My Super Cool Boss

My Super Cool Boss
Mengharu biru.


__ADS_3

Author's PoV


Mobil Rayshaka sudah kembali meluncur mulus di jalanan kota Bandung. Di dalam mobilnya tidak hanya ada Kaina, melainkan ada Kayla dan calon mertuanya.


Ya ... mama Kaina ingin semuanya berjalan lancar. Dia tahu putri sulungnya itu akan baper lagi saat bertemu orangtua Ray nanti. Dia takut kejadian kemarin akan terulang kembali. Oleh karena itu, dia akan membantu Kaina dan Rayshaka, agar semuanya berjalan dengan lancar. Meskipun nanti dia sendiri pun harus siap kembali terluka karena guratan cerita masa lalu.


Rayshaka sendiri sudah memberi kabar ke rumah kalau orangtua Kaina akan ikut serta.


Sekitar setengah jam kemudian, Ray memasuki kawasan perumahan elite di jalan Sudirman. Saat melewati pos security, dia menurunkan kaca mobilnya dan menyapa dengan ramah. Orang-orang yang disapa sangat antusias membalas sapaan Ray. Keluarga mereka sepertinya cukup disegani di sini.


Deru mesin mobil Ray berhenti di depan sebuah rumah megah ber cat putih gading. Sebelumnya, gerbang tinggi yang membentengi rumah itu dibukakan oleh seorang penjaga rumah yang ada di posko pojok taman.


Kaina menelan ludah kasar. Pikirannya langsung melayang kemana-mana. Keluarga Ray begitu kaya. Tidak layak jika bersanding dengannya.


"Ayo, Tante, Kaina, Kayla ..." Ray melepaskan sabuk pengamannya sambil mempersilahkan tamu-tamunya turun.


"Ray ... kamu yakin, mama kamu akan menerima kita?" Kaina menahan tangan Ray sebentar. Gantian, sekarang dia yang ketakutan kalau harus bertemu dengan kedua orangtua Ray.


"Sayang, sepertinya kamu kebanyakan nonton sinetron. Mamaku tidak se jahat yang ada di tv-tv kok. Sama baiknya kayak mama kamu," Ray jelas melihat raut wajah ketakutan Kaina. Dia mencoba memberikan rasa percaya diri pada Kaina dengan mengelus lengannya lembut.


"Tante, Kayla, yuk ..."


Akhirnya keempat orang itu turun dari mobil. Kaina langsung merasa sangat kecil di halaman rumah yang begitu luas itu.


Beberapa orang keluar, entah dari mana, tergopoh-gopoh menghampiri tuannya. Memberi hormat sebentar dan berpencar berbagi tugas.


Ada yang mengambil tas bawaan Kaina dan keluarganya, ada yang mengambil oleh-oleh, ada yang membawa mobil Rayshaka masuk ke dalam parkiran dan ada yang menjadi penuntun mereka masuk ke dalam rumah.


"Mama papa di ruang tamu?" tanya Ray sambil berjalan pelan. Kaina ada di sebelah kirinya dan pria yang ditanyai ada di sebelah kanannya.


"Iya, Tuan. Katanya sudah menunggu kedatangan tuan beserta keluarga calon menantu."


"Baik. Pak Hasan boleh kembali ke tempat."


"Baik, Tuan."


Pria bernama Hasan itu mengundurkan diri. Kaina melihatnya menghilang di sebuah pintu di sebelah kiri. Gadis itu sampai pusing melihat rumah yang terlalu besar itu. Kalau orangtuanya ternyata se-kaya ini, kenapa Ray harus membangun karirnya sendiri? Dia kan bisa bekerja di perusahaan ayahnya. Seharusnya.


Rayshaka berhenti saat mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan, seperti ruang keluarga. Dua set sofa empuk yang pastinya sangat mahal siap menjadi singgasana yang nyaman bagi semua orang yang akan duduk di sana.


"Ma, Pa ..."


Sepasang manusia paruh baya yang tadinya sedang asyik berargumen di depan layar laptop menoleh.


"Ray!" Wanita yang sudah pasti adalah mamanya Ray, spontan bangkit dari kursinya dan berlari memeluk anaknya.


"Kalian sudah datang," katanya senang. Ray balik memeluk mamanya dan menepuk-nepuk punggung mamanya lembut.


Papanya juga bergerak menghampiri, lalu memeluk Rayshaka juga.


Kaina mematung.


Dugaan mamanya benar, dia belum stabil. Perasaan yang kemarin ia rasakan seperti datang untuk menamparnya lagi saat ini.


