
Author's PoV
Rayshaka mendapat forward email dari supervisor-nya di Bekasi, tentang undangan untuk menghadiri grand opening Ariana Bekasi Mall serta permintaan sponsorship dari perusahaan tersebut.
Ray membaca detail surat resmi itu kemudian membuat email balasan ke supervisor-nya bahwa dia memberikan ijin untuk memberikan sponsorship. Biasanya bentuk sponsorship berupa uang tunai dan ucapan papan bunga. Terkadang ada juga yang meminta dukungan dalam bentuk hadiah untuk lucky draw. Kali ini Ray menyetujui untuk diberi dukungan berupa dana.
Setelah itu, Ray membaca ada lampiran tiket untuk acara tersebut. Mereka mendapat dua tiket VIP. Setelah mengingat jadwalnya, Ray tahu dia tidak akan bisa hadir.
Ray kembali membalas email tersebut. Memberitahukan bahwa dia tidak bisa hadir. Dia menunjuk supervisor-nya untuk datang mewakili Nagata dan dipersilahkan mengajak satu orang lagi. Siapapun itu.
Andai saja tanggalnya tidak bertabrakan dengan jadwal penerbangannya ke Surabaya, sudah pasti dia bisa datang dan bertemu dengan Kaina lagi.
Ahhh ... dia jadi teringat obrolannya dengan Kaina tadi malam. Setelah berusaha keras menghindarinya sejak sore, akhirnya gadis itu merespon juga. Ray kenal sekali hatinya yang lembut dan tidak tegaan itu. Oleh karena itu juga, kemarin Ray mau menunggunya dengan sabar.
Ray meraih ponselnya. Membuka chat WA dan memilih nama Kaina. Membuka foto profil gadis itu dan memandanginya.
Kaina ... perempuan yang menjadi alasan Ray untuk menyudahi hubungannya dengan Silvi. Setelah Kaina resign, Ray mengerti bahwa cintanya bukan untuk Silvi, melainkan untuk gadis itu. Apalagi setelah mengetahui kebenaran peristiwa di Cisarua, Ray semakin yakin dengan pilihan hatinya.
Selama dua tahun dia berusaha mencari Kaina. Tanya ke orang-orang terdekatnya, bahkan bertanya ke Hans. Oh iya, saat itu juga Ray baru mengetahui bahwa Hans dan Kaina tidak pernah balikan. Hans hanya ingin mengujinya. Kecemburuannya waktu itu benar-benar sudah salah sasaran. Ray merasa sangat berdosa.
Dari Hans pula Ray tahu bahwa Kaina bekerja di Jakarta. Namun Hans tidak bersedia memberitahu dimana gadis itu, dengan alasan sudah berjanji kepada Kaina untuk tidak memberitahu siapa pun.
Seringai kecil terukir di bibir Ray. Kesal mengetahui sebegitu inginnya Kaina menghindarinya, sampai-sampai selama dua tahun ini semua orang terdekatnya di wanti-wanti untuk merahasiakan semua tentangnya. Mereka tidak tahu kalau Rayshaka hampir mencapai titik depresinya mencari gadis itu.
Dia mengelus wajah Kaina di foto profilnya. Dia tahu perjuangannya untuk kembali mendapatkan hati gadis itu tidak akan mudah. Ada luka yang masih dia simpan di tempat yang tidak bisa di jangkau olehnya. Jalannya masih panjang.
*****
Hari H Grand Opening Ariana Bekasi Mall ....
Ballrom besar itu kembali sudah ramai dengan para tamu undangan dari Ariana Group. Sejumlah pejabat tinggi daerah, rekan-rekan bisnis owner dari perusahaan besar lain, juga perwakilan dari semua supplier tampak begitu antusias menghadiri acara pembukaan mall berlantai tujuh tersebut.
Semua karyawan yang bertugas menjadi panitia sudah berada di posisi masing-masing. Ada yang menjadi penerima tamu, ada yang bertugas membawa tamu ke mejanya masing-masing. Ada yang bertugas meng-handle acara, ada yang memastikan keamanan terjaga selama acara berlangsung. Ada pula yang sibuk di bagian konsumsi dan ada yang sibuk mengurus sovenir.
