My Super Cool Boss

My Super Cool Boss
Menuju halal.


__ADS_3

Kaina's PoV


Meskipun aku sudah kembali ke realitaku di Bekasi, pikiranku sudah tidak sinkron antara pekerjaan dan persiapan pernikahanku dengan Ray. Seakan-akan tidak diijinkan untuk bersantai, setiap pagi aku harus mempersiapkan tenaga ekstra untuk menangani dua tanggungjawab itu sekaligus.


Saat aku bekerja, mama dan tante Maria akan menginterupsiku lewat telepon. Menanyakan ini itu. Salah satu contoh, apa aku sudah jadi ke taylor yang disebutkan tante Maria apa belum.


"Buruan kesana, biar segera dijahitkan. Kalau mau pulang kantor nanti langsung ke sana, tante sudah suruh untuk tetap buka khusus buat kamu," begitulah salah satu contoh desakan yang kuhadapi.


Itu masih soal baju nikah. Belum lagi soal gedung, undangan, sovenir, catering.


Aku terlalu excited meskipun menikah yang terkesan terburu-buru seperti ini tidak pernah ada dalam bucket list - ku. Tapi aku bersyukur karena mama, calon mertua, adikku dan calon suamiku sendiri sangat bisa bekerja sama untuk ini.


Ray tidak pernah memarahiku kalau aku mengeluh kelelahan. Dia sangat sabar. Bahkan rela pulang pergi Bandung - Bekasi jika memang aku membutuhkannya, meskipun itu bukan weekend.


Dalam waktu yang sempit ini pun, keluarga Rayshaka yang begitu karya raya itu secara tidak langsung menunjukkan siapa mereka. Sebesar apa kekuatan mereka. Seluas apa network mereka.


Bayangkan saja, untuk gedung pernikahan kami, yang ditunjuk oleh tante Maria, sebelumnya sudah ada orang yang mem-booking tempat megah itu di tanggal yang sama dengan tanggal pernikahan kami. Namun saat dengar nama keluarga Ray, manajemen gedung tersebut rela memberikan booking -an itu pada kami tanpa basa basi, tanpa memikirkan orang yang sudah panjar sebelumnya.


Begitu juga dengan MC acara kami nantinya. Sebelumnya dia sudah punya jadwal nge-MC di acara lain saat tanggal pernikahan kami. Namun karena Clara yang meminta, dia membatalkan jadwalnya dan menyetujui jadi pemandu acara pernikahan kami.


Aku hampir tidak percaya, ternyata keluarga borju yang seperti di drama-drama korea itu real adanya, yang bisa mewujudkan apa saja yang mereka mau tanpa harus mengalami kesulitan. Karena mereka punya nama, mereka punya uang. Meskipun sepertinya tidak fair, tapi tidak bisa disalahkan juga. Begitulah cara kita hidup.


Hari ini, H minus seminggu acara pernikahan kami. Aku berakhir pekan di Bandung. Tante Maria memintaku menginap di rumah untuk mengecek ulang semuanya bersama-sama.


Believe or not, persiapannya sudah 90 persen! Cuma tiga minggu!! Mama dan tante Maria benar-benar bekerja dengan baik. Seingatku, aku hanya mengurus kebayaku sendiri, yang lain mereka yang urus. Aku bingung harus merasa senang atau tidak enakan.


"Mau Sour Sally sayang?" ah ya, aku dan Ray sedang kencan ke mall. Setelah urusan dengan tante Maria selesai, kami menyempatkan waktu untuk menonton di bioskop. Ada film baru yang lagi booming dan Ray mau nonton.


"Mau mau!"


Ray menarik tanganku ke arah corner Sour Sally yang ada di depan kami. Dia tahu aku suka jajanan itu dan sudah hafal varian yang aku suka. Black Sakura dengan topping chocolate dan coconut.


"Makasih sayang," aku menerima satu cup yoghurt berukuran medium darinya. Kemudian kami menikmatinya di lounge yang sudah disediakan.


"Minggu depan kita sudah jadi suami istri. Kamu deg-degan enggak?" tanya Ray sambil menggigit pucuk yoghurtnya.


"Belum sih. Tapi enggak tau nanti kalau udah H min satu hari."


"Berarti hanya aku yang deg-degan."


"Kenapa??" aku bertanya penasaran.


"Ya nervous saja. Mau mengucapkan janji pernikahan. Takut nanti bakalan lupa pas di depan altar."


Aku tertawa sambil membersihkan pinggir bibirnya.


"Aku yakin kok sayang, kamu pasti bakal ingat. Kalau kamu lupa, liat mataku saja, ada contekannya disana."


"Hahaha ... bisa saja sayangku ini," Ray mencubit pipiku gemas.


"Ngomong-ngomong, nanti kamu beneran bakal resign dari Nagata?"


"Iya. Kenapa sayang?"


"Sudah siap masuk perusahaan keluarga?"


"Sebenarnya kalau siap, sudah sejak dulu sayang. Tapi seperti yang pernah aku bilang, aku enggak mau dianggap remeh dan enggak berpengalaman. Apalagi yang menjadi bawahanku nanti banyak yang sudah berambut putih. Aku enggak mau dianggap anak ingusan."


