
Author's PoV
Hari ini adalah hari besar yang sudah dinanti-nantikan banyak orang. Seluruh keluarga besar Rayshaka dan Kaina akan berkumpul untuk menyaksikan bersatunya Ray dan Kaina dalam ikatan janji suci. Keluarga dari pihak Maria dan suaminya, juga dari pihak Ratih dan almarhum suaminya. Semua rekanan bisnis papanya Ray juga akan membuat pesta ini akan semakin berkelas. Kolega-kolega Ray dan Kaina sendiri juga sudah mengkonfirmasi kehadiran mereka.
Ini akan menjadi hari yang bersejarah dalam hidup Rayshaka dan Kaina.
*****
Kaina menatap pantulan dirinya di cermin besar itu. Hampir tidak bisa mengenali dirinya sendiri. Semua yang ia kenakan dari ujung kepala hingga ujung kaki, adalah rancangan orang-orang berkelas yang bekerja pada keluarga calon mertuanya. Tiara yang menempel di atas sanggulnya, satu set berlian di sekujur tubuhnya, ball gown seberat lima kilogram bertaburkan batu Swarovski dan sepatu dengan heels setinggi sepuluh senti dengan nada yang sama dengan gown-nya.
Kaina tahu, bahkan jika gajinya selama sepuluh tahun terakhir dikumpulkan tidak akan sanggup membeli semua barang-barang mahal itu. Kalau bukan karena Ray sudah meyakinkannya bahwa semua itu dibayar menggunakan uangnya sendiri -bukan uang orangtuanya, Kaina akan keberatan harus memaksa tampil all out seperti ini.
Sesi pemotretan mempelai wanita baru saja selesai. Keluarga dan bridesmaids - nya sudah kembali meninggalkan ruangannya karena harus segera mengganti pakaian.
Ting!
Ponselnya yang ada di atas meja berbunyi, pertanda ada chat baru. Kaina memanjangkan tangannya, meraih benda kecil itu.
Saat mengetahui si pengirim pesan, bibirnya tertarik kecil.
Rayshaka : 07.42 "Nervous?"
Kaina : 07.42 "M ... banget. Sudah selesai pemotretan sayang?"
Rayshaka : 07.43 "Me too. But can't wait to see you. Sudah sayang, barusan. Kamu sudah?"
Kaina : 07.43 "Sudah juga sayang. Uhhh... deg-degan gila ini. I love you sayangku ..."
Rayshaka : 07.44 "I love you more, my future wife."
Kaina : 07.44 "See you sayang. Aku harus simpen HP nya. Mwuachhh!"
Rayshaka : 07.45 "Iya sayang. Bye ... Mwuachhh ..."
Senyum Kaina semakin terkembang. Debaran di hatinya semakin terasa. Dia sudah tidak sabar melihat Rayshaka di altar. Pria tampan yang dalam hitungan jam akan dia panggil sebagai suaminya.
Apakah dia sedang bermimpi? Bagaimana mungkin dia dan Ray pada akhirnya menikah? Kebaikan apa yang sudah dia perbuat di masa lalu sehingga Tuhan membuat skenario yang begitu indah ini dalam hidupnya?
Beberapa saat kemudian pintu ruangan itu terbuka lagi. Rosa yang sudah berganti pakaian menjadi gaun bridesmaid muncul dengan senyum lebarnya.
"Kamu cantik banget, Ros," puji Kaina sambil tersenyum.
"Kak Kaina jauh lebih cantik. Hari ini kakak adalah ratunya. Gimana perasaan kakak? Deg-degan?"
"Banget, Ros. Aku takut blank waktu mengucapkan janji pernikahan kami."
Rosa menggenggam jemari Kaina erat.
"Kakak dan kak Ray pasti ingat kok. Aku yakin."
"Makasih Ros. Eh, Tito jadi datang?"
Mendengar nama kekasihnya disebutkan, Rosa menjadi malu-malu.
"Sudah kak, dia sudah di luar dari tadi."