"Ma, Pa, ini Kaina, adiknya Kayla dan calon besan Mama ..." baru saja Ray ingin memperkenalkan ketiga tamunya kepada orangtuanya, dia sudah tertegun melihat pemandangan yang disuguhkan di depan matanya.


Mamanya dan mama Kaina sedang bertatapan. Mamanya sendiri mematung dengan wajah pucat pasi.


Suasana ruang tamu itu hening.


Mama Ray melangkah mendekat, mendekati mamanya Kaina.


"Ra ... Ratih?" sebutnya terbata. Bagaimana mungkin kebetulan seperti ini bisa terjadi? Tanyanya dalam hati. Sudah sepuluh tahun lebih sejak peristiwa itu, dia hampir saja melupakan wajah perempuan dihadapannya. Bagaimana mungkin dia adalah ibu dari gadis yang dicintai Ray?


"Iya, Bu Maria. Lama tidak bertemu," Ratih, mama Kaina berusaha mengendalikan diri dengan mencoba tersenyum pada Maria, mama Rayshaka.


Maria seakan-akan sangat ditampar oleh kelembutan dan senyum yang masih bisa diberikan perempuan itu. Dia merasa sangat bersalah. Hampir saja dia jatuh berlutut jika saja Ratih tidak cepat-cepat menahannya.


"Jangan, Bu. Saya datang kemari bukan untuk urusan luka lama kita semua. Kami datang untuk mendukung hubungan anak-anak kita."


Namun sedih tidak dapat dibendung. Maria menghambur memeluk Ratih. Tangisnya terpecah mengingat semua kisah kelam yang kini menjadi bagian tak terlupakan dalam hidupnya.


Kejadian yang membuatnya selalu merasa berdosa, bersalah, meskipun itu sudah berlalu bertahun-tahun lamanya. Apalagi saat kejadian itu terjadi, dia belum sempat meminta maaf kepada Ratih dan anak-anaknya karena urusan bisnis yang mendesak. Mereka hanya sempat berfoto sebentar sebagai tanda damai, sebelum ayah Kaina akan dibawa ke rumah sakit.


Ratih memeluk wanita yang terpaut beberapa tahun darinya itu. Dia juga menitikkan air mata, namun lebih bisa menguasai dirinya.


Suami Maria, papa Ray mendekat dan mengelus-elus punggung istrinya. Maksudnya : 'Sudah. Malu ada anak-anak.'


Maria pun melepaskan diri dan kembali menatap Ratih penuh rasa bersalah.


"Maafkan saya Ratih. Saya belum sempat mengunjungi kalian lagi sejak saat itu. Saya sangat ingin datang, namun saya belum menemukan waktu yang tepat. Sehingga saya tidak sengaja melupakannya sampai sekarang ini. Maafkan tante, sayang."


Tanpa diduga, Maria memeluk Kaina yang masih mematung dan Kayla yang sedari tadi hanya diam saja di sebelah kakaknya.


Gerakan itu membuat Kaina tersadar dari lamunannya.


"Tante tidak tahu harus ngomong apa ke kalian berdua. Tapi ketahuilah, tante selalu membawa kalian dalam doa tante. Karena hanya dengan itu, tante bisa menebus kesalahan tante yang tidak termaafkan ini."


Kaina dan Kayla menangis dalam wajah mereka yang tertunduk di bahu Maria. Isak tangis mereka membuat seisi ruangan mengharu biru.


Ratih juga terlihat menangis tanpa suara. Haru dalam hatinya tidak terkataan saat kedua putrinya akhirnya bisa melampiaskan tangis mereka yang sudah tertahan selama sepuluh tahun lamanya.


Ray diam-diam ikut memeluk Kaina dari samping dan mencium kepalanya. Baik dia dan papanya, tidak bisa menyembunyikan mata yang memerah menahan tangis.


*****


Suasana haru masih tersisa saat mereka semua sudah berkumpul duduk di sofa. Minuman dan makanan kecil sudah terhidang untuk melepaskan dahaga mereka yang tadi tenggelam dalam tangis.


Setelah suasana kembali normal, akhirnya Rayshaka memperkenalkan Kaina secara resmi kepada kedua orangtuanya. Sekaligus memberitahukan rencana baik mereka soal pernikahan.

__ADS_1


"Sejak mama mendengar semua curhatan kamu tentang Kaina, mama sudah yakin kalau dia adalah gadis baik-baik. Karena sepertinya akhirnya ada gadis yang berhasil menaklukkan karakter keras kamu. Apalagi sekarang, mama tahu dia adalah putri Ratih. Mama semakin yakin kalau kamu sudah memilih calon istri yang tepat, Nak ..."