Aku mengangguk-angguk tanda sepaham.


"Tapi kamu bakalan langsung jadi direktur utama begitu atau masih dari bawah lagi?"


"Enggak bawah-bawah banget sih. Karena di Nagata aku sudah pernah di level Manager Area, nanti di perusahan papa setidaknya aku akan ditempatkan di level yang seperti itu juga, atau satu level di atasnya. Nanti belajar dulu dari kak Clara. Kalau sudah bisa semuanya, baru papa lepasin jabatannya."


"That's mean akan perlu waktu bertahun-tahun juga kan? "

__ADS_1


Rayshaka mengangguk.


"Good."


"Good kenapa sayang?"


"Aku setuju kalau kamu ikut berproses di perusahaan dulu sebelum jadi dirut. Supaya saat kamu sudah di posisi itu nanti, tidak ada yang bisa menjatuhkan kamu karena menganggap kamu leader karbitan."


"Iya sayang. Terimakasih ya untuk semua dukungan kamu. Kamu juga harus mempersiapkan diri ya. Mungkin hidup kamu tidak akan senyaman ini lagi setelah menikah denganku," Ray mengusap kepala Kaina lembut.


"I know. Aku sudah ketakutan sejak pertama kali kamu bawa ke rumah luxury itu. Aku tahu keluargamu bukan keluarga biasa. Tapi saat mendapati om, tante dan kak Clara yang begitu tulus menerima kami, aku lega. Jika keluarga kamu menerimaku apa adanya, itu sudah lebih dari cukup sayang."


"Makasih sayang. This is why i love you so much ..."


Kaina tertawa manis, "I love you too, sayangku."


Ray kemudian tersadar lalu melirik jam di tangannya, "Eh, sudah mau mulai belum filmnya? Masuk yuk."


"Oh iya. Sepuluh menit lagi. Ayo."


Aku dan Ray kemudian melangkah cepat memasuki studio bioskop.


*****


Author's PoV


Undangan pernikahan Rayshaka dan Kaina sudah disebar. Saat ini, berita itu seakan menjadi perbincangan hangat semua orang yang ada di sekeliling Kaina. Teman-temannya di Ariana, teman-temannya di Nagata, ramai-ramai memberikan ucapan selamat kepadanya. Semua ikut berbahagia, meski tidak sedikit juga yang jelas-jelas mengungkapkan kecemburuannya. Tapi Kaina cukup tahu kalau mereka hanya bercanda.


Dengan menikahnya Kaina, itu berarti dia pun akan resign dari Ariana. Hal itu sudah dia sepakati bersama Ray. Tidak mungkin dia bekerja di Bekasi sementara Ray akan menetap di Bandung, meneruskan bisnis papanya.


Dan hari ini, adalah hari terakhir Kaina di kantor. Kabar pengunduran dirinya pun ikut mensponsori kericuhan kantor hari ini. Seakan-akan itu keputusan yang mendadak, padahal tidak. Dia sudah berbicara pada Pak Willy sejak Ray menentukan tanggal pernikahan mereka.


Sore ini dia sudah membersihkan meja kerjanya. Tria dan Ariesta terdengar mulai menarik ulur ingus menahan kesedihan.


"Kalian semangat kerjanya ya. Jangan keasyikan nonton drama korea pas kerja. Nanti pak Willy ngomel-ngomel terus."


"Ih enak saja. Kamu juga sering kok. Main tuduh saja!"


"Sttt ... sudah-sudah. Yang penting, beresin kerjaan dulu baru nonton. Oke?" Kaina menengahi.


Sekotak barang pribadi miliknya sudah siap untuk diangkat. Tria dan Ariesta memeluknya secara bergantian.


"Ingat loh, harus datang ke Bandung!"


Tria dan Ariesta mengangguk, berjanji akan menghadiri pernikahan Kaina di Bandung.


Saat ketiganya berjalan keluar ruangan Kaina, tiba-tiba mereka dikejutkan suara letusan, diikuti tiupan terompet, dan serpihan potongan kertas invoice beterbangan di udara.


"Surpriseeeeeeee !!"


Entah sejak kapan anak-anak kantor berkumpul untuk membuat surprise untuknya. Karena Kaina sama sekali tidak mendengar keributan apa pun. Termasuk ... kapan balon-balon bertuliskan' Farewell Kaina' itu menempel di tembok?


"Surprisee ..." Tria dan Ariesta juga tiba-tiba tertawa girang. Air mata keduanya sudah lenyap tak bersisa.


"Ohhh ... jadi kalian cuma gimmick ya nangis-nangisan. Supaya aku lama-lama keluar dari ruangan. Huuuu!!"


Tria, Ariesta dan yang lain tertawa terbahak-bahak.


Saat ikut terlarut dalam euphoria perpisahan yang mereka siapkan, mata Kaina tidak sengaja bertumpu pada seseorang yang berdiri di ambang pintu tengah. Bertumpu di sisi pintu dengan bahu kirinya, kedua tangan dipangku di dada dan salah satu kaki ditekuk sedikit.