Kaina dan tim purchasing-nya sendiri ditempatkan menjadi pengawas di pintu masuk utama. Karena dia bagian purchasing, secara tidak langsung dia adalah pihak yang lebih mengenal semua supplier yang mereka undang malam ini. Jika ada tamu yang baru datang, mereka yang bertugas memberikan penyambutan pertama kemudian mengarahkannya untuk mengisi buku tamu.
Entah kenapa Kaina merasa dandanannya hari ini membuatnya sedikit tidak nyaman. Seperti bukan dirinya. Meskipun kata orang-orang, termasuk para supplier, dia sangat cantik malam ini, sesungguhnya dia merasa insecure.
Belum lagi pemilihan gaun yang mengekspos pundak dan sedikit pahanya. Dia sangat kesal. Apalagi pada manager-nya yang memilihkan gaun itu. Katanya mereka harus tampil cantik karena menjadi penerima tamu di pintu depan. Jadilah Kaina harus rela memakai gaun panjang dengan belahan tinggi sampai diatas lutut itu, bersama dua rekannya yang lain.
"Sudah Kai, jangan cemberut terus. Hanya malam ini saja kok." Tria mencoba membujuknya supaya melupakan kekesalannya sejenak. Masalahnya tamu-tamu sudah semakin banyak yang datang. Tria dan Arista akan kewalahan jika Kaina tidak membantu banyak.
"Dingin tau. Kamu enggak kedinginan memangnya?" balas Kaina sambil memeluk kedua lengannya yang tidak berbalut apapun.
"Dingin. Tapi pas lihat Pak Willy tadi, jadinya hangat, hehehe ...."
"Huuu, dasar!"
Sudah menjadi rahasia mereka bertiga kalau Tria menaruh hati pada manager mereka yang sudah punya istri dan anak itu. Karena menganggap itu hanya sekedar motivasi kerja semata, Kaina dan Arista membiarkan Tria dan tidak terlalu ambil pusing. Selama Tria tidak berniat untuk jadi pelakor, mereka masih menganggap itu hal yang normal.
Pukul 13.00 .... semua tamu undangan sudah hadir dan pintu ballroom akan segera di tutup. Kaina memutar pandangnya ke sekeliling. Orang yang ia tunggu-tunggu sepertinya belum datang.
Penasaran, dia mendatangi meja penerima tamu dan bertanya pada rekan yang menjaga disana.
"Na, yang dari Nagata sudah datang belum ya?"
"Nagata Paper? Sudah, Mba. Sebentar saya cek."
Nana membalik lembaran buku tamunya ke depan, lalu mencari nama Nagata Paper yang di maksud Kaina.
"Ini, Mba. Nomor sembilan."
Kaina mengangguk-angguk. Dia sama sekali tidak mengenal dua orang yang namanya tercantum disana. Mungkin perwakilan Nagata cabang Bekasi, pikirnya. Dan sepertinya juga, bukan dia yang menyambut mereka tadi, sehingga tidak tahu kalau mereka sudah datang.
"Baiklah. Makasih, Na."
Setelah itu, Kaina mengomando security untuk menutup pintu ballroom-nya. Karena acara di dalam sudah dimulai.
*****
Kaina's PoV
Apa yang salah dengan hatiku? Mengapa rasanya kecewa saat tidak mendapati pria itu di ruangan besar ini? Mengapa aku merasa penampilanku yang katanya sempurna malam ini menjadi sia-sia karena toh dia tidak datang dan melihatnya?
Sampai pertengahan acara, aku tidak melihat tanda-tanda kedatangannya. Ah iya ... kan perwakilan Nagata sudah ada dua orang. Tidak mungkin dia masih akan datang. Untuk apa?
Acara yang sangat meriah ini menjadi terlihat biasa saja di mataku. Pak Willy berulangkali menanyakan kenapa aku tidak se-enerjik biasanya. Aku pun menjawab dengan santai. Kedingingan. Saat aku menjawab demikian, beliau hanya mengerutkan dahi tanda tidak mengerti. Baginya terlihat cantik mungkin tidak seharusnya kedinginan.
"Mba Kaina!"
Aku menoleh ke belakang. Nana memanggilku sambil melambai-lambaikan ponselku. Dengan tangan kanannya dia mengisyaratkan bahwa ada yang menelepon.
Aku pun mundur dari posisiku dan mendekati meja tamu. Nana menyerahkan ponselku.
