My Super Cool Boss

My Super Cool Boss
Bertemu kembali.


__ADS_3

Author's PoV


Dua tahun kemudian ...


Jam di ruangan kerja Rayshaka sudah menunjukkan pukul delapan malam. Pria itu melirik benda bulat itu sebentar, lalu kembali fokus ke layar komputer di hadapannya. Jemarinya masih menari-nari menyelesaikan halaman pengajuan insentif karyawan yang harus segera disetor ke kantor pusat lewat email hari ini.


Rayshaka ... setelah berhasil memenuhi persyaratan dari perusahaan waktu itu, pihak manajemen menepati janjinya untuk memberinya kenaikan jabatan. Tidak tanggung-tanggung, dia diangkat menjadi Area Sales Manager se-Jawa Barat. Saat ini Raysahaka bertanggungjawab atas penjualan lima cabang Nagata Paper di Jawa Barat, yaitu : Bandung, Bogor, Cirebon, Bekasi dan Karawang.


Aktivitas Ray semakin padat karena harus membagi waktunya kunjungan rutin ke lima area tersebut. Dalam dua minggu biasanya dia fokus di Bekasi, Bogor dan Karawang. Lalu sisa bulan dia fokus di Bandung dan Cirebon.


Ray jadi jarang terlihat stay di kantor. Tanggungjawabnya yang besar mengharuskan dia aktif di lapangan. Memberi edukasi kepada semua supervisor dan sales-nya, secara teori dan praktek di lapangan.


Kebetulan saat ini Rayshaka sedang berada di kantor cabang Bekasi. Selain untuk kunjungan rutin, Ray juga sengaja memperpanjang waktunya di sana karena kebetulan punya prospekan yang lumayan menggiurkan. Ada mall besar yang baru dibuka dan sedang membuka tender untuk supplier tisu. Rayshaka sudah mempersiapkan proposalnya dan tidak sabar untuk menghadiri rapat umumnya besok.


Pukul sembilan kurang sepuluh menit, Ray membereskan meja kerjanya. Mematikan komputer, merapihkan kursi dan mematikan lampu. Saat dia keluar dari ruangannya, seperti biasa kantor sudah kosong dan sepi. Yang tersisa hanya office boy yang sudah terkantuk-kantuk menunggunya pulang.


"Arif ..." Rayshaka memanggil nama OB itu sampai ia terlonjak dari tidurnya.


"Eh iya, Pak. Maaf saya ketiduran," Arif bangun sambil garuk-garuk kepala.


"Tidak apa-apa. Maaf sudah membuat kamu menunggu lama. Ini saya sudah mau pulang. Kamu jangan lupa cek-cek semua ya, baru dikunci."


"Baik, Pak."


Sebelum keluar dari kantor, seperti biasa Ray memberikan selembar uang seratus ribu rupiah kepada Arif. Ray tahu gaji OB di perusahaannya tidak besar. Jadi Ray berharap sedikit tip harian yang dia berikan bisa membantu kelangsungan hidup keluarga Arif.


Sambil pulang menuju apartemennya, Ray singgah membeli makanan cepat saji drive thru yang tidak jauh dari kantor. Cacing di dalam perutnya sudah berontak minta di isi.


*****


Rayshaka's PoV

__ADS_1


Siang ini aku sudah berada di dalam sebuah ballroom besar Ariana Bekasi Mall tempat pengumuman tender akan dilaksanakan. Sebentar lagi team purchasing mall ini akan memberitahukan siapa saja pemenang beberapa tender yang sudah mereka selenggarakan sejak dua minggu yang lalu. Selain tender supplier tisu untuk keperluan toilet seluruh mall, setahuku juga ada tender cairan pembersih lantai dan kaca, juga sabun pencuci tangan.


Dimana pun aku berada, aku selalu berusaha berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekelilingku. Mencoba berbaur dan bertukar ilmu mumpung acara belum di mulai. Termasuk saat ini.


Setahuku, untuk segmen tisu, aku bersaing dengan 10 merek lainnya. Mulai dari merek yang sudah terkenal di seluruh kalangan masyarakat, hingga merek baru yang bahkan aku pun baru mengenalnya sekitar dua minggu belakangan. Setelah aku ikut tender ini. Meskipun demikian, tidak menyulutkan optimisku bahwa Nagata akan memenangkan tender ini.


Aku bisa membayangkan jika benar isu tentang rencana owner Ariana akan membuka cabang-cabangnya di kota lain dan kami akan menjadi satu-satunya supplier tisu mereka. Produk Nagata pasti akan semakin dikenal banyak orang di seluruh pelosok Negeri.


"Eh, punya nomor telepon purchasing-nya enggak? Dengar-dengar cantik orangnya," salah satu pria dari perusahaan sabun pencuci tangan yang sedang berkumpul bersamaku menyeletuk sambil bersenda gurau.