Gadis itu terpesona dan tidak jemu-jemu memuji ketampanan pria itu. Rasanya selalu jatuh cinta setiap melihat fisiknya yang begitu sempurna.


Rayshaka. Calon suaminya.


Pria itu melambaikan tangan dan melemparkan senyum manis saat tau Kaina menyadari keberadaannya.

__ADS_1


"Eh, ada calon suaminya," entah siapa yang menyadarinya duluan, yang pasti semua mata jadi berpaling ke ambang pintu.


Rayshaka sendiri terkejut dan jadi salah tingkah.


"Suruh kesini dong Kai, kenalin sama kita-kita."


Kaina meminta Ray ikut bergabung. Awalnya pria itu menolak, karena sebenarnya dia tidak bermaksud merusak acara tersebut. Tapi daripada disangka sombong, dia pun ikut bergabung dan menyalami semua orang, walau hanya sebentar.


Kaina lagi-lagi merasakan hatinya terjatuh lagi untuk pria itu. Terjatuh semakin dalam.


*****


Kaina's PoV


Aku tersanjung mengetahui Ray memang sengaja ingin menjemputku di kantor sore ini. Katanya, dia tahu aku pasti akan baper karena perpisahan itu, jadi dia mau aku punya teman. Padahal setahuku tadi pagi dia ngantor di Bandung.


Sebelum kembali ke rumah kontrakanku, kami singgah dulu di tempat makan. Katanya Ray lapar. Tadi selama di jalan menuju Bandung dia enggak mau singgah di tempat makan karena maunya makan bareng denganku. Calon suamiku itu selalu berhasil membuatku seperti sampai ke awan.


Kami makan di sebuah restoran cina yang kudengar cukup enak dan terkenal di daerah ini. Aku yang tidak begitu paham menu-menunya membiarkan Ray yang memilih. Aku tidak perlu ragu akan selera lidah 'orang kaya'-nya.


Saat makanan-makanan itu tiba, aku pun harus diajari Ray bagaimana cara menyantapnya agar cita rasanya tidak hilang. Mungkin kalau bukan pacaran dengan Ray, aku tidak akan pernah melangkahkan kaki ke tempat mahal dan bergengsi ini.


Setelah selesai makan kami ke kontrakanku yang juga sudah mulai aku bersihkan. Untungnya barangku tidak terlalu banyak karena lebih banyak barang bawaan dari yang punya kontrakan.


"Aku menginap ya malam ini."


"Iya sayang."


Aku sudah tidak terkejut lagi. Belakangan Ray memang lebih memilih menginap di tempatku daripada di apartemen. Apalagi kalau dia sampai di Bekasi sudah malam. Katanya lebih nyaman tidur satu atap denganku meskipun dia harus tidur di sofa dan aku di kamar, daripada tidur di apartemen tapi seorang diri.


Entah aku beruntung, atau aku hanya tidak tahu saja, tidak pernah ada gosip yang beredar si lingkungan rumahku meskipun ada saja yang melihat mobil Ray parkir di halaman rumahku semalaman. Tapi kalau pun ada, aku tidak terlalu memusingkannya mengingat besok aku akan pindah dan tidak bertemu mereka lagi.


Seperti biasa, setelah kami berdua selesai mandi, kami menghabiskan waktu bercengkrama di sofa. Berbicara banyak hal dengan cara yang dewasa. Setelah itu aku akan masuk ke kamar dan mengambilkan selimut dan bantal untuk Ray.


"Sayang?"


Aku yang sudah siap berjalan kembali ke kamar membalikkan tubuh lagi.


"Iya sayang?"


"Aku ... mau tidur bareng."


Mataku membesar. Mau tidur bareng katanya? Dia bercanda, hanya menggodaku saja.


"Sayang, jangan mulai deh," kataku sambil mencubit pipinya.


"Aku serius," Ray tiba-tiba menarikku duduk di pengakuannya.


"Nggg ...." aku memikirkan jawaban terbaik sebagai penolakan. Kalau kami tidur bareng, bisa-bisa aku habis diciuminya.


"Kenapa? Sudah pernah juga kan? "


"Iya tapi ..." aku memberi isyarat menunjuk tetangga kiri dan kanan.


"Memangnya kita mau ngapain di kamar? Kan bukan mau malam pertama."


"Ih Ray, frontal banget sihh. Bawa-bawa malam pertama segala."


Pria itu malah tertawa. Dia tahu aku selalu malu membahas topik yang begituan.


"Udah ayo ..." Ray berdiri sambil menggendongku menuju kamar tidur. Aku tidak bisa menolak. Jantungku berdebar membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.


Feeling-ku tidak pernah salah. Apa kubilang? Dua jam sejak kami masuk ke kamar, dia tidak berhenti menyerangku dengan ciuman-ciumannya yang memabukkan. Untung saja sejak pacaran dengannya, aku sudah pro juga, jadi enggak kewalahan menghadapinya.


Dasar Ray ... awas saja kalau sudah menikah dia bosan menciumku.

__ADS_1


*****


__ADS_2