Kaina yang mendengar itu secara langsung memerah wajahnya dan tidak bisa menyembunyikan rasa malu. Menurutnya Tante Maria terlalu berlebihan.


"Jadi, rencana kalian bagaimana? Apa sudah dibicarakan?" papa Ray menimpali.


"Nah, itu dia, Pa. Mumpung keluarga kita sudah lengkap disini, bagaimana kalau kita sekalian diskusi garis besarnya?" balas Ray penuh semangat.


"Baiklah. Yang pertama, rencananya mau menikah kapan?" Papanya memulai.


"Bulan depan," jawab Ray cepat. Membuat Kaina menoleh kaget. Bulan depan??? Mengapa terburu-buru sekali?


"Ray sudah tidak sabar nih sepertinya," Maria menggoda.


"Iya, Ma. Kalau bisa dipercepat, kenapa harus ditunda-tunda? Iya kan sayang?"


Yang ditanya hanya bisa mengangguk pelan sambil tersenyum malu.


"Kalau begitu, karena kalian sibuk bekerja, biar mama dan Ratih yang mengurus semuanya. Kalian tinggal bilang konsepnya seperti apa, biar kami yang jadi Wedding Organizernya. Iya kan, Ratih?"


Ratih tersenyum memberi dukungan. "Iya, Bu. Saya setuju. Mungkin ini adalah jalan kita untuk semakin sering bertemu ya," ujarnya sambil tersenyum.


"Benar sekali. Dan Kayla ... sepertinya kamu harus siap-siap lembur untuk seragam kebaya kita."


"Siap, Tante!" Kayla yang sedari tadi lebih banyak diam akhirnya mengeluarkan suaranya dengan sangat antusias.


Begitulah, mereka melanjutkan perbincangan sampai menjelang sore. Sampai akhirnya tiba waktunya untuk mereka mandi dan makan malam.


*****


Saat Ratih, Kaina dan Kayla sedang di dalam kamar tamu, Ray menyempatkan diri menghampiri kamar orangtuanya di lantai dua.


"Tok tok tok ..." dia mengetuk pintu kamar yang tertutup.


"Ma, ini Ray. Boleh masuk?"


"Masuk saja Ray ..." Suara mamanya menyahut dari dalam.


Ray membuka pintu, lalu masuk. Mendapati papa dan mamanya baru selesai mandi dan bersantai di balkon kamar.


"Kamu sudah mandi, Nak?"


"Sudah, Ma," Ray berdiri di tengah kursi santai papa dan mamanya.


"Gimana? Ada yang ingin kamu sampaikan?"


Ray mengangguk.


"Terimakasih ya Ma, Pa ... sudah menerima Kaina dan keluarganya dengan baik. Ray tidak menyangka pertemuan keluarga kita akan sebaik ini."


"Mama yang seharusnya berterimakasih sama kamu, Nak. Kamu mempertemukan mama kembali kepada keluarga Ratih. Mama jadi punya cara untuk menebus semua kesalahan mama di masa lalu atas keluarga itu."


"Dengan kamu menikahi Kaina, kita akan terikat menjadi satu keluarga. Jadi mama akan memberikan apapun yang bisa mama berikan bagi keluarga itu. Termasuk dengan menjadi mama mertua yang baik bagi Kaian, juga menjadi besan yang baik untuk Ratih."


Rayshaka sungguh terharu mendengar penuturan mamanya.


"Beneran, Ma?"


"Benar sayang. Kamu sebaiknya bersikap baik pada Kaina. Mama sudah menyukainya."


Rayshaka tersipu malu. Tersenyum sampai kedua matanya menghilang seperti biasanya.


"Ray?" Papanya tiba-tiba nimbrung.


"Iya, Pa?"


"Kapan kamu mau membantu kakakmu di perusahaan? Dia sudah kewalahan."


Ah ya ... kakak sulung Rayshaka, seorang ibu rumah tangga sekaligus wanita karir yang sangat ulet. Namanya Clara. Sejak lulus kuliah S3 Manajemen Bisnis, dia langsung memutuskan untuk bersiap membantu papa di perusahaan. Namun Clara sejak awal sudah menolak jika dia harus menggantikan papanya sebagai Direktur Utama. Dia tetap mewajibkan Ray yang ada di posisi itu, sekalipun saat ini Ray masih ingin mengembangkan dirinya di perusahaan lain. Selain itu, dia adalah seorang ibu yang harus fokus pada rumahtangganya juga. Jabatan sebagai Direktur Utama tidak baik untuk keharmonisan keluarganya.


"Setelah menikah, Ray akan urus pengunduran diri Ray, Pa."