"Oh ya? Serius, Bro?" timpal seorang lagi yang rambutnya seperti dikasih minyak jelantah.


"Iya ... siapa itu namanya. Kiara ... atau Kiana, eh coba lihat di brosur, ada kok."


Aku masih tidak tertarik untuk menimpali, saat salah satu dari mereka membuka brosur acara tersebut dan mencari nama purchasing cantik yang dimaksud.


"Kaina Larasati namanya ..." orang tersebut pun mengklarifikasi nama yang benar. Seiring dengan detak jantungku yang mendadak berhenti.


Seakan tidak percaya, aku membuka brosur milikku sendiri dan memastikan jika nama yang disebutkan temanku tadi benar adalah Kaina yang ada di dalam kepalaku. Dan saat aku membacanya sendiri, ada rasa senang dan terkejut yang mendadak bercampur aduk di dalam dadaku.


Apakah Kaina Larasati yang ini adalah Kaina Larasati yang pernah aku kenal?


Jika iya, bagaimana jika aku muncul di hadapannya nanti? Apakah Kaina akan mengenaliku?


Jika iya itu Kaina yang pernah menjadi telemarketing-ku, sudah pasti dia mengetahui jika aku juga hadir hari ini. Apakah dia sudah mengetahui itu?


Sekujur tubuhku berubah gemetar, menggigil hebat melebih-lebihi saat dipanggil ke ruangan General Manager untuk dimarahi habis-habisan.


Suara mikrofon diketuk membuyarkan kerumunan orang-orang. Semuanya bergerak untuk kembali ke tempat duduk masing-masing, termasuk aku sendiri.


Master of Ceremony (MC) acara sudah berdiri di atas panggung bersama dengan seluruh jajaran pemimpin mall Ariana. MC mengucapkan salam pembuka singkat. Setelah itu dia mempersilahkan Direktur Utama untuk memberikan kata sambutan kepada semua hadirin.

__ADS_1


Aku menyapukan pandang ke seluruh panggung. Mencari-cari sosok yang membuatku berdebar tidak karuan.


Nihil.


Aku menghembuskan nafas lega dan tersenyum kecil, menertawakan diriku sendiri. Debaran jantungku ternyata tidak beralasan.


Acara demi acara berjalan dengan lancar. Kata-kata sambutan, pengenalan semua merchant yang ada di Ariana, penjelasan ulang tender secara singkat, hingga akhirnya tiba di acara puncak, pengumuman pemenang tender.


Kali ini debaran di jantungku muncul lagi. Tidak sabaran mendengar nama Nagata Paper disebutkan dan aku maju ke depan untuk menerima surat kontrak secara simbolis. Entah kenapa aku bisa se-optimis ini, apalagi setelah tahu kalau purchasing-nya adalah Kaina.


*****


Author's PoV


Optimis Ray ternyata sangat beralasan. Dewi Fortuna benar-benar menyertainya hingga Nagata Paper benar memenangkan tender tersebut. Tepuk tangan para hadirin, termasuk sepuluh perusahaan pesaingnya mengiringi langkahnya menaiki panggung yang begitu megah.


Senyum dan tawa tidak henti-hentinya menghiasi wajah Ray saat menerima map kontrak secara simbolis dari sang Purchasing Manager. Sesi pemotretan pun dilakukan sebentar antara Rayshaka dan sejumlah pihak yang berwenang.


Rayshaka masih tidak berhenti menebar senyumnya ke seluruh penjuru ruangan, hingga saat kedua bola matanya tidak sengaja bertumbukan dengan sorot mata seorang wanita yang duduk di sebuah meja bundar di hadapannya. Di atas meja tersebut tertulis label "Team Purchasing ". Sepertinya sepasang mata itu sudah mengamatinya sejak naik ke panggung tadi. Tampak saat pandangan Ray tidak sengaja bertemu dengannya, dia sedikit terkejut dan secara spontan membuang pandang ke arah lain.


Degupan keras di dada Ray muncul lagi. Kali ini sensasinya seperti akan bertemu calon gebetan untuk pertama kali.


Hingga Ray turun dari panggung, orang itu tidak berani lagi memandangnya. Dia tiba-tiba sibuk dengan ponselnya.


Setelah Ray kembali ke tempat duduknya, satu-satunya hal yang dilakukannya hingga acara selesai adalah memandangi punggung perempuan itu dari belakang.


Padahal sedari tadi Ray sudah melihat sosok dengan rambut dikuncir kuda dan diberi ikat rambut berpita biru itu dari tempat duduknya. Tapi dia sama sekali tidak tahu bahwa itu Kaina.


Bibir Ray tertarik kecil. Akhirnya dia menemukan gadis itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2