"Ohh ... pantas saja kamu bersemangat! Pasti dia memuji kamu cantik. Iya kan? "
__ADS_1
Rosa lagi-lagi tersenyum malu.
Lalu Ratih dan Kayla masuk juga. Mamanya sudah cantik dengan kebayanya, Kayla dengan konstum yang sama seperti Rosa. Oh iya, Kayla dan Rosa adalah bridesmaids-nya hari ini.
"Ray dan keluarganya sudah menuju Gereja. Sebentar lagi kita juga berangkat sayang. Kamu siap?"
Kaina mengangguk menjawab mamanya.
Ratih memeluknya dengan hati-hati, "Mama menyayangi kamu, Nak. Kamu harus bahagia ya."
"Mama jangan bikin nangis dong. Make up -nya mahal loh, Ma ..." gerutu Kaina menahan tangis.
Rosa dan Kayla yang menyaksikan hanya bisa tersenyum haru.
*****
Suasana Gereja tempat pemberkatan Kaina dan Rayshaka terlihat sudah sedikit ramai. Mobil-mobil dengan merek ternama memenuhi parkiran baik di halaman maupun di basement gereja. Terlalu ketara kalau yang empunya acara bukan dari kalangan biasa.
Kondisi di dalam ruang gereja cukup hening. Orang-orang berkelas itu mengobrol dengan berbisik-bisik. Mereka memperbincangkan calon istri Rayshaka yang ternyata berbeda dengan yang sempat diumumkan dulu, yaitu Silvi. Tapi mereka tidak menampik jika yang sekarang jauh lebih cantik dari yang kemarin itu.
Sekitar pukul sembilan, pastor memasuki altar diikuti empat orang mesdinar yang bertugas untuk melayani. Acara akan segera dimulai.
MC sudah berdiri di mimbar untuk membuka acara. Mengucapkan sedikit kata sambutan dengan bahasa yang formal -karena ini di dalam Gereja.
Acara yang pertama adalah memanggil groom untuk memasuki gereja.
Alunan musik mengalun lembut. Suara pintu gereja terbuka mengalihkan semua orang untuk menoleh ke belakang.
Rayshaka masuk dengan setelah tuksedo berwarna hitam. Badan tegaknya berjalan di sepanjang lorong gereja yang sudah dipasang karpet merah dan ditaburi bunga putih. Di depannya ada dua orang keponakannya -putra dan putri Clara- yang berjalan sambil menabur bunga.
Rayshaka seakan membius segenap hadirin yang datang dengan ketampanannya. Apalagi dia sudah mencukur kumis juga jambangnya dan memotong rambutnya demi hari ini. Rekan-rekan bisnis orangtuanya banyak yang menelan ludah. Tidak sedikit yang baru tahu bahwa Clara punya adik laki-laki setelah undangan beredar. Banyak yang merasa menyesal. Mengapa Ray tidak pernah menunjukkan diri selama ini? Mengapa mereka hanya mengenal Clara? Tahu begitu mereka akan lebih dulu menjodohkan anak mereka kepada lelaki tampan itu.
Rayshaka berbalik untuk menatap pintu itu lekat-lekat. Sekalipun sangat jauh dari pandangannya, dia tidak akan melewatkan pemandangan indah yang akan melangkah menuju dirinya.
Jantung Ray berhenti saat melihat sosok mungil dibalut ball gown besar muncul di ambang pintu. Meskipun Kaina mengenakan tudung untuk menutupi kepalanya, dia bisa melihat gadisnya itu begitu cantik. Dia tidak bisa berkata apapun. Sempurna.
Sementara itu, Kaina yang baru memasuki ruangan langsung menangkap sorot mata Ray padanya. Pria itu memancarkan cinta lewat binar matanya. Kaina langsung tidak bisa bernafas dengan normal. Kekasihnya itu tampan sekali. Dan ohh, kapan dia mencukur kumis dan janggut tipisnya? Mengapa Ray tidak bilang-bilang? Dia sangat mempesona.
