
Rayshaka's PoV
Aku kehabisan kata-kata.
Bagaimana bisa aku sebodoh ini?
Bagaimana aku tidak tahu jika ada orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya demi aku?
Bagaimana aku bisa gelap mata melampiaskan amarahku padanya hanya karena kecemburuanku yang sesaat?
Bagaimana bisa aku membuatnya terluka dan menangis seperti itu?
Kainac... kamu di mana?
*****
Author's PoV
Rayshaka melajukan mobilnya memecah padatnya lalu lintas kota Bandung. Se pagi ini dia sudah harus bermacet-macet ria menuju pintu tol yang akan membawanya menuju Tasikmalaya.
Seolah-olah mengerti kebutuhan Ray saat ini, Sebastian menyuruhnya kunjungan sales ke area Tasikmalaya. Sekalian kalau memungkinkan, untuk menemui Kaina. Berdasarkan info yang di dapat dari Rosa, Kaina sudah kembali ke kampung halamannya dan membantu usaha ibunya di sana. Sebastian sekalian menitip pesan penting yang harus disampaikan Rayshaka ke Kaina.
Perjalanan panjang Ray memakan waktu sekitar empat jam. Sedikit pun dia tidak merasa lelah, bahkan dia tidak berhenti di rest area demi bisa bertemu Kaina secepatnya.
Rayshaka tidak mengerti apa yang ada di pikirannya saat ini. Seharusnya hari ini dia dan Silvi ada janji untuk fitting jas dan kebaya, dan Sebastian sudah mengijinkannya cuti sejak jauh-jauh hari. Namun saat ini, Kaina seakan-akan lebih penting untuk ditemukan. Meskipun sebenarnya Rayshaka masih canggung apabila dia harus dihadapkan dengan Kaina.
Dia masih tidak bisa melupakan malam terakhirnya saat menemui Kaina di kos-kosannya. Gadis itu mengabaikannya. Sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk meminta maaf. Padahal Ray tahu persis, gadis itu terluka dengan sikapnya sendiri. Kaina tidak mungkin berniat mengecewakannya. Kaina hanya memilih untuk melindungi diri dari sakit yang lebih mendalam jika harus membuka hatinya pada pria itu.
Rayshaka berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas. Berdasarkan informasi yang dia ambil dari database karyawan kantor, ini adalah kediaman Kaina.
Dari dalam mobil Ray mengawasi sekelilingnya. Komplek perumahan itu tidak terlalu ramai. Pintu rumah yang ada di depannya juga tertutup dan sepertinya tidak ada keramaian yang terdengar dari dalam sana.
Ray mematikan mesin mobil dan turun dengan perlahan. Dalam hitungan detik dia membuang nafas kuat demi menenangkan detak jantung yang tidak karuan. Dia melangkahkan kaki memasuki pekarangan rumah tersebut dan menginjak terasnya dengan hati-hati.
Ray mengetuk dengan pelan sebanyak tiga kali.
Tidak ada sahutan.
__ADS_1
Dia mengulanginya lagi.
Dari dalam kemudian terdengar suara derit langkah pelan.
Ceklek. Pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya menjulurkan kepalanya dari dalam.
"Cari siapa ya?" tanyanya pelan.
"Selamat siang, Bu. Maaf, apa benar ini rumah Kaina Larasati?"
"Oh benar. Darimana ya?"
Rayshaka tanpa sadar menghembuskan nafas lega.
"Saya teman Kaina dari Bandung. Ibunya Kaina ya?"
"Bukan, saya karyawan di sini. Kebetulan semuanya lagi enggak di rumah, Pak."
Rayshaka mengangguk, dia ingat cerita Kaina tentang usaha taylor milik ibu dan adiknya.
"Oh, kalau Non Kaina memang sudah lama enggak di sini, Pak. Kapan hari memang pulang dari Bandung, tapi besoknya langsung ke Jakarta. Bareng pacarnya, siapa itu namanya ... Mas Hans ya?"
Sesuatu yang keras seperti menumbuk jantung Ray secara tiba-tiba. Hans.
"Oh begitu ya, Bu..." ia kehabisan kata-kata.
"Iya, Pak. Bapak ada pesan ke Non Kaina? Nanti saya sampaikan ke Ibu, supaya Ibu yang sampaikan ke Non Kaina. Kebetulan saya enggak punya nomor handphone-nya."
"Oh, enggak usah, Bu. Saya hanya kebetulan sedang kunjungan pekerjaan ke sini. Nanti kalau ada waktu lagi, saya main lagi."
"Oh, baik, Pak."
"Saya pamit dulu ya, Bu. Mari..."