Sebelum aku meraihnya jantungku sudah mau putus saja melihat nama pemanggil yang tertera di layar. Mengapa seperti kebetulan sekali?
Aku sedikit menjauh dari Nana sambil menarik nafas. Ray tidak boleh mendengar suara gugupku ini.
"Halo?" sapaku pelan. Hei! Aku sangat pintar bersandiwara! Suaraku sangat datar seperti biasanya.
"Kamu di mana?"
"Kenapa?"
"Ke sini dong. Aku di luar."
Demi apa kalimat barusan mendadak mengukir senyum kecil di wajahku?!
"Loh, bukannya yang dari Nagata sudah ada dua orang?" tanyaku.
"Ya iya, makanya kamu ke sini, karena aku enggak bisa ke sana, Nona."
Aku masih terbuai perasaan gembiraku. Dasar Kaina lemah!
"Buruan! Jam enam aku harus flight ke Surabaya dari Cengkareng. Mau ketemu aku enggak?"
Entah hantu apa yang merasukiku untuk langsung bergerak menuju pintu utama ballroom, lalu keluar. Masih dengan ponsel yang menempel di telinga.
"Kamu di mana?" kuputar pandang ke sekeliling. Ray tidak ada.
__ADS_1
"Heh. Enggak kedinginan kamu pakai gaun kayak gitu?"
"Kamu di mana??" mengapa aku jadi tidak sabaran begini sih?
"Di atas, Non."
"Di atas mana?" aku spontan bergerak lebih maju sedikit mendekati teralis pembatas lantai, lalu mendongakkan kepalaku ke atas.
Saat itu juga duniaku seakan kembali kacau oleh senyuman pria yang ada di lantai atas di seberang sana.
"Ngapain di situ?" tanyaku masih lewat telepon.
"Sini dong."
Aku melihat kiri dan kanan. Mencari tangga atau eskalator terdekat untuk bisa mencapainya yang ada di lantai di atasku.
"Naik lift saja. Di sebelah kananmu."
"Oke. Aku matiin."
"Hm ...."
Aku tidak tahu ini benar atau salah, yang pasti hatiku ingin cepat-cepat berdekatan dengannya. Lift yang hanya bergerak naik satu lantai saja terkesan lambat sekali. Setelah lift ku terbuka, Ray melambaikan tangannya dan menunjukkan jalan menuju posisinya. Aku mengikut seperti terhipnotis.
Saat aku sudah tiba dihadapannya ....
"Capek?" tanyanya duluan.
"Fiuhhhh ... harusnya cowok yang nyamperin cewek, huuu ...." kataku sambil ngos-ngosan.
"Emang kamu cewek?"
Aku seketika melemparkan tatapan mata membunuh.
"Kamu ngapain di sini?"
"Enggak ngapa-ngapain. Tadi ada urusan ke kantor sebentar. Kenapa? Enggak boleh?"
Aku menenangkan diriku dengan batuk kecil, "Ya enggak. Tapi kan ke Cengkareng jauh ...."
"Enggak kalau naik mobil. Kalau jalan kaki memang lama. Temani aku makan, mau?"
"Hah? Makan? Duh ... aku harus masuk ke dalam," meskipun aku sangat ingin, aku masih ingin mencoba sedikit jual mahal.
Ray menatap kecewa padaku. Lalu membuang pandangnya ke depan.
"Tiga puluh menit. Please? "
Aduh, dia pakai acara memelas. Aku harus bagaimana?
"Enggak lebih. Lebih cepat, lebih baik," kataku akhirnya. Membuat pria di sebelahku itu tersenyum senang.
Aku kemudian menelepon Pak Willy, memberitahu bahwa aku harus keluar dari posisiku sebentar dan Willy mengizinkan.
"Ayo. Mau makan di mana?"
Aku mengangguk lalu membalikkan tubuhku duluan, bergerak menuju lift yang ada di sebelah kanan kami.
Hanya selang beberapa saat, aku merasakan punggungku yang terbuka tiba-tiba hangat. Membuat langkahku terhenti.
Ray melewatiku begitu saja, dengan wajah cool-nya, dan sudah tanpa jaket di tubuhnya. Karena kini jaketnya sudah tersampir di atas pundakku.
Apa-apaan dia? Membuatku terkejut saja. Dan caranya memberikan jaket kepadaku, sama persis seperti dua tahun yang lalu ... sewaktu di acara api unggun gathering kantor. Bahkan kehangatan yang tercipta di hatiku pun masih sama rasanya.