Rayshaka tahu apa yang ada dipikiran kekasihnya. Dia melempar senyum kecil dari kejauhan, membuat Kaina semakin gugup. Ingin rasanya menghambur ke pelukan pria itu sekarang juga dan mencium aroma tubuhnya. Pasti dia wangi sekali.
Sama seperti melihat Rayshaka, orang-orang juga terkesima melihat Kaina. Riasannya membuat teman-temannya dari Nagata juga Ariana pangling, takjub.
Kaina melemparkan senyuman tiap kali dia melewati orang yang ia kenal. Ada Tria, Ariesta, Pak Willy, Pak Sebastian Keisha, bu Arni dan yang lainnya. Kaina sangat tergugah mengetahui teman-temannya yang berbeda keyakinan dengannya tetap bersedia datang ke acara pemberkatannya di Gereja. Saat ini Kaina merasa sangat dihargai dan dicintai.
Saat dia sudah tiba di depan altar, om nya yang bernama Taufik, adik Ratih, yang menjadi perwakilan pengganti almarhum ayahnya, mengulurkan tangan. Kaina meraihnya.
Setelah itu Taufik meminta Ray mengulurkan tangannya juga. Ray melakukannya.
Lalu dengan pelan Taufik meletakkan tangan Kaina diatas tangan Rayshaka. Dia mengizinkan Ray membawa Kaina ke kursi pengantin yang sudah tersedia di depan altar.
Setelah semua prosesi selesai, MC acara mempersilahkan pastor untuk memulai ibadah, kemudian dia kembali ke kursi umat.
Acara demi acara berlangsung hikmat. Tata ibadah misa pagi ini berbeda dengan tata ibadah misa hari minggu biasa, karena ini khusus pemberkatan pernikahan. Lebih singkat dari biasanya karena akan ada sisipan acara pemberian kata sambutan dari keluarga dan kolega penting.
Lalu sampailah mereka di acara puncak. Momen pemberkatan dan pengucapan janji pernikahan.
Rayshaka dan Kaina diundang untuk naik ke atas altar. Ray dan Kaina diarahkan untuk saling berhadapan.
__ADS_1
Pastor kembali bersuara.
"Saudara Rayshaka Tirta Wijaya dan saudari Kaina Larasati yang berbahagia, setelah mengadakan penyelidikan dan dikuatkan oleh pernyataan para saksi, saya selaku pejabat gereja meluluskan permohonan untuk meresmikan dan memberkati pernikahan kalian berdua. Sekarang, hendaklah kalian berdua saling menyatakan kesungguhan hati untuk melangsungkan pernikahan di hadapan Allah, keluarga dan para hadirin sekalian. Saya persilahkan calon mempelai berhadapan, berpegangan tangan dan bergantian mengucapkan janji nikah."
Rayshaka menatap lurus ke dalam bola mata Kaina. Seluruh matanya memancarkan cinta yang sangat dalam. Bibir Ray sedikit gemetar, bawaannya sudah ingin menangis saja.
"Di hadapan Allah, Imam, keluarga, para saksi dan saudara sekalian yang hadir di sini, saya Rayshaka Tirta Wijaya, dengan tulus hati memilih dan menerima engkau Kaina Larasati, mulai saat ini menjadi istri saya. Saya berjanji untuk selalu mencintai, menghormati dan setia kepadamu dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, di waktu sehat maupun sakit sepanjang hidup saya..."
Rayshaka benar-benar tidak mengerti mengapa dia begitu terharu sekarang. Kata-katanya tersendat sebentar karena air matanya membuat pandangannya buram.
Kaina menjerit dalam hati. Dia sangat mencintai pria itu.
Ray kembali melanjutkan setelah berdehem kecil sebentar.
"Saya berjanji untuk menjadi ayah yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada kami berdua dan selalu hidup rukun dalam kasih Tuhan. Demikian janji saya."