Ray melangkah kembali masuk ke dalam mobil dengan semangat yang sudah menguap tidak berbekas.
Dia tidak menjalankan mobilnya selama sepuluh menit. Membuat imajinasi sendiri tentang Kaina dan Hans yang sedang bersama di Jakarta.
__ADS_1
Ah ya ... mengingat nama pria itu membuat Rayshaka mengulang kembali memori lamanya. Ia mengingat lagi akar pertengkarannya dengan Kaina waktu itu. Semuanya tidak lebih hanya karena kecemburuannya yang tidak beralasan saat melihat Hans memeluk Kaina di bioskop waktu itu. Padahal waktu itu dia pun sedang menggandeng Silvi dalam genggamannya.
Tapi, tunggu dulu. Bukan ... itu bukan pertama kalinya Ray cemburu melihat Hans memeluk gadis itu.
Ada satu momen sebelum itu.
Ya ... saat Kaina masih dirawat di Rumah Sakit. Saat itu, pertama kalinya Ray mempertemukan Silvi dengan Kaina. Ray belum lupa momen saat dia menghantarkan Silvi ke parkiran karena kekasihnya itu ingin pulang duluan.
Sekembalinya dia ke kamar Kaina, dia mendapati Kaina sedang dipeluk seseorang, yang membuat langkahnya terhenti dan urung masuk ke dalam kamar itu. Hans. Dia hafal betul sosok itu.
Ray melihat bagaimana Hans memeluk dan menciumi Kaina yang menangis terisak. Setelah tangis Kaina reda, mereka lanjut bersenda gurau, wajah Kaina sangat berbinar dan bisa tertawa lepas bersama Hans, pria yang seingat Ray pernah menyakitinya.
Ray menyimpulkan saat itu Kaina dan Hans sudah baikan dan kembali berpacaran. Hal itu sukses membuat hati Rayshaka panas dan berbalik meninggalkan pintu kamar inap Kaina.
Beberapa waktu kemudian, mereka tidak sengaja kembali dipertemukan saat dia dan Silvi sedang antri beli tiket nonton di bioskop salah satu mall. Untuk pertama kalinya Ray menonton dengan pikiran yang tidak fokus tertuju pada layar, melainkan pada sepasang insan yang duduk berdampingan di sebelah Silvi kekasihnya. Hans dan Kaina.
Itulah yang menjadi awal amarah Ray kepada Kaina. Dia tidak terima karena gadis itu dengan mudahnya menerima Hans kembali setelah diam-diam bertunangan dengan orang lain. Bagi Ray, Kaina sangat bodoh, lemah dan tidak konsisten. Padahal dia sudah berjanji untuk tidak kembali pada pria itu. Ray merasa usahanya membantu Kaina saat dia terpuruk seperti sia-sia.
Alih-alih membahasnya langsung dengan Kaina, Rayshaka malahan membuat aksi diam yang dia sadari sangat kekanakan. Dia berharap Kaina mengerti arti amarahnya yang tanpa dia sadari justru melukai hati gadis itu sebegitu dalam.
Kaina berbalik menjauhinya, membalas bentakannya. Tidak ada lagi kelembutan, keceriaan yang seharusnya dimiliki seorang Kaina.
Kaina berbalik membencinya. Sampai-sampai tidak sudi menerima kunjungannya malam itu.
Tanpa sadar, flashback itu membuat mata Rayshaka sedikit berkaca-kaca. Harapannya sudah pupus. Kini hatinya semakin terluka apalagi setelah mengetahui pengorbanan Kaina untuknya.
Rayshaka memejamkan kedua bola matanya. Mengingat kembali manisnya kisah semu yang pernah dia rajut bersama partner kerjanya itu.
Dia tidak pernah menyangka, seorang Kaina, telemarketing yang kerjanya selalu salah dan membuatnya kesal, pada suatu hari justru membuatnya ketergantungan, tidak bisa melewatkan satu hari pun tanpa mengusik ketenteraman gadis itu. Membuat gadis itu cemberut, kesakitan, meringis adalah kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan oleh Rayshaka.
Perhatian Kaina padanya baik dalam hal-hal kecil sekali pun selalu berhasil membuat Rayshaka terkagum, tidak menyangka gadis yang sebelumnya dia anggap menyebalkan ternyata bisa membuat dirinya ketergantungan.
Rasyhaka merindukan bagaimana cara mereka memberikan sinyal bahwa mereka saling membutuhkan lewat sentuhan, berbagi kehangatan lewat pelukan dan kecupan.
Ray seketika merindukan gadis itu.
*****
__ADS_1