My Super Cool Boss

My Super Cool Boss
Pendekatan kembali.


__ADS_3

Author's PoV


Hari ke tiga setelah pertemuannya dengan Kaina, Ray tak kunjung menerima telepon maupun sms dari gadis itu. Beruntung dirinya sedikit sibuk, sehingga hal tersebut tidak mengisi kepalanya setiap waktu. Apalagi pria itu juga mengerti, sepertinya Kaina masih membangun benteng di antara mereka.


Namun Ray tidak memungkiri jika dia tidak sabaran. Sempat terpikir mencari jalan pintas untuk mendapat nomor kontak gadis itu, -meminta pada Keisha misalnya- namun masih dia urungkan. Dia tidak ingin Kaina belum apa-apa sudah merasa terganggu. Maka dia memutuskan untuk bersabar hingga Kaina yang menghubunginya.


Hari ke empat, Ray sudah kembali ke Bandung. Seperti biasa, minggu terakhir dia pakai untuk stay di kota itu dan control semua cabang lewat layar monitor. Supervisor dan sales area Bandung biasanya tidak betah jika sudah ada dia karena omelan-omelannya yang tidak kunjung berhenti. Di usianya yang masih terbilang muda, enerjik, dia ingin semua berjalan sesuai dengan arahannya.


Saat jam makan siang, Ray sengaja duduk di lobi. Memperhatikan anak-anak kantor yang mulai keluar untuk mencari makan pengisi perut.


Saat dia melihat Keisha dan salah seorang anak accounting berjalan menuju ke arahnya, dia cepat-cepat memberi kode.


"Gue?" Keisha menunjuk dirinya. Ray mengangguk.


"Gue mau ngobrol bentar, Sha. Bisa?"


"Ngobrol apa? Eh, gue mau beli makan dulu tapinya ...."


"Enggak apa-apa Sha, aku beliin saja, kamu mau mi ayam kan?" temannya tadi seperti tahu diri untuk memberi waktu kepada keduanya.


"Eh, enggak apa-apa, Del?"


"Enggak apa-apa. Sebelah kantor ini kok."


Akhirnya yang dipanggil Del itu pun pergi meninggalkan Rayshaka dan Keisha.


"Kenapa Ray? Tumben?"


Rayshaka memberi isyarat bagi Keisha supaya duduk di kursi tempatnya tadi duduk.


"Eh Sha, gue ketemu Kaina di Bekasi."


"Serius lu??? Kok bisa??" suara Keisha yang tinggi menunjukkan keterkejutannya.


"Ssttt. Iya! Dia purchasing mall yang jadi customer baru gue di Bekasi."


"Demi apa??? Terus kalian gimana??"


"Ya ngobrol. Tapi dia masih kikuk sama gue. Pakai 'aku-kamu' dia sekarang," cerita Ray sambil mengingat cara Kaina berbicara kepadanya. Dia tergelak lagi.


"Hahaha ... seriusan?? Tapi dia baik kan? Sehat dia?"


"Sehat. Tapi pas gue minta nomor HP-nya, dia enggak mau kasih. Katanya entar bakal hubungin gue duluan, tapi sampai sekarang belum ada kabar sama sekali."


Keisha tertawa terbahak-bahak melihat wajah kusam Ray saat ini.


"Wajar dong dia enggak semudah itu kasih nomor HP-nya ke elu, Ray. Di saat kalian nantinya kembali menjalin komunikasi, itu artinya ada pintu masa lalu yang akan terbuka lebar. Mau tidak mau. Ingin tidak ingin. Kaina pasti enggak mau itu terjadi."


Ray mengangguk tanda setuju.


"Tapi lu tau kan Sha, gue batalin pernikahan gue karena apa?"


"I know ... demi orang yang begitu mencintai lu, namanya Kaina."


"Yes, absolutely. So ... lu pasti mau bantu gue kan? Lu sudah berhutang ke gue loh..."


"Idihh? Hutang apaan??"


"Lu selama ini tau gue masih nyariin dia, tapi lu enggak pernah cerita apa-apa ke gue, padahal kalian masih selalu keep contact. Elu kejam loh, Sha."


Keisha tertawa keras lagi, sampai mengundang perhatian beberapa orang yang melewati mereka.


"Ya maaf, Ray. Kaina yang minta supaya gue enggak perlu cerita ke siapa-siapa. Biar kita berdua saja yang tahu kalau kita masih teman dekat sampai saat ini."


"Oke, fine. Paling enggak kasih gue nomor HP-nya dulu. Persoalan gimana cara gue hubungin dia duluan, nanti gue atur gimana enaknya, biar Kaina enggak marah sama lu."