Ray sudah masuk duluan ke dalam lift saat aku selesai dengan khayalan tingkat tinggiku. Saat aku muncul di depan pintu lift, dia pura-pura tidak melihatku, namun aku bisa menangkap senyum kecil yang ia tahan.
"Thank you ... aku benci dengan gaun ini. Tapi Pak Willy bilang kami harus cantik di depan semua tamu."
"Terus, kamu merasa cantik?"
"Sedikit."
Ray tertawa. Mata sipitnya muncul lagi.
"Pede dong. Kamu cantik hari ini."
Entah apa yang merasukiku, tanganku refleks menampar punggunggnya dengan keras.
Wajah Ray spontan menegang dan matanya membesar. Aku memukulnya!!
"Kok mukul aku sih? Kan aku jujur?!" Protesnya tidak terima.
"Apaan! Lu pasti cuma mau ngejek gue kan?"
"Duelahh, udah pakai lu gue. Ciyeee ..."
Ah iya!! Ada apa denganku??
Untungnya denting lift segera berbunyi. Kami sudah sampai di lantai tujuh.
"Apaan sih?" ujarku salah tingkah sambil keluar duluan dari lift.
Kami memasuki arena foodcourt yang sudah ramai pengunjung. Berhubung mall kami baru buka, rata-rata semua tenant memberikan diskon kepada pembeli. Antrian panjang di mana-mana adalah bukti dari ucapanku barusan. Ada tenant yang bahkan memberi diskon 70 persen bagi limapuluh pembeli pertama.
"Karena gua enggak makan, gua nunggu lu di sini saja ya," aku menunjuk sebuah meja yang ada sofanya.
"Oke. Sebentar ya."
Ray melanjutkan jalan sambil melihat-lihat tenant mana yang akan ia pilih. Aku langsung mengambil posisi di sofa tadi.
Dari kejauhan aku mengawasi gerak-gerik Rayshaka yang tahu-tahu sudah berhenti di salah satu tenant dan memesan makanan. Diriku tergoda untuk menilai penampilannya hari ini yang begitu santai. Kaos polo hijau berkerah, dipadankan dengan celana denim hitam legam. Lalu untuk alas kaki dia hanya memakai sandal slip on yang terbuat dari bahan kulit. Terlihat dewasa sekali.
Aku pun tak luput mengagumi postur tubuhnya yang lebih berbentuk dibanding dua tahun yang lalu. Wajahnya yang sedikit lebih tirus. Tatanan rambutnya yang rapih, serta tidak ada kumis maupun janggut yang ia pelihara.
Apakah menjadi ASM harus begitu memperhatikan penampilan? Ah, mungkin iya. Karena sekarang dia adalah wajah utama dari marketing area Jawa Barat. Salah satu petinggi yang cukup diakui kredibilitasnya. Bagaimana tidak? Hal penampilan saja dia begitu perhatian. Tentu saja calon client suka kecantol duluan.
"Woy! Ngelamun saja! Mikirin apa sih?" Tahu-tahu pria ini sudah ada dihadapanku dengan nampan berisi makanan pesanannya.
"Eh, cepat juga lu ...."
__ADS_1
Meskipun aku sudah bilang tidak akan ikut makan, Ray tetap membelikan cemilan dan minuman untukku.
"Lohh, gue enggak lapar Ray ...."
"Gue tahu makanan di ballroom tadi masih lebih oke dari yang gue beliin. Tapi ini lebih berharga, karena gue yang belii. Makan!"
Aku otomatis berdecak, memanyunkan bibir. Dia masih saja suka memaksa.
"Iya iya ... makasih. Masih ingat saja gue suka iced lemon tea."
"Kok cuma menyebutkan minumannya? Memangnya makanannya bukan cemilan favorit lu juga? Fair dong. Nanti siomaynya nangis loh."
"Apa-apaan sih? Masak siomay bisa nangis?" aku tergelak sambil meraih sendokku lalu mulai mengaduk-aduk bumbu kacang dan kecap di atas piring.
Ray juga mulai menyentuh makanannya. Kwetiau goreng.
"Seru acaranya?"
"Standar. Seperti grand opening pada umumnya."
"Tapi kelihatannya ramai banget."
