My Super Cool Boss

My Super Cool Boss
Sakit fisik vs sakit hati.


__ADS_3

Kaina's PoV


Langit-langit putih kabur menjadi pemandangan pertama yang kudapat setelah aku siuman. Mataku masih berat untuk terbuka lebar. Kurasakan perih di bagian perut. Ingatanku langsung kembali pada minuman itu. Seluruh tubuhku lemah, kepalaku masih sedikit pusing efek obat bius.


"Kak ...."


Aku merasakan sentuhan di bahu. Suara Rosa. Aku melebarkan mata dan mendapatinya tersenyum.


"Hei..." sapaku pelan, mencoba tersenyum.


"Syukurlah kakak sudah bangun," dia mengelus-elus kepalaku pelan.


"Kita masih di Puncak, Ros?"


"Iya kak. Kakak sudah merasa baikan?"


"Masih perih di perut, Ros," kataku sambil meraba perut. Adik kosku itu menunjukkan wajah prihatinnya.


"Kak Ferdi nitipin surat buat kakak. Kalau sudah keluar dari Rumah Sakit aku kasih ya, Kak."


"Surat apa?"


Rosa menggeleng tanda tidak tahu.


"Dia enggak nitip pesan apa-apa ke kamu?"


"Enggak ada. Dia cuma minta maaf. Minta maaf untuk apa, aku enggak tahu."


"Oh," aku hanya bisa menggumam. Dugaanku Ferdi pasti akan mengundurkan diri. Seharusnya memang demikian.


Selang beberapa saat kemudian, Dokter dan Perawat masuk ke ruanganku. Dokter bilang aku mengalami infeksi lambung yang cukup parah, sehingga kemarin aku harus dioperasi kecil-kecilan.


Ah ya ... ini sudah Senin. Seharusnya aku berada di kantor. Tapi aku mendapat info dari Rosa kalau pak Sebastian sudah tahu aku sedang dirawat dan sudah diberi ijin tidak masuk sesuai anjuran Dokter. Aku harus menetap di Bogor selama dua minggu. Waw!


"Kamu enggak harus di sini, Ros. Kamu harus kerja."


"Sudah kak, enggak apa-apa. Kak Kaina lebih penting sekarang."


Aku terharu bukan main mendengarnya, sampai meneteskan air mata.


Hari-hari berikutnya aku mulai terbiasa dengan Rumah Sakit. Aromanya, makanannya, lingkungannya dan orang-orang di sekitar.


Di malam-malam yang sunyi aku sering teringat Ray. Ah ya ... dia sudah berhasil menjalin kontrak dengan Nirvana Ressort. Dia sudah menceritakannya lewat telepon saat malam pertama aku siuman. Dia bilang sangat bersalah karena tidak ada di saat aku kritis. Berhubung aku tidak ada, dia jadi ekstra sibuk. Satu lagi, Ferdi benar mengundurkan diri. Tidak ada yang tahu alasan yang sebenarnya selain aku dan Fany.


Ray berjanji akan datang Sabtu besok, sekalian membantuku pindah ke rumah sakit yang ada di Bandung. Dokter sudah membuat surat rujukannya.


Saat dia datang, aku tidak kuasa menahan diri dari memeluknya. Rosa membiarkan kami saling melepas rindu -jika benar dia juga rindu- untuk satu jam lamanya. Dia menemaniku tidur seperti di bungalow waktu itu. Sesekali dia menciumku di kening dan di atas kepala. Sakit yang masih tersisa seketika hilang karena ada dia di sampingku.


"Pak Sebastian sudah membahas soal promosi?" aku mengajaknya berbicara sambil meringkuk di dalam pelukannya.


"Sudah. Tapi posisi dan penempatannya nanti belum tau jadi apa dan di mana."


"Memangnya harus mutasi juga?" aku mendapati diri sedikit kecewa. Kalau dia dimutasi, bagaimana nasibku di Bandung?