Keisha sebenarnya tidak keberatan memberikan nomor ponsel Kaina. Dia juga ingin dua anak manusia itu bisa rujuk kembali. Tapi resikonya Kaina bisa marah besar jika tahu Ray mendapat nomor itu darinya.


"Gue sudah janji pocong ke Kaina, Ray. Gue enggak mau jadi sahabat yang ingkar sama janji sendiri."


"Please, Sha. Gue enggak mau membuang kesempatan ini hanya karena menunggu tanpa usaha."


Keisha terdiam sebentar. Dia melihat raut memelas Ray yang menggugah hatinya. Tapi ... Kaina akan memarahinya.

__ADS_1


"Hmm ... gini ya Ray. Setahu gue, Kaina cuma kasih tau nomor barunya ke gue. Kalau sampai lu tahu, berarti itu dari gue dan gue harus siap dimarahin sama Kaina. Jadi, gue mau, kalau pun gue kasih dan lu hubungin dia, please jangan ngotot ganggu dia kalau dia masih belum mau respon. Biar gue enggak kena."


"Deal." Rayshaka mengulurkan tangan dengan cepat.


Setelah Keisha yakin bahwa pria itu serius, dia pun mengirimkan nomor WhatsApp Kaina kepadanya. Tentu saja dengan berat hati.


*****


Kaina sedang mengecek kembali laporan yang sudah dibuatnya sebagai hasil program tender kemarin. Sebentar lagi dia harus menyerahkannya kepada Willy sang manager.


Saat sedang menunggu hasil print keluar, ponselnya berbunyi bip dan layarnya menyala seiring dengan pop up chat yang ikut muncul.


Darah Kaina seketika membeku saat chat teratas tetulis nama 'Rayshaka' dengan isi chat hanya satu huruf : 'P'.


Kaina memandangi ponselnya seperti tidak percaya.


Pria itu masih mengingatnya, padahal dia sudah sengaja tidak mengontaknya sejak empat hari yang lalu.


Kaina langsung tahu kalau Keisha adalah dalang di balik semua ini. Keisha pasti sudah memberikan nomornya kepada Ray.


Kaina menghembuskan napas lalu meraih semua hasil print-annya, lalu menyatukannya dengan sebuah klip kecil. Memasukkannya dalam sebuah map dan berjalan keluar dari ruangan.


Selama berhadapan dengan Willy, Kaina tidak bisa memungkiri jika hati dan pikirannya masih tertinggal di dalam ruangannya. Lebih tepatnya, pada sebuah benda kecil yang tergeletak di atas meja kerjanya, dengan lampu hijau yang kelap-kelip di ujungnya. Pada sebuah nama yang sudah lama tidak muncul list chat WA-nya dan sore ini tiba-tiba menyapanya lagi dengan satu huruf saja. Satu huruf namun berhasil menggetarkan seluruh sudut hatinya. Rayshaka.


"Kaina ...!" Willy mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah Kaina.


"Ehhh ... iya, Pak. Gimana, Pak?"


"Kamu melamun?"


"Ehh ... maaf, Pak." Kaina kikuk menyadari kebodohannya.


"Jangan lupa email semua supplier agar berpartisipasi sebagai sponsorship di acara Grand Opening kita ya. Tiket masuk VIP juga kirim ke kantor masing-masing."


"Baik, Pak. Laksanakan."


Setelah selesai dengan Willy, Kaina cepat-cepat kembali ke ruangannya dan menyambar ponselnya dengan tidak sabar. Layarnya dinyalakan dan dia memeriksa pop up lagi. Pesan Rayshaka sudah bertambah menjadi tiga buah.


**Rayshaka : 17.20 "P"


Rayshaka : 17.36 "Woy**!"


Dada Kaina semakin berdebar. Otaknya mulai tidak sinkron dengan hatinya. Otaknya menyuruh jangan dibuka, hatinya menyuruh sebaliknya.


Belum selesai dia berdebat dengan otak hatinya, tahu-tahu nama itu muncul dalam bentuk panggilan suara. Jantung Kaina rasanya mau copot.


Dia cepat-cepat meletakkan ponselnya lagi, kemudian meninggalkan ruangan lagi menuju pantry. Dia butuh menenangkan pikiran.


Sementara di seberang sana, Rayshaka menunggu Kaina mengangkat teleponnya dengan harap-harap cemas. Tapi Nihil.


*****


Malam hari di rumah kontrakan Kaina ...


Gadis itu baru selesai membasuh dirinya, mengganti pakaian kantor dengan piyama, kemudian menyantap makan malam yang dibelinya lewat aplikasi online.


Sepanjang sore hingga malam hatinya tidak tenang karena mengingat Ray terus. Ray pasti melihat WA-nya selalu online, namun tidak kunjung membaca pesannya.