"Kenapa harus menunggu menikah dulu?" Tanya papanya bingung.


"Nanti Ray pasti jadi pusat perhatian di perusahaan. Ray enggak mau Kaina terganggu dengan itu. Lebih baik Ray masuk ke perusahaan dengan status sudah menikah. Biar Kaina tenang, karena karyawan papa yang single-single itu enggak akan ngegodain Ray."


"Pede sekali kamu," ejek papanya sambil tertawa.


"Bijak sekali anak mama. Nanti kamu harus bisa menjaga hati istrimu ya, Nak. Jangan sakiti dia."


"Siap laksanakan, Nyonya!"


*****


Makan malam dua keluarga ...


Seperti sudah melupakan apa yang terjadi di ruang tamu tadi siang, suasana meja makan terdengar sangat ramai. Topik tentang konsep pernikahan Ray mulai dibahas oleh mereka.


Kaina dan Ray ikut menimpali dan mengomentari obrolan mama-mama mereka sambil menikmati hidangan yang ada.


Setelah makan malam usai, mereka kembali ke ruang nonton. Lagi-lagi pelayan menyuguhkan makanan pencuci mulut untuk dinikmati sambil mengobrol.


Ray yang sedari tadi pagi belum punya quality time sendiri dengan Kaina, mengajak gadis itu menghirup udara malam di taman sebelah rumah.


"So ... Rayshaka ... kenapa kamu enggak pernah cerita kalau keluargamu se-kaya ini?" Kaina memulai obrolan setelah keluar dari pintu.


"Kaya bagaimana?"


"Ya ini," Kaina membuat gerakan tangan memutar seperti menunjukkan seluruh rumah itu.

__ADS_1


"Oh ... itu. Ya biasa saja sih sayang, apa yang harus diceritakan? Ini kan kekayaan orangtuaku," Ray merangkul pinggang Kaina sambil berjalan.


"Papamu punya segudang perusahaan. Lalu kenapa kamu masih jadi karyawan Nagata? Bahkan memulai karir dari nol."


Ray mengarahkan langkahnya dan Kaina supaya duduk di sebuah kursi taman yang terbuat dari kayu.


"Aku hanya enggak mau, saat nanti aku mulai bantu perusahaan keluarga, orang-orang disana menilai aku tidak kompeten, hanya mengandalkan power papa. Makanya aku mau cari pengalaman karirku sendiri di tempat lain. Yaa ... meskipun ini tidak akan ada apa-apanya dibanding jabatan Direktur Utama yang harus ku emban nanti, tapi setidaknya saat ini orang-orang sudah tahu dulu, bahwasanya Ray, si anak owner, sebelum bekerja di perusahaan papanya, sudah punya pengalaman yang enggak main-main di luar sana. Jadi masuk ke perusahaan itu enggak mentah-mentah banget."


Kaina mengangguk-angguk setelah mendengar penjelasan Ray yang panjang.


"Kamu dewasa sekali sih. Aku jadi minder.... Apa aku benar-benar pantas bersanding dengan kamu, Ray?" sejujurnya dia memang sedikit minder. Status sosialnya dan Rayshaka terlalu jomplang. Dia merasa diri tidak layak.


Ray spontan menjentikkan jarinya di kening Ray.


"Sekarang itu yang harus kita pikirkan adalah persiapan pernikahan kita. Bukan masalah pantas atau enggak," tatap Ray tajam, setajam silet.


"Iya iya ... kamu menyinggung pernikahan. Membuat aku semakin berdebar."


"Kamu kira aku enggak sayang?" tangan Ray mulai usil mempermainkan rambut Kaina yang terjuntai.


"Kenap kamu berdebar? Bukannya kamu yang minta bulan depan? Oh my God ... satu bulan itu sebentar Ray! Mana mungkin kita bisa membuat persiapan yang maksimal dengan waktu yang mepet. Kamu ini kok enggak sabaran banget sih?" Kaina mengomel dengan cepat. Terakhir di melabuhkan pukulan di lengan Ray. Dia merasa Ray terlalu terburu-buru.


"Sayang ... mama dan tante Ratih pasti bisa mempersiapkan semuanya dengan cepat. Lagian, aku enggak punya alasan untuk berlama-lama lagi untuk meminangmu. Kalau toh kita akan menikah, kenapa harus tahun depan? Kenapa harus pacaran dua atau tiga tahun? Buang-buang waktu."


Kaina memutar bola matanya.


"'Lagian ... buat apa pacaran lama-lama kalau enggak bisa bikin anak ... aw!!"