Setelah Ray selesai berbicara, salah seorang mesdinar yang bertugas menerima mikrofon darinya, lalu menyerahkannya kepada Kaina. Gilirannya.
Kaina menatap wajah Ray lagi. Tapi, belum apa-apa Kaina sudah meneteskan air matanya. Membuat Rayshaka kembali tergugah, ingin menghambur memeluk gadis itu.
Kaina menunduk sebentar untuk menenangkan diri. Dia sangat emosional.
"Di hadapan Allah, Imam, keluarga, para saksi dan saudara sekalian yang hadir di sini, saya Kaina Larasati, dengan tulus hati memilih dan menerima engkau Rayshaka Tirta Wijaya saat ini menjadi suami saya. Saya berjanji untuk selalu mencintai, menghormati dan setia kepadamu dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, di waktu sehat maupun sakit sepanjang hidup saya. Saya berjanji untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada kami berdua dan selalu hidup rukun dalam kasih Tuhan. Demikian janji saya."
Desisan lega terdengar dari seluruh penjuru ruangan Gereja. Baik Kaina maupun Rayshaka tidak melupakan part hafalan panjang itu sedikit pun.
Setelah itu, mesdinar mengambil kotak cincin dan air suci, lalu menyerahkannya lagi kepada Pastor.
Pastor kembali membacakan doa.
"Ya Allah, sumber kesetiaan, Engkau sendiri yang menguduskan ikatan cinta kasih suami istri dan mengangkat hidup perkawinan menjadi lambang persatuan Kristus dan Gereja-mu. Berkatilah kedua cincin ini, supaya menjadi lambang cinta kasih dan kesetiaan bagi pasangan yang akan memakai cincin ini di jari mereka, untuk memelihara kesetiaan yang sempurna."
Pastor kemudian memerciki cincin yang sudah diletakkan di atas meja dengan air suci. Setelah itu Pastor mengarahkan cincin mempelai wanita kepada Rayshaka, sambil berkata :
"Saudara Rayshaka Tirta Wijaya, kenakanlah cincin ini pada jari manis istrimu sebagai lambang cinta dan kesetiaanmu kepadanya."
Rayshaka menerima cincin itu, kemudian memberi isyarat pada Kaina untuk mengulurkan tangannya.
"Saudari Kaina Larasati ... terimalah cincin ini sebagai lambang cinta, kesetiaan dan kasihku padamu. Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Amin."
Rayshaka memasukkan cincin itu dengan pelan ke jari manis tangan kanan Kaina. Keduanya merasakan gemetar satu sama lain.
Lalu pastor menyerahkan cincin mempelai pria kepada Kaina seraya berkata : "Saudari Kaina Larasati, kenakanlah cincin ini pada jari manis suamimu sebagai lambang cinta dan kesetiaanmu kepadanya."
Kaina pun menerima cincin tersebut. Rayshaka mengulurkan tangan kanannya dan Kaina meraihnya.
"Saudara Rayshaka Tirta Wijaya ... terimalah cincin ini sebagai lambang cinta, kesetiaan dan kasihku padamu. Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Amin."
Kaina juga memasukkan cincin itu dengan pelan dan hati-hati di jari manis Rayshaka.
Setelah itu Pastor mempersilahkan mempelai pria untuk mencium mempelai wanita.
Rayshaka maju selangkah, mendekatkan diri kepada Kaina. Dia membuka tudung tipis transparan yang sedari tadi masih menutupi wajah istrinya itu.
Dengan jantung yang berdebar kencang, ia mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan ciuman di bibir Kaina. Meskipun dia sudah mencium istrinya itu puluhan kali, yang ini rasanya sangat berbeda. Sensasinya sampai ke ubun-ubun. Padahal mereka hanya saling menempelkan bibir, tidak saling ******* seperti biasanya.
Semua yang hadir memberi tepuk tangan meriah. Ikut menjadi saksi resminya hubungan mereka sebagai suami dan istri.
__ADS_1
*****