"Belum jelas, Kai. Nanti kalau sudah jelas gua kasih tau," jawabnya. Sepertinya dia mengantuk. Jelas terdengar dari nada suaranya. Aku tersenyum dan mengusap-usap punggungnya.


Rindu yang menggelora di dalam hati sudah terobati dan semakin lengkap saat kudengar dengkuran halusnya di atas kepalaku.


Do you know how i love you Ray?


*****


Setelah pindah rawat inap di Bandung, rekan-rekan satu kantor mulai berkunjung memberikan doa dan ucapan agar aku segera sembuh. Tidak terkecuali Fany. Di masih bisa bersikap seolah tidak tahu apa yang terjadi. Kalau bukan karena kami rekan kerja, satu kantor, satu ruangan, aku pasti sudah memilih untuk tidak mempedulikannya. Namun karena saat aku kembali masuk kerja nanti aku masih akan kembali bertemu dengannya setiap hari, aku harus berusaha berpura-pura tidak ada yang terjadi.


Aku percaya akan ada saatnya semua perbuatannya akan terkuak, beserta semua alasan dia dan Ferdi melakukannya.


Hari kedua mama dan adikku Kayla datang dari Tasikmalaya. Mama sangat cemas saat Rosa memutuskan untuk memberitahu. Padahal aku sudah melarang karena aku sudah lebih mendingan. Tapi saat mereka berdua ada di sini aku sangat senang. Rasanya seperti sedang berada di Tasik.

__ADS_1


Mama membawa banyak persediaan makanan untuk dimasak. Rosa dan adikku akan pulang ke kosan, mengolahnya dan membawanya lagi ke rumah sakit untuk kami santap bersama.


Mama menghabiskan waktunya seharian bersamaku. Kami bercerita tentang banyak hal, termasuk Hans. Mama sedih mendengar kabar itu, apalagi saat tahu anak gadisnya sudah diselingkuhi dalam waktu yang cukup lama.


Mama juga bercerita kalau usaha taylor Kayla semakin berkembang. Ini masih bulan Juli, tapi mereka sudah mengantongi banyak orderan untuk hari Natal. Aku senang mendengarnya, sekaligus merasa bersalah karena tidak bisa selalu ada untuk mereka. Aku terlalu egois untuk memilih menetap di Bandung sendirian. Mereka kesepian di Tasik, aku juga kesepian di Bandung.


Tapi di usiaku yang semakin matang begini, aku tidak bisa betah berlama-lama di kampung halaman. Untung saja mama maklum dan mengerti jalan pikiranku.


*****


Setelah membantu pindahanku ke rumah sakit di Bandung, Ray belum sempat berkunjung. Alasannya masih sama, karena dia mengambil alih semua tanggung jawabku dan Ferdi. Tapi malam ini dia janji akan datang dan memberi kejutan.


Mama dan Kayla pulang sebentar ke kosanku untuk mandi dan berganti pakaian. Bandung yang selalu macet kalau sore-sore begini membuat mereka cukup lama dalam perjalanan.


Saat itulah Ray datang ... bersama 'kejutan' yang ia maksud.


"Bro ... sori gua baru bisa datang. Lu sudah bagaimana? Sudah baikan?"


"Hampir pulih total. Besok atau lusa sudah bisa keluar," aku masih bisa tersenyum manis sesaat sebelum 'kejutan'-nya itu datang.


"Syukurlah. Gua sudah butuh lu banget di kantor. Oh ya, gua mau kenalin lu sama Silvi."


"Silvi siapa?"


"Sayang, masuk sini ...."


Aku langsung membeku mendengar bagaimana Ray memanggilnya. Sayang?


"Hai, Mba Kaina ...." perempuan cantik, tinggi semampai, kulitnya putih, bersih memasuki kamar rawat inapku. Dengan cepat aku bisa mengenalinya. Dia wanita yang dibawa Ray ke restoran waktu itu. Bukankah dia yang dibilang Ray sudah selingkuh?