Akhirnya, setelah semua urusannya di dapur selesai, dia memutuskan akan membalas pesan Ray.


Kaina akhirnya membuka semua pesan itu dengan hati yang berdebar. Langkah selanjutnya dia bingung harus membalas bagaimana dulu.


Kaina : 20.21 "Naonnnn?"


Tak disangka pesannya berubah menjadi centang biru dalam waktu sekejap. Rayshaka sepertinya tidak punya kerjaan. Membuat Kaina semakin berdebar saja.


**Rayshaka : Typing...


Rayshaka : 20.22 "Sombong amat. Kalau enggak maksa Keisha, lu enggak bakalan kasih tahu nomor lu ya?"


Kaina : *Typing***...


Diseberang sana senyum Ray terkembang.

__ADS_1


**Kaina : 20.24 "Maap, lupa. Hehehe ...."


Rayshaka : 20.24 "Gue telepon ya** ...."


No no no ! Kaina belum selesai mengetik, tapi wajah Ray sudah terpampang di layar ponselnya. Panggilan telepon, bukan panggilan WA.


Ah foto lama ini ... batin Kaina dalam hati.


"Hmm?" Kaina menjawab dengan nada yang sedikit cuek.


"Woy sombong! Tadi sore gue telepon enggak diangkat!"


"Sori ... jam segitu jamnya buat laporan, Pak," Kaina beranjak ke kasurnya lalu merebahkan diri dengan nyaman.


"Benaran? Bukan karena mau menghindar dari gue?"


Glekk!


"Enggakk ... sensi banget sih? " padahal sebenarnya sih iya.


Ray tersenyum di seberang sana.


"'Eh, lu jangan marahin Keisha ya. Gue yang paksa minta nomor lu dari dia."


"Ya ya ... dia sudah cerita."


"Kapan?"


"Tadi."


"Sebelum atau sesudah gue chat elu?"


"Sesudah."


"Oh gitu ya? Lu bisa chat sama Keisha, tapi chat gue diabaikan."


"Ya maap. Ada apa nih? Gue mau tidur. Ngantuk."


Mendengar respon Kaina yang kurang baik membuat hati Ray sedikit mencelos. Namun meskipun demikian dia tetap berdecak kecil karena bisa mendengar nada ketus gadis itu lagi.


"Oh, ya sudah. Lu tidur gih. Lain kali kita lanjut," Ray memegang janjinya ke Keisha, bahwa dia tidak akan ngotot kalau Kaina sedang tidak mood.


Kaina menepuk jidat pelan, menyadari kalau dia sudah salah berkata demikian.


"Ya elah, ngambek, Pak?"


Rayshaka tertawa kencang.


"Memangnya selama lu kenal gue, gue suka ngambek gitu?"


"Sometimes ...." jawab Kaina cuek.


"Apaan? Kapan coba gue ngambek?"


"Tau ah. Lupa ...."


Rayshaka terdengar berdecak lagi. Kaina jelas menolak mengingat masa lalunya.


"Ya sudah, ya sudah. Sori gua sudah mengganggu. Next time kita lanjut. Mimpi indah ya. Night. "


Klik.


Suara berat Ray menghilang begitu saja bahkan sebelum Kaina menjawab 'iya'.


Kaina meletakkan ponselnya di kasur. Lalu menatap langit-langit kamar. Sekelebat ingatannya membawa dirinya ke masa lalu yang sebenarnya sudah dilupakannya.


Ray memungkiri dirinya tidak pernah ngambek. Tapi Kaina bisa mengingat beberapa momen dimana Ray ngambek karena dirinya. Karena Kaina cuekin seharian, karena Kaina enggak mau dititipin beli makan, karena Kaina selalu lama mengangkat teleponnya, karena Kaina main ke ruangan lain dan tidak menggubris panggilan Ray.


Bibir Kaina sedikit tertarik kala mengingat kembali aksi diam Ray waktu itu. Sekeras apapun Kaina mencubitnya dia akan menahan sakitnya supaya Kaina berhenti mengganggu. Sebanyak apapun godaan Kaina, dia tetap bertahan dan pura-pura sibuk dengan game di handphone.


Namun Kaina ingat, Ray tidak pernah ngambek lama-lama. Sebelum pulang kantor mereka pasti selalu baikan karena Kaina memelas meminta maaf. Biasanya Ray akan menyentil keningnya sambil menyuruh jangan mengulanginya lagi.


Kaina memiringkan tubuhnya ke sebelah kanan. Mengamati cahaya lampu tidur yang berpendar menerangi seluruh kamar.

__ADS_1


Tuhan ... dari begitu banyak rencana-Mu, mengapa Kau merencanakan yang ini? Aku harus bagaimana? Desahnya dalam hati.


*****


__ADS_2