saya dan Kaina pernah membahas ini. Dia tanya apa Ferdi tahu soal Nirvana atau tidak. Tapi waktu itu Kaina enggak jelas maksud dan tujuannya nanyain itu apa."


Aku dan Ray terdiam sesaat.


"Lantas, hubungan ini dengan Kaina keracunan, apa bos?"


Lamunanku buyar ....


"Oh iya ... begini Ray. Ini masih firasat dan analisa gua. Karena ini masih ngambang juga."


....


"Mungkin, saat lu dapat kabar dari Nirvana, pas kita masih di Cisarua, Ferdi juga mendapat kabar penolakan dari Franklin. Kemungkinan saat itu dia marah dan berusaha meracuni elu, tapi yang kena malahan Kaina. Apa mungkin begitu?"


Ray terdiam sebentar. Mencoba mengulang memorinya ke peristiwa 1 bulan lalu.


Aku mengamati dia.


"Astaga bos!!!" lagi-lagi reaksinya mengagetkan.


"Kenapa? Ingat sesuatu?"


"Fany bos! Telepon Fany!"


"Kenapa? Kenapa dengan Fany?"


Bukannya menjawab pertanyaanku, Ray malah bangkit dan mondar-mandir dengan gusar sambil mengusap wajahnya. Aku pun meraih gagang telepon dan memanggil Fany ke ruangan.


Deru nafas Ray menggebu seperti ada amarah yang tiba-tiba membuncah dalam dirinya.

__ADS_1


"Lu kenapa, Pak? Tenang dulu," aku mencoba menenangkan. Ketakutan Ray seolah-olah mempengaruhiku juga.


"Kalau iya, si Fany kurang ajar nih, Bos," katanya.


"Maksudnya apa, Pak?"


Suara pintu di ketuk membuat aku dan Ray sama-sama menoleh. Ray tidak menjawab pertanyaanku. Aku mempersilahkan Fany masuk.


"Bapak memanggil saya, Pak?" dia memulai dengan gugup.


"Duduk, Fan," aku mempersilahkan.


Setelah Fany duduk, aku melirik Ray. Ekspresinya yang menyeramkan kurasa sudah mempengaruhi Fany juga. Aura ruangan ini sudah jelek saat dia membuka pintu.


"Kamu lagi banyak kerjaan, Fan?" aku memulai dengan pertanyaan simpel.


"Enggak terlalu, Pak."


"Oh ... baguslah. Ehmm . .." pikiranku seketika buntu. Harus bertanya dari mana dulu.


"Begini Fan, saya ... butuh bantuan kamu ...."


"Bantu apa, Pak?


"Ehm ..." aku berdehem lagi. Baru kali ini jantungku berdebar hanya untuk melontarkan satu pertanyaan simpel. Karena aku takut jika Fany memang terlibat disini.


"Kamu ... apa ada tahu sesuatu tentang peristiwa yang terjadi di gathering kita waktu itu?"


Air muka Fany langsung berubah.


Aku menatap lurus kedua bola matanya.


"S ... sa ... saya ..."


"Kamu kemarin di bagian dapur kan? Apa kamu tahu sesuatu yang janggal dengan Ferdi?"


Bibir Fany bergetar. Gerahamnya juga terdengar saling beradu. Dia tiba-tiba menggigil.


Ray dengan tidak sabar bergerak mendekati Fany.


"Waktu itu lu sengaja hanya membawa 4 gelas air minum, dengan cara agar 1 gelasnya lagi kamu bisa racunin dan kasih buat Kaina, benar??"


Fany semakin ketakutan. Nafasnya terengah-engah. Sama sekali tidak berani menoleh ke arah suara Ray.


"Tapi saat itu mungkin Ferdi menyadari lu mengganti rencana, sehingga dia dengan cekatan memberikan air minum gua yang bersih ke Kaina supaya air yang lu bawa tetap gua yang minum."


....


"Ohhh ... dan sepertinya Kaina sudah menyadari rencana kalian, sehingga dia meminum kedua gelas itu seperti orang yang kesetanan. Benar Fan??!!!"


Suara Ray sudah semakin meninggi. Tapi aku tak kuasa menahan dia, karena sejujurnya akupun tidak menyangka jika benar itu yang terjadi.


Fany tertegun dalam pikirannya yang kalut. Sepertinya dia tidak sanggup berkata-kata.


"Jawab Fan!!" Ray menggebrak meja kerjaku, membuat air mata Fany terjatuh seiring dengan isak tangis yang mulai terdengar.


"Ferdi yang suruh saya, Pak," akhirnya pengakuan itu keluar dari mulutnya yang sedari tadi berusaha bungkam.


"Ferdi kesal karena Pak Ray yang lolos masuk ke Nirvana Ressort, sementara dia tidak. Ferdi juga kesal karena pak Ray dan Kaina menghabiskan malam di bungalow Kaina waktu itu."


Aku dan Ray terperanjat. Mungkin dia kaget karena Ferdi membeberakan semuanya ke Fany. Seharusnya Ferdi paham kalau Fany itu biang segala gosip di kantor. Aku pun berpikir, kalau-kalau selama ini seisi kantor sudah mengetahui soal malam Ray menginap di kamar Kaina dan Rosa. Sementara aku sendiri pun baru tahu dari Rosa beberapa waktu lalu.


"Lantas, kamu mengubah rencana Ferdi. Seharusnya kamu meracuni Ray. Tapi kenapa justru sebaliknya ingin meracuni Kaina?"


Fany menangis menggeleng-geleng.


"Maafkan saya, Pak. Saya khilaf," tangisnya pilu.


"Kenapa? Lu ada dendam pribadi sama Kaina?" Ray mendesak lagi.


"E ... enggak ada, Pak."


"Terus kenapa?? Jawan Fan! Sebelum kesabaran gua habis! Gila lu yah, tega ngeracunin temen sendiri!"


"Eh ... Fan ... berarti, kamu sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi, tapi kamu masih bisa santai saat jenguk Kaina di Rumah Sakit. Hebat loh kamu," aku tidak bisa menutupi rasa takjubku kepada Fany. Dimana rasa kemanusiaannya? Setahuku dia dan Aina tidak ada masalah apa-apa.


"K ... ka ... karena ... Ka ... Kaina ... de ... dekat dengan pak Ray ...."


Rayshaka meremas rambutnya kasar. Wajahnya sudah memerah, matanya pun demikian. Frustasinya memuncak mendengar alasan itu.


"Gila lu. Benar-benar pshyco !" Ray sepertinya tidak sanggup menahan diri lagi. Dia beranjak cepat dan meninggalkan ruanganku.


Sepeninggal Ray, aku masih terdiam memandangi Fany yang masih terisak. Aku kehabisan suara. Tidak satu kata pun yang terlintas di benakku untuk memulai pembicaraan kami.


"Kamu ... boleh balik ke ruangan kamu dulu Fan," akhirnya aku menyerah. Tidak kuasa juga melihatnya menangis di hadapanku. Lagian aku pun belum tahu apa yang harus kuperbuat.


Fany berdiri dengan langkah yang berat. Dia meminta maaf lagi sebelum akhirnya keluar.


Aku menghembuskan nafas berat. Kecurigaannku yang ternyata beralasan, akhirnya sampai pada ujungnya. Dan ku akui ini menyakitkan.


Menyakitkan saat aku mengetahui pengorbanan besar yang sudah dilakukan Kaina kepada Rayshaka. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui itu, selain Ferdi dan Fany. Bahkan dia harus pergi karena Ray sudah menyakitinya.


Kaina ... dimana dia sekarang?

__ADS_1


*****


__ADS_2