"Heiii Silvi. Nice to meet you," aku menyambut uluran tangannya dan cipika-cipiki-an sebentar. Aku sama sekali tidak bisa mengutarakan bagaimana isi hatiku sekarang.


"Lekas sembuh ya, Mba. Ray banyak bercerita tentang Mba Kaina. Aslinya lebih cantik dari yang saya kira."


"Hahaha ... kamu bisa saja. Oh, Ray sering cerita tentang gua? Lu pasti cerita yang jelek-jelek tentang gua kan? Awas aja ya, Bro."


"Enak saja! Dilarang suudzon loh, Bro."


Lantas kamu cerita apa saja tentang aku Ray? Batinku.


"Ya siapa tahu saja. Iya kan, Sil?" orang yang kutanyai semakin tertawa lebar.


Kami bertiga berbincang sedikit lama. Sekitar limabelas menitan. Kemudian aku melihat Ray mencolek siku Silvi dan mereka bergumam pelan. Aku sengaja pura-pura sibuk mengikat rambut agar tidak penasaran dengan pembicaraan mereka.


"Oh ya bro, gua antar Silvi ke depan ya. Tadi dia pengen banget mampir, pengen kenalan sama lu. Nanti gua balik lagi."


"Oh oke. Rumahnya di mana, Sil?"


"Daerah Setiabudi Mba, tempat tinggal kita deket deh kayaknya."


"Oh iya, lupa ..." aku tertawa ke arah Ray sambil menepuk jidat. Tentu saja itu pura-pura. Mana mungkin aku lupa.


"Pamit ya, Mba ...." lagi-lagi kami cipika-cipiki-an.


"Take care ya, Sil," ucapku tulus.


Saat Ray dan Silvi keluar dari kamar, dadaku semakin sesak. Hidungku perih dan mulai kembang kempis. Beberapa detik kemudian air mataku yang tidak sanggup tertahankan lagi jatuh dari pelupuk mata.


Tuhan kenapa aku sama sekali tidak punya kesempatan?


Aku menangis sesenggukan di dalam bantal. Rasanya sakit melihat laki-laki itu memilih untuk kembali ke pelukan orang yang sudah menyakitinya. Sebegitu cintanyakah Ray kepadanya? Hatiku sakit sekali.


Tiba-tiba suara ketukan menghentikan tangisku. Aku cepat-cepat membersihkan air mataku. Ray tidak boleh tau aku menangis.


"Kaina ...."


Suara itu!!

__ADS_1


Aku menoleh cepat dan lagi-lagi darahku membeku.


"H ... Hans?" gumamku pelan tanpa suara.


Tidak percaya dia ada disini.


Pria itu berjalan pelan ke arahku. Ditangannya ada sebuket mawar putih.


"Kamu sudah baikan? Kayla mengabariku kalau kamu sakit."


Aku masih menatapnya tidak percaya. Benarkan Hans ada di hadapanku sekarang? Bukankah ini hari kerja? Kenapa dia bisa ada disini?


Perasaan campur aduk langsung memenuhi hatiku. Sekali pun raganya ada di sini, hatinya tentu saja masih tertinggal di Jakarta. Sama seperti Ray yang sudah kembali ke peraduannya. Ke pelukan Silvi. Kenapa hidupku sangat menyedihkan?


Mendadak aku merindukan Ferdi. Sekalipun dia punya sisi jahat, setidaknya dia mencintaiku dengan tulus.


"Maaf baru bisa berkunjung Kai," suara Hans lembut sambil membelai rambutku. Aku terharu karena dia masih mengingatku sekali pun karena kondisiku yang sekarang.


"Enggak apa-apa, Hans. Thank's sudah mau datang. Tunanganmu apa kabarnya? Baik?"


Hans mengangguk.


"Aku juga datang menemuimu sekalian mau memberitahu kalau kami akan menikah dua bulan lagi."


"Oh ya?" aku tidak tahu lagi bagaimana ekspresiku sekarang. Tapi yang pasti aku bersedih sekaligus berbahagia mendengarnya.