Cubitan keras di perut Ray langsung terasa saat dia bercanda soal 'bikin anak'. Wajah gadis itu bersemu merah. Sementara Ray hanya tertawa terbahak-bahak.


Ray melingkarkan tangannya di tubuh Kaina. Lalu mengecup keningnya lama.


"Aku merasa apa yang dibilang tante Ratih benar. Mungkin Tuhan sudah menakdirkan aku untuk menjadi pengganti almarhum om. Papa kamu. Jadi ... aku akan mengemban tugas itu sayang ... Aku akan menyayangi kamu, mencintai kamu, menjaga kamu, ngebahagiain kamu, sepanjang sisa umurku ..."


Kaina tidak sanggup mengeluarkan kata apa pun untuk merespon kalimat panjang Ray barusan. Dia tidak menyangka kalau pria itu punya kosa kata indah seperti itu dalam kepalanya.


"I love you, Kaina ..."


"M ... love you too, sayang ..."


Sebentar hening. Masih berpelukan.


"Ah ... sekarang kamu ceritakan. Seharian kemarin kamu ngapain saja di dalam kamar. Apa saja yang kamu pikirkan tentang aku dan keluargaku setelah melihat foto itu."


"Oh ...itu. Enggak banyak. Pagi-pagi aku emosional, pikiranku kalut, berbagai skenario mulai bermunculan di kepala. Egoku menguasai semuanya. Lalu ketiduran. Bangun-bangun, tiba-tiba kangen kamu. Tapi masih gengsi. Lalu mulai berfikir jernih. Dan menganalisa semua kemungkinan. Sampai malam menenangkan diri sendiri. Sampai benar-benar tahu jika aku sudah menerima semuanya dan mengikhlaskan masa lalu. Sudah. Sampai disitu saja."


"Hmm ... kamu luar biasa. Bisa menanggung bebanmu seorang diri dan menyelesaikannya sendiri dengan dirimu. Tapi jangan begitu lagi. Aku jadi merasa tidak berguna."


Kaina terdiam. Suara lembut Ray seakan menusuk hatinya yang paling dalam.


"Ingat. Jangan pernah menanggung bebanmu seorang diri. Oke?"


Kaina mengangguk pelan.


Ray menariknya lagi untuk dipeluk dan dihujani ciuman kasih sayang.


"Sayang, kita enggak sedang di awasi cctv kan? " bisik gadis itu pelan.


"Ada. Di setiap sudut."


"Ya sudah, ayo masuk!" Kaina spontan melepaskan dirinya dan hendak beranjak.


"Hei, mau kemana? Aku bisa menyuruh security untuk menghapus rekamannya biar mama enggak lihat."


"No ! Masuk!"


Rayshaka tertawa lucu melihat wajah pucat Kaina. Seperti baru kepergok mencuri kue orang lain saja.


"Oke oke, kita masuk sayang. Tapi kiss dulu dong. Masak satu hari ini enggak dapat ciuman dari kamu?"


"Ray!" Masih bercanda juga, batin Kaina kesal.


"Hahaha ... oke-oke. Ayo sayang." Ray mengalah. Dia bangkit duluan, lalu menarik tangan Kaina. Mereka berjalan lagi.


*****


Kaina tidak lupa, sepertinya tadi mereka jalan bukan dari arah yang ini. Ah, Ray si pemilik rumah pasti lebih tahu seluk beluk rumahnya yang besar, batinnya. Dia menurut kemana Ray membawanya pergi.


Namun satu gerakan cepat menghentaknya tiba-tiba.


Tiba-tiba saja mereka sudah berada di sebuah tempat yang diduga Kaina adalah ruang penyimpanan bahan makanan. Keluarga Ray bahkan punya ruangan khusus seperti ini, pujinya dalam hati.


"Ngapain kita ke sini sayang?"


"Disini enggak ada cctv."


Awalnya Kaina tidak menangkap maksud dari perkataan Ray itu. Namun setelah seringai pria itu keluar, barulah dia mengerti.


Telat menghindar, Ray sudah terlanjur menyatukan bibir mereka. Memojokkan tubuh Kaina ke tembok dan memeluk pinggangnya mesra.


Kaina tidak bisa menolak. Kepalanya langsung pusing. Seperti terbang, melayang.


Dia melihat Ray memejamkan matanya. Pria itu melakukannya dengan lembut dan penuh cinta. Mengapa Kaina harus ketakutan?


Maka mulailah dia membalas ciuman itu sama seperti yang dilakukan Ray.


Sama-sama meluapkan rasa rindu. Sama-sama mengungkapan rasa cinta yang sangat mendalam.


*****

__ADS_1


__ADS_2