Aku mengangguk. Lalu memasukkan sepotong siomay yang sudah berbalur saos kacang ke dalam mulutku.
"Lu ngapain ke Surabaya?"
"Survey. Mau buka cabang baru."
"Oh ya? Sendiri?"
"Enggak ... sama orang pusat juga. Bertiga."
"Pak Haing?" aku menyebutkan nama General Manager (GM) pemasaran Nagata yang ada di Jakarta. Ray mengangguk mengiyakan.
"Sama pak Tang juga. GM oprasional."
"Woww. Lu sama bos-bos besar dong. Keren lu, Ray." aku mengacungkan jempolku padanya.
"Apanya yang keren? Lebih sering kena marah gue. Mending jadi supervisor biasa."
"Ah elu ... dulu saja senang banget mau naik jabatan ...."
Dulu? Apa aku malah keceplosan menyinggung masa lalu?
"Dulu kan biar ada yang dibanggain ke elu. Ehh ... taunya lu kabur. Jadi enggak ada artinya kalau pun gua naik jabatan."
Nah kan. Here we go.
"Hahaha ... ohh jadi mau pamer sama gue? Oke ... gue udah lihat itu sekarang. Now what ?"
"Ya enggak gimana-gimana lagi. Toh lu bukan partner gue lagi."
"Tapi kalau bukan karena jabatan baru lu, kita kan enggak bakalan ketemu. Bersyukurlah."
Aku mendadak bijak sekali. Sepertinya otakku sedang korslet.
"Benar juga. Kalau begitu, janji sama gue kalau tiap gue ke Bekasi, lu selalu mau gue ajak main."
"Janji apaan itu?" aku mencibir mengejek.
"Ayolah, palingan hanya sekali se bulan. Gue pengen tahu gimana itu LDR."
Wajahku sedikit terkejut. Apa? Barusan dia bilang LDR? Jangan ge-er Kaina, please ! Mungkin relationship yang dia maksud untuk pertemanan biasa. Enggak lebih.
"Oke. Tapi kalau gue lagi enggak mood, jangan dipaksa. Atau lu bisa bangkrut bayar semua jajan gue."
Gelak tawa Ray pecah. Kedua matanya hilang lagi. Aku menikmatinya.
"Deal !" Ray mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menyambutnya dengan percaya diri. Satu kali se bulan saja tentu tidak menjadi masalah yang besar untukku.
Faktanya kami berdua mengobrol hingga satu jam. Kalau bukan karena Tria meneleponku dan mengatakan semuanya akan bubar, aku dan Ray akan terlarut sampai sore. Untungnya Ray juga harus segera pergi supaya tidak telat tiba di bandara. Jadinya aku rela kalau kami harus berpisah.
Kami masuk ke dalam lift. Ray menekan lantai 2 untuk ballroom dan lantai khusus untuk parkiran.
"Makasih ya ... sudah mau gue ganggu siang ini."
"Sama-sama, Bos. Kabarin saja kalau main ke Bekasi lagi," jawabku sambil tersenyum.
Lalu aku mengingat jaket yang sedari tadi menempel di tubuhku. Aku melepasnya dan menyerahkannya kembali ke Ray.
"Trust me, gue mau tahan jaketnya, tapi pesawat lebih dingin dan lu bisa beku," kataku sebelum Rayshaka menolak.
Mendengarnya dia berdecak kecil.
"Lain kali jangan berpakaian seperti itu ya."
Padahal mungkin kalimat itu tidak berarti, namun berhasil menggetarkan hatiku.
"Siap," balasku.
Aku mengikuti Ray memakai kembali jaketnya.
"Take care ya. Safe flight. Sukses pekerjaannya di sana."
"M. Makasih Kai. Lu juga baik-baik ya, di sini."
Sebuah sentuhan hangat kurasakan di kepalaku. Ray mengelus puncak kepalaku sebentar. Sebentar saja. Namun berhasil membuat darahku naik ke ubun-ubun.
"Pasti."
Denting suara lift menandakan kami sudah sampai di lantai 2. Aku pun keluar dari lift, lalu melambaikan tanganku pada Ray.
Pria itu menatapku dalam sambil tersenyum, hingga pintu lift tertutup kembali.
Saat itu, perasaan hampa kembali menguasai diriku.
Aku sudah kalah. Pada diriku sendiri.
*****
__ADS_1