"Selamat Hans. Aku ikut berbahagia," kataku sambil menepuk-nepuk pundaknya.


"Aku berharap kamu segera menemukan lelaki yang lebih baik dari aku," ujar Hans sembari terus mengusap kepalaku. Aku mengangguk kecil. Lagi, air mataku menetes mendengarnya.


"Kamu kenapa menangis, Kai? Kamu suka sama laki-laki tadi?" dia membelai wajahku lembut. Mendengarnya aku langsung menatap Hans dengan wajah bertanya. Laki-laki mana maksudnya? Ray?


"Aku sudah sampai dari tadi, tapi pas mau masuk, dari jendela aku lihat mereka keburu masuk. Aku ngeliatin kamu dan tau apa yang terjadi saat kamu nangis setelah mereka pergi."


Aku tertawa garing.


"Dia siapa? Cerita dongg," Hans mencubit pipiku lembut, seperti yang biasa dia lakukan dulu.


"Teman satu kantor, Hans. Partner sales ...."


"Oh ya? Terus, perempuan tadi?"


"Pacarnya," jawabku sambil tersenyum lemah. Hans menatapku dengan perasaan bersalah. Perlahan dia merengkuh pundakku. Memelukku seolah ingin memberiku ketabahan.


"Maafkan aku, Kai. Maafkan aku ...."


Aku memeluk pinggangnya dengan kuat. Kepalaku bersandar di dadanya. Dulu ini adalah sandaran yang paling nyaman untukku. Tapi sekarang aku menangis disini pure sebagai teman. Menumpahkan segala sakit hati dan kekecewaanku tentang pria lain. Mahluk tampan bernama Rayshaka.


"Be strong, Kai. Kamu pasti bakal dapat yang terbaik. Jika dia adalah takdirmu, kalian akan bersama."


Hans mengelus-elus punggungku sambil sesekali mendaratkan ciumannya di pucuk kepalaku.


Beberapa saat kemudian, aku sudah tenang. Hans masih menemaniku. Setelah sekian lama, akhirnya kami bisa bertukar cerita lagi. Meski sedikit menyesal karena semuanya kembali baik justru setelah hubungan kami berakhir. Mungkin aku harus ikhlas, kami tidak ditakdirkan sebagai pasangan sehidup semati. Mungkin lebih baik begini.


"Oh ya, aku ada pelatihan selama dua minggu di sini. Kamu enggak keberatan kan kalau kapan-kapan kuajak main?"


Aku dengan cepat mengiyakan, sedikit pun tidak merasa keberatan. Kami sudah berdamai dengan masa lalu. Sudah sekian bulan sejak kami putus dan aku sudah ikhlas.


*****


Author's PoV


Sebuah mobil putih bertengger di halaman kos-kosan di kawasan Setiabudi. Seseorang mengawasi kamar nomor dua di lantas atas. Kamar Kaina. Sudah setengah jam dia berdiam disana tanpa melakukan apa-apa. Hanya berharap bisa melihat wajah cantik gadis itu walau sebentar.


Ferdi. Setelah resign secara resmi dari perusahaan tempat Kaina bekerja, dia langsung pulang ke Jakarta. Menjauh dari Ray, Kaina dan kenangan-kenangannya. Tidak ada seorang pun yang tahu alasan sebenarnya dia mengundurkan diri. Dia hanya bilang ke Sebastian kalau papanya memaksa pulang. Padahal jelas-jelas dia tidak akur dengan orang yang dimaksud.


Dia sadar, ambisinya untuk bisa mengalahkan Ray sudah membuatnya gelap mata dan berakibat fatal pada wanita yang disukainya. Itulah sebabnya dia tidak punya nyali untuk bertemu Ray dan Kaina lagi. Yang bisa dilakukannya hanyalah menjadi stalker seperti yang dia lakukan sekarang ini.

__ADS_1


*****


